Posted in Essay Sastra, Karya Sastra, Sejarah Sastra, Sejarah Sastra Muslim Nusantara, Teori Sastra

Beragam Tafsir Sastra Islam


Sastra Indonesia, ilustrasi
Sastra Indonesia, ilustrasi


Oleh Afriza Hanifa

REPUBLIKA.CO.ID, Kebudayaan, kesenian, dan kesusastraan Islam ialah manifestasi rasa, karsa cipta, dan karya manusia dalam mengabdi kepada Allah.

Ketika Cinta Bertasbih, Ayat-Ayat Cinta, Negeri 5 Menara, 99 Cahaya Langit Eropa, Rembulan Tenggelam di Wajahmu, dan Hafalan Shalat Delisa merupakan contoh beberapa novel fiksi Islami yang beberapa waktu terakhir menjadi bestseller di Indonesia. Sebagiannya bahkan difilmkan di layar lebar. Namun, novel hanyalah satu dari beragam jenis karya sastra. Pada masa lalu, sastra bernapaskan Islam lebih mendapat tempat dalam perkembangan masyarakat. Sastrawan Muslim mengambil banyak bagian dalam sejarah sastra Indonesia. Sebut saja, Hamzah Fansuri, Nuruddin ar-Raniri, Sutan Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah, dan Hamka.


Sastra, menurut Panuti Sudjiman, merupakan karya lisan atau tulisan yang memiliki beragam ciri unggul, seperti keaslian, keartistikan, keindahan dalam isi, dan ungkapannya. Ahmad Badrun memaknai kesusastraan sebagai kegiatan seni yang mempergunakan bahasa dan garis simbol sebagai alat dan bersifat imajinatif. Di dalam bahasa Arab, sastra adalah adab yang bermakna pada kebudayaan, sopan santun, dan tata krama.
Lalu, bagaimana dengan sastra Islam, apa maknanya? Hingga kini, masih menjadi polemik yang diperdebatkan. Sebagian menyangkal adanya sastra Islam, kecuali sastra bernapaskan Islam saja. Sebagian mengatakan sastra Islam itu eksis yang menyampaikan ajaran-ajaran Islam. Sastrawan Muslim pun tak terang menyebut karya mereka sebagai sastra Islam meski kandungan isinya sangat bernapaskan Islam. Masing-masing sastrawan menyebut sastra bernapaskan Islam dengan beragam nama, di antaranya, sastra sufi, sastra zikir, dan sastra pencerahan.
Helvy Tiana Rosa dalam Segenggam Gumam menuturkan, selama ini para sastrawan memang masih menyebut Sastra Islam secara terselubung. Taufik Ismail menyebutnya dengan Sastra Dzikir, Kuntowijoyo menggunakan istilah Sastra Profetik, Danarto menggunakan istilah Sastra Pencerahan, M Fodoli Zaini menyebutnya sebagai Sastra yang terlibat dengan dunia dalam. Sementara, Sutardji Calzoum Bachri memberi istilah Sastra Transenden dan Abdul Hadi WM mengistilahkan Sastra Sufistik untuk karya-karya mereka yang berakar dari wacana keimanan atau religiusitas yang dibawanya. “Namun, selain Abdul Hadi WM, tak satu pun sastrawan di atas yang mengidentikkan penyebutan mereka dengan sastra Islam,” ujar novelis [Helvy Tiana Rosa] pendiri Forum Lingkar Pena (FLP) tersebut.
Pada 1963, terdapat pertemuan seniman Muslim di Jakarta yang mengeluarkan deklarasi Manifes Kebudayaan dan Kesenian. Dipimpin Djamaludin Malik, seluruh seniman yang hadir sepakat kebudayaan, kesenian, dan kesusastraan Islam ialah manifestasi dari rasa, karsa cipta, dan karya manusia Muslim dalam mengabdi kepada Allah untuk kehidupan umat manusia. Seni Islam adalah seni karena Allah untuk umat manusia yang dihasilkan oleh para seniman Muslim bertolak dari ajaran wahyu Ilahi dan fitrah insani.
Liaw Yock Fang dalam Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik mengungkapkan beragam permasalahan mengenai makna sastra Islam. Belum jelas makna sastra Islam itu apakah sastra yang mendukung nilai Islam ataukah sastra yang mengacu pada Alquran dan hadis, ataukah sastra yang mengungkapkan ketauhidan. Namun, Liau memaknai sastra Islam secara sederhana, yakni sastra mengenai Muslimin dan segala amal saleh. Ia mengutip pendapat Roolvinck yang membagi sastra Islam menjadi lima jenis, yakni cerita Alquran, cerita Nabi Muhammad, cerita sahabat Rasulullah, cerita pahlawan Muslim, dan sastra kitab.

Dari Melayu
Menurut Liaw, awal perkembangan sastra Islam di nusantara banyak diterjemahkan dalam bahasa Melayu. Sumber mulanya pun berasal dari Arab dan Parsi. Menurutnya, terdapat dua kelompok sastra Islam Melayu tersebut, yakni karya berupa kitab agama yng dimaksudkan sebagai sarana belajar Islam bagi orang Melayu. Kelompok kedua, yakni karya India Muslim yang memang bertujuan hiburan. Fase awal, sastra Islam Melayu hanya merupakan saduran. Cerita Alquran menjadi karya favorit dari sastrawn Al Kisai.
Dr Abdul Hadi WM dalam artikelnya, “Sastra Islam Melayu Indonesia”, menyatakan era awal sastra Islam bermula dengan munculnya karya terjemahan karya sastra Arab dan Parsi ke dalam bahasa Melayu. Saat itu, juga bersamaan dengan munculnya kerajaan Islam pertama nusantara, yakni Samudera Pasai dan Malaka. Beberapa contoh karya terjemahan tersebut, misalnya, Kisah-Kisah Para Nabi atau Qisas al-Anbiya’, Hikayat Iskandar Zulkarnain, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Muhammad Ali Hanafiya, Hikayat Bayan Budiman, dan Hikayat Seribu Satu Malam. Meski yang ternama merupakan sastra Islam dari Melayu, bukan berarti tak ada karya yang berbahasa Jawa, Bugis, Sunda, Madura, dan etnis lain nusantara. Menurut Abdul Hadi WM, meski pada perkembangannya karya keislaman juga muncul dalam bahasa nusantara lain, karya Melayu tetap memiliki kedudukan istimewa sebagai wadah ekspresi estetik Islam.
Ketika Islam telah tersebar luas di nusantara, sekitar akhir abad ke-16, sastra Melayu mencapai puncaknya. Banyak sastrawan ternama yang lahir pada era itu, di antaranya, Hamzah Fansuri, Nuruddin al-Raniri, Bukhari al-Jauhari, dan Syamsudin Sumatrani. Bukan sekadar sastrawan, mereka pada umumnya juga merupakan seorang ulama terkenal.

Redaktur: Heri Ruslan
Sumber:
  1. http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/13/07/29/mqo5ky-beragam-tafsir-sastra-islam
Advertisements
Posted in Essay Sastra, Karya Sastra, Sejarah Sastra, Teori Sastra, Teori Sastra Muslim

Potret Sastra Muslim Kita Kini


    Tulisan di bawah ini sangat menarik dan menggelitik untuk dicerna dan dikritisi. Di dalamnya digambarkan bagaimana ironi dialaketis antara variasi identitas yang dimiliki oleh pengkaji (sastra) telah memberikan variasi persepsi dan intertpretasi ketika melihat ajaran Islam dan  ekspresi pencapaian intelektualitas dan kultural dari kalangan Muslim. Selamat mencerna tulisan di bawah ini.
Sastra Islam Kita Kini
Oleh: Budi P Hatees.

Para sastrawan kita, yang namanya selalu diapungkan setiap kali dibicarakan tentang sastra religius bernafas Islam,  senantiasa sibuk menulis karya sastra dengan teks-teks yang selalu tentang negasi hitam dengan putih. Hitam melambangkan jalan kejahatan dan  putih simbol dari jalan Allah.

Para kreator ini memposisikan diri sebagai penyampai isi Al Quran, sembari memposisikan pembaca  sebagai  pihak yang  bukan saja tidak paham  kandungan kitab suci, juga telah meninggalkan ajaran-ajaran samawi itu dalam kehidupan sehari-hari. Karena godaan hidup sekuler begitu kuat sekalipun realitas justru menunjukkan yang mereka raih hanya memperpanjang daftar patologi-patologi modernitas.

Dengan begitu, teks-teks sastra yang mereka tampilkan kuat ditandai dengan apa yang disebut menggurui,  meskipun hal itu tak keliru,  tetapi menjadi persoalan krusial karena sebagaian besar pembaca karya-karya mereka berasal dari kalangan sendiri.  Sastrawan lain,  lebih menyibukkan diri untuk “menghujat” nilai-nilai dalam Islam lewat tafsir-tafsir yang keliru terhadap isi Al Quran dengan orientasi yang kuat untuk menyebarkan permusuhan terhadap agama Islam.

Salman Rusdhi, sastrawan yang pernah mengguncang dunia Islam dengan novelnya Satanic Verses,  lewat  novel fantasinya, Midnight’s Children,   mengkritik Islam sebagai  pemicu lahirnya fundamentalis agama. Muslim digambarkannya sebagai mahluk hidup yang tak menghargai hidup lewat laku para tokoh cerita yang  menghalalkan darah orang-orang dari agama berbeda.

“Kejahatannya terbesarnya adalah dia seorang Hindu,” kata seorang muslim dalam salah satu bagian dari Midnight’s Children,  setelah orang itu memenggal leher seorang Hindu.

Fundamentalis agama adalah titik krusial yang selalu dipersoalkan, dibesar-besarkan dan dijadikan kebenaran untuk mendeskriditkan Islam lewat tafsir Quran atas ayat-ayat yang mengajarkan jihad.  Ayat-ayat jihad itu tidak keliru, tapi mengutipnya dan menafsirkannya secara keliru, hanya akan memposisikan muslim sebagai sosok yang harus distigmatisasi dan dimusuhi manusia di seluruh dunia.

Indonesia, bangsa dengan penduduk muslim terbesar di dunia.  Mata seluruh dunia selalu diarahkan ke negeri ini sebagai salah satu bangsa yang menjadi sasaran utama dari kritik tajam Salman Rusdhi dalam karya-karyanya.

Malangnya,  sastrawan yang selalu menghujat Islam,  tidaklah sendirian di dunia kreatif penciptaan sastra. Masih ada Wole  Soyinka, pemenang Hadiah Nobel untuk Sastra tahun 1986 berkebangsaan Nigeria,  yang tak kalah bengis mengkritisi Islam penghasil fundamentalis agama. Hidup di Nigeria yang didera pembunuhan antarkelompok agama, Soyinka sampai pada kesimpulan, fundamentalisme agama lebih berbahaya daripada rezim militer yang diktator. Fundamentalis agama tak berbentuk dan bergerak ke banyak arah.

Kita tahu, sejak 1999, di dua belas negara bagian Nigeria Utara, penduduk yang muslim memilih menerapkan Syariah Islam. Tak ada yang salah dengan Syariah Islam  dan pilihan itu pun tak keliru. Dimana-mana di belahan bumi ini, tuntutan tentang pentingnya Syariah Islam mengemuka bersamaan dengan semakin kuatnya sekularisme mengubah  manusia menjadi mahluk yang merasa dirinya telah sampai pada posisi  Adi Kuasa sekaligus Adi Kuasa. Inilah manusia yang disemangati patologi modernitas, yang isi kepala dan tindakannya berdasarkan pemahaman kacau tentang yang profane dengan duniawi, mewujud pada diri Christopher Hitchens, misalnya. Hitchens, seorang atheis sejati, menulis sebuah buku yang mencengangkan, God Is Not Great: Religion Poisons Everything.

Masa kini adalah kemerosotan, terutama kemerosotan akhlak ketika Tuhan dipersalahkan.  Mereka yang muslim, wajar bila menghendaki agar Syariah Islam ditetapkan, sebagai acuan hidup berbangsa dan bernegara di masa datang. Bagi mereka yang merasa telah ada di posisi Adi Kuasa, Syariat Islam hanya akan mempercepat kehancuran kekuasaan yang dimilikinya. Supaya tak terlanjur jatuh, segala yang akan mengancam kekuasaan itu diposisikan tak sekadar pesaing, tetapi juga musuh yang harus ditumpas.

Fundamentalis tak hanya domain Islam. Dari agama-agama samawi lainnya, fundamentalis juga bisa lahir.  Di Negeri Paman Sam, yang menyebut diri sebagai asal demokrasi, seorang George W. Bush bisa menjadi fundamentalis agama. Bush, yang dalam kedudukannya sebagai Presiden Amerika Serikat menghidupkan ”sebujah kelompok” di Gedung Putih. Orang konservatif yang mencampuradukkan yang ”ilahiyah” dengan yang ”duniawi”, lalu meneriakkan perang besar terhadap Al Qaedah sebagai musuh Tuhan dengan menyemangati tentara Amerika Serikat sebagai Bala Tentara Tuhan. Kita tahu Amerika Serikat kalah di Afganistan dan luluh lantak di Irak.

Wajar bila kehendak untuk menerapkan Syariah Islam juga muncul di lingkungan muslim suatu Negara, termasuk Nigeria. Bagi Soyinka, Negiria sebagai republik berpenduduk 147 juta dan hanya 50 persennya muslim,  tidak memerlukan syariah Islam.  Alasannya, syariah Islam justru membuat korupsi meluas, 70 persen penduduk hidup di bawah garis kemiskinan, ketimpangan sosial tajam dan hanya 68 persen penduduknya yang melek huruf.  Seakan-akan dengan iman agama lain, persoalan serupa pasti tuntas dan patologi-patologi sosial akan lenyap dari Nigeria.

Dalam sebuah sajaknya yang provokatif, Soyinka menulis sajak, Twelve Canticles for the Zealot dan menyebut muslim di Nigeria sebagai zilot sang “pelayan vampire” bertengger di puncak menara “kesalihan”.  Kita tahu zilot adalah sebuah pengertian yang dipungut dari Injil untuk menggambarkan sikap orang fanatik yang militant dan munafik. Dalam pemahaman Soyinka pada sajak itu, zilot menunjuk mereka yang atas nama hukum agama yang murni mengancam spontanitas kegembiraan hidup di atas bumi, di bawah langit, di antara makhluk yang fana.

Jauh di tahun 1930,  Mohammad Iqbal, penyair dan filosof itu,  merumuskan argumennya agar minoritas Muslim di India punya tanahairnya sendiri.  Dalam karya sastra,  Iqbal tak seperti sastrawan di negeri kita, mereka yang selalu disebut representasi sastrawan Islami, karena ia tidak menulis dengan hasrat besar untuk menggurui. Iqbal menulis karya sastra sebagai pemikiran, dan ia terus-menerus membicarakan Islam sebagai identitas dan kita tahu, Pakistan kemudian lahir dari hasil pemikiran itu.

Sastrawan kita bersama karya sastra mereka yang disebut Islami, tak mampu bicara banyak. Terutama tentang nilai-nilai Islam yang khas Indonesia, yang mampu melawan pemikiran-pemikiran sastrawan asing saat mengstigmatisasi Islam. Dengan sendirinya mendeskriditkan Indonesia sebagai bangsa dengan basis muslim terbesar di dunia. Sastrawan Islam kita sibuk menampilkan tokoh-tokoh yang hitam putih dan selalu saja yang putih berada pada posisi sebagai entitas yang harus dimenangkan. Hidup, jelas-jelas, tidak selalu berpihak pada yang putih. Sebab Allah punya kehendak dan manusia tak bisa secara psti dan tepat menafsirkan kehendak Allah dalam teks-teks sastra.

Penulis Sastrawan, menulis dari Sipirok

Sumber:

  1. http://www.analisadaily.com/news/41346/sastra-islam-kita-kini;
Posted in Essay Sastra, Karya Sastra, Modern, Taufik Ismail, Teori Sastra

Taufiq Ismail: Kualitas Sastra Tentukan Peradaban


Tulisan di bawah ini merupakan hasil reportase kegiatan ‘Saresehan Budaya’ bertema Menemukan Kembali Esensi Kebudayaan Indonesia dalam Rangka Membentuk Karakter Bangsa’ di Auditorium UNY, Kamis (27/10/2011). Event digelar oleh Komunitas Studi Budaya, UKMF Muslim Al-Huda dan Mahasiswa FBS UNY. Di dalam, terdapat beberapa pandangan dari salah satu sastrawan Muslim Indonesia, yakni Taufiq Ismail.

Beberapa pokok pikiran beliau di antaranya: 1) Perkembangan sastra di Indonesia menunjukkan perkembangan kuantitatif yang menggembirakan, tetapi dari sisi kualitas masih minim dan belum greget; 2) pembelajaran sastra di lembaga pendidikan formal (sekolah) mengalami kemunduran, oleh karena itu diperlukan upaya serius dan sistematis untuk kembali meningkatkan kuantitas dan kualitas pembelajaran dan pendidikan sastra di sekolah-sekolah; 3) kualitas apresiasi dan (re)produksi sastra yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia dapat menjadi salah satu indokator kualitas peradaban bangsa dan masyarakat Indonesia.

 

Taufiq Ismail: Kualitas Sastra Tentukan Peradaban

Yogyakarta – Sastra adalah karya cipta dan rasa. Kegiatan kreatif ini juga bisa menjadi sarana untuk pembentukan karakter suatu bangsa yang beradab. Apalagi, dalam sastra kaya akan nilai-nilai. Jika kualitas sastra menurun, bagaimana dengan pembentukan karakter bangsa beradab yang ingin dicapai? Sastrawan Taufiq Ismail menyampaikan kegelisahannya itu dalam sarasehan kebudayaan bertema ‘Menemukan Kembali Esensi Kebudayaan Indonesia dalam Rangka Membentuk Karakter Bangsa’ di Auditorium UNY, Kamis (27/10/2011). Event digelar oleh Komunitas Studi Budaya, UKMF Muslim Al-Huda dan Mahasiswa FBS UNY.

Dalam penilaian Taufiq, keberlangsungan sastra harus terus digalakkan dan digiatkan sejak dini. Kualitas pembelajaran juga harus ditingkatkan. Diakui, meskipun saat ini banyak bermunculan sastrawan dengan hasil karya yang berjubel, namun dari segi kualitas masih sangat minim. “Perkembangan sastra saat ini cukup bagus, hanya saja dari isinnya masih kurang greget. Ini disebabkan karena banyak sastrawan yang tidak suka membaca dan menulis dengan serius,” ujar Taufiq. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya sastrawan yang mengekor pendahulunya.

Padahal, lanjut Taufiq, kualitas membaca dan menulis menjadi pilar dalam mewujudkan sastrawan berkualitas. Pembelajaran sastra di sekolah-sekolah juga mengalami kemunduran. Bahkan, saat ini banyak orang gandrung dengan bahasa asing daripada bahasa Indonesia, sungguh memprihatinkan. Karena itu, pihaknya terus berjuang bagaimana agar kurikulum pendidikan bisa berpihak kepada pengembangan sastra di tanah air. “Kalau bisa pembelajaran penulisan cerpen, pembacaan puisi dan kegiatan penulisan lainnya bisa ditingkatkan di sekolah-sekolah sejak dini,” harapnya.

“Dalam impian saya, terbayang sebuah kelas yang penuh dengan pelajaran sastra, siswa-siswanya diberikan buku antologi sastra, mulai dari puisi atau cerpen. Lalu mereka diminta membaca dan mendiskusikan bersama-sama,” ujarnya. Dengan pembelajaran bersama, dan peningkatan kualitas membaca dan menulis diharapkan kualitas sastra akan banyak bermunculan. Impian tersebut, lanjut Taufiq, membutuhkan guru bahasa dan sastra yang berkualitas dan prima, yang suka membaca dan pintar menulis. Fasilitas buku sastra di perpustakaan pun meningkat. Sehingga cita-cita menuju manusia dengan peradaban yang bagus bisa tercapai.

Sumber: http://www.kr.co.id30/10/2011 12:16:49

 

 

Posted in Essay Sastra, Gus Dur, Karya Sastra, Modern, Teori Sastra

Islam, Agama Populer atau Elitis?


 

Abdurrahman Wahid
Kompas, 6 Sep 2002
PADA tahun 1950-an dan 1960-an, di Mesir terjadi perdebatan sengit tentang bahasa dan sastra Arab, antara para eksponen modernisasi dan eksponen tradisionalisasi. Dr Thoha Husein, salah seorang tunanetra yang pernah menjabat menteri pendidikan dan pengajaran serta pelopor modernisasi, menganggap bahasa dan sastra Arab harus mengalami modernisasi, jika diinginkan ia dapat menjadi wahana bagi perubahan-perubahan sosial di zaman modern ini. Ia menganggap bahasa dan sastra Arab yang digunakan secara klise oleh sajak-sajak puja (al-madh) seperti bahasa yang digunakan dalam dziba’iyyah dan al-barzanji sebagai dekadensi bahasa yang justru akan memperkuat tradisionalisme dan menentang
pembaruan. Dari pendapat ini dan dari tangan Dr Thaha Husein, lahir para pembaru sastra dan bahasa Arab yang kita kenal kini.
Nama-nama terkenal seperti Syauqi Dhaif dan Suhair al-Qalamawi muncul sebagai bintang-bintang gemerlap dalam perbincangan mengenai pembaruan bahasa dan sastra Arab. Sejak masa itu, muncul mazhab baru bahasa Arab, yang dirasakan oleh mereka sebagai pendorong dinamika dan perubahan sosial. Bahasa dan sastra Arab dari masa lampau, yang lebih berbau agama dikesampingkan oleh kebangkitan kembali bahasa dan sastra Arab masa pra-Islam (‘asr al-jabiliyah).
Dalam pandangan ini, produk-produk dekaden harus dikesampingkan, guna memberi jalan kepada proses modernisasi bahasa dan sastra Arab. Ini merupakan reaksi terhadap faham serba agama yang merajai Timur Tengah sebelum itu, sejalan dengan tumbuhnya nasionalisme Arab (al-qawmiyyah al-arabiyyah) yang kala itu menjadi pikiran dominan di kalangan para pemikir Arab. Dengan demikian, tradisionalisme yang dibawakan agama, dianggap sebagai penghalang munculnya kecenderungan baru itu. Karena sifatnya yang intelektual, pandangan ini tidak langsung diikuti rakyat kebanyakan, hanya menjadi pemikiran elitis kaum cendekiawan di negeri-negeri Arab selama 25 tahun.
Di negeri kita juga berkembang kemunculan kelompok nasionalis, namun tidak dengan sikap memandang rendah tradisionalisme yang dibawakan agama. Namun, ada persamaan antara pandangan elitis antitradisionalisme bahasa dan sastra Arab di kalangan bangsa-bangsa Arab, dan elitisme kaum cendekiawan yang tidak menyentuh pikiran-pikiran rakyat awam di negeri itu. Dengan demikian, agama dengan tradisionalismenya tidak dipersalahkan jika menghambat kemajuan. Mungkin ini disebabkan kekuatan politik organisasi tradisional agama, seperti NU. Tradisionalisme agama yang dibawakan justru menyatu dengan kaum nasionalis, karena keduanya harus berhadapan dengan modernisme non-ideologis yang datang dari Barat, dalam berbagai bentuk. Yang terpenting di antaranya adalah pragmatisme yang dibawakan faham teknokrasi, yang di permukaan berarti penyerahan diri total kepada sistem nilai yang dimiliki orang-orang Barat.
Modernisasi dianggap sebagai pengikisan tradisionalisme agama dan rasa kebangsaan kaum nasionalis. Tidak heran, jika yang muncul di permukaan adalah manifestasi tradisionalisme agama itu sendiri. Digabung dengan semangat nasionalisme yang mengagungkan kejayaan masa lampau, kedua kecenderungan itu menampilkan tradisionalismenya sendiri: anti-Barat, antipenuhnya rasionalisme dan penghormatan berlebihan kepada masa lampau. Bila hal ini diingat benar, dengan sendirinya kita melihat kedangkalan pendekatan tradisional itu, dan mengembalikan pertimbangan-pertimbangan rasio ke tempatnya semula.
Manifestasi budaya dari munculnya kembali tradisionalisme agama itu, seperti terlihat dalam belantika musik kita dewasa ini. Musik Arab tradisional dengan enam belas birama (bahr, pluralnya buhur) seperti ada dalam sajak-sajak Arab tradisional yang hampir seluruhnya didominasi sajak-sajak keagamaan, muncul sebagai “wakil agama” dalam belantika musik kita dewasa ini. Pembaruan bahasa dan sastra nasional, yang dirintis Sutan Takdir Ali Syahbana tidak sampai menyentuh akar tradisionalisme agama itu dan sebagai akibatnya kita melihat sebuah penampilan yang lucu: bahasa dan sastra nasional yang diperbarui dan berwatak kontemporer dan-pada saat yang sama, menampilkan tradisionalisme agama.
DENGAN memperhatikan kenyataan itu, kita sampai pada sebuah pertanyaan fundamental: haruskah kehidupan beragama kita semata-semata berwatak tradisional dan adakah penggunaan rasio dalam menyegarkan kembali tradisionalisme agama itu dianggap sebagai “bahasa”? Pertanyaan ini patut dipikirkan jawabannya secara mendalam, karena percampuran antara semangat kebangsaan kaum nasionalis dan tradisionalisme agama hanya membawa hasil positif di bidang politik belaka, bukan di bidang budaya dan bahasa. Tradisionalisme agama tidak menyukai ideologi-agama dalam kehidupan bernegara, seperti terbukti dari penolakan atas Piagam Jakarta.
Kehidupan beragama kita, yang dengan sendirinya membawakan aspek kebudayaan dalam kebudayaan kita, bagaimanapun juga harus berwatak rasional. Apa yang dikemukakan AA Navis dalam cerpen Robohnya Surau Kami adalah rasionalitas kehidupan beragama yang kita perlukan, bukannya sesuatu yang harus ditakuti. Ini tidak berarti memandang rendah tradisionalisme agama, karena elemen-elemen positif dan rasional dari tradisionalisme itu sendiri harus kita teruskan. Tetapi, unsur-unsur irasional yang akan menghambat pem-fungsi-an tradisionalisme itu sendiri harus diganti dengan nilai-nilai rasional yang akan menjamin kelangsungan tradisionalisme agama itu sendiri. Sama halnya dengan kontrareformasi yang dijalani gereja Katolik Roma, yang diperlukan untuk menjamin kelangsungan hidup tradisionalisme agamanya. Penggunaan gamelan di satu sisi-misalnya, dan musik hardrock serta rap di sisi lain, sama-sama rasionalnya dalam penyampaian pesan-pesan gerejawi melalui misa dan sebagainya.
Dengan demikian, revitalisasi tradisionalisme agama amat diperlukan, dalam bentuk memasukkan unsur-unsur rasional ke dalamnya, hingga tradisionalisme agama itu sendiri dapat dirasakan sebagai kebutuhan baik di kalangan elitis yang diwakili para cendekiawan, maupun rakyat jelata yang mengembangkan tradisionalisme agama populis. Di sinilah terletak tantangan yang dihadapi Islam di negeri kita, dengan penduduk Muslimnya yang berjumlah lebih dari 170 juta jiwa. Masalahnya kini, bagaimana mengembangkan modernisme agama dan tradisionalisme agama yang serba rasional, dan menghindarkan agar keduanya tidak bertabrakan secara praktis. Dapatkah kaum Muslimin di negeri ini mencapai hal itu?Dijumput dari: http://www.gusdur.net/Thoughts/Detail/?id=39/hl=id/Islam_Agama_Populer_Atau_Elitis
Posted in Teori Sastra, Teori Sastra Muslim

Pembagian Sastra Muslim Pada Masa Awal


 

      Secara garis besar, kesusastraan Muslim Arab pada masa awal dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu prosa (an-Natsr) dan puisi (syi’r). Prosa terdiri atas beberapa bagian, yaitu: kisah (Qishshah), peribahasa (amtsal) atau kata-kata mutiara (al-hikam), sejarah (tarikh) atau riwayat (sirah), dan karya ilmiah (abhats ‘ilmiyyah).
      Kisah (Qishshah) adalah cerita tentang berbagai hal, baik yang bersifat realistis maupun fiktif, yang

disusun menurut urutan penyajian yang logis dan menarik. Kisah terdiri dari 4 macam yaitu:

1.      Riwayat adalah yaitu cerita panjang yang didasarkan atas kenyataan yang terjadi dalam masyarakat.
2.      Hikayat, yaitu cerita yang mungkin didasarkan atas fakta maupun rekaan (fiksi).
3.      Qishah qasirah, yaitu cerita pendek.
4.      Uqsusah, yaitu cerita yang lebih pendek daripada Qishah qasirah.
      Kisah berkembang menurut zamannya. Pada masa jahiliyyah, yang berkembang adalah kisah mengenai berbagai hal yang berkenaan dengan kehidupan suku Badui, adapt, dan sifat-sifat mereka. Pada masa Islam, yang berkembang ialah kisah-kisah keagamaan, seperti cerita para nabi dan rasul yang bersumber dari kitab Taurat, Injil dan al-Qur’an. Kisah yang berkembang pada masa Abbasiyyah tidak hanya terbatas pada cerita keagamaan, tetapi sudah berkaitan dengan hal-hal lain yang lebih luas, seperti kisah filsafat.  Kisah lebih berkembang lebih pesat lagi pada masa modern, karena perkembangan hubungan antara Islam dan peradaban-peradaban lain yang ada di dunia Barat. Kisah yang berkembang pada masa ini adalah cerita panjang yang bersambung. Misalnya Muntakhabat ar-Riwayat (cerita-cerita plihan) oleh Iskandar Kurku, Riwayah Zainab oleh Muhammad Husein Haikal (1888-1956), al-Khiyam fi Rubu’ asy-Syam oleh Salim Bustani (1848-1884), Kifah Tayyibah (perjuangan terpuji) oleh Naguib Mahfudz (1912-?), dan al-Ajnihah al-Mutakassirah (sayap-sayap patah) oleh Gibran Khalil Gibran (1883-1931).
     Peribahasa (amtsal) dan Kata-Kata Mutiara (al-hikam) adalah ungkapan-ungkapan singkat yang bertujuan memberikan pengarahan dan bimbingan untuk pembinaan kepribadian dan akhlak. Amtsal dan al-Hikam pada Masa Jahiliyyah lebih mengggambarkan bangsa Arab yang hidup dalam keadaan yang penuh dengan kefanatikan terhadap kelompok dan suku. Pencipta amtsal dan al-Hikam yang terkenal pada masa ini adalah Aksam bin Saifi at-Tamimi, Qus bin Sa’idah al-Iyadi, dan Zuhair bin Abi Sulma.
      Amtsal dan al-Hikam pada masa Islam lebih menekankan pada hal-hal yang bersifat religius serta berdasarkan pada al-Qur’an dan hadits. Tokoh yang terkenal pada masa ini ialah Ali bin Abi Talib dengan karyanya Nahj al-Balaghah. Adapun Amtsal dan al-Hikam pada masa Abbasiyah dan setelahnya lebih menggambarkan hal-hal yang berhubungan dengan filsafat sosial dan akhlak. Tokoh yang terkenal pada masa ini adalah Ibnu al-Muqaffa (720-756).
     Sejarah (tarikh) atau Riwayat (sirah), mencakup sejarah beberapa negeri dan kisah perjalanan yang dilakukan oleh para tokoh terkenal. Karya sastra terkenal dibidang ini, antara lain: Mu’jam al-Buldan(Ensiklopedi Kota dan Negara) oleh Yaqut ar-Rumi (1179-1229), Tarikh al-Hindi(Sejarah India) oleh al-Biruni (w. 448 H/1048 M), Tuhfah an-Nazzar fi Gara’ib Amsar wa ‘Aja’ib al-Asfar (Persembahan Seorang Pengamat tentang Negeri-Negeri Asing dan Perjalanan Yang Menakjubkan) oleh Ibnu Batutah, Zakha’ir al-‘Ulum wa Ma Kana fi Salif ad-Duhur (Perbendaharaan Ilmu dan Peristiwa Masa Lalu) oleh Abu Hasan Ali bin Husein bin Ali al-Mas’udi (w. 956), dan Muluk al-‘Arab(Raja-raja Arab) oleh Amin al-Raihan (1876-1940).
      Karya Ilmiah (abhats ‘ilmiyyah) adalah mencakup berbagai bidang ilmu. Karya-karya terkenal yang berkenaan dengan kajian ini ialah Kitab al-Hayawan (Buku tentang Hewan) dan Kitab al-Bukhhala (Buku tentang Orang Bakhil) oleh al-Jahiz (w. 225 H/869 M), ‘Aja’ib al-Makhluqat wa Gara’ib al-Maujudat (Makhluk-Makhluk Yang Menakjubkan dan Benda-benda Yang Aneh) dan Asar al-Bilad wa Akhbar al-‘Ibad (Peninggalan Negeri-Negeri dan Berita Tentang Manusia) oleh Abu Yahya Zakaria bin Muhammad al-Qazwaini (1208-1283), dan Sirr an-Najah (Rahasia Kesuksesan), dan Siyar al-Abtal wa al-Qudama al-‘Uzama(Sejarah Para Pahlawan dan Pembesar-Pembesar Terdahulu) oleh Ya’qub Sarruf (1852-1928).
        Adapun puisi (Syi’r) terbagi atas dua bagian, yaitu asy-Syi’r al-Ginai dan asy-Syi’r al-Hikami atau asy-Syi’r at-Ta’limi. Asy-Syi’r al-Ginai merupakan puisi hiburan yang berisi ungkapan perasaan sang penyair. Puisi ini terdiri atas tiga bagian, yaitu:
  1. Al-Syi’r al-Wijdani, adalah  puisi yang mengungkapkan perasaan penyair, seperti gembira, suka cita, dan berita. Para penyair yang dipandang sebagai tokoh dalam puisi jenis ini adalah Abu Firas al-Hamdani (932-968) dengan kumpulan puisinya yang terkenal Diwan Abi Firas yang diterbitkan pertama kali tahun 1873, dan al-Mutanabbi yang terkenal dengan kumpulan puisinya Diwan al-Mutanabbi.
  2. Al-Syi’r al-Ratsai, adalah puisi hiburan yang diungkapkan oleh penyair ketika meratapi seseorang yang telah meninggal. Di antara sastrawan yang dianggap tokoh dalam puisi jenis ini adalah al-Muahhil (w. 531) dengan kumpulan puisinya yang terkenal Ratsa’uh li Akhihi Kulaib (Ratapannya kepada Saudaranya Kulaib), dan Abu Jazrah Jarir bin Atiyah (653-7330 dengan kumpulan puisinya yang terkenal Diwan Jarir fi al-Madh wa ar-Ratsa (Kumpulan Puisi Jarir tentang Sanjungan dan Ratapan).
  3. Al-Syi’r al-Fakhr, adalah puisi yang menyanjung kebesaran dan keperkasaan seseorang atau kelompok tertentu. Yang dianggap sebagai tokoh dalam jenis puisi ini ialah Antarah bin Syaddad (w. 615) dengan kumpulan puisinya yang terkenal Diwan ‘Antarah fi al-Fakhr wa al-Hamasah wa al-Gazal (Kumpulan Puisi Antara Tentang Kebanggaan, Semangat, dan Sajungan).
       Adapun asy-Syi’r al-Hikami atau asy-Syi’r at-Ta’limi adalah puisi yang berisikan pendidikan atau pengajaran. Yang dianggap tokoh dalam jenis puisi ini ialah Zuhair bin Abi Sulma (530-627) dengan karyanya al-Hauliyyat, Labib bin Rabi’ah (560-661) yang terkenal dengan karyanya Hikmat al-Ratsa (Mutiara-Mutiara Ratapan), Addi bin Zaid (w. 604) yang terkenal dengan puisi Hikam (Kata-Kata Mutiara) dan Zuhdiyyat(Kezuhudan), Abu al-‘Ala al-Ma’arri (973-1058) yang terkenal dengan karyanya al-Luzumiyyat(Kebutuhan) dan Risalah al-GufranLamiyah ibn al-Wardi (Ratapan Ibnu al-Wardi), dan Nasif al-Yaziji (1800-1871) dengan puisinya yang terkenal Diwan Syi’r Nasif (Risalah Pengampunan), Ibnu al-Wardi (1290-1349) dengan karyanya yang terkenal
            Pada masa modern, penyair yang terkenal dalam jenis puisi ini adalah Ahmad Syauqi (1868-1932) dengan karyanya yang terkenal asy-Syauqiyyat(Puisi-Puisi Syauqi), dan Muhammad Hafiz Ibrahim (1872-1932) dengan kumpulan puisinya Diwan Hafiz Ibrahim (Kumpulan Puisi Hafiz Ibrahim).
Posted in Essay Sastra, Karya Sastra, Teori Sastra

Alquran, Keindahan Aural dan Puisi


Asarpin*
Lampung Post, 27 April 2007TRADISI resital (membaca) al-Quran dalam Islam dinamakan tilawah. Bentuk resital yang paling populer di tanah air adalah pembacaan Alquran secara murattal, atau ritmik, yang juga sering disebut tartilan. Tradisi ini di negeri kita biasanya dilombakan dalam festival Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ). Dalam MTQ, yang ditonjolkan adalah al-Quran sebagai keindahan aural (keindahan yang didengarkan), bukan yang dituliskan. Bacaan al-Quran yang aural dilantunkan begitu merdu, begitu indah, seperti puisi kanonis yang kaya akan semesta metafora.
Dalam al-Quran memang terdapat banyak muatan puisi dan prosa. Kisah nabi Adam dan Hawa, kisah nabi Musa, Isa, Yusuf, Sulaiman, Daud, dan cerita kaum Ad dan Thamud, cerita Ashabul Kahfi, Ashabul Fil, Isra-Mikraj, merupakan kisah-kisah dalam bentuk prosa dan puisi. Hasil penelitian Shahnon Ahmad (1977) dari Malaysia menunjukkan ada sebanyak 227 surat Alquran yang merujuk para penyair, terutama penyair jahiliyah. Dalam surat-surat Makiyah (surat yang turun di Mekah), terutama yang pendek-pendek, struktur stilistik (gaya) dan bahasa sangat bertumpu pada struktur puisi. Kata alif, lam, mim, ya, ain, shod, menunjukkan stilistik yang sama dengan puisi.
Sudah banyak riwayat diceritakan bagaimana pesona keindahan bahasa dan stilistika Alquran yang mampu menggugah orang bahkan terpengaruh olehnya. Kisah masuk Islamnya pujangga al-Walid bin al-Mughirah yang diutus oleh suku Quraisy untuk berdialog dengan nabi Muhammad, kisah terpesonanya Umar bin al-Khattab terhadap al-Quran hingga ia masuk Islam, merupakan kisah tentang keindahan bahasa dan gaya Alquran. Ketakjuban masyarakat terhadap al-Quran muncul dari adanya semacam gairah akan kesusastraan. Kita masih ingat ketika al-Quran diturunkan, masyarakat Arab pada waktu itu sudah memiliki tradisi sastra yang kuat. Ketika masyarakat Arab menerima al-Quran pun senantiasa dikaitkan dan diuji dengan sastra, terutama keindahan bahasa, retorika, dan gayanya.
Keindahan al-Quran ketika dibacakan mengandung kekuatan sastrawi yang mampu membetot pikiran dan perasaan pendengarnya. Maka tak heran bila ada yang beranggapan bahwa Alquran mengandung kekuatan magis yang mampu memengaruhi orang yang membaca atau mendengarkannya. Ini tentu tidak mengherankan karena keindahan Alquran itu sendiri berasal dari yang Mahaindah. Allah sendiri Mahaindah dan mengagumi keindahan.
Jika Allah adalah Mahaindah maka sudah tentu firmannya juga indah. Kata al-Quran sendiri berarti bacaan, bacaan yang indah. Untuk mendekati Alquran yang indah disyaratkan dengan pendekatan yang mampu menguak tabir keindahannya. Dan ini sangat mungkin dilakukan dengan kajian sastra yang memang sangat apresiatif terhadap bahasa dan seni keindahan. Dengan kata lain, “mendekati” yang Mahaindah yang telah melahirkan firman yang sangat indah (al-Quran), sangat logis dengan pendekatan puisi. Manusia tak akan mampu “berjumpa” dengan yang Mahaindah dalam kondisi yang tidak indah atau kotor, karena itu untuk “menjumpai” yang Mahaindah dibutuhkan seperangkat alat yang indah atau minimal yang menghargai keindahan.
Amin al-Khuli pernah mengajukan metode pendekatan sastra dalam membangkitkan semesta metafora dalam Alquran. Seorang mufasir, kata Amin al-Khuli dan Nashr Hamid Abu Zayd dalam buku Metode Tafsir Sastra versi terjemahan bahasa Indonesia (Fakultas Adab Press IAIN (sekarang UIN) Yogyakarta, 2004) mau tak mau harus menggunakan ilmu-ilmu sastra seperti gramatika, metafora, gaya, agar mampu menghindari makna monolitik atas al-Quran, dan pada saat yang sama, mampu menghadirkan keragaman makna al-Quran itu sendiri.
Amin al-Khuli tidak sendirian, muridnya, Nashr Hamid Abu Zayd bahkan telah mengaplikasikan pendekatan teks dan metode tafsir sastra dalam menguak dimensi keindahan al-Quran. Jauh sebelum Amin al-Khuli, ulama tafsir yang menekankan bahasa dalam tindak penafsiran al-Quran adalah Muhammad Abduh (1848–1905) dan Thaha Husayn (1889–1973). Di Indonesia, tentu kita masih ingat H.B. Jassin dalam Al-Quran Bacaan Mulia dan Al-Quran Berwajah Puisi yang sangat heboh itu.
Adakah yang salah dengan cara seperti itu? Metode tafsir sastra atas al-Quran itu sendiri merupakan sebuah ijtihad. Bila kini banyak para ulama dan pemikir yang menggunakan pendekatan sosiologi, antropologi, psikologi, sejarah, filsafat, dalam menafsirkan al-Quran, dan banyak yang tak lagi keberatan, maka metode tafsir sastra atas al-Quran sangat mungkin dilakukan. Mengungkap makna terhadap ayat-ayat Alquran melalui pendekatan puisi atau prosa tidak berarti menempatkan al-Quran di bawah puisi. Justru dengan cara ini, keindahan al-Quran tidak semata-mata sebagai klaim sempit umat Islam, tapi akan memiliki landasan argumentasi pengetahuan yang kuat. Bila kita percaya bahwa al-Quran itu indah dan penciptanya Mahaindah maka pendekatan sastra yang menekankan sisi keindahan tak akan mampu menggerogoti kemukjizatan Alquran.
Bukankah jalan menuju ke pengetahuan tentang mukjizat Alquran senantiasa terpampang bagi siapa saja yang ingin mengetahui keindahannya. Pintu untuk bisa membuka rahasia kemukjizatannya betapapun kecilnya yang bisa dilakukan oleh manusia sangat mungkin dengan kajian sastra dan puisi khususnya. Mengapa puisi? Karena “puisi”, kata ‘Abd al-Qahir, akan mampu menjamin anda untuk tak terjebak pada akidah tunggal itu, seraya menganggap yang lain kafir, akan menjamin anda untuk tak melakukan kesalahan di dalam membuat klaim, menjaga anda untuk tak menjadi orang yang alim hanya secara taklid semata.

* Asarpin, Peminat Kajian Sastra
Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/04/alquran-keindahan-aural-dan-puisi.html

Posted in Essay Sastra, Karya Sastra, Teori Sastra, Teori Sastra Muslim

Benarkah Sastra Islam Ada?


 

Oleh: Matroni el-Moezany*
diunduh pada tanggal 04/05/2011

       Selama ini sastra hanya berkutat pada ranah yang bernuansakan sastra pemberontakan, sastra romantis, seperti setiap minggu di Koran Sindo, setelah saya amati setiap hari Minggu Koran Sindo Pasti edisi sastra khsusnya puisi. Pasti puisi-puisinya romantis yang dimuat. Bahkan puisi romantis tidak ber-roh. Bukannya penulis tidak sejutu dengan puisi semacam itu, tapi bagaimana kita menjaga eksistensi perkembangan sastra yang lebih serius lagi.
     Berbicara mengenai sastra Islam di Indonesia, hampir selalu mengundang polemik. Polemik tersebut bahkan tak beranjak dari hal yang itu-itu juga, yaitu pro dan kontra mengenai apa yang disebut sebagai “
pengkotak-kotakan sastra“, serta masalah definisi dan kriteria sastra Islam. Uniknya, pihak yang tidak setuju dengan istilah atau konsep “sastra Islam” justru didominasi oleh kalangan muslim sendiri.
      Begitu pula dengan A. Hasjmy yang memiliki perhatian yang besar terhadap kesusastraan Islam. Ia lebih banyak membahas karya para pengarang hikayat Aceh atau lagi-lagi berhenti pada angkatan Pujangga Baru. Sementara Ali Audah yang juga tertarik di bidang tersebut, lebih sering membahas sastrawan-sastrawan Islam dari Timur Tengah atau Mesir.
      Pembahasan tentang sastra Islam saat ini di Indonesia menjadi sangat minim, kalau boleh dikatakan nyaris tak ada. Mati?. Jangankan pembahasan karya, apa itu sastra Islam saja sampai saat ini masih kabur alias tak ada rujukan yang jelas, baik dari para sastrawan sendiri, kritikus maupun ulama.
      Sebenarnya cukup banyak beberapa sastrawan muslim yang memberi istilah sendiri pada karya sastra yang dibuatnya yang mengarah pada “sastra Islam” Istilah-istilah tersebut berakar pada wacana keimanan atau religiusitas yang dibawanya. Ada yang menyebutnya sastra pencerahan (Danarto), sastra profetik (Kuntowijoyo), sastra sufistik (Abdul Hadi WM), sastra zikir (Taufiq Ismail), sastra terlibat dengan dunia dalam (M. Fudoli Zaini), sastra transenden (Sutardji Calzoum Bachri), dan sebagainya. Namun selain Abdul Hadi WM, tak satu pun yang mengidentikkan penyebutan tersebut dengan sastra Islam, walau sebenarnya hal tersebut, tak bisa dinafikan, merupakan tafsir lain dari sastra Islam.
      Polemik tentang sastra Islam selama ini membuat cukup banyak kalangan bingung dan terus mencari-cari informasi tentang hal tersebut. Apalagi perihal sastra Islam jarang disinggung oleh para sastrawan, kritikus bahkan ulama karena tidak atau belum dianggap sebagai sesuatu yang penting. Padahal dalam konteks Islam, semua yang dilakukan seorang muslim seharusnya merupakan bentuk dari ibadahnya kepada Allah, termasuk dalam berkesenian dan bersastra, sebagaimana yang dikatakan Allah “Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaku.
      Sastra dalam bahasa Islam (Arab) disebut adab. Mungkin di benak kita akan langsung mengkaitkannya dengan kesopanan. Sudah tentu untuk menjadi manusia yang baik kita haruslah beradab. Namun definisi adab dalam sastra jauh lebih besar daripada itu. Menurut Shauqi Dhaif, adab (sastra) adalah karya yang dapat membentuk ke arah kesempurnaan kemanusiaan, yang di dalamnya terkandung ciri estetika dan kebenaran. Dalam Islam, sastra haruslah mendorong hasrat masyarakat untuk menjadi pembaca yang yang baik. Masyarakatlah yang menjadi target utama pemahaman kesusastraan.
     Definisi seni dan sastra Islam menurut Said Hawa dalam bukunya Al-Islam III, adalah seni atau sastra yang berlandaskan kepada akhlak Islam. Senada dengan Said Hawa, menurut Ismail Raja Al Faruqi, Seni Islam adalah seni infiniti (seni ketakterhinggaan), di mana semua bentuk kesenian diakomodir pada keyakinan akan Allah. Ia juga menyatakan bahwa ekspresi dan ajaran Al-Quran merupakan bahan materi terpenting bagi ikonografi seni atau sastra Islam. Dengan demikian seni Islam dapat dikatakan sebagai seni Qur’ani.
    Harun Daud berkata, “Tujuan kesusastraan adalah untuk mendidik dan membantu manusia ke arah pencapaian ilmu yang menyelamatkan. Bukan untuk membentuk makna spekulatif. Sebuah karya sastra atau karya seni dalam Islam adalah alat atau bantuan dan bukannya pengakhiran realita itu sendiri.” Sementara menurut Shanon Ahmad bersastra dalam Islam haruslah bertonggakan Islam, yaitu sama seperti beribadah untuk dan karena Allah.
     Dalam Manifes Kebudayaan dan Kesenian Islam 13 Desember 1963 di Jakarta, yang dideklarasikan untuk merespon Lekra dan Manifes Kebudayaan 17 Agustus 1963 para seniman, budayawan muslim beserta para ulama yang dimotori Djamaludin Malik, menyatakan bahwa yang disebut dengan kebudayaan, kesenian (kesusastraan) Islam ialah manifestasi dari rasa, karsa cipta, dan karya manusia muslim dalam mengabdi kepada Allah untuk kehidupan ummat manusia. Seni Islam adalah seni karena Allah untuk umat manusia (l’art par die et l’art pour humanite) yang dihasilkan oleh para seniman muslim bertolak dari ajaran wahyu Ilahi dan fitrah insani.
    Setahun sebelumnya, Majelis Seniman dan Budayawan Islam yang di antaranya terdiri dari Hamka, M. Saleh Suady dan Bahrum Rangkuti dalam bab tentang sikap Islam terhadap kebudayaan dan kesenian mengatakan, bahwa tujuan kebudayaan pada umumnya dan kesenian pada khususnya tidaklah semata bertujuan “seni untuk seni” atau “seni untuk rakyat” tetapi harus diluhurkan menjadi: “seni untuk kebaktian ke hadirat Allah” yang dengan sendirinya mencakup tujuan memajukan kesenian yang bermanfaat lahir batin dan untuk kemanusiaan.
     Karya sastra Islam tidak akan pernah mendeskripsikan hubungan badani, kemolekan tubuh perempuan atau betapa indahnya kemaksiatan, secara vulgar dengan mengatasnamakan seni atau aliran sastra apa pun. Ia juga tak membawa kita pada tasyabbuh bi’l kuffar, apalagi jenjang kemusyrikan. Sastra Islam akan lahir dari mereka yang memiliki ruhiyah Islam yang kuat dan wawasan keislaman yang luas. Penilaian apakah karya tersebut dapat disebut sastra Islam atau tidak bukan dilihat pada karya semata, namun juga dari pribadi pengarang, proses pembuatannya hingga dampaknya pada masyarakat. Sastra Islam bagi pengarangnya adalah suatu pengabdian yang harus dipertanggungjawabkan pada umat dan Allah. Sastra dalam kehidupan seorang muslim atau muslimah pengarang adalah bagian dari ibadah. Tak bisa dipetakan secara tersendiri. Dengan demikian, akhirnya, sastra Islam dan sastra bersumberkan Islam, adalah salah satu alternatif dalam memperkaya khazanah kesusastraan Indonesia.
      Kita tahu, Allah tak pernah memaksa manusia untuk memeluk Islam. “Laa ikraaha fiddiin” Begitu juga tak ada paksaan bagi para sastrawan muslim sekali pun untuk menulis dengan pola yang sudah digariskan oleh Islam, berdasarkan ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam al-Quran maupun sunnah Rasulullah Muhammad saw. Semuanya kembali pada pilihan masing-masing. Sastrawan yang memilih jalan sastra Islam boleh saja menghimbau sastrawan lain untuk mengikuti jejaknya, namun tak boleh memaksakan kehendaknya, seperti apa yang dilakukan para sastrawan yang dahulu tergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang memaksa para sastrawan Indonesia untuk menulis dengan memakai ideologi mereka sebagai dasar.
     Sebaliknya, adalah sesuatu yang bijak, bila kita juga menghargai dan menghormati sebagian kalangan sastrawan muslim yang telah memilih sastra Islam sebagai sarana berekspresi sekaligus sarana mereka dalam ber-ammar ma’ruf nahi munkar sebagaimana yang diperintahkan Allah. Mengutip A. Teuw, bagaimana pun, konsep keindahan dan estetika bukan hanya dalam bidang kesusastraan amat berbeda antara kepercayaan Islam dengan kepercayaan Barat sekuler. Sekuler menilai keindahan sebagai freedom of expression, sementara Islam menilai keindahan sebagai sarana untuk menyampaikan kebenaran.


*Penggiat bidang sastra dan budaya kutub dan aktif di Forum Sastra Pesantren Indonesia (FSPI) tinggal di Yogyakarta
Posted in Teori Sastra, Teori Sastra Muslim

Memaknai Sastra Islam(i)


Oleh: Dadan Rusmana
 
          Penisbahan kata Islam(i) terhadap kata “Sastra”, yakni dalam sastra Islam(i) atau Islamic Literature adalah sama dengan penggunaan kata Islam(i) atau Islamic dalam penisbahannya terhadap kata-kata lain. Kata Islamic, misalnya, dinisbatkan pada beberapa kata umum, yakni Islamic Civilization [peradaban Islam], Islamic culture [kebudayaan Islam], Islamic Law [hukum Islam], Islamic Tradition [tradisi Islam],dll. Dilihat dari hal tersebut, maka kata Islamic [adjective; kata sifat}, merupakan hal yang dapat diterima dalam tradisi kajian keilmuan dan penelitian.

       Kata Islamic tersebut dapat merujuk pada beberapa makna, 1) hasil atau peristiwa yang lahir karena ikatan atau terikat [secara sentripetal dan sentrifugal] terhadap nilai-nilai keislaman. Pada kategori ini, Islamic Civilization bermakna sebagai peradaban yang diilhami, tergerakkan, dan terikat dengan nilai-nilai keislaman. Dalam kategori inilah, Islamic Civilization dimaknai sebagai “Peradaban Islam(i)”; 2) hasil atau peristiwa yang lahir dari Islam sebagai nama dari sebuah agama, yakni agama Islam. Pada kategori ini, Islamic Civilization bermakna peradaban yang lahir dari para pemeluk agama Islam, atau muslim. Dengan demikian, Islamic civilization dapat juga dimaknai sebagai Muslim civilization [peradaban muslim].
       Mengacu pada pemaknaan pertama, maka Islamic Literature (sastra Islami) dimaknai secara singkat sebagai “sastra yang mengandung nilai-nilai keislaman.” Yang dimaksud dengan nilai-nilai keislaman adalah nilai-nilai yang terdapat dalam al-Qur’an dan al-Sunnah. Dengan demikian, sastra Islam(i) adalah sastra yang mengambil nilai-nilai dalam al-Qur’an dan al-sunnah sebagai spirit atau ruh dari nilai yang dikirimkannya kepada para pembaca. 
      Variasi dari pemaknaan ini, sastra Islam(i) adalah 1) sastra yang terikat dengan nilai-nilai yang terdapat dalam al-Qur’an dan al-sunnah; 2) sastra yang mendakwahkan nilai-nilai yang ada dalam al-Qur’an dan al-sunnah; 3) sastra yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai al-Qur’an dan al-Sunnah. Ketiga pemaknaan ini memiliki “orientasi” [kecendrungan] yang variatif [atau berbeda]. 
      Sekalipun rumusannya cukup sederhana, namun karena nilai-nilai yang ada dalam al-Qur’an dan al-Sunnah itu cukup kompleks, maka memaknai dan mengejawantahkannya dalam sastra juga akan lebih kompleks. Misalnya, muncul simplikasi persepsi atau bahkan mispersepsi dari beberapa orang pembaca dan penulis yang menganggap bahwa jika mengusung nilai-nilai keislaman, maka karya sastra cenderung akan normatif, dipenuhi oleh simbol-simbol [baca terminologi Islam-Arab], dan tidak memberi ruang bagi eksplanasi realitas “perbuatan buruk” atau bahkan “dunia hitam”. Bisa jadi, sebagian penulis menuntut adanya eksplisitas simbol dan pesan, bahkan karkater, setting, dan plot, yang secara vulgar menonjolkan “serba Islam” [dan sering disimplikasi menjadi serba-Arab]”. Kelompok ini dinamakan sebagai kelompok formalis-normatif. 
        Sebagian penulis sastra memberikan pandangan lain bahwa nilai-nilai ke-Islaman tidaklah selamanya harus muncul secara eksklusif, simbolis, dan vulgar; tetapi muncul dalam bentuk yang inklusif. Andai karya sastra tersebut mengusung nilai-nilai kebaikan [universal] dan menjauhkan pembacanya untuk menjauhi nilai-nilai keburukan, maka dengan sendirinya, ia akan sesuai dengan nilai-nilai keislaman. Karenanya, karya seperti ini berhak disebut sebagai karya sastra Islam(i). Nilai-nilai kebaikan universal dimaksud adalah kejujuran, perdamaian, persaudaraan, kesamaan hak dan kewajiban, dan lain-lain.
     Terlepas dari berbagai perdebatan yang mewarnai  polemik tentang berbagai dimensi Islam, terdapat beberapa nilai yang harus ada dalam sastra Islam(i) ini, yakni:
  1. Mengenalkan dan mengokohkan nilai-nilai ketauhidan dan keimanan; sastra Islam(i) berisi berbagai unsur intrinsik yang berupaya mengenalkan Allah yang Maha Esa dengan berbagai sifat kesempurnaannya [tauhidullah= mengesakan Allah] serta mengajak pembacanya untuk terus mengilmui, memelihara, dan mengokohkan ketauhidan mereka. Lebih lanjut, sastra Islam(i) pun berupaya menyuguhkan berbagai unsur karyanya untuk mengukuhkan pemahaman dan keyakinan pembacanya akan “rukun iman’. Pada sisi lain, sastra Islam(i) mengingatkan pembacanya untuk menjauhi perbuatan syirik [menyekutukan Allah] dan perbuatan mengkafirkan Tuhan.
  2. Mengenalkan dan mengajak pembaca untuk menta’ati syari’at. Sama halnya dengan point pertama, sastra Islam(i) berupaya mengenalkan berbagai syari’at Islam, baik yang berkaitan dengan syari’at dalam bidang ibadah, akhwal al-sakhsiyyah, mu’amalah, siyasah, jinayah, dll; serta mengajak pembacanya untuk menaati dan mengamalkan berbagai aturan yang telah digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya [melalui al-Qur’an dan al-Sunnah]. Pada sisi lain, sastra Islam(i) mengajak pembacanya untuk menjauhi usaha untuk pelanggaran dan pembangkangan terhadap berbagai aturan Allah dan Rasul-Nya.
  3. Mengenalkan dan mengajak pembaca untuk mengamalkan akhlak karimah [akhlak mulia] dalam berbagai relasinya, yakni a) hubungannya dengan Allah [habl min Allah], b) hubungannya dengan sesama manusia [habl min al-nas], dan c) hubungannya dengan alam [lingkungan; habl min al-alam]. Akhlak Karimah yang diusung oleh sastra Islam(i) pada dasarnya adalah nilai-nilai kebaikan universal, seperti kejujuran, dan amanah. Pada sisi lain, Sastra Islam(i) mengingatkan pembacanya agar menghindari akhlak yang buruk (akhlaq madzmumah), seperti menjauhi bohong (kidzb), korupsi, dan berbuat dzalim.
     Secara konseptual, sastra Islam(i), sepertinya, mudah untuk dibuatkan rambu-rambunya. Namun pada real dan aplikasinya, sangat mungkin, cukup sulit untuk diidentifikasi dan diwujudkan. Hal ini karena berbagai karya yang ada, secara relatif, tidak dapat sepenuhnya memenuhi kriteria di atas. Tiga aspek unsur-unsur nilai di atas juga, pada realitasnya, memiliki interpretasi yang berbeda-beda, sehingga standar pengukurannya juga bersifat relatif dan bahkan subjektif. 
     Namun perlu disadari bahwa sastra Islam(i) adalah sesuatu yang berproses, berdialektika, dan “menjadi”, bukan sesuatu yang sekali jadi (atau langsung menemukan bentuknya). Karenanya, tidaklah perlu berkecil hati jika kita belum menemukan sastra Islam(i) dengan kriteria di atas dalam waktu cepat.  Perlu diyakini juga, bahwa terdapat sejumlah karya yang mendekati standar sebagai Sastra Islam(i), terutama sejumlah karya yang lahir dari kalangan sastra sufistik, jika kita mampu menelisiknya secara teliti dan penuh kesabaran.
Posted in Teori Sastra, Teori Sastra Muslim

Sastra dalam Peradaban Islam


Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai literature. Menurut Oxford English Dictionaryliterature berasal dari kata ‘littera’ yang berarti huruf atau tulisan yang bersifat pribadi. Makna literature identik dengan semua karya tulis manusia, dan tidak memiliki penunjukkan pada kitab suci, karena masyarakat Eropa (dan Amerika), diasumsikan, tidak memiliki agama yang memiliki kitab suci. Demikian pula, kata literature identik dengan sastra tulisan, karena masyarakat Eropa sangat sedikit memiliki sastra lisan. Hampir semua sastra lisan di Eropa (dan Amerika) telah tertuliskan. Oleh karenanya, sastra lisan tidak mendapatkan tempat yang luas dalam tradisi pengkajian sastra di Eropa (dan Amerika).

Berbeda dengan kata literature, kata Sastra berasal dari kata Shastra (Sansakerta), yang berarti tulisan atau kitab suci; dengan demikian pada bahasa Sankrit, term sastra terkait erat atau melekat dengan kitab suci. Dengan kata lain, sastra adalah kitab suci dan kitab suci adalah sastra. Persoalannya kemudian adalah ketika kata sastra ini diadopsi/dipinjam oleh bahasa Indonesia (dan lainnya), kata sastra ini telah mengalami perubahan semantik, yakni meliputi semua karya tulis, terutama yang profan, atau mirip dengan pemaknaan literatur.

Sedangkan dalam bahasa Arab, sastra disebut adab yang berasal dari sebuah kata yang berarti ‘mengajak seseorang untuk makan’, yang menyiratkan kesopanan, budaya, dan pengayaan. Mulanya adab terkait dengan adat istiadat orang Arab untuk menghormati tamu. Dari muncul varian makna adab, yakni 1) etika dan seni mengolah dan menghidangkan makanan, 2) etika dan seni menghormati dan menjamu tamu dengan bentuk syair;  dalam konteks ini, adab menemukan konteks spesifiknya sebagai “Sastra” 3) adab juga bermakna pula “pendidikan” (addaba; mendidik); hal ini bermakna bahwa sastra merupakan alat/media pendidikan nilai-nilai kebaikan dan tujuan sastra adalah untuk mendidik individu dan masyarakat

Sastra menempati posisi yang terbilang penting dalam sejarah peradaban Islam, baik pada masa awal maupun pada masa perkembangannya hingga sekarang. Karena Islam dan umat Islam mulai lahir dari tanah dan penduduk Jazirah Arab, maka sejarah sastra Islam (sastra Muslim) tak dapat dilepaskan dari perkembangan sastra Arab. Sebab, bahasa Arab merupakan bahasa yang digunakan dalam kitab suci Islam (al-Quran). Bahasa Arab dalam bentuk klasiknya, yang sebagiannya digunakan dalam al-Quran mampu memenuhi kebutuhan religius, sastra, artistik dan bentuk formal lainnya. Sastra Arab (Islami) atau al-Adab Al-Arabi al-Islami) tampil dalam beragam bentuk prosa, fiksi, drama, dan puisi.

Lalu bagaimanakah dunia sastra berkembang dalam peradaban masyarakat Islam, terutama masa awal sejarah Muslim? Sejatinya, sastra Arab telah mulai berkembang sejak sebelum abad ke-6 M, yakni ketika masyarakat Arab masih berada dalam peradaban pra-Nabi Muhammad. Namun, karya sastra tertulis yang tumbuh era itu jumlahnya masih terbatas dan belum menjadi bagian pendidikan bagi masyarakat luas (massif). Namun demikian, kemampuan (atau komptensi bersastra) pada saat itu telah menjadi status intelektual, sosial, dan status budaya; artinya, mereka yang mampu menyusun dan menghafal sastra (terutama syair) akan disebut memiliki tingkat intelektualitas tinggi (terpelajar; adib), memiliki status sosial yang baik (kalangan menengah, bahkan aristokrat), dan mempunyai tingkat budaya (etika dan moral) yang tinggi pula.

Pada saat ini, paling tidak, ada dua bentuk karya sastra penting yang terkemuka yang ditulis sastrawan Arab di era pra-Islam. Keduanya adalah Mu’allaqat dan Mufaddaliyat. Kedua bentuk ini menjadi dasar bagi perkembangan sastra Arab (dan sastra Muslim) selanjutnya. Orang pertama yang mengenalkan dunia Barat dengan sastra Arab jahili adalah William Jones (1746 M -1794 M), dengan bukunya Poaseos Asiaticae Commen tarii Libri Sex atau penjelasan Mu’allaqaat al-Sab’a yang diterbitkan tahun 1774 M. Sastra Arab jahili memiliki ciri-ciri yang umumnya yang menggambarkan suatu kebanggaan terhadap diri sendiri (suku), keturunan, dan cara hidup.

Sastra Arab memasuki babak baru sejak agama Islam diturunkan di Jazirah Arab yang ajarannya disampaikan melalui Alquran. Kitab suci umat Islam itu telah memberi pengaruh yang amat besar dan signifikan terhadap bahasa dan sastra Arab. Bahkan, bahasa dan sastra Alquran menjadi salah satu sub-genre tersendiri dalam genre bahasa dan sastra Arab. Pada perjalanannya, al-Qur’an tidak hanya memberi pengaruh terhadap bahasa dan sastra Arab, namun juga terhadap kebudayaan secara keseluruhan. Bahasa yang digunakan dalam Alquran disebut bahasa Arab klasik, fusha, (pra- Nabi Muhammad). Hingga kini, bahasa Arab klasik masih sangat dikagumi dan dihormati di kalangan para pengguna bahasa Arab, terutama di daerah Jazirah Arab.

Bahasa al-Quran merupakan medium firman Allah SWT yang sangat luar biasa (i’jaz). Terdiri dari 114 surat dan 6666 ayat, Alquran berisi tentang perintah, larangan, kisah, dan cerita perumpamaan itu begitu memberi pengaruh yang besar bagi perkembangan sastra Arab. Sebagian orang menyebut Alquran sebagai “karya sastra” terbesar (Nurkholis Setiawan, 2008). Namun, sebagian kalangan tak mendudukan Alquran sebagai karya sastra, karena merupakan firman Allah SWT yang tak bisa disamakan dengan karya manusia; umumnya mereka mengatakannya secara lebih eufimis, yakni “bahwa al-Qur’an memiliki nilai sastrawi tinggi yang melebihi kemampuan dan keberhasilan manusia untuk membuatnya”.

Selain al-Qur’an, teks penting lainnya dalam agama Islam, yang juga menjadi bagian dari khazanah sastra Muslim adalah hadits atau sunnah. Penelitian serta penelusuran terhadap masa-masa kehidupan Nabi Muhammad SAW telah memicu para sarjana Muslim untuk mempelajari bahasa dan budaya Arab. Atas dasar pertimbangan itu pula, para intelektual Muslim mengumpulkan kembali puisi-puisi pra-Islam dan masa Islam awal. Hal itu dilakukan untuk mengetahui bagaimana sesungguhnya kehidupan Rasulullah sampai akhirnya menerima wahyu dan menjadi Rasul. Dalam konteks ini, bahasa dan sastra al-Qur’an dan al-Hadits menjadi epicentrum dari kajian para ulama, intelektual linguist, serta sastrawan  Muslim dan non-Muslim. Jejak dan perjalanan hidup Muhammad SAW yang begitu memukau juga telah mendorong para penulis Muslim untuk mengabadikannya dalam sebuah biografi yang dikenal sebagai al-Sirah al-Nabawiyyah. Sarjana Muslim yang pertama kali menulis sejarah hidup Nabi Muhammad adalah Wahab bin Munabbih. Namun, al-Sirah al-Nabawiyyah yang paling populer ditulis oleh Muhammad bin Ishaq. Al-Sirah kemudian menjadi salah satu bentuk genre sastra Arab (Muslim).

Studi bahasa dan sastra Arab pertama kali sebenarnya telah dilakukan sejak era Kekhalifahan Ali RA. Hal itu dilakukan setelah khalifah melakukan kesalahan saat membaca Alquran. Dia lalu meminta Abu al-Aswad al-Du’ali untuk menyusun tata bahasa (grammatika) bahasa Arab. Khalil bin Ahmad lalu menulis Kitab al-Ayn–kamus pertama bahasa Arab yang mengikuti tata urutan alphabet tertentu. Setelahnya, muncullah Imam Sibawaih, yang merupakan sarjana Muslim yang menulis tata bahasa Arab yang sangat populer yang berjudul al-Kitab.

Sejarah mencatat, sastra sangat berkembang pesat di era keemasan Islam. Di masa kekhalifahan Islam berjaya, sastra mendapat perhatian yang amat besar dari para penguasa Muslim. Tak heran, bila di zaman itu muncul sastrawan Islam yang terkemuka dan berpengaruh. Di era kekuasaan Dinasti Umayyah (661 M – 750 M), gaya hidup orang Arab yang berpindah-pindah mulai berubah menjadi budaya hidup menetap dan bergaya kota. Pada era itu, masyarakat Muslim sudah gemar membacakan Syair (puisi) dengan diiringi musik. Pada zaman itu, puisi masih sederhana. Puisi Arab yang kompleks dan panjang disederhanakan menjadi lebih pendek dan dapat disesuaikan dengan musik. Sehingga puisi dan musik pada masa itu seperti dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan.

Sastra makin berkilau dan tumbuh menjadi primadona di era kekuasaan Daulah Abbasiyah – yang berkuasa di Baghdad pada abad ke-8 M. Masa keemasan kebudayaan Islam serta perniagaan terjadi pada saat Khalifah Harun Ar-Rasyid dan puteranya Al-Ma’mun berkuasa. Pada era itu, prosa Arab mulai menempati tempat yang terhormat dan berdampingan dengan puisi. Puisi sekuler dan puisi keagamaan juga tumbuh beriringan. Para sastrawan di era kejayaan Abbasiyah tak hanya menyumbangkan kontribusi penting bagi perkembangan sastra di zamannya saja. Namun juga turut mempengaruhi perkembangan sastra di Eropa era Renaisans. Salah seorang ahli sastrawan yang melahirkan prosaprosa jenius pada masa itu bernama Abu ?Uthman ?Umar bin Bahr al- Jahiz (776 M – 869 M) – cucu seorang budak berkulit hitam.

Berkat prosa-prosanya yang gemilang, sastrawan yang mendapatkan pendidikan yang memadai di Basra. Irak itu pun menjadi intelektual terkemuka di zamannya. Karya terkemuka Al-Jahiz adalah Kitab al-Hayawan (Buku tentang Binatang’ sebuah antologi anekdot-anekdot binatang – yang menyajikan kisah fiksi dan non-fiksi. Selain itu, karya lainnya yang sangat populer adalah Kitab al-Bukhala (Book of Misers), sebuah studi yang jenaka namun mencerahkan tentang psikologi manusia.

Pada pertengahan abad ke-10 M, sebuah genre sastra di dunia Arab kembali muncul. Genre sastra baru itu bernama maqamat Sebuah anekdot yang menghibur yang diceritakan oleh seorang pengembara yang menjalani hidupnya dengan kecerdasan. Maqamat ditemukan oleh Badi’ al- Zaman al-Hamadhani (wafat tahun 1008 M). Dari empat ratus maqamat yang diciptakannya, kini yang masih tersisa dan bertahan hanya 42 maqamat.

Sumber: 

  1. heri ruslan (republika); http://koran.republika.co.id/koran/0/145022/Sastra_dalam_Peradaban_ Islam
  2. M. Nurkholis Setiawan, Al-Qur’an Kitab Sastra Terbesar, Yogyakarta: LSAQ, 2005.

===

Beragam Bentuk Kesusasteraan Khas Arab

1. Puisi
Sebagian besar kesusasteraan Arab sebelum abad ke-20 M didominasi oleh puisi. Bahkan bentuk prosa pun pada periode itu kerap diwarnai dengan puisi atau prosa bersajak. Tema puisi Arab berkisar antara sanjungan dan puji-pujian terhadap seseorang sampai ?menyerang’ orang lain. Selain itu, tema yang kerap kali ditampilkan dalam puisi Arab tentang keagamaan dan mistik hingga puisi yang mengupas tentang seks dan anggur.

2. Sasta non-fiksi
Di akhir abad ke-9 M, Ibnu Al-Nadim – seorang penjual buku terkemuka di Baghdad – mengoleksi hasil studi sastra Arab. Koleksi karya sastra Arab yang berkembang saat itu dituliskannya dalam sebuah katalog yang berjudul Kitab Al-Fihrist. Salah satu bentuk sastra non-fiksi yang berkembang di era kekhalifahan Abbasiyah berbentuk kompilasi.
Kompilasi itu memuat rangkuman fakta, gagasan, kisah-kisah seperti pelajaran, syair dengan topik tertentu. Selain itu bisa pula merangkum tentang rumah, taman, wanita, orangorang tuna netra, binatang hingga orang kikir. Tiga kompilasi yang termasyhur ditulis oleh Al-Jahiz. Koleksi yang ditulis Al-Jahiz itu terbilang sangat penting bagi siapa saja, mulai dari orang rendahan hingga pengusaha atau orang terhormat.

3. Biografi dan geografi
Selain menulis biografi Nabi Muhammad SAW, karya sastra Arab lainnya yang berhubungan dengan biografi ditulis oleh Al-Balahudri lewat Kitab Ansab Al-Ashraf atau Buku Geneologi Orang-Orang Terhormat. Selain itu, karya kesusateraan Arab lainnya dalam bentuk biografi ditulis oleh Ibnu Khallikan dalam bentuk kamus biografi. Lalu disempurnakan lagi oleh Al-Safadi lewat Kitab Al-I’tibar yang mengisahkan Usamah bin Munqidh dan pengalamannya saat bertempur dalam Perang Salib.
Karya sastra lainnya yang berkembang di dunia Arab adalah buku tentang perjalanan. Ibnu Khurdadhbih merupakan orang pertama yang menulis buku perjalanannya sebagai seorang pegawai pos di era kekhalifahan. Buku perjalanan lainnya juga ditulis oleh tokoh-tokoh terkemuka lainnya seperti Ibnu Hawqal, Ibnu Fadlan, Al-Istakhri, Al-Muqaddasi, Al-Idrisi dan yang paling terkenal adalah buku perjalanan Ibnu
Batutta yang berjudul Ar-Rihla.

4. Buku harian
Catatan harian Arab pertama kali ditulis sebelum abad ke-10 M. Penulis diari yang paling terkemuka adalah Ibnu Banna di abad ke-11 M. Buku harian yang ditulisnya itu disusun sangat mirip dengan catatan harian modern.

5. Sastra fiksi
Di dunia Arab, terdapat perbedaan yang sangat mencolok antara al-fusha (bahasa berkualitas) dengan al-ammiyah (bahasa orang biasa). Tak banyak penulis yang menuliskan ceritanya dalam al-ammiyah atau bahasa biasa. Hal itu bertujuan agar karya sastra bisa lebih mendidik ketimbang menghibur.

6. Kesusasteraan epik
Karya sastra fiksi yang paling populer di dunia Arab adalah kisah Seribu Satu Malam. Inilah salah satu karya fiksi yang paling besar pengaruhnya tehadap budaya Arab maupun non- Arab. Meski begitu, kisah yang sangat populer itu biasa ditempatkan dalam genre sastra epik Arab.

7. Maqamat
Maqamat merupakan salah satu genre sastra Arab yang muncul pada pertengahan abad ke-10 M. Maqama merupakan sebuah anekdot yang menghibur yang diceritakan oleh seorang pengembara yang menjalani hidupnya dengan kecerdasan. Maqamat ditemukan oleh Badi’ al-Zaman al- Hamadhani (wafat tahun 1008 M). Dari empat ratus maqamat yang diciptakannya, kini yang masih tersisa dan bertahan hanya 42 maqamat. Sastrawan lainnya yang mengelaborasi genre maqamat adalah Al-Hariri (wafat tahun 1122 M). Dengan menggunakan format yang sama, Al-Hariri menciptakan gaya maqamatnya sendiri.

8. Syair romantis
Salah satu syair romantis yang paling terkenal dari dunia kesusasteraan Arab adalah Layla dan Majnun. Puisi romantis ini membawa kenangan di era Kekhalifahan Abbasiyah pada abad ke-7 M. Kisah yang diceritakan dalam syair itu, konon telah menginspirasi lahirnya kisah percintaan yang tragis yakni Romeo dan Juliet. hri (Sumber: republika)

Posted in Sejarah Sastra, Sejarah Sastra Muslim, Teori Sastra, Teori Sastra Muslim

PERIODESASI SEJARAH SASTRA MUSLIM


  index
Kendala Periodesasi Sastra Muslim
     Tidaklah mudah untuk membuat pembabakan atau periodesasi sastra di dunia Islam. Faktor utamanya adalah karena periodesasi umumnya menjadikan “peristiwa besar” dalam bidang itu sebagai patokan peralihan, perubahan, atau pergantian periode, dari satu periode ke periode lain; sementara peristiwa besar dalam proses dan hasil “bersastra” dari masyarakat Muslim yang menjadi patokan peralihan dari periode ke priode sangat sulit diidentifikasi, bersifat relatif, dan sangat debatable. Misalnya, apakah yang menjadi patokan peralihah sastra itu ditandai dengan perubahan bahasa yang digunakan? atau perubahan bentuk [genre] sastra?, atau perubahan tema-tema sastra?, atau pergantian tokoh-tokoh sastra? atau perubahan zaman atau masa bersastra terkait dengan kekuasaan politik?

   Hanya saja, bagaimanapun, dengan berbagai kesulitan, bahkan kekurangan dan kelemahan yang ada, periodesasi sastra diperlukan untuk melihat perkembangan sastra dari zaman ke zaman. Hal yang umumnya dilakukan untuk pembabakan sastra di dunia Islam ini adalah mengekor pada peristiwa peralihan politik yang terjadi dalam sejarah politik Muslim (Islam). Harun Nasution dalam Islam Ditinjau dari Berbagai Aspek, membagi sejarah Islam, berdasar sejarah kekuasaan politik [dominan] di dunia Islam, ke dalam tiga periode, yakni masa klasik [611-1258 M], masa pertengahan [1258-1800 M], dan masa modern [1800 sampai masa sekarang].
Periodesasi Sastra Muslim
         Berdasarkan periodesasi yang diajukan Harun Nasution di atas, pembabakan Sastra Islam atau sastra Muslim dapat dipetakan menjadi beberapa periode, yakni klasik (611-1258 M), pertengahan (1258-1800), dan modern (1800-s.d. sekarang). Rinciannya adalah sebagai berikut.
        Pertama, Periode Klasik, yakni sastra muslim yang berkembang pada masa Rasulullah hingga masa hancurnya Bani Abbasiyah. Periode ini dapat dibagi lagi menjadi beberapa masa lagi, yakni:
  • Masa Rasulullah (23 Tahun, yakni 611-632);
  • Masa Khulafa al-Rasyidun (30 tahun, yakni 632-661);
  • Masa Daulah Umayyah (92 tahun, yakni 661-750);
  • Masa Daulah Abbasiyah (518 tahun, yakni 750-1258). Tahun 1258 ini merupakan titik tonggak peralihan dari masa klasik ke masa pertengahan dari periodesasi peradaban Islam. Tahun ini merupakan masa keruntuhan Dinasti Abbasiah yang berpusat di Baghdad karena serangan pasukan Mongol. Setelah keruntuhan ini, wilayah muslim dikuasai oleh penguasa-penguasa lokal [sultan atau wazir] yang berpusat di berbagai wilayah yang tersebar, baik di Timur maupun di Barat, hingga munculnya beberapa kerajaan besar di berbagai wilayah dunia Islam.
      Kedua, Periode Pertengahan, yakni sastra muslim yang berkembang pada masa 1258-1800. Sebagaimana dijelaskan di atas, bahwa setelah keruntuhan Baghdad, sebagai pusat utama kekhalifahan (kekuasaan politik) muslim, wilayah-wilayah muslim dikuasai oleh penguasa-penguasa lokal, yang kemudian dikenal sebagai “lima kerajaan muslim” besar, yakni Turki Utsmani [Eropa], Safawiah-Persia, Mughal-India [Asia Selatan], Aceh Darussalam (Melayu) dan Mataran Islam (Jawa) [Keduanya berada di Asia Tenggara]. Semua kerajaan ini tumbuh berkembang di daerah-daerah periferal [penyangga] dunia Islam, atau tidak muncul di wilayah pusat [Timur Tengah]. Karenanya, sebagian ahli menganggap masa ini sebagai abad kegelapan bagi Islam di Timur Tengah. Anggapan ini tidak terlalu salah jika sudut pandangnya adalah politik; tetapi jika ditelisik dari aktivitas lainnya, Islam di Timur Tengah tidaklah sesuram yang disajikan dalam bidang politik.
      Pada periode ini, kehidupan aktivitas sastra muslim berada pada beberapa wilayah besar, yakni
  • Sastra muslim pada wilayah protektorat Turki Utsmani,
  • Sastra muslim di wilayah Safawiyah-Persia,
  • Sastra muslim di wilayah Mughal-India,
  • Sastra muslim di Melayu-Nusantara, dan
  • Sastra muslim di Jawa (Cirebon, Banten, Demak,Mataran Islam)
  • Sastra muslim di Sulawesi (Bone dan Tidore)
     Ketiga, Periode Modern, yakni sastra muslim (Islam) yang berkembang pada masa 1800 hingga masa sekarang. Titik tonggak peralihannya adalah ketika dunia Muslim dikuasai oleh kolonial dan imperialis Eropa, terutama wilayah-wilayah di Timur Tengah. Misalnya, Mesir jatuh pada kekuasaan Napoleon Bonaparte pada tahun 1789. Pada sisi lain, imperialisme Eropa atas dunia Islam ini telah memunculkan berbagai gerakan pembaharuan dan modernisasi di berbagai wilayah Muslim. Karenanya, periode 1800 ini dijadikan tonggak masa modern dalam periodesasi sejarah Muslim.
     Periode ini dapat juga dipetakan menjadi beberapa masa:
  • Sastra muslim pada masa intensif persentuhan Barat terhadap dunia timur [untuk tujuan perdagangan dan koloni]
  • Sastra muslim pada masa kolonialisme dan imperialisme Barat atas dunia Timur
  • Sastra muslim pada masa pembaharuan pemikiran dan pergerakan menuju kemerdekaan
  • Sastra muslim pada masa revolusi fisik kemerdekaan dunia Islam
  • Sastra muslim pada masa pasca-kemerdekaan
     Pembabakan di atas, sekali lagi, mengikuti periodesasi politik yang terjadi pada masyarakat muslim.