Sastra Profetik


      Jika sastra merupakan salah satu cara mengekspresikan keindahan dan emosi terdalam tentang hubungan tripartit (Manusia-Tuhan-Alam) dan harmoni, maka pada dasarnya ia merupakan terkait dengan salah satu sifat hakiki manusia, yakni kerinduan akan kedamaian, dan “perjumpaan” dengan Tuhan atau spiritualitas. Jika demikian, maka sastra adalah alat, medium, sekaligus wadag ekspresi tersebut, yang pada dasarnya memiliki akar ruh spiritualitas dan merepresentasikan nilai-nilai idealitas hakiki kemanusiaan dan keilahiyahan. Hal inilah yang kemudian dianalogikan oleh Rumi sebagai “lantunan seruling yang rindu akan tempat asalnya”.
      Mengarusutamakan sastra yang bernilai Ilahiyah dan Qur’an(i) adalah mutlak adanya. Sastra jenis ini memberikan pencerahan dan mengokohkan keimanan kepada Allah swt, mentransformasikan nilai-nilai ibadah ke dalam setiap relung kehidupan manusia, menghidupkan nilai-nilai kebaikan universal (rahmat li al-‘alamin), dan menghidupkan perilaku uswah hasanah sebagaimana dicontohkan Rasulullah. Karenanya, genre sastra seperti ini mengusung misi agung, yakni misi prophecy  (kenabian) yang mengajak manusia untuk kembali menilik hakikat, asal muasal, dan tujuan kehidupan, yang tiada lain adalah penghambaan kepada Tuhan yang Maha Tak Terbatas.
        Upaya mengarusutamakan sastra jenis ini mutlak harus ditempuh, agar a) nilai-nilai spiritual, moderat, dan universal Islam dapat terpahamkan oleh khalayak ramai bermediakan “sastra”., b) bagaimanapun pembaca karya sastra di dunia ini, termasuk Indonesia, sungguh cukup banyak, dan hal ini adalah realitas, dan dengan demikian harus dimanfaatkan., c) adalah realitas bahwa di dunia ini terdapat “pertarungan” nilai baik dan buruk, keduanya saling berdialektika dan “saling mengalahkan” tergantung pada usaha dari para pengusungnya, karenanya nilai-nilai kebaikan haruslah diusahakan diwacanakan dan  diupayakan menjadi “mainstream”.
Advertisements