Posted in Karya Sastra Muslim Modern di Afrika, Modern, Najib Kilani

HARI YANG DIJANJIKAN: NAJIB KAILANI


Pendahuluan     

Sebagaimana novel karya seorang Najib Kaelany yang lainya; novel yang satu ini merupakan novel sejarah yang didalamnya terdapat cirri – cirri sejarah kawasan benua Afrika tepatnya Mesir. Mesir adalah salah satu Negara yang dari zaman dahulu telah sedang menjadi pusat peradaban uat islam seluruh dunia. Semenjak runtuhnya babilonia yag pada mulanya seagai pusat peradaban Islam. Sekarang, Mesir telah menjadi Negara yang maju atas teknologi dan keilmuanya, salah satunya adalah karya sastra ini. Banyak sekali sebenarnya karya sastra yang terlahir dari para penulis creative anak bangsa Mesir; salah satuya adalah Najib Kaelany.
Beliau adalah seorang seniman yang berhasil mengangkat kisah – kisah sejarah dalam karyanya [epos sejarah]. Sejarah asli kerajaan Mesir semasa perag salib. Salah satuya adalah novel garapanya yang satu ini yang menceritakan seluk beluk perag salib dilihat dari segi sosialnya.
Najib Kaelany berusaha mengangkat peristiwa – peristiwa yang sebetulnya tidak perlu dikalaga banyak orang. Contohnya sikap manja dari seorang prajurit tangguh ketika menghadapi sorang wanita. Oleh karena itulah Najib Kaelany berusaha untuk easukan ekstrinsik karya sastra tersebut dari segi kehidupan social. Dan karyanya ini bersifat transparan karena dalam setiap alurnya berisi kisah – kisah yang mengangkat kaum wanita. Dari novel ini pula saya melihat bahwa adanya upaya dari Najib sendiri untuk menguak sifat dasar manusia yang ingin selalu dilindungi, berbuat kebaikan untuk orang lain dan memerikan rasa aman terhadap manusia yang lain.       
Sebenarnya peran karya sastra tidak jauh berbeda dengan peranan dunia pers yaitu sebagai control social. Dalam novel ini terdapat beberapa pejelasan mengenai sifat dasar manusi dan juga kondisi social yang mempengaruhi manusia tersebut menjadi lemah atau bahkan menjadi kuat. Banyak hal bias kita petik dari sepenggal kisah yang diceritakan; yaitu bagaimana seorang wanita yang kalau dilihat dari segi fisiknya leah, namu karena kondisi sosialya memaksa ia menjadi seorang wanita yang kuat dan mandiri. Bahkan sorang wanita bias menjadi sumber kekuatan bagi para prajurit pria yang akan berperang ke medan laga.            
Dalam kaitanya dengan dunia pers yang saat ini terkenal begitu pesat dalam perkembanganya, adalah dari sudut pandang perang pada saat ini. Invasi Amerika terahadap Irak telah menimbulkan banyak protes dari berbagai pihak seluruh dunia, kerena perbuatanya itu dianggap sebagai aksi yang tidak berprikemanusiaan. Dan duia pers pun menyoroti nya demikian sehingga timbulan anggapan demikian, akan tetapi sebagai pembanding dalam kasus perang irak tersebut adalah dengan di tampilkanya sosok para prajurit Amerika yang sedang termenung memikirkan nasibnya yang serba dalam ketidak pastian. Seorang prajurit yang duduk diatas tanker yang dikemudikanya sedang merenung mendengarkan kawan – kawanya yang sedang menyanyikan lagu rohani. Renungan seorang prajurit itu adalah renungan seorang pengasih terhadap sesama degan tatapan kosong terhadap semua peristiwa yang sedang berlalulalang dihadapanya. Dan nyanyian teman – temanya adalah ratapan sekelompok manusia terhadap teman – teman mereka yang gugur di medan perang.       
Jauh sebelum invasi Amerika ke Irak, ada seuntai kisah yang menceritakan keadaan peperangan dimana semua orang merasa resah akan adanya perang tersebut dan telah menimbulkan banyak korban dari rakyat yang tak berdosa; yaitu perang antara kaum salibis melawan kaum muslim dalam tragedy perang salib beberapa abad kebelakang. Oleh karena itulah setiap peristiwa yang bersifat peperagan akan selalu membawa dampak social yang buruk baik terhadap para prajurit ataupun masyarakat sekitar wilayah invasi.
Jadi sebenarya tidak ada bedaya antara invasi zaman dahulu dengan invasi zaman sekarang.
Menurut teorinya Sigmund Freud, seorang ahli psikologi, mengatakan bahwa kesadaran seseorang terlahir dari kesenangan yang dilaluinya, dan setiap kesenangan akan memberikan dampak yang sama terhadap objek yang dihadapiya. Karena kesadaran seseorang berasal dari kesenangan yang sama sebagai umat manusia, maka; setiap peristiwa kamapun dan dimanapun akan terjadi persis sama meskipun waktunya yang berbeda sagat jauh sekali.      
Pada sisi ini, Novel karya Najib kaelany ini merupakan novel sejarah yang meriwayatkan perjuangan seorang Raja yang melawan dua musuh beratnya, yaitu kaum salibis dari eropa dan penyakit yang menjalar dala tubuhnya, juga kisah perempuan yang sangat tangguh, persahabatan yang setia yang diperankan oleh tokoh rekaan. Tokoh rekaan dalam novel ini banyak mengisahkan rakyat biasa dan budak, sedangkan tokoh asli dalam kisah ini adalah orang – orang yang memegang kekuasaan di rerengan kerajaan Mamalik.           
Meskipun novel ini berbentik sejarah, akan tetapi bukan cerita sejarah, karena kalau cerita ini disusun berdasarkan kisah sejarah mulai dari alur plot dan penekanan terhadap climaksnya sesuai dengan kaidah buku ilmiah sejarah, maka; hal itu akan membuat karya ini sebagai buku sejarah dan bukan merupakan karya  sastra. Maka dari itulah pengarang sendiri menyadari akan pentingnya dalam memperhatikan karyanya hingga betul – betul sebagai karya sastra baik dari segi bentuk maupun isinya.

Analisis terhadap unsur intrinsik           

Dalam kisah ini terdapat dua jenis penokohan, sebagaiana telah dijelaskan dalam pembukaan novel ini, diataranya:
Tokoh – tokoh sejarah:
  • raja al malikus najmudin saleh ayyub
  • sajarattudur
  • fakhrudin bin syaikus syuyuk
  • Ø  turan syah
  • Ø  raja louis IX
  • Ø  pangeran Dereto – saudara raja louis
  • Ø  Marseil
  • Ø  Pendeta Robert     
Tokoh – tokoh rekaan :
  • Adnan bin Mujnir
  • Zumrudah
  • Abdul A’ la bin Salmon
  • Yaqutah

 

Karakterisasi:

Tokoh sejarah:
  • Raja AlMalikus Saleh sifatya tangguh, tidak pantang menyerah, dan bersahaja
  • Sajaratudur adalah seorag wanita cantik rupawan dan pemeri seangat terhadap suamiya raja Al Malikus Saleh,
  • Turan Syah adalah dari Al Malikus yang kikir dan cabul sehingga dibenci oleh ayahnya, juga rakyatnya.
  • Raja Louis XI adalah putra mahkota dari kerajan peracis yang cederung lalai dala enjalanka tugasya.
  • Pangeran Dereto merupakan saudara raja louis yang bertidak sebagai paglima perang. Ø  Marseil adalah seorag pemimpin pasukan salibis wajahya geram akan tetapi sifatya pengasih,
  • Pendeta Robert adalah seorang suci dari kaum salibis tapi muafik,
Tokoh rekaan:
  • adnan bin Muznir adalah seorang rakyat biasa yang berani menentang terhadap Turan Syah.
  • Zumrudah adalah wanita budak belian yang tinggal bersama keluarga Adnan
  • Abdul A’la adalah sahabat baik dari Adnan yang setiakawan
  • Yaqutah adalah wanita yang cerdas, cantik, dan kuat ia tiada lain adalah Zumrudah.

 

 

 

Advertisements
Posted in Karya Sastra Muslim Modern di Asia Selatan, Midnight Children, Modern, Salman Rusdhie

MIDNIGHT’S CHILDREN: SALMAN RUSDHIE


Biography Salman Rushdie
Salman Rushdie bernama lengkap Ahmed Salman Rushdie, ia lahir pada tanggal  19 Juni 1947 di Bombay India.  Ia lahir dari pasangan Anis Ahmed Rushdie dan Negin Butt, ayahnya adalah seorang pengusaha yang telah dididik di Universitas Cambridge, di Inggris. Ketika ia beranjak umur  14 tahun ia dikirim untuk ke Inggris di Universitas Rugby school. Dan pada tahun 1964 orang tua Rushdie pindah ke Karachi, Pakistan, bergabung dengan enggan Eksodus Muslim – selama bertahun – tahun terjadi perang antara India – Pakistan. Ia mendapatkan gelar Sarjana di universitas tersebut, yakni sarjana sejarah. Dan juga Rushdie adalah seorang novelis India. Pada tahun 1968, setelah lulus dari universitas, ia pergi ke Pakistan, di mana keluarganya telah pindah ke tahun 1964, dan menetap di Karachi.  Di Inggris, ia bergabung dengan kelompok teater sebagai aktor. Dia juga bekerja sebagai copywriter freelance untuk Ogilvy dan Mather dan Charles Barker selama hampir satu dekade. 

Adapun untuk perjalanan hidupnya ia menikah empat kali. Ia menikah dengan istri pertamanya, Clarissa Luard, pada tahun 1976. Dengannya ia memiliki seorang putra bernama Zafar.Namun, setelah sebelas tahun, pada tahun 1987, pernikahan berakhir dengan perceraian. Dia kemudian menikah Marianne Wiggins, seorang novelis Amerika , pada tahun 1988. Perkawinan tidak berlangsung lama dan mereka bercerai pada 1993. Ia menikah untuk ketiga kalinya kepada Elizabeth Barat dan kali ini pernikahan berlangsung selama tujuh tahun dari 1997 hingga 2004. Dengannya ia memiliki putra bernama Milan.  Pada tahun 2004, ia menikah dengan model terkenal Padma Lakshmi, yang menciptakan kehebohan besar di media karena perbedaan usia mereka. Bahkan pernikahan ini terbukti menjadi singkat dan pasangan segera bubar.
Dalam bersastra ia telah menciptakan banyak novel – novel yang sangat bagus.  Novel pertama Rushdie adalah “Grimus” diterbitkan pada tahun 1975 tetapi tidak diterima baik oleh kedua kritikus dan pembaca. Novel ini adalah fantasi fiksi ilmiah. Ini adalah kisah mengepakkan Eagle, penduduk asli Amerika yang berbakat dengan hidup kekal dan masuk ke dalam menemukan arti tersembunyi dari kehidupan. Novel yang kedua  sekaligus mendapatkan penghargaan booker prize adalah “ Midnights Childrenyang diterbitkan lima tahun kemudian, adalah kisah mencengkeram India setelah kemerdekaan dan menerima pujian kritis luas. Hal ini diikuti oleh ‘Shame’, sebuah cerita berdasarkan gejolak politik diPakistan. 
Dan untuk novel keempatnya yang membawa ia terkenal adalah berjudul The Satanic Verses “diterbitkan pada tahun 1988, bukan karena manfaat sastra, tetapi karena badai itu dibuat dalam dunia Islam. Dijuluki menghujat karena penghinaan yang seharusnya Islam dan Nabi Muhammad, pemimpin spiritual Iran ditempatkan Fatwa di kepalanya. Untuk sembilan tahun ke depan ia harus hidup di bawah tanah, dilindungi oleh pemerintah Inggris, dan terus menerus dibawah  ancaman kematian.  luar negeri Iran menghapus semua tuduhan terhadap Rushdie dan sejak itu ia mulai menjalani hidup normal. Setelah kejadian ini ia terus buku authoring beberapa di antara mereka yang terakhir adalah ‘si enchantress dari Florence pada tahun 2008 dan’ Luka dan Api Kehidupan pada tahun 2010. 
Latar belakang lahirnya novel Midnights Children
Menurut beberapa sumber yang telah saya baca bahwasannya karya ini terlahir dengan berbagai latar belakang yang melatar belakanginya, baik itu dari pengalaman hidupnya  dan keluargannya, juga salah satu karya yang memiliki terobosan baru yakni tentang interpretasi realitas kedalam sebuah imaginasi magis realistis, dimana seorang Rushdie membawa para pembacanya melihat tempat kelahirannya pada perjalanan  imajinatif yang sebelumnya pembaca tidak lakukan. Midnights Children adalah novel yang berhubungan dengan transisi India dari kolonialisme Inggris untuk  kemerdekaan dan partisi India.  . Hal ini dianggap sebagai contoh sastra postkolonial dan realisme magis . Kisah ini diceritakan oleh tokoh utamanya, Saleem Sinai, dan diatur dalam konteks peristiwa sejarah yang sebenarnya seperti dengan fiksi sejarah .
Midnights Children  adalah alegori  di India sebelum dan, terutama, setelah kemerdekaan dan partisi India . Protagonis dan narator cerita ini adalah Saleem Sinai , lahir pada saat yang tepat ketika India menjadi negara yang merdeka. Ia lahir dengan kekuatan telepati , serta hidung yang sangat besar dan terus menetes dengan rasa sangat sensitive penciuman.
Buku ini diawali dengan kisah keluarga Sinai, terutama dengan kejadian yang menyebabkan kemerdekaan India dan Partisi. Salim lahir tepat pada tengah malam, 15 Agustus 1947, ini bertepatan dengan kemerdekaan  India pada tanggal 14 Agustus 1947.  Dia kemudian menemukan bahwa semua anak yang lahir di India antara 12 malam  dan 1 pagi pada tanggal yang dijiwai dengan kekuatan khusus. Saleem, dengan menggunakan kekuatan telepatinya , merakit konfrensi anak tengah malam, itu artinya mencerminkan masalah yang dihadapi di Negara India awal mengenai perbedaan budaya, bahasa, agama, dan politik yang dihadapi oleh bangsa yang sangat beragam.  Salim bertindak sebagai saluran telepati, membawa ratusan anak geografis yang berbeda ke dalam kontak sementara juga berusaha menemukan arti dari hadiah mereka. Secara khusus, anak-anak lahir paling dekat dengan stroke hadiah memegang tengah malam lebih kuat dari yang lain. Shiva “dari Lutut”, musuh Salim, dan Parvati, yang disebut “Parvati-si-penyihir,” adalah dua dari anak-anak dengan hadiah terkemuka dan peran dalam cerita Salim.
Sinopsis Midnight’s Children
Saleem Sinai merupakan narrator sekaligus tokoh protagonis dari novel “Mid Night Children” ini yang membuka ceritanya dengan menjelaskan kelahirannya yang bertepatan dengan hari dn tanggal kemerdekaan India dari British. Sekarang ia berumur 31 tahun dan dia merasa bahwa waktu berjalan sangat cepat. Dia percaya bahwa waktu akan berakhir dan dia harus menceritakan semua cerita yang menjerat hatinya sebelum ia meninggal.
Cerita saleem di mulai di kashmir, 32 tahun sebelum kelahiranya, di tahun 1915, dia mengawali cerita dari kakeknya yang bernama Abdul Aziz yang juga merupakan seorang dokter, yang mulai mengobati Naseem, perempuan yang menjadi nenek Saleem. Selama tiga tahun Adam Aziz mengobati Naseem. Naseem selalu ditutupi oleh selembar selimut dengan lubang kecil untuk memperlihatkan bagian dirinya yang sakit. Adam Aziz pertama kali melihat wajah calon istrinya pada hari perang dunia 1berakhir, pada tahun 1918.
Adam aziz menikah dengan Naseem, dan pindah Ke agra, Adam dan Naseem memiliki tiga orang anak perempuan, Alia, mumtaz, dan emerald, dan dua anak laki- laki, Mustapha dan hanif. Adam menjadi pengikut dari aktifis Mian Abdullah, yang merupakan seorang anti sikap partisis dan yang akhirnya mengakibatkan kematian Abdullah itu sendiri, dan akhirnya Adam Aziz menyembunyikan asisten Abdullah, Nadir Khan, meskipun ditentang oleh istrinya. Walaupun Nadir hidup di ruang bawah di rumah dokter Adam namun ia jatuh cinta dengan Mumtaz, dan keduany secara diam- diam menikah. Namun, setelah menikah selama 2 tahun,Adam Aziz menemukan bahwa anaknya masih perawan, Nadir khan dan Mumtaz belum menyempurnakan perkawinan mereka. Akhirnya Nadir Khan di perintahkan untuk pergi ketika adik Mumtaz, Emerald, mengatakan Mayor Zulfikar dari tentara pakistan akan segera melamarnya. Karean di inggal oleh suaminya, Mumtaz setuju untuk menikah dengan Ahmed Sinai, seorang pedagang muda.
Mumtaaz akhirnya mengganti namanya menjadi Amina dan pindah ke Delhi dengan suami baru. Ketika akhirny dia hamil. Ia pergi ke peramal keberuntungan yang memberikan ramalan samar tentang anak yang di kandungnya dan mengtakan bahwa anaknya itu tidak akan lebih tua ataupun lebih muda dari negaranya. Setelah organisasi teroris membakar toko Ahmed, Amina dan suaminya pindah ke Bombay dan membeli rumah dari orang Inggris yang bernama William Methwold, yang meiliki perkebunan di puncak bukit.
Wee Willie Winky, yang merupakan seorang miskin dan menjadintukang hibur di keluarga William Methwold mengatakan bahwa istrinya, Vnita juga mengharapkan segera punya anak. Tanpa diketahui Wee Willie Winky, Vanita berselingkuh dengan William Methwold dan dia juga merupakan ayah biologis dari anak yan dikandung oleh Vanita dan bukanWee Willie Winky. Amina dan Vanita keduanya pergi ke seorang dukun, dan,tepat pada tengah malam, masing- masing wanita tersebut melahirkan seorang putra.
Saleem adalah salah satu anak yang telh dilahirkan, dia memiliki hidung besar dan mata biru yang dikira seperti kakeknya. Bebarapa tahun kemudian lahirlah adik saleem.suatu hari ketika ia bersembunyi di toilet, ia melihat ibunya yang sedang menangis di toilet tersebut. Akhirnya saleem di hukum hingga Saleem tidak dapat berbicara dan untuk pertama kalinya Saleem mendengar celotehan di kepalanya. Dia menyadari dia memiliki kekuatan telpati dan dapat membaca pikiran orang lain. Akhirnya, Saleem mulai mendengarkan  pikiran anak-anak lain yang lahir sam dengan dengannya.
Suatu hari, Saleem kehilangan sebagian jarinya di sebuah  kecelakaan dan dilarikan ke rumah sakit, dari kecelakaan inilah orang tuanya mengetahui bahwa Saleem bukanlah anak biologis mereka. Setelah ia meninggalkan rumah sakit, Saleem dikirim untuk tinggal bersama Paman dan Bibi Pia Hanif untuk sementara waktu. Tak lama setelah kembali ke rumah Saleem kepada orang tuanya, Hanif melakukan bunuh diri. Sementara keluarganyaberduka akan kematian Hanif, Ahmed-sekarang merupukan seorang alkoholik yang menjadikannya orang yang  keras pada Amina, mendorong dia untuk membawa Saleem dan adiknyake Pakistan,
Empat tahun kemudian, setelah Ahmed menderita gagal jantung, Amina dan anak-anak kembali ke Bombay. Saat itulah India sedangperang dengan China, sedangkan hidung Saleem terkena suatu penyakit dan terus-menerus mengalami operasi medis. Akibatnya, ia kehilangan kekuatan telepati, tetapi, sebagai imbalan ia dapat dapatkan rasa penciuman yang luar biasa   dan ia dapat mendeteksi emosi orang lain.
Saleem seluruh keluarga pindah ke Pakistan setelah militer India terkalahkan oleh Cina. Adik perempuannya, sekarang dikenal sebagai penyanyi Jamila, menjadi penyanyi yang paling terkenal di Pakistan. Di akhir cerita, ketika Saleem di tangkap dan dibebaskan, ia kembali ke india untuk mencari anak Parvati yang merupakan anak yang lahir di tanggal sama dengan Saleem. Akhirnya Saleem menikah dengan Padma, yang merupakan orang yang penyabar dan selalu mendengarkan Saleem pada hari ulang tahunnya yang ke- 30, yang jatuh pada peringat ke-30 kemerdekaan India, Saleem merasa bahwa dia akan mati pada hari itu, dan hacur menjadi jutaan debu.
                                            
Klasifikasi Isi Novel Midnight’s Children
Midnight’s Children terdiri dari tiga pembabakan, yang disebut di situ sebagai tiga “buku”.
BUKU SATU lah yang paling bernafaskan postkolonialisme: yaitu perihal kelahiran sebuah bangsa, disertai segala kehilangan dan keinginan menemukan kembali yang hilang itu. Tapi sebuah bangsa baru yang lahir dari penjajahan lahir dari dua rahim pula, dan karenanya medapat ciri sekaligus kehilangan rasa aman dari keduanya. Ini digambarkan dari kelahiran “kembar” dua bayi tengah malam: Saleem Sinai dan Shiva. Mereka adalah dua kelahiran yang terjadi dari rumah yang sama. Rumah Methwold. Sangat jelas, Rumah Methwold adalah metafor dari kolonialisme dalam aspek peradabaannya. Rumah Methwood adalah peradaban Inggris yang dibangun di tanah jajahan dan, menjelang pengesahan kemerdekaan India, akan diwariskan kepada bangsa yang sebelumnya dijajah. Tuan Methwold adalah representasi aristokrasi Inggris. Tapi, sebelum angkat kaki, Tuan Methwold rupanya suka main gila dengan istri seorang pemain akordion yang kerap tampil di rumah itu. Maka, di rumah itu ada dua kehamilan menjelang kemerdekaan. Kehamilan putri Adaam Azis, yang telah diboyong suaminya ke Mumbai dan menempati satu vila di Rumah Methwold. Serta, kehamilan istri pemain akordion dalam hubungan gelap. Peradaban Inggris telah menghasilkan anak haram dengan peradaban India. Si anak jadah akan lahir dari keluarga Hindu kelas bawah. Yang satu lahir dari keluarga Islam kelas menengah. Di luar representasi kelas ini (yang agaknya lebih menggambarkan latar pengarangnya), ini adalah representasi konflik Hindu dan Muslim yang membayangi India sejak dikandung dan beberapa tahun kemudian meletus dalam perpecahan India Pakistan. Lahirlah kedua anak itu, dari rumah yang sama, di rumah sakit yang sama, pada jam pertama kelahiran India.
Tapi, seorang suster beragama Katolik  yang patah hati pada seorang pemuda satu gereja yang murtad jadi komunis, menukar takdir kedua  bayi yang sama bermata biru dan berhidung besar. Ia berpikir dengan mengganti identitas bayi-bayi itu ia menyumbang pada penyelesaian konflik antara Hindu dan Muslim. Begitulah, cucu dari darah Adaam Azis yang Khasmir terlahir sebagai Shiva dari keluarga Hindu miskin. Dan anak haram Tuan Methwold dengan istri-tak-setia pemain-akordion-Hindu terlahir sebagai Saleem Sinai dari keluarga Muslim kelas menengah. Di sinilah salah satu puncak kepiawaian Rushdie. Ia seperti seorang pesulap yang membuat pembaca menikmati ilusi sekalipun pembaca telah mengetahui itu sebagai sebuah ilusi. Narator dalam novel ini adalah Saleem Sinai, dan kita percaya bahwa Adaam Azis yang berasal dari Kashmir, dokter muda yang kehilangan iman dan mencari penggantinya dalam pengertian di balik lubang seprai, itu adalah kakeknya meskipun kita tahu itu bukan kakeknya. Kita tak pernah merasa bahwa Tuan Methwood adalah ayahnya meskipun kita tahu bahwa bangsawan Inggris itu ayahnya. Lebih  gawat lagi, kita mengenali Saleem Sinai sebagai Saleem Sinai, padahal kita tahu bahwa dia adalah Shiva. Dan Shiva sesungguhnya adalah Saleem Sinai. Salman Rusdhie sungguh mewujudkan simulakrum antara yang riil dan imajiner, yang fakta dan yang fiksi, yang bagi saya menggelitik pembaca Indonesia untuk memikirkan kembali pendekatan politik identitas.
Pola-pola realisme-magis lebih banyak muncul pada BUKU DUA. Saleem Sinai dan semua anak yang terlahir pada jam pertama kelahiran India itu, termasuk juga Shiva, memiliki kelebihan supranatural. Saleem Sinai bisa mempertemukan mereka dalam “konferensi anak-anak tengah malam” yang ikut membicarakan persoalan-persoalan besar India–dengan cara pandang anak-anak yang segar dan ganjil. Di sanalah Saleem bertemu dengan Shiva, yang samar-samar menakutkan dia, tanpa ia tahu betul bahwa mereka adalah identitas yang tertukar. Ketakutan itu menarik. Ketakutan itu bagaikan sebuah rasa tidak aman (lagi-lagi sebuah lubang dan keretakan). Rasa tidak percaya diri pada keutuhan identitas. Di lini lain, Saleem Sinai tetap bertumbuh sebagai anak pada umumnya. Peristiwa-peristiwa hidup pribadinya bersimpulan dengan peristiwa-peristiwa sejarah India pasca-kemerdekaan, sebagai sebuah kelanjutan dari pertalian kehidupan kakeknya dengan peristiwa sejarah India pra-kemerdekaan. Peristiwa yang paling besar adalah perpecahan India-Pakistan, yang mengakibatkan perpisahan keluarga besar mereka pula.
Cerita bergulir menjadi semakin fantastis, dalam arti kehidupan pribadi Saleem Sinai semakin menempel pada titik-titik krusial sejarah India-Pakistan. Saleem terlibat dalam konspirasi pemisahan Bangladesh dari Pakistan. Bagian ini agaknya menunjukkan kelekatan hati Salman Rushdie pada India daripada Pakistan. Ia lebih terganggu oleh apa yang dilakukan Indira Gandhi terhadap India daripada perebutan kekuasaan berdarah di Pakistan. Pakistan seperti sudah meluncur ke nasib yang ditentukannya sendiri sehingga tak perlu dibicarakan. Musuh utamanya adalah Indira Gandhi, yang dalam novel ini menjadi paling bertanggungjawab atas runtuhnya cita-cita kemerdekaan. Nyonya perdana menteri ini disebut sebagai Si Janda jahat, yang memang sejak awal mengincar anak-anak tengah malam sebab mereka memiliki kemampuan khusus.
     Pada akhirnya, pada BUKU TIGA, Si Janda memang berhasil menangkapi peserta konferensi anak-anak tengah malam dan melakukan pengebirian terhadap mereka. Metafor dari pengebirian terhadap pemikiran dan ide-ide segar mengenai kemerdekaan itu sendiri. Saleem Sinai lepas dari rumah pengebirian itu sebagai sosok yang baru, yang telah dikalahkan dan menjadi biasa-biasa saja. Hidupnya, untuk sementara, diselamatkan oleh pekerjaan membuat acar. Dan acar ini, tentu saja, adalah metafor dari preservasi sejarah. Midnight’s Children berseberangan secara diametral dengan novel realisme-sosialis yang penuh visi untuk membangun dunia baru. Ia tidak memberi harapan, termasuk harapan palsu.  Ia tidak memberi pemahaman, sebab setiap pemahaman melakukan penyederhanaan atau epoche-nya. Penyederhaanaan yang dilakukan Midnight’s Children tidak bertujuan memberi pemahaman melainkan, sebaliknya, mengguyah ide-ide stabil kita. Seperti dikatakan di awal, ia adalah satire yang menggunakan eliminasi, seleksi, hiberbolisme, dan program distorsi yang lain untuk membangun makna yang ditawarkannya. Yaitu membongkar apa yang kita percaya sebagai sakral. Seperti mitos nasionalisme, keutuhan bangsa, kekuasaan.
Novel dan puisi tidak harus menanggung beban membangun visi utuh mengenai dunia seperti agama dan ideologi. Yang bisa dijawab sebuah novel adalah yang berada dalam cakupannya saja. Yaitu bagaimana ia membangun makna dengan unsur-unsur yang di dalam dirinya dan bukan dengan perbandingan dengan dunia  di luar novel itu. Dengan kata lain, pembacaan yang lebih strukturalis. Tuduhan seperti, misalnya, bahwa Midnight’s Children melecehkan sosialisme dan komunisme dengan penggambarannya atas kaum komunis dan sosialis sebagai tukang sulap, penjinak ular, badut dan pemain sirkus yang kacau barangkali bisa dibandingkan dengan bagaimana Rushdie sendiri bermain sebagai tukang sulap dalam novel ini dengan menciptakan ilusi. Artinya, makna tukang sulap dalam Midnight’s Children (bahkan karya lain Rushdie) barangkali bukanlah makna sebenarnya. Menurut saya, ia justru memiliki simpati pada pekerjaan-pekerjaan pencipta ilusi demikian. Pengolokannya atas banyak pihak setara dengan pengolokannya terhadap diri sendiri pula. Tidak seperti kecenderungan realisme-sosialis yang membikin representasi buruk hanya atas musuh ideologi, Midnight’s Children membuat ejekan terhadap semua pihak termasuk tokoh utama dan nilai-nilainya.
Dan akhirnya, bagi saya, novel ini menunjukkan simpatinya terhadap orang miskin, atau mereka yang tersingkirkan. Bukan dengan cara yang tertebak dan eksplisit dengan memberi kaum miskin makna dan harapan. Simpati itu justru terlihat dari apa yang paling sedikit diceritakan. Yang hilang, yaitu Saleem Sinai yang sesungguhnya. Ialah Shiva, yang ditukar dan terjerembab dalam kemiskinan nyaris tiada akhir. Dialah mimesis bagi si borjuis, yang sesungguhnya mendapatkan kemewahan bukan karena haknya. Borjuis yang, seperti kebanyakan borjuis dan kaum kaya,  merebut hak-hak itu dengan memiskinkan orang lain. Seperti Saleem Sinai palsu, si anak haram, merebutnya dari Saleem Sinai asli. Seorang yang lahir dari kelas menengah atau lebih, seperti Salman Rushdie dan saya, tidak bisa benar-benar bicara atas nama orang miskin.  Kecuali jika kelak ia jatuh miskin. Seorang yang punya pilihan tak bisa sungguh bicara atas nama orang yang tak punya pilihan. Dalam hal khusus ini, saya menghargai Midnight’s Children karena ia tidak berpretensi. Ia memilih jalan untuk menyatakan simpatinya dengan cara yang otentik pada dirinya.
 Sumber
  1. Salman Rusdhie. 1980. Midnight’s Children.   
  2. http://www.notablebiographies.com/Ro-Sc/Rushdie-Salman.html
  3. http://www.indobase.com/indians-abroad/salman-rushdie.html
  4. http://kirjasto.sci.fi/rushdie.htm

Posted in Karya Sastra, Karya Sastra Islam(i) modern, Karya Sastra Muslim Modern di Afrika, Modern, Najib Kilani

Bayang-Bayang Hitam, Najib Kailani


Dalam novel ini Najib Kailani mencoba mengungkap nilai-nilai kemanusiaan dari sebuah pergolakan ideology yang terjadi di negeri Ethiopia. Sebuah kegelisahan seorang  Iyasu  yang tidak pernah puas dengan kondisi sekitarnya yang penuh dengan kemunafikan dari para pemuka agama. Sebuah pencarian yang dalam tentang nilai-nilai universal kemanusiaan. Tentang kebebasan beragama, ketenangan, kejujuran, dan tentang agama kebenaran. Pencarian yang akhirnya ia harus terusir dari kekuasaannya karena ia terus berpegang teguh dengan apa yang diyakininya. Dan pada akhirnya pula Ethiopia harus jatuh ke tangan Negara lain, akibat dari ketamakan seorang Tafari, seorang gubernur di salah satu wilayah Ethiopia yang juga seorang kerabat kekaisaran. Karena dia tidak setuju dengan usulan-usulan kaisar muda yang memberikan kebebasan beragama bagi rakyatnya.

Perang Dunia I sudah lama berakhir. Dia telah menjadi bagian dari sejarah. Paling tidak, ia menjadi saksi atas kekalahan Turki melawan Negara-negara sekutu yang menyebabkan negeri tua itu runtuh pada tahun 1924 M. di tangan Sultan Abdul Hamid II Turki mengalami kehancuran yang disebabkan oleh Mustafa Kemal At- Taturk. Namun, jauh sebelum itu ia telah menjadi singa ompong yang hanya mampu menkaut-nakuti orang saja. Banyak pejabatnya yang korup dan sudah tidak memperhatikan rakyatnya. Yang mereka pikirkan hanyalah kesenangan diri dan keluarga masing-masing. Dan rasanya tidak ada yang patut dicontoh dari semua ketamakan itu, dan tidak pula patut untuk dikenang dari semua kepahitan itu selain pelajaran. Dan inilah yang dengan baik ingin diungkap dan diberikan oleh Najib Kailani dari novelnya. Secara tidak langsung, dengan berkaca pada peristiwa-peristiwa di atas Najib Kailani mencoba menggambarkannya dalam novel yang berjudul Bayang-Bayang Hitam.

Nama Ethiopia berasal dari bahasa Yunani yang berarti “wajah-wajah terbakar matahari”, yang diberikan bangsa Yunani kepada orang-orang yang mendiami bagian Timur dari Mesir- termasuk Ethiopia, karena mereka memiliki kulit yang lebih gelap. Sebelumnya Ethiopia dinamai Abbesinia (dari bahasa Arab, berarti campuran – merujuk beragam etnis disana). Pada tahun 1500-an kekaisaran Ethiopia terpecah menjadi beberpa kerajaan kecil, kemudian pada tahun 1889 Manelik II yang menjadi kaisar pada saat itu menyatukan Ethiopia dan menjadikan Addis Ababa sebagai ibukotanya.  Dengan beragam etnis disana, membuat novel ini mau tidak mau harus memberikan pelajaran dalam hubungan social antara etnis yang berbeda, juga dengan sistem pemerintahan kekaisaran yang dianut membuat kebudayaan di dalamnya bahwa rakyat akan sangat patuh terhadap perintah seorang kaisar. Dengan sedikit latar belakang sosial dan kebudayaan di atas, secara tidak langsung berperan penting dalam terlahirnya karya sastra ini. Karena sebagaimana diketahui novel Bayang-Bayang Hitam yang didalamnya menceritakan kehidupan sebuah kaisar, dan perintah kaisar menjadi hal yang harus dipatuhi oleh rakyatnya.

Secara umum tema dalam novel ini mengusung nilai-nilai kemanusiaan yang tertuang dalam perbedaan ideology. Iyasu yang ingin negaranya hidup damai dengan rasa toleransi antar umat beragama yang dijunjung tinggi oleh rakyatnya. Akan tetapi, Tafari yang masih kerabat dengan keluarga kekaisaran menganggap bahwa di suatu Negara tidak bisa berdiri jika di dalamnya terdapat perbedaan agama, dia ingin membuat Ethiopia negara Kristen, sehingga tidak ada agama lain di Ethiopia selain Kristen. Keinginan ini juga bukan hanya keinginan Tafari, seorang gubernur di salah satu wilayah di Ethiopia yang dipimpin kaisar muda Iyasu. Para pendeta gereja di Ethiopia pun berfikir sama seperti Tafari. Sehingga mereka bersama-sama menentang keputusan kaisar muda Iyasu

Keseluruhan latar tempat novel ini berada di Negara Ethiopia, meliputi istana kekaisaran yang berada di ibukota Negara Ethiopia Addis Ababa, dan setiap wilayah Ethiopia secara keseluruhan yang berada di lembah-lembah, pegunungan-pegunungan. Juga sebuah wilayah yang bernama Walelo salah satu wilayah di Ethiopia yang dipimpin oleh seorang gubernur bernama Michael, ayah kaisar muda Iyasu.

Perwatakan tokoh didalamnya secara tidak langsung digambarkan penulis melalui konflik yang runtun ada, dan dalam setiap pergolakan batin pada tokoh masing-masing secara tidak langsung menggambarkan watak tokoh pada novel tersebut. Tokoh-tokoh pada novel ini adalah : (1) Iyasu seorang kaisar Ethiopia sejak tahun 1913; (2) Michael adalah ayah Iyasu, dia seorang muslim yang dipaksa masuk Kristen, Ia adalah gubernur di wilayah Walelo di Ethiopia; (3) Shu Arkos adalah ibu kandung Iyasu, Ia adalah anak dari Manelik kaisar Ethiopia terdahulu; (4) Malvin adalah adik dari Iyasu; (5) Zauditu adalah adik dari Shu Arkos yang berarti bibi dari Iyasu dan Malvin, di akhir-akhir cerita Ia menjadi kaisar yang menggantikan Iyasu karena pada saat itu terjadi perang saudara antara Iyasu dan Tafari, yang mengakibatkan Iyasu harus lengser dari jabatannya; (6) Gugosa adalah suami dari Zauditu sekaligus penguasa wilayah; (7) Tafari adalah suami dari adik Iyasu Malvin dan juga ia penguasa wilayah; dan tokoh lainnya yaitu,  Istri Iyasu yang pertama dan Istri Iyasu yang kedua. Dan juga tukang masak Tafari, para intelejen, dan seorang cardinal di era kepemimpinan Iyasu yaitu Bapak Matheus.

Menurut Freytag diagram plot dimulai dengan exposition – raising action – conflict – climax – dan yang terakhir resolution. Exposition dalam novel ini yaitu ketika Michael ayah Iyasu dan Iyasu dipaksa oleh pendeta Michael untuk memrangi orang-orang Islam yang ada di Negara Ethiopia. Mereka berdua jelas-jelas tidak setuju karena mereka sangat menghargai perbedaan agama di suatu Negara karena itu adalah hak setiap rakyatnya, dan yang lebih penting dari itu Michael dan Iyasu adalah seorang Kristen yang beragama Islam. Kekristenannya adalah sebuah kedok, jauh di lubuk hati mereka Islam tertanam kuat. Pada kenyataannya Michael adalah seorang Islam yang dipaksa memeluk agama Kristen. Karena sudah tidak tahan lagi akan kemunafikan ini, ketika Iyasu menjelajahi setiap sudut negeri Ethiopia untuk menjenguk rakyat-rakyatnya yang berada di pelosok Ia mengumumkan ke-Islamannya, dan itu membuat gempar seluruh negeri terlebih keluarga kekaisaran dan para pendeta di gereja, ini menjadi raising action dalam novel ini. Mendengar keislaman sang kaisar Iyasu yang telah menyebar ke seluruh penjuru Ethiopia membuat para pendeta gereja geram, terutama Tafari adik iparnya. Mereka sangat marah dan akan membuat strategi untuk meruntuhkan Iyasu dari jabatannya. Hingga akhirnya mereka menyerang kekaisaran dan berperang dengan tentara istana kaisar dan para rakyat yang cinta pada kaisar Iyasu. Namun, malangnya istana harus kalah dan Iyasupun lengser dari jabatannya. 

Di atas adalah conflict dalam novel ini. Bukan hanya berperang melawan istana ternyata Tafari dan para pendeta menyandra keluarga istana, Ayah dan Ibu Iyasu juga isterinya. Kekuasaan Iyasu digantikan oleh bibinya Zaidatu, namun ia hanya sebuah symbol karena pada kenyataannya pemerintahan dijalankan oleh Tafari sebagai penguasa wilayah. Karena ketamakannya, Tafari tidak ada satupun orang yang dapat menghalanginya untuk menjadi kaisar istana. Ia meracuni isterinya Malvin, ayah mertuanya Michael, dan ibu Iyasu sudah tidak diketahui dimana rimbanya, Iyasu sendiri sudah bertahun-tahun mendekam di penjara. Zaidaru sang ratu dan suaminya pun mendapat nasib yang sama, mereka harus mati di tanagan Tafari, klimax ini yang coba diusung penulis dalam novelnya. Dan resolution dalam novel ini adalah kematian Iyasu yang dibunuh langsung oleh tentara suruhan Tafari, di mata kepala Tafari sendiri. Namun pada akhirnya, setelah kematian Iyasu Tafari menangis. Ia merasa sangat lemah, ketika dihadapkan kematian Iyasu orang yang sangat ia benci Tafari merasa Iyasu masih tersenyum bahagia.   

Dengan membaca setiap kata dalam novel ini, kita seakan-akan dibawa pada pergolakan batin di setiap tokoh. Novel ini banyak menggunakan pendekatan-pendekatan psikologis, dan secara tidak langsung penulis mengungkap nilai-nilai kemanusiaan yang tanpa kita sadari sering kita lupakan. Penulis dengan baik mengungkapkan sebuah tuntunan kehidupan berpolitik dalam kehidupan kita sehari-hari.

Posted in Karya Sastra, Karya Sastra Islam(i) modern, Karya Sastra Muslim di Timur Tengah, Modern, Nawal El Saadawi

PEREMPUAN DI TITIK NOL KARYA NAWAL EL SAADAWI


Pendahuluan
Karya sastra Muslim di Timur Tengah adalah sebuah karya sastra yang berisi tentang berbagai dimensi kehidupan  masyarakat Muslim di Timur Tengah, mulai dari budaya, tradisi, setting, dan yang terpenting adalah latar belakang pengarang berasal dari Timur Tengah. Ia bersifat realis, tidak bersifat fantasi. Di antara salah satu karya sastra yang lahir di wilayah ini adalah Perempuan di Titik Nol (PTN) karya Nawal el Saadawi.
            Nawal el Saadawi adalah seorang dokter bangsa Mesir. Ia terkenal di seluruh dunia sebagai novelis dan penulis wanita pejuang hak-hak wanita. Dilahirkan di sebuah desa bernama Karf Tahla di tepi sungai Nil, ia memulai prakteknya di daerah pedesaan, kemudian di rumah sakit – rumah sakit di Kairo, dan terakhir menjadi Direktur Kesehatan Masyarakat Mesir.
            Kehadiran Nawal dalam mendobrak ketidakadilan atas perempuan Mesir, menakuti Anwar el Sadat selaku pimpinan Negara pada saat itu. Nawal dianggap membahayakan nasionalis Mesir dengan karya-karyanya yang mencoba menyudutkan budaya patriarki sebagai budaya yang memiliki pengikut terbanyak di Mesir kala itu. 

Mesir Pada Tahun 1970an
            Seperti sudah diketahui sebelumnya, Perempuan di Titik Nol merupakan novel karya Nawal el Saadawi yang lahir pada tahun 1973. Dan pada tahun yang sama Mesir mengalami goncangan dahsyat dari pemerintahan Israel. Mesir dibantu oleh Syria untuk melancarkan serangan-serangan terhadap angkatan bersenjata Israel. Perang pun tidak bisa dihindari, perselisihan antara Mesir dan Israel berlangsung dari 06 Oktober hingga 25 Otktober 1973, oleh karena itu perang tersebut dikenal sebagai Perang Oktober atau Ramadhan atau Perang Yom Kippur. Seperti dalam Perang Atrisi sebelumnya, tujuan negara-negara Arab adalah mendapatkan kembali wilayah yang diduduki oleh Israel sejak Perang 1967.
            Kesombongan orang-orang Israel terhadap bangsa Arab telah menyesatkan bukan hanya dunia melainkan juga diri mereka sendiri. Sebagaimana terbukti kemudian, Israel mengalami salah satu kegagalan intelijen militer paling besar ketika Israel tidak mengantisipasi serangan gabungan Mesir-Syria terhadap pasukan pendudukan Israel pada 6 Oktober 1973. Bulan-bulan sebelum pecahnya perang dipenuhi dengan bualan orang-orang Israel tentang kekuatan Israel dan kelemahan negara-negara Arab.
            Pada April 1973, Sadat secara terbuka memberi peringatan dalam sebuah wawancara: “Semuanya sangat mengendurkan semangat. Pendeknya itu adalah sebuah kegagalan sempurna dan keputusasaan. Setiap pintu yang saya buka dihempaskan di muka saya oleh Israel, dengan restu Amerika. Telah tiba waktunya untuk sebuah kejutan. Segalanya di negeri ini sekarang tengah digerakkan untuk membuka kembali pertempuran yang kini tak terelakkan lagi.” Begitu kata Anwar el Sadat dalam wawancara terbukanya.
            Akibat dari peperangan itu tidak hanya dirasakan oleh pemerintahan Mesir saja, melainkan juga berakibat pada organisasi-organisasi kecil yang didirikan oleh rakyat mesir. Pada September 1981, Anwar Sadat mengenakan tindakan represif kepada organisasi pergerakan Islam yang dianggapnya fundamentalis, termasuk organasasi kaum Feminis yang didirikan oleh Nawal el Saadawi yang menurutnya dapat mengganggu stabilitas nasional Mesir. 
Pengaruh Nawal el Sadawi dan Karyanya Terhadap Mesir
            Dari tahun 1973 sampai 1976 Nawal menjadi sorang peneliti perempuan dan neurosis di Fakultas Ain Syams University of Medicine. Hasil penelitiaanya dipublikasikan Perempuan dan Neurosis di Mesir Pada tahun 1976 dengan judul Perempuaan dan Neeurosis, termasuk memasukan  20 study  penelitiaan yang mendalam tentang kasus perempuan di penjara-penjara dan rumah sakit. Novel dan buku-bukunya tentang perempuan (feminisme) memiliki efek yang mendalam pada generasi ke generasi secara berturut-turut baik perempuan muda dan laki-laki selama lima dekade terakhir.
Tidak sebatas itu, El Saadawi juga mengadakan penelitiaan tentang aborsi. ia melakukan penelitiaan tersebut dikarnakan melihat banyak sekali realitas sosial yang sangat steriotip sebagai jawaban dari maraknya tindakan aborsi ilegal perempuan Mesir. hasil penelitiaan ini sangatlah mengejutkan dimana tindakan aborsi marak dilakukan oleh keluarga yang mampu dibanding dengan keluarga yang tidak mampu, presentasi perbandingannya hampir tiga kali lipat. Kesimpulan lain aborsi ini dilakukan oleh perempuan yang belum menikah, dari kalangan perempuan yang belum menikah presentasinya 90 persen berusia sekitar 25-35 tahun dan rata rata mereka sudah memiliki anak satu, dua atau lebih.
            Pada tahun 1972, tulisan pertamanya dalam buku non-fiksi, selalu berjudul tentang Perempuan dan Masalah Seks. Semua karyanya saat itu terkait dengan subjek yang sangat tabu; yakni tentang feminisme, gender, perempuan dan seksualitas, dan juga subyek sensitif, patriarki, budaya, politik dan agama. Nawal El Sa’dawi melihat problem diskriminasi wanita sebagai masalah struktural yang sama peliknya dengan masalah Negara yang kebetulan saat itu sedang bersiap melawan pasukan Israel. Publikasi ini membangkitkan kemarahan otoritas politik dan teologis saat itu, dan Departemen Kesehatan memaksanya untuk memundurkan diri dan memecatnya. Di bawah tekanan yang sama ia kehilangan posisinya sebagai Pemimpin Redaksi sebuah jurnal kesehatan dan sebagai Asisten Sekretaris Jenderal di Asosiasi Medis di Mesir.
            Pada 1973, lahirlah novel yang membuat bulu kuduk merinding, Perempuan di Titik Nol menjadi serangan susulan dari Nawal el Saadawi untuk mengakhiri penindasan terhadap perempuan. Salah satu faktor yang melatar belakangi penulisan novel ‘Perempuan di Titik Nol’ adalah pengalaman Nawal Pada tahun 1969 yang melakukan observasi dan perjalanan ilmiah ke Sudan. Perjalanannya kesudan ini dalam rangka melihat lebih dekat praktek-praktek penyunatan terhadap perempuaan yang dilakukan secara tradisional, menyakitkan dan sangat berbahaya terhadap keselamatan bagi perempuaan itu sendiri.
Melihat praktek-praktek penyunatan terhadap perempuaan tersebut, di Mesir sendiri penyunatan itu dilakukan dengan cara hanya memotong sebagiaan dari klitoris tetapi di Sudan pemotongan tersebut dilakukan pada klitoris, dua bibir luar (labia minora). Akibat dari penyunatan yang tidak mengenal medis itu, banyak dari kaum perempuaan yang terkena infeksi akut atau kronis sehingga mereka tersiksa selama hidupnya. bahkan diantara mereka tidak sedikit yang kehilangan nyawanya sebagai akibat dari cara-cara yang primitif dan tidak manusiawi dalam mengoprasi.
            Pada tahun 1977, ia menerbitkan karya yang paling terkenal, The Hidden Face Hawa, yang meliputi sejumlah topik relatif terhadap wanita Arab seperti agresi terhadap anak-anak perempuan dan pemotongan alat kelamin perempuan, prostitusi, hubungan seksual, perkawinan dan perceraian dan fundamentalisme Islam.
Melihat dari itu semua kasus-kasus diatas bisa terjadi karena sangat berhubungan erat dengan persoalan konsep kepemimpinan dalam keluarga yang patriarki. kepemimpinan keluarga yang diserahkan kepaada kaum laki-laki secara mutlak, ditambah kaum lelaki tersebut tidak memahami konsep gender dan feminimitas dalam keluarga apalagi melihat sosial-kultur kebudayaan arab yang sangat patriarikat juga pemahaman mereka terhadap tafsir teologi agama yang kurang akan melahirkan ketimpangan dan ketidak adilan terhadap kaum perempuaan. Kaum perempuan berada pada pihak yang termarginalkan, tertindas, terkekang sementara kaum lelaki malah melanggengkan kekuasaan penindasan tersebut.
Atas gebrakan yang dilakukan Saadawi dengan memunculkan karya-karyanya termasuk novel Perempuan di Titik Nol, akhirnya pada tahun 1980, sebagai puncak dari perang lama ia berjuang untuk kemerdekaan perempuan Mesir dalam segala aspek, terutama dalam aspek sosial dan intelektual. Semua kegiatan/ekspresi perempuaan telah ditutup, perempuan tidak mempunyai hak dan peranannya dalam membangun negara karena tempatnya hanya dirumah untuk menjadi ibu rumah tangga, perempuaan dipenjarakan di bawah rezim Sadat, atas tuduhan “kejahatan terhadap Negara”. El Saadawi menyatakan “Saya ditangkap karena saya percaya Sadat Dia mengatakan ada demokrasi dan kami memiliki sistem multi-partai dan Anda bisa mengkritik. Jadi saya mulai mengkritik kebijakannya dan saya mendarat di penjara.” Begitu kata Nawal el Sadawi. Meskipun dalam penjara, El Saadawi terus melawan penindasan. Dan Pada September 1981, Anwar el Sadat menutup semua organisasi yang didirikan oleh Nawal dan juga organisasi-organisasi lain yang dianggap membahayakan Mesir.
Bahkan setelah dia dibebaskan dari penjara, kehidupan El Saadawi itu terancam oleh orang-orang yang menentang pekerjaannya,  terutama kaum Islam fundamentalis, dan penjaga bersenjata ditempatkan di luar rumahnya di Giza selama beberapa tahun sampai dia meninggalkan negara untuk menjadi profesor tamu di universitas di Amerika Utara .
Konsep Pemikiran Nawal el Saadawi
Sebagai seorang tokoh yang tak kenal lelah dalam memperjuangkan hak-hak perempuaan dan aktivis pergerakan pembebasan kaum perempuaan, El Saadawi bahu membahu untuk mengadvokasikan kepada kaum perempuaan di dunia bahwa  pembebasan kaum perempuan dari patriarki budaya masyarakat dan belenggu sistem sosial yang ada, hanya bisa dilakukan oleh kaum perempuaan itu sendiri. Perempuaan harus kuat di mulai dari pribadinya masing-masing. menurut beliau perempuaan harus bisa terbebaskan dan berani menyikap tabir pikiran mereka, yaitu kesadaran palsu, kesan-kesan minor, dan sikap lemah yang selama ini melekat pada kaum perempuan. Sehingga nantinya akan muncul sebuah kesadaran baru pada diri mereka bahwa sesungguhnya tidak ada perbedaan berarti antara dirinya dan kaum lelaki.
Konsep pemikiran Nawal El Sadaawi tentang feminisme bisa dilihat dari tujuan ia mendirikan organisasi perempuan yang ia dirikan AWSA (Arabic Women’s Solidarity Association). menurut asumsinya feminisme adalah penyikapan tabir yang menyelimuti pikiran kaum perempuaan. El Saadawi dalam mengungkapkan pemikirannya tidak jarang harus menolak norma-norma yang telah mapan. bahkan ia berani bersebrangan dengan pemerintahan Mesir dan menjadikannya sebagai oposisinya terhadap segala kebijakan pemerintah, tradisi masyarakat yang bertentangan dengan nalar dan keyakinannya beserta tidak menguntungkan bagi perjuangan kaum perempuan. Tentu itu semua harus dibayar dengan harga mahal dan ada pengorbanannya, ia sering keluar masuk penjara, banyak sekali teror dan ancaman pembunuhan terhadap dirinya. kini El Sadawi menghabiskan sisa hidupnya di Eropa dan Amerika dan sesekali berkunjung ke tanah kelahirannya di Mesir.
Gambaran Penindasan Perempuan Dalam Novel Perempuan di Titik Nol
Novel Perempuan di Titik Nol karya Nawal el Saadawi bercerita tentang seorang perempuan yang bernama Firdaus dari sel penjaranya, tempat dimana dia menunggu pelaksanaan hukuman matinya. Firdaus di penjara karena telah membunuh seorang lelaki yang bernama Marzouk. Marzouk adalah seorang germo yang memaksa Firdaus untuk menggunakan jasa germonya, padahal Firdaus merasa tidak perlu menggunakan seorang germo untuk profesinya sebagai pelacur. Tentang keperempuanan, kepedihan, kejahatan, kesadisan, serta seksualitas sangatlah kental dalam novel ini. Dalam novel ini banyak sekali kejutan-kejutan yang menggoncangkan perasaan, yang mengandung pula jeritan pedih, protes terhadap perlakuan tidak adil pada perempuan, sebagai yang diderita, dirasakan dan dilihat oleh perempuan itu sendiri.
Berikut adalah salah satu gambaran pelecehan terhadap perempuan, yang digambarkan oleh Firdaus. Ketika seorang lelaki bernama Bayoumi menyelamatkan Firdaus dari jalanan karena meninggalkan rumah suaminya. Tetapi yang ada bukanlah Bayoumi menyelamatkan Firdaus, tetapi pelecehan yang sudah terpendam tercipta lagi, hal tersebut terdapat pada kutipan berikut ini:
“Dia menggigit daging bahu saya dan menggigit buah dada saya beberapa kali, kemudian perut saya. Sambil menggigit berulang-ulang ia berkata:
“Pelacur, perempuan jalang.” Kemudian ia menghina ibu saya dengan kata-kata yang tak sanggup saya ikuti. Kemudian, ketika saya berusaha mengucapkannya, saya tak sanggup. Tetapi setelah malam itu, kata-kata itu seringkali saya dengar Bayoumi, dan kawan-kawan Bayoumi”. (Saadawi, 2004:72-73)
Penutup
       Novel ini beraliran Feminisme yang pada akhirnya mampu mengungkap permasalahan penindasan terhadap perempuan disegala bidang, baik itu politik, kelas sosial ataupun budaya di Mesir. “Perempuan di Titik Nol” merupakan sebuah protes dan kecaman terhadap paham dan system Patriarki untuk semua laki – laki di Mesir. Dan dari sana jugalah permasalahan Gender menjadi terbeberkan sedemikian rupa. Sadaawi dengan pandainya mampu menyampaikan kritik pedas untuk pemerintahan Mesir melalui karya – karyanya.

Posted in Karya Sastra, Karya Sastra Islam(i) modern, Modern, Samira dan Samir, Sastra Muslim di Asia Tengah

BEBERAPA ASPEK DALAM NOVEL “ SAMIRA AND SAMIR” KARYA SIBA SHAKIB


Sekilas Biografi Siba Shakib
Siba Shakib lahir di Teheran Iran. Dan bersekolah di Jerman University of Heidelberg. Penulis dan Fabricator dari dokumenter dan film, telah melakukan perjalanan ke Afghanistan beberapa kali dalam beberapa tahun terakhir, mengunjungi utara dan wilayah dikendalikan oleh Taliban . Beberapa film dokumenter-nya telah memenangkan penghargaan, termasuk menjadi saksi kengerian hidup di Afghanistan dan nasib wanita Afghanistan. Dia tinggal di New York , yang ‘ Italia dan Dubai .
Sebelum menulis novel pertamanya, Siba Shakib adalah seorang wartawan musik dan presenter radio. Bekerja sama dengan artis pendatang baru tetapi juga dengan musik besar, antara lain diwawancarai untuk televisi Miles Davis , Tina Turner dan Mick Jagger . Selama wawancara dan pembicaraan telah menawarkan pertimbangan politik sering dengan sukses besar di antara penonton remaja.. Tahun-tahun berikutnya, mulai memproduksi film dan dokumenter yang bersaksi dengan situasi ekonomi dan sosial yang membutuhkan di berbagai belahan dunia.

Sejak awal tahun sembilan puluhan Siba Shakib telah bekerja terutama di dua negara yaitu ‘ Iran , di mana ia dilahirkan dan dibesarkan dan ‘ Afghanistan .Sebuah Bunga untuk Wanita Kabul – Sebuah Bunga untuk Wanita Kabul – menerima di Jerman pada tahun 1998, untuk menandai peringatan 50 dari Deklarasi tentang Hak Asasi Manusia PBB , penghargaan untuk film Hak Asasi Manusia. Shakib sering menggunakan dana dari film dan buku-bukunya untuk membantu dalam membangun pusat perempuan di Kabul .
Siba Shakib berada di New York, menyelesaikan novel pertamanya, “Afghanistan, Dimana Tuhan Hanya Datang ke Menangislah” (Afghanistan, di mana Tuhan hanya datang untuk menangis), terjadi ketika 11 September serangan teroris pada World Trade Center  Selama seminggu, membantu dengan mendukung staf televisi ARD Jerman dalam penghitungan ulang dan merekonstruksi peristiwa. All’inizio del 2002 , Pada awal 2002 , Menteri Pertahanan Jerman menerima intuisi dan pengetahuan Afghanistan Siba Shakib mencari ide-ide dan kolaborasi sebagai konsultan bagi pasukan mereka penjaga perdamaian, ISAF di Afganistan. Kemudian bisnisnya berkembang di dukungan dan konseling pasukan NATO selama perang.
           
 
Sinopsis Karya
Namanya Samir. Sesungguhnya ia perempuan. Namun menjadi anak pertama kepala suku, yang justru mengharapkan sosok anak laki-laki, namanya Samira berubah menjadi Samir. Tak satupun orang sukunya tau fakta bahwa anak sang kepala suku sebenarnya perempuan. Ayah Samir pun mendandaninya sebagaimana lelaki. Mengajarinya sebagaimana mengajari lelaki suku. Samir pun mengira ia Samir. Sama dengan anak lelaki lain. Ia Samir. Bukan Samira.
Hingga di usia 7 tahun, ia bermain dengan anak-anak lelaki lain di sukunya di tepi sungai. Kemudian teman-temannya kencing di sana. Saat itulah ia melihat sesuatu yang tak sama. Yang dimiliki temannya, tapi tak dimilikinya. Dan ia sadar, ia berbeda. Ia bukan Samir yang selama ini ia pikirkan. Namun demi ayahnya, ia meneruskan perannya sebagai lelaki. Samir pun tumbuh menjadi sosok lelaki berwajah cantik.
Di usianya yang menginjak belasan, ayahnya memimpin sukunya berperang. Yang membawa ayahnya kembali dalam keadaan tak bernyawa. Terpaksa menyaksikan ibunya (maaf) diperkosa oleh pengkhianat sukunya, Samir pun menjadi bisu. Ia tak bicara. Tak ingin bicara.
Hingga suatu saat ia meninggalkan sukunya. Berkelana. Sebagai Samir. Dengan modal ajaran ayahnya yang mengharapkannya menjadi penerus suku pejuang pemberani. Mampu memanah. Berkuda. Menggunakan pedang. Menjadi lelaki. Yang mengagumi burung besi di cakrawala Nowshak.
Ia bertemu dengan seorang guru, yang mengajarinya membaca dan menulis. Samir. Menulis. Awalnya ia hanya mampu menusukkan pensilnya di kertas. Dipikirnya sebagaimana mengukir pisau di atas pohon.Dan perkenalannya dengan Bashir. Pemuda yang kelak akan membuatnya kalut dalam pilihan menjadi pasangan hidup Bashir, menjadi Samira. Yang artinya mengkhianati keluarganya. Atau mempertahankan eksistensinya sebagai Samir. Tetapi kehilangan Bashir.
Buku ini benar-benar mampu menangkap kompleks-nya hidup Samir dalam waktu yang singkat. Bukan sebuah buku yang tebal. Namun mengesankan. Bagaimana saya yang saat itu tak sampai usia 13 tahun terlarut dalam kompleksnya hidup Samir. Turut tersenyum, bersedih, menangis. Hingga mengaduk-ngaduk mencari novelnya di tumpukan buku Toga Mas Jogja. Ah, Samira..
Sebuah episode yang terkenang betul di benak saya. Ketika Samir terpaksa bernaung di sebuah desa. Sebagai Samir. Membalas jasa. Anak perempuan si kepala desa jatuh hati padanya. Ingin menikah dengannya. Maka disusunlah sebuah rencana penghilangan Samir di malam pertama pernikahannya. Unik. Menegangkan. Tidak terpikirkan.


Unsur-Unsur Intrinsik dalam Novel Samira and Samira
Budaya dalam Novel Samira and Samir
Untuk memahami unsur-unsur intrinsik dan latar belakang belakang seperti  sosial, budaya, ekonomi dan peradaban yang ada dalam karya sastra yang berjudul Samira and Samir. Pada novel ini kita bisa melihat bagaimana kondisi dan situasi yang terjadi pada saat itu. Karena penulisnya sendiri tidak hanya sekedar menulis tanpa mengetahui situasi dan kondisi yang terjadi dan yang ada di Negara tersebut. Tetapi juga penulis sebelumnya telah mengetahui bagaimana situasi dan kondisi yang terjadi pada masa itu.
Dalam novel tersebut penulis ingin menyampaikan sesuatu yang dia lihat dan dia rasakan ketika dia mengunjungi daerah afganistan.Novel yang berjudul Samira and Samir ini mengisahkan seorang anak perempuan yang terlahir dalam keluarga seorang Komandan perang, yang dimana pada saat itu amat sangat menjungjung tinggi nilai seorang laki-laki,Karena seorang laki-laki dianggap bisa meneruskan perjuangan ayah dan keluarganya, akan tetapi jika mendapatkan seorang anak perempuan bagi kebanyakan orang arab pada saat itu adalah sebuah aib yang sangat besar yang harus ditutupi. Karena Sang ayah merasa kecewa. Sang ayah pun memutuskan untuk mendidik anaknya yang bernama Samira sebagai lelaki. Dan tumbuhlah Samira sebagai Samir. 
Pada kenyataannya pun itu adalah  Sebuah peradaban yang belum bisa dirubah mungkin sampai saat ini. Karena bagi kebanyakan orang arab seorang wanita yang melahirkan seorang anak perempuan itu telah memberikan aib kepada keluarganya sendiri. Karena menurut mereka orang-orang Arab wanita  itu diciptakan hanya untuk menjadi seorang pelayan laki-laki. Tergambarkan dalam novel ini dimana Ibu dari Samira yang hidupnya hanya mengurusi rumah, membuat makanan untuk anak dan suaminya, dan tidak melakukan aktifitas yang lain.
Sejarah dan Ekonomi dalam Novel Samira and Samir
Dalam novel ini kesalahan identitas yang menjadikan hidup Samira kian rumit. Kerumitan itu bertambah ketika Samira menginjak remaja dan kemudian dewasa dan mengenal perasaan cinta. Samira dihadapkan pada dua pilihan yang menyakitkan. Samira ingin hidup sebagai seorang istri lelaki yang bernama Bashir, namun dia harus rela mengkhianati keluarganya, dengan mengungkapkan identitas aslinya sebagai seorang perempuan, dan dengan demikian dia telah mengorbankan kebebasannya sebagai seorang lelaki.
Adapun faktor sejarah yang melatarbelakangi kenapa seorang suami atau seorang ayah menginginkan seorang anak laki-laki, karena pada saat itu orang arab masih sangat menyukai peperangan, yang dimana peperangan itu banyak menelan korban jiwa, dan itu sebabnya kenapa banyak kaum laki-laki yang menginginkan seorang anak laki-laki untuk meneruskan estafeta perjuangan ayahnya.  Meski cerita itu amat sangat klasik tapi kita pasti masih tahu, bahwa pada zaman Rasulullah pun, Seorang khalifah Umar bin khatab pernah  membunuh anak perempuannya hidup-hidup karena seolah-olah aib dan sebuah malapetaka mendapatkan seorang anak perempuan, sehingga itulah yang dilakukan oleh sebagian orang arab dan itu sudah menjadi sebuah tradisi orang-orang arab.
Dalam novel ini diceritakan sangat jelas bagaimana Samira hidup sebagai seorang anak perempuan yang dididik layaknya seorang anak laki-laki. Dimana dia belajar berkuda dengan ayahnya, belajar bagaimana dia melakukan permainan yang biasa dilakukan oleh seorang anak laki-laki yang bernama permainan Buskazhi. Hingga dia dewasa pun dia tetap merasa bahwa dirinya adalah seorang anak lelaki sejati.
Dalam novel ini juga menunjukkan bahwa pada saat itu sedang berada dalam peperangan melawan Taliban. Bukan karena Islam, tetapi menjadi sebuah kesenangan dan merampas harta kekayaan mereka. Meski sedikit orang-orang yang berjihad dan berperang demi nama Islam. Faktor yang membuat warga Islam merasa hebat karena bisa menguasai seluruh kawasan khususnya di Afghanistan. Banyak kejadian yang akhirnya mereka melakukan peperangan ini, salah satunya karena faktor ekonomi, politik  dan sosial. Karena perebutan kekuasan dan ingin memiliki wilayah yang luas juga sehingga mereka melakukan peperangan. Oleh karena itu banyak diantara mereka yang rela mengorbankan segalanya demi peperangan ini.
Semasa kecilnya Samira pernah menjadi seorang perempuan bisu, karena dia merasa belum menjadi lelaki sejati, dia menangis meronta-ronta, menyapu tanah, merobek dinding tenda rumahnya. Merasa bahwa dia belum bisa seperti lelaki sejati yang pernah dia liat. Hari-hari Samira dilakukan dengan sangat penuh ketangguhan sebagai seorang laki-laki, dia belajar berkuda, belajar bagaimana menjadi seorang lelaki sejati seperti ayahnya. Seorang Komandan perang yang sudah banyak membunuh musuh-musuh perangnya. Karena pada saat itu masih berlangsungnya perang Taliban. 
            Samira melewati musim dingin dan musim panasnya untuk menjadi seorang lelaki sejati, menjadi putra perempuan yang tangguh untuk ayah dan Ibunya. Samira mulai mahir berkuda, mulai mahir melakukan permainan seorang laki-laki yaitu Buskazi. Ibunya sudah tidak ingin melihat Samira terus-terusan melakukan permainan laki-laki, tetapi ayahnya menginginkan Samira melakukan hal itu. Samira si bisu tetap dan selalu menurut perintah ayahnya. Mungkin karena Samira si bisu pun mulai merasakan nyaman melakukan permainan laki-laki.
Ketika Samira dewasa dia masih tetap bisu, dan mulai banyak orang yang meragukan kelaki-lakian Samira. Dan menganggap bahwa Samira bukanlah seorang lelaki sejati. Hingga Akhirnya permainan Buskazi pun tiba, dan Samira mengikuti permainan itu dan menunjukkan keahliannya membawa sang kuda berlari mengiringi dan mengikuti titah sang Samira tuannya. Orang yang mengejek Samira pun merasa tidak terima atas kemenangan Samira menaklukan kudanya untuk menunjukkan pada mereka bahwa Samira putra perempuan pak Komandan adalah seorang laki-laki sejati. Kemudian anak dari Olfat yang tidak menyukai Samira pun memukul samira hingga darah menetes dipelupuk mata Samira, akan tetapi Samira dan membalas dan tidak merasakan kesakitan.
Hingga akhirnya Samira semakin menjadi putra perempuan pak Komandan yang sudah sangat Dewasa. Dan ketika itu Samira mendengar kabar dari ibunya sendiri bahwa ayahnya meninggal terbunuh, Ibunya amat sangat terpukul atas kematian Suaminya. Ibunya Samira yang bernama Daria, menagis tersedu-sedu menginginkan suami hidup menemani dia lagi, Daria merasa belum bisa menyenangkan hati suaminya. Samira ingin menangis melakukan hal yang sama seperti ibunya, akan tetapi Samira merasa bahwa dirinya tidak perlu melakukan hal seperti itu karena dia sudah merasa seperti lelaki sejati. Yang kini harus menggantikan posisi ayahnya untuk menjaga Ibunya.
Daria masih merasakan kepiluan dan kesedihan yang mendalam ditinggal meninggal oleh suami tercintanya. Akan tetapi putra perempuannya selalu memberikan semangat kepada ibunya. Daria ibu Samira pun memutuskan untuk hijrah kerumah ayahnya, kakeh samira. Dan mulailah kehidupan Samira pun berlanjut ketika dia bertemu dengan Bashir. Karena pertemuannya dengan Bashir telah menimbulkan benih-benih asmara dalam hati Samira. Akan tetapi Samira tidak ingin identitasnya sebagai seorang perempuan diketahui oleh basher, karena itu akan membuat samira kehilangan kebebasannya menjadi seorang perempuan.
Samira menemukan banyak permasalah baru ketika dia meninggalkan kota dimana dia dilahirkan yaitu dikota Hindu-Kush, akan tetapi dia harus meninggalkan kota itu untuk menemukan kehidupan yang layak. Terlihat bagaimana perjuangan seorang perempuan untuk memepertahankan kehidupannya di kota yang belum pernah dia jumpai sebelumnya. Samira merasa bahwa hidupnya sudah menjadi seorang lelaki sejati, yang bisa menjaga ibunya dan dirinya sendiri. Meski dia sudah merasakan kecintaan terhadap lawan jenisnya sendiri, akan tetapi sifat maskulinnya yang membuat bahwa dirinya menginginkan menjadi seorang Samir saja.
 Hingga pada akhirnya, Bashir pun mengetahui bahwa Samira adalah seorang perempuan dan Bashir pun menginginkan Samira menjadi istrinya, yang bisa melahirkan seorang anak laki-laki dari rahimnya. Akan tetapi Samira tidak menolak, hanya memberikan jawaban bijaksana dari seorang putra perempuan pak Komandan yang kini telah menjadi perempuan yang tangguh. Samira hanya menjawab. Kita telah berburu bersama, kita juga telah menangkap ikan, kita tidak akan pernah melakukan hal ini jika kita tidak berteman lagi, jika aku jadi istrimu dank au jadi suamiku. Hati mereka tercabik-cabik seperti kertas, berubah menjadi serpihan-serpihan kecil. Akan Samira tidak menelan airmatanya, Bashir pun tidak menelan airmatanya. Samira memendam seribu pertanyaan, namun tak ada satupun jawaban. Hingga Samira tetap membisu. Samira pun melompat keatas punggung kuda jantan ayahnya, memacunya meninggal Hindu-Kush dan Bashir, Samira tidak menelan airmatanya. Ia menangis. Menangis Hingga tangisnya berubah menajdi tawa. Sebuah tawa yang tidak segera menghilang. Ini adalah tawa seorang wanita. Wanita sejati. Ini adalah tawa seorang Samira.

Posted in Abdulrazak Gurnah, Karya Sastra, Karya Sastra Islam(i) modern, Modern, Sinopsis karya sastra muslim Eropa modern

Sinopsis Novel "Paradise" Karya Abdulrazak Gurnah



Judul                           : Paradise
Judul Asli                    : Paradise
Penulis                         : Abdulrazak Gurnah
Penerjemah                  : Rika Iffati Farihah
Tahun terbit                 : Februari 2007
Penerbit                       : HIKMAH, Bandung
Jumlah halaman           : 387
 Synopsis
Suatu hari di Afrika Timur, di usianya yang kedua belas, Yusuf harus pergi meninggalkan keluarganya. Dia digadaikan sebagai budak kepada Paman Aziz, seorang saudagar, untuk menjamin utang ayahnya. Kemudian dia dipercaya ikut sang Saudagar berkelana dengan rombongan caravan dagangnya untuk berdagang. Perjalanan melintasi benua Afrika yang penuh keindahan surgawi itu tak berjalan mulus. Pergolakan kekuasaan yang saat itu terjadi membuat rombongan karavannya harus berhati-hati. Yusuf yang muda dan belum berpengalaman belajar tentang kehidupan ketika memasuki dunia yang penuh dengan peperangan dan kebencian antarsuku, agama, takhayul, wabah dan perbudakan anak. Masing-masing suku punya aturan dan karakter sendiri-sendiri, seperti diungkapkan salah seorang rombongan caravan terhadap orang-orang suku barbar “untuk menjadi pendekar penuh, mereka harus berburu singa dan membunuhnya, lalu memakan kemaluannya. Tiap kali mereka memakan sebuah penis, mereka boleh menikahi seorang perempuan,dan semakin banyak penis yang mereka makan,semakin terpandanglah mereka dikalangan orang-orang sebangsanya”, “demi Allah aku mengatakan yang sebenarnya, dan setiap kali mereka membunuh seorang manusia, mereka memotong salah satu bagian tubuhnya dan menyimpanya dalam kantong khusus”. 

Agama menjadi hinaan dan cemoohan dan dianggap biasa karena masing-masing pemeluk agama saling mencemooh agama lain, beberapa penggalan kalimat ini memperlihatkan kebencian yang mendalam diantara mereka, “dengan mata kuning dan bulu keperakan. Terlatih untuk memburu orang Islam. Jika kau paham arti gonggongan marahnya, isinya mengatakan aku suka daging para penyembah Allah. Bawakan daging orang Islam untukku” ucap salah seorang kafir terhadap orang Islam. “bayangkan bagaimana mungkin Tuhan menciptakan mahluk semacam itu! Mereka terlihat seperti sesuatu yang tercipta dari dosa” ucap seorang muslim pada orang-orang Barbar. Belum lagi kuku-kuku kolonialisme Eropa yang perlahan mencengkramAfrika mulai menampakan kengeriannya.
Yusuf kemudian tumbuh menjadi seorang pemuda tampan dan dewasa diperantauan. Dia menjadi seorang yang gagah dan pemberani. Banyak orang jatuh cinta dan memendam hasrat kepadanya, baik pria dan wanita. Termasuk pula Sang Nyonya, istri pertama Paman Aziz. Namun hati Yusuf telah tertambat pada Amina, pelayan Sang Nyonya.
Pengalaman adalah guru yang terbaik dalam kehidupan. Perjalanan demi perjalanan yang dilakukan Yusuf telah membuatnya menjadi seorang yang dewasa dan berwawasan. Dalam perjalannya tersebut, dia belajar tentang banyak hal. Alam yang indah dengan kehidupannya yang keras telah merubahnya dari pria yang polos, tidak tahu apa-apa dan penakut menjadi seorang pria yang gagah, pemberani dan kuat. Kebencian antarsuku dan agama yang begitu kuat, diramu dalam cerita dan bahasa yang menyentuh.
Biografi Abdulrazak Gurnah
                             Source: http://literature.britishcouncil.org/abdulrazak-gurnah
Biography
Novelist Abdulrazak Gurnah was born in 1948 on the island of Zanzibar off the coast of East Africa.
Critical Perspective
The writings of Abdulrazak Gurnah are dominated by the issues of identity and displacement and how these are shaped by the legacies of colonialism and slavery.
Bibliography
2011
The Last Gift, Bloomsbury
2007
The Cambridge Companion to Salman Rushdie, editor, Cambridge University Press
2005
Desertion, Bloomsbury
2001
By the Sea, Bloomsbury
1996
Admiring Silence, Hamish Hamilton
1994
Paradise, Hamish Hamilton
1993
Essays in African Literature: A Re-evaluation, editor, Heinemann
1990
Dottie, Cape
1988
Pilgrim’s Way, Cape
1987
Memory of Departure, Cape
Awards
2006
Commonwealth Writers Prize (Eurasia Region, Best Book), Desertion, shortlist
2001
Los Angeles Times Book Prize (Fiction), By the Sea, shortlist
1994
Booker Prize for Fiction, Paradise, shortlist

 

Posted in Karya Sastra, Karya Sastra Islam(i) modern, Modern, Najib Kilani

Membaca Ulang Dunia Timur Lewat Karya Najib Kilani dalam "Melodi Kaki Langit"


 
Sumber Gambar: 

 
Latar Belakang Masalah 
           Karya sastra adalah hasil pengejawatahan berpikir kreatif-imajinatif seorang pengarang atas realitas sosial yang terjadi di sekelilingnya, baik yang memiliki hubungan sebab akibat langsung terhadap dirinya maupun yang terjadi di luar dirinya dan dituangkan dalam media yang dikehendakinya pula. Ia juga terkait dengan proses pengelolaan pengembaraan emosional dan imajinasi terhadap segala yang dirasa dan dialami dalam kehidupan fisik dan batinnya. Begitu pula dengan ide dan gagasan pengarang. Bersandar pada teori mimetik dan atau homologus, imajinasi pengarang lahir dari kondisi sosial yang dialami oleh pengarang itu sendiri, maka dari itu karya sastra yang dibuat seorang pengarang tentunya bersandar dan mencerminkan pada kenyataan sosial pada saat karya itu dibuat. Jika karya tersebut lahir dalam kondisi sosial yang baik maka karya sastra yang dihasilkannya akan baik pula, dan jika karya sastra tersebut lahir dalam kondisi sosial yang buruk maka karya sastra yang lahir akan buruk pula. Karya sastra dapat diposisikan sebagai representasi dari nilai, norma, dan tata perilaku dari masyarakat yang mengitarinya. 
          Sebuah karya sastra juga memiliki peran yang penting dalam masyarakat, selain merupakan refleksi dari kondisi sosial masyarakat, karya sastra juga memiliki kemampuan untuk menggugah perasaan orang lain untuk berpikir tentang kehidupan dan permasalahannya. Membangun sebuah konsep pemikiran melalui karya sastra ternyata mampu memberikan ruang kepada para pembaca untuk menelisik karya itu tidak hanya mengenai struktur dalam pembangunnya namun juga segala sesuatu yang berkaitan dengan gejala-gejala kemasyarakatan yang melingkupinya. Berbagai ideologi kemudian ditawarkan, salah satunya adalah wacana orientalisme yang dibangun Barat, yang kemudian membentuk konsep Barat yang dinamis dan Timur yang statis. Konsep Timur bukan lagi hanya menjadi bentukan letak geografis melainkan juga menjadi bentukan secara kultural, bahwa yang disebut Timur adalah konsep semua yang ada diluar peradaban Barat. Konsep Timur adalah sesuatu yang misterius namun juga segala sesuatu itu masih orisinil sehingga lebih dekat pada konsep surgawi. Dengan konsep itu pula muncul wacana East as the Paradise.

Konsep Teori
          Dalam menetaskan ide pokok seorang pengarang dalam bentuk karya sastra, tentunya harus disusun dari dan berdasarkan realitas sosial yang tercerabut, kemudian barulah disusun menjadi sebuah komposisi karya sastra yang utuh. Realitaslah yang menentukan kualitas karya sastra terhadap masalah-masalah sosial yang terjadi di sekelilingnya, efektif dan tidaknya karya tersebut tersebut tergantung pada daya dan kemampuan maknanya mengolah konteks. Hal demikianlah yang membuat beberapa orang pakar dalam ilmu kesusteraan berpendapat bahwa karya sastra sejatinya haruslah murni mengangkat tema-tema sosial beserta kritik-kritiknya, guna selain fungsi perjuangan menegakkan ketidakadilan, hal ini berfungsi pula sebagai penegasan posisi dari kelas mana orang tersebut berasal. Pengarang bukanlah siapa-siapa jika karya yang dihasilkan tidak memberitahukan tentang kebenaran, sebab karya yang sifatnya imaginatif hanya lahir dari aspek yang tidak realistis atau bualan subjektifisme pengarang terhadap adegan-adegan dan tokoh-tokoh yang diciptakannnya dalam keadaan pasif. Karya sastra harus memilki basis material yang rasional.
Secara definitif, teori poskolonial adalah teori yang digunakan untuk menganalisis berbagai gejala kultural, seperti; sejarah, politik, ekonomi, sastra, dan sebagainya, yang terjadi di negara-negara bekas kolonialisme (dan imperialisme) Eropa modern. Pada umumnya, gejala-gejala kultural tersebut terkandung dalam berbagai teks studi mengenai dunia Timur, yang ditulis oleh para orientalis, yang disebut sebagai teks-teks oriental (yang berasal dari kata orien yang berarti timur). Meskipun demikian, sebagai akibat dominasi intelektualitas Barat, banyak juga karya-karya yang melukiskan ketidakseimbangan hubungan antara masyarakat Barat dengan masyarakat Timur yang ditulis oleh para intelektual pribumi yang telah terkonstruksi oleh pemikiran Barat. Secara etimologis postkolonial berasal dari kata ‘post’ dan kolonial yang juga berasal dari kata colonia, bahasa Romawi, yang berarti tanah pertanian atau pemukiman. Jadi, secara etimologis kolonial tidak mengandung arti penjajahan, penguasaan, pendudukan, dan konotasi eksploitasi lainnya. Konotasi negatif kolonial muncul setelah adanya interaksi yang tidak seimbang antara penduduk pribumi yang dikuasai dengan penduduk pendatang sebagai penguasa.
  Dengan menghasilkan berbagai kajian mengenai bangsa Timur, maka yang didapatkan adalah pengetahuan mengenai kekuatan sekaligus kelemahan dari Bangsa Timur itu sendiri. Sebagai penjajah, dengan sendirinya mereka telah mempersiapkan tujuan-tujuan tertentu yang dengan demikian tidak selalu berdasarkan standar objektif penilaiannya, melainkan justru mengungkap bahasan budaya yang dibuat berdasarkan perspektifnya yang bersifat subjektif, yaitu tergantung pada pemikiran si pengarang.
Adapun alasan mengapa karya sastra dianggap tepat untuk dianalisis dengan teori poskolonial adalah:
  1. Segala gejala kultural sastra menampilkan sistem komunikasi antara pengirim dan penerima, sebagai mediator antara masa lampau dengan masa sekarang.
  2. Karya sastra menampilkn berbagai problematika kehidupan, emosionalitas dan intelektualitas, fiksi dan fakta, karya sastra adalah masyarakat itu sendiri.
  3. Karya sastra tidak terikat oleh ruang dan waktu, kontemporaritas adalah manifestasinya yang palingsignifikan.
  4. Berbagai masalah yang dimaksudkan dilukiskan secara simbolis, terselubung, sehingga tujuan-tujuan yang sesungguhnya tidak tampak. Disinilah ideologi oriental ditanamkan, disni pula analisis dekonstruksi poskolonial dilakukan.
Dikaitkan dengan tujuannya, maka wacana orientalis adalah wacana yang mewakili sistem ideologi Barat dalam kaitannya untuk menanamkan hegemoni terhadap bangsa Timur. Sebaliknya, wacana poskolonial adalah wacana yang mewakili sistem ideologi Timur untuk menanamkan pemahaman ulang sekaligus memberikan citra diri yang baru terhadap bangsa Timur mengenai hegemoni Barat tersebut. Berakhirnya penjajahan tidak dengan sendirinya berarti bahwa kekuasaan Barat juga berakhir. Berakhirnya penjajahan Barat ternyata masih menyisakan berbagai tradisi kolonial yang dikenal sebagai hegemoni kultural. Warsan lain adalah elite lokal yang hidup dalam dua dunia, yaitu dunia penjajah dan yang terjajah.
Biografi Najib Kilani 
           Najib lbrahim bin Abd al-Lathiif al-Kilani dilahirkan tanggal 10 Juni 1931 di Syarsyabah, suatu desa di wilayah bagian barat Republik Arab Mesir, sebagai anak pertama dari keluarga petani. Ketika meletus Perang Dunia II, ia berusia 8 tahun. Perang Dunia II menimbulkan pengaruh buruk pada kehidupan di Mesir, termasuk di tanah kelahirannya, Syarsyabah. Mesir dilanda krisis ekonomi ditambah dengan tekanan penjajah Inggris yang membuat para petani menanggung berbagai derita.     Demikianlah Najib al-Kailani lahir dan tumbuh dalam situasi politik dan ekonomi yang sangat sulit. Pendidikan Najib al-Kailani, sebagaimana kebanyakan anak-anak di Mesir, dimulai di Kuttab, di mana ia belajar membaca dan menulis, menghafal banyak surat-surat dari Al-Qur’an, Perjalanan Hidup Nabi saw, dan kisah-kisah para Nabi lainnya. Kemudian ia melanjutkan pelajaran ibtidaiyyahnya di Sinbath, dan Tsanawiyahnya (5 tahun, setingkat dengan SLTP-SLTA) di Thontho.
Pada tahun 1951, ia melanjutkan studinya di Fakultas Kedokteran Universitas Fuad I (sekarang Universitas Kairo). Pada tahun keempat di fakultas tersebut, Najib al-Kailani diajukan ke pengadilan, berkenaan keterlibatannya dalam masalah politik (ia bergabung dengan gerakan Ikhwanul Muslimin) dan divonis hukuman penjara selama 10 tahun, tapi setelah menjalani hukuman selama 3,5 tahun, ia dikeluarkan. Setelah keluar dari penjara ia menyelesaikan kuliahnya. Pada tahun 1960, ia kembali dimasukan penjara selama 1,5 tahun. Setelah tamat dari Fakultas Kedokteran, Najib al-Kailani bekerja sebagai dokter pada Kementrian Perhubungan dan Jawatan Kereta Api Mesir. Pada tahun 1967, ia meninggalkan Mesir dan bekerja sebagai dokter di Kuwait, kemudian di Dubai. Selanjutnya ia berpindah-pindah dari satu jabatan ke jabatan lain, terakhir ia menjabat sebagai Direktur Departemen Budaya pada Kementrian Kesehatan Persatuan Emirat Arab, di samping menjadi anggota panitia-panitia yang bergerak dalam bidang kesehatan masyarakat untuk negara-negara teluk. Ia telah banyak menghadiri berbagai muktamar para Menteri Kesehatan negara-negara Arab. Ia kembali ke Kairo pada tahun 1992.
Kiprah Najib al-Kilani dalam dunia sastra sebagai cerpenis, novelis dan penyair, bermula dari kegemarannya membaca, terutama membaca majalah-majalah sastra yang terbit pada masa itu, seperti Ar-Risalah, Ats-Tsaqofah, Al-hilaal, dan Al-Muqtathof. Melalui majalah-majalah tersebut, ia dapat berkenalan dengan banyak para sastrawan, seperti Sayyid Quthb, Mushthofa Shodiq ar-Rofi’i, Al-’Aqqod, Al-Mazini, Al-Manfaluthi, Thoha Husen dan Taufiq El-Hakim. Tulisan-tulisan beliau sangat khas. Karena lahir dari penghayatan nilai-nilai kemanusiaan, persaudaraan dan cinta. Ditengah penghimpitan dan tekanan kezaliman. Terutama berbagai bentuk penyiksaan di penjara. Lebih dari 70 buku novel dan cerita yang beliau tulis.
Nuansa-nuansa sosial dalam tulisan beliau sangat kental. Terutama pembelaan terhadap para kaum lemah dan teraniaya, serta melawan rezim kezhaliman dan kebatilan. Disamping itu nuansa-nuansa religius yang cukup kental. Serta mengangkat para ulama dan ilmuan. Menurut sastrawan ini, tak ada yang bertentangan dan berlawanan antara seni, sastra dan Islam. Jika ada kontradiksi, pada hakikatnya merupakan sebuah pemahaman parsial dari Islam, atau upaya menjauhkan seni dan sastra dari nilai-nilai Islam. Yaitu usaha sekularisasi dari aspek sastra dan seni. Islam tak pernah memerangi atau mengebiri seni dan sastra. Justru menumbuhkan dan mendukungnya. Hanya saja mengedepankan nilai-nilai normatif dan moral. Bukan mengatasnamakan liberalisasi tanpa aturan untuk membungkus kebobrokan dengan nama seni dan sastra.
Najib Al-Kailani menulis puisi sejak di Tsanawiyah. Ketika dipenjara ia menulis beberapa novel. Di antara novel-novelnya adalah : Ardlu al-Anbiyaa, Hikayat Jaad Alloh, Hamamah Salaam, Damm li Fathir Shuhyuun, Alladzima Yahtariquun, Ro’s asy-Syaithoon, Ar-Robii’ al-’Ashif, Rihlah Ila Alloh, Romadloon Habiibii, Ath-Thoriq ath-Thowiil, Tholai’ al-Fajr, Adh-Dhillu al-Aswad, ‘Adzroo’ Jakarta, ‘Alaa Abwaah Khoibar, ‘Amaliqoh asy-Syamaal, Fi adh-Dholaam, Qootil Hamzah, Layaalii Turkistaan, Lail al-Khothooyaa, Marookib al-Abroor, An-Nidaa’ al-Khoolid, Nuur Alloh, Al-Yaum al-Mau’uud, Imroat ‘Abdal-Mutajalli, dan Ar-Rojul Alladzii Aamana.Di antara antologi-antologi cerpennya adalah: Ibtisaamah fi Qolb asy-Syaithoon, Ardl al-Asywaaq, Amiroh al-Jabal, Ar-Rooyaat as-Suud, ‘Adzroo ‘ al-Qoryah, Al-Ka’sal-Farighoh, Liqoo’ ‘Inda Zamzam, Lail al-’Abiid, Yaumiyyaat al-Kalb Syamluul, Dumu’ al-Amiir, Hikaayaat Thobiib, ‘Inda ar-Rohiil, Faaris Hawaazin, Mao ‘idunaa Ghodan, dan Al- ‘Alam adl-Dloyyiq.Sedangkan di antara antologi puisi-puisinya adalah : ‘Ashr asy-Syahiid (1971), Aghooni al-Ghurobaa’ (1972), Kaifa Alqooka (1980), dan Madiinah al-Kabaa-ir (1988).
Najib Al-Kailani termasuk sastrawan Arab penggagas Sastra Islam (Muslim) dan Teater Islam. Di samping cerpen dan novel dan bahasan tentang sastra, Najib Al-Kailani juga menulis karya-karya ilmiah dalam bidang kedokteran, keagamaan dan politik. Di antara karya-karya ilmiahnya adalah : Haula ad-Diin wa ad-Daulah, Ath-Thoriiq ilaa Ittihaad Islaami, Nahnu wa al-islaam, Tahta Rooyat al-islam, Al-Mujtama’ al-Mariidl, Iqbaal asy-Syaa ‘ir ats-Tsaair, Syauqii fii Rokb al-Khoolidiin, Fi Rihaah ath-Thibb an-Nabawi, Ash-Shoum wa ash-Shihhah, dan Mustaqbal al- ‘Alam fii Shihhah ath-Thifl.
Berbagai hadiah dan penghargaan ilmiah dan sastra yang diterimanya, di antaranya yang terpenting adalah : (1) Hadiah Kementrian Pendidikan dan Pengajaran atas novelnya : Ath-Thoriiq ath-Thowiil (1957). (2) Hadiah Kementrian Pendidikan dan Pengajaran atas novelnya : Fii adh-Dholaam (1958). (3) Hadiah Kementrian Pendidikan dan Pengajaran atas bukunya : Iqbaal asy-Syaa’ir ats-Tsaair (1958). (4) Hadiah Mentri Pendidikan dan Pengajaran atas bukunya : Syauqy fii Rokb al-Khoolidiin (1958). (5) Hadiah Kementrian Pendidikan dan Pengajaran atas bukunya : Al-Mujtama’ al-Mariidl (1958). (6) Hadiah Klab Novel dan Medali Emas dari Thoha Husen atas kumpulan cerpennya: Mao’iduna Ghodan (1959). (7) Hadiah Majlis A’laa untuk Perlindungan Seni dan Sastra atas novelnya : Al-Yaum al-Mau’uud (1960). (8) Hadiah Kementrian Pendidikan dan Pengajaran atas antologi cerpennya : Dumuu’ al-Amiir. (9) Hadiah Majma’ al-Lughoh al-’Arobiyah atas novelnya: Qootil Hamzah (1972). (10) Medali Emas dari Presiden Pakistan, Ziaul Haqq, atas bukunya: Iqbaal asy-Sya’ir ats-Tsaair (1980). Beberapa karyanya telah diterjemahkan ke dalamberbagai bahasa, di antaranya ke dalam bahasa Inggris, Itali, Rusia, Turki dan Indonesia
Sinopsis cerita
Kisah ini bercerita tentang penemuan hidup baru. Lingkungan lama yang serba modern ternyata tidak memberikan Iryan kebahagiaan. Kemajuan yang telah digapai Barat justru melahirkan keterasingan baginya. Maka dia memilih pergi ke Timur untuk menemukan jalan baru. Sesampai di Timur, dia mendapatkan yang diinginkan. Keyakinan lama, Kristen, ditinggalkan untuk memeluk keyakinan baru, Islam. Setelah memeluk keyakinan baru inilah dia mendapatkan cahaya kalbu, yang mengubah jalan hidupnya. Dia tinggalkan ketenaran dan gemerlap dunia musik. Dia memilih bersunyi diri di jalan Tuhan. Dendang musik dia gubah menjadi dendang pada Tuhan, hingga dia dapatkan kebahagian sejati. Novel ini memberikan jawaban atas carut marutnya modernisme yang diagung-agungkan Barat.
Analisis karya
Novel merupakan salah satu bentuk karya sastra yang menyajikan cerita fiksi dalam bentuk tulisan atau kata-kata, yang mempunyai unsur intrinsik dan ekstrensik. Sebuah novel biasanya menceritakan tentang kehidupan manusia bermacam-macam masalah dalam interaksinya dengan lingkungan dan sesamanya. Seorang pengarang berusaha semaksimal mungkin mengarahkan pembaca kepada gambaran-gambaran realita kehidupan lewat cerita yang ada dalam novel tersebut. Di bulan Juni 1797, Perancis masuk ke Mesir pertama kali melalui Alexandria yang dipimpin oleh Napoleon. Setelah bentrok berkali-kali antara orang-orang Osmani dengan Perancis, akhirnya Perancis bisa diusir berkat persekutuan antara Osmani, Inggris dan Mamalik. Dan Mesir kembali jatuh ke tangan Turki Osmani pada bulan Oktober 1801.
Babak berikutnya terjadi perebutan kekuasaan antara Turki Osmani dengan Mamalik serta beberapa golongan yang ada di Mesir. Akhirnya kekuasaan di Mesir berhasil dipegang oleh Muhammad Ali Pasha di bulan Juli 1805.Untuk membantu Mamalik yang tersingkir dari kekuasaannya di Mesir, Inggris melakukan agresi militer serta menaklukkan Alexandria pada bulan Maret 1807. Tapi berkat kelihaian Muhammad Ali Pasha dalam diplomasi, akhirnya di tahun yang sama dia berhasil mencapai kesepakatan untuk memaksa Inggris keluar dari Alexandria pada bulan Agustus 1807.
Berakhirnya kekuasaan Barat di Mesir tentu juga meninggalkan permasalahan yang sama yang terjadi pada wilayah-wilayah bekas jajahan lainnya. Konsep orientalisme yang berkembang terus menjadi wacana yang menjadi bahan untuk direkonstruksi mengenai dunia Barat dan dunia Timur. Dalam novel Melodi Kaki Langit, Najib Kailani dengan jelas mengisyaratkan wacana ini. Konsep hegemoni Barat terhadap dunia Timur justru terbalik dalam cerita ini. Disinilah Najib Kailani mencoba mengungkapkan bagaimana konsep yang ditawarkan Barat itu tidaklah selalu benar. Setidaknya jika catatan sejarah suatu bangsa bergantung pada siapa yang memegang kendali dalam dunia politik pemerintahan, maka begitupun karya sastra yang kemudian ideologi yang ditawarkannya pun bergantung pada sudut pandang pemikiran pengarang.  Jungkir balik wacana atau konsep orientalisme inilah yang menarik untuk dibahas, bahkan pada paragraf pertama cerita inipun Najib Kailani sudah dengan jelas mengungkapkannya. Sebuah keadaan yang memperbandingkan dunia Barat dan Timur itu. selanjutnya konsep orientalisme ini dapat ditelisik melalui tokoh-tokoh dan realitas kehidupannya.
“Pergilah ke timur. Negeri indah yang penuh pesona dan misteri. Singgahlah di pesisir teluk yang teduh. Penduduknya menyebut pesisir emas hitam. Nikmati dunia bar dengan segala keajaiban dan keindahannya. Tapi jangan pernah lalai dengan hak-hak Tuhanmu”….
Roma, atau bahkan seluruh Italia baginya sudah menjemukan, begitu bising dan kacau. Kekayaan dan kekuasaan telah menjadi berhala. Komplotan mafia merajalela. Kerusakan menjarah seluruh kota hingga meluruhkan kemanusiaan. Dan, kebaikan telah tergadaikan (Kailani, 2009: 3-4)
Pada bagian ini, Najib Kailani telah dengan jelas mengungkapkan perbandingan kondisi dunia Timur yang indah dan penuh kedamaian yang berbanding terbalik dengan kondisi dunia Barat yang walaupun penuh pesona namun telah begitu hancur dengan segala carut marut kehidupan di dalamnya. Suatu wacana yang menjadi awal pembentukan alur cerita beserta konflik-konflik yang menyertainya.
Novel berjudul Melodi Kaki Langit ini bertitik tolak dari keterasingan yang dialami tokoh utama dalam novel ini, Iryan, seorang musisi muda dengan gaya hidup modern di sebuah kota dengan seribu pesona, Roma, Italia, sebagai representasi dari dunia Barat, sebuah proses keterasingan yang menjadi gejala dalam peradaban modern Barat. Barat yang awalnya begitu antusias dengan kemajuan yang mereka capai, pada akhirnya sampai pada satu titik dimana mereka menyadari bahwa kemajuan yang mereka ciptakan tidak selamanya mampu menghasilkan kebahagiaan, bergelimangnya materi tidak serta merta membuat mereka meraih kebahagiaan namun lebih tampak menjauhkan mereka dari semua itu. Seperti itu pula keadaan yang dialami Iryan. Dalam perenungannya Iryan menyadari bahwa kemajuan di Roma hanya bersifat fisik semata. Gedung-gedung megah yang berdiri kokoh hampir di setiap sudut kota, pusat-pusat kesenangan duniawi yang hampir memenuhi setiap penjuru kota tidak lantas memberi kebahagiaan yang diinginkannya. Semua itu justru membuat Iryan merasa terasing dalam dunia dan hidupnya, Iryan kehilangan eksistensinya. Dalam kondisi inilah Iryan mulai berontak.
“Italia adalah negeri asalku. Timur akan tetap menjadi Timur, dan Barat tetap saja Barat”. Sanggah Sofia tak senang mendengar sanjungan Iryan terhadap Dubai yang dianggapnya terlalu berlebihan… (Kailani, 2009: 6)
Sekali lagi wacana orientalisme terungkap jelas. Kali ini dari sudut pandang Sofia, seorang gadis Roma yang pikirannya hanya diisi oleh pesta dan gemerlap kehidupan malam. Sofia yang hanya sibuk dengan segala sesuatu yang menyangkut kepentingan dirinya sendiri dan tempat hiburan dan tidak pernah perduli pada orang lain. Ini menjadi representasi lain dari dunia Barat yang senang menghambur-hamburkan materi demi kesenangan duniawi serta sifat mereka individualistis, tidak perduli apapun selain segala sesuatu yang menguntungkan dirinya sendiri.
Iryan sepenuhnya mengerti maksud dari kata-kata Sofia. Meski dadanya penuh sesak, namun di memahami gaya hidup dan cara berpikir anak muda Roma. Dia tidak akan mampu meyakinkan atau memaksa Sofia. Semua orang tahu, di Roma kebebsan adalah raja. Tak boleh ada paksaan…
Moralitas di kota ini sudah mati. Gerutu Iryan dalam hati. (Kailani, 2009: 8-9)
Kesadaran Iryan datang bersamaan dengan meranggasnya cinta Iryan pada kekasihnya, Sofia, seseorang yang ikut larut dalam siklus kehidupan Roma yang sudah sangat menjemukan Iryan. Namun apapun itu, tidak dapat merubah sikap dan pendirian Sofia karena pola pikir dan budaya Barat telah mengakar kuat dalam diri Sofia dan Sofia pun tidak merasa harus ikut berubah. Sofia tidak merasa harus perduli dengan kematian moralitas yang dirasakan Iryan di kota Roma. Konsep kebebasan yang diusung Barat mencakup segalanya, merajai segala aspek kehidupan manusia disana.
Hari-hari Syams di Dubai semakin bersinar cerah. Dia telah sukses mengumpulkan uang dan memiliki banyak pengagum, tentunya tanpa menjual diri dan kehormatan. Tak heran kalau dia ingin sekali menetap di Dubai walaupun akhir-akhir ini penculikan dan pemerkosaan sering terjadi. Bagi Syams, Dubai telah menjadi surga. (Kailani, 2009: 89)
Di Timur, Iryan menemukan sosok baru, Syams, yang merupakan seorang penari kafe yang bertugas menyenangkan setiap orang. Penjelasan mengenai gerakan tarinya yang dinamis, kadang menghentak, dan kadang mengalir gemulai menggambarkan ciri dari perubahan, yaitu dinamis. Gerak perubahan kadang dapat menghentak sehingga membuat orang terkejut, atau kadang mengalir perlahan sehingga terasa dengan jelas. Namun demikian, sosok Syams digambarkan mewakili sebagian sosok perempuan Timur yang juga bisa maju namun tetap menjaga kehormatannya sebagai perempuan Timur. Di satu sisi Syams meraih popularitas dan materi yang berlimpah yang tentunya memrupakan sesuatu hal yang bisa didapatkan perempuan Barat dengan pekerjaan yang sama, di sisi lain, Syams mewakili sosok perempuan maju yang berbeda dengan pola hidup perempuan Barat yang benar-benar bebas, kebebasan yang dimiliki Syams sebagai perempuan tidak lantas juga membebaskan nilai-nilai ketimuran yang harus tetap menjaga kehormatan dirinya. Perbandingannya adalah bahwa ada dua sosok perempuan dalam konteks wilayah yang berbeda, Sofia mewakili sosok perempuan Barat yang bisa melakukan apa saja dengan kebebasannya dan Syams pun mewakili sosok perempuan Timur yang dalam kebebasannya masih memegang norma ketimurannya.
 “Aku tidak menafikan kesaktian uang, tapi bagiku uang bukan segala-galanya,” jawab Saqar tetap dengan ketenangan yang luar biasa.
Saqar tersenyum. Kemudian berujar, “Mungkin. Tapi bagiku, rasa kemanusiaan selalu menjadi pertimbangan dalam mengambil setiap langkah-langkahku. Ini yang membedakanku dengan banyak pengusaha lain”. (Kailani, 2009: 43-45)
Sosok Timur yang lain digambarkan Najib Kailani adalah Saqar, seorang pengusaha muda yang sangat sukses. Ini menggambarkan bahwa Timur tidak identik dengan wilayah yang terbelakang seperti yang selalu dicitrakan Barat. Saqar mewakili sosok Timur yang juga maju, memiliki visi hidup ke depan, kaya raya dengan hasil usahanya sendiri, seperti apa yang dapat diraih Barat namun dengan tegas menyatakan perbedaannya yaitu bahwa dia tidak mendewakan uang dan masih tetap memegang teguh norma-norma ketimuran terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Dan Iryan, sekalipun tidak dapat menahan rasa cemburunya karena Saqar mendekati Syams, sadar atau tidak Iryan menjadikan sosok Saqar sebagai salah satu pembangding dalam titik tolaknya menuju perubahan.  
…..Segala tentang Syams memenuhi benaknya. Setiap kata yang keluar dari bibir Syams terasa membentur-bentur batok kepalanya…
Mungkinkah aku akan melepaskan agamaku demi seorang Syams, padahal ayahku seorang pendeta yang tidak perbah lelah mengabarkan ajaran al Masih?…
Di tengah kekacauan dan kegalauan pikiran seperti itu akhirnya Iryan nekad mengambil keputusan, akan mempelajari agama Islam, kemudian memilih yang dekat dengan akal dan hatinya. (Kailani, 2009: 58-59),“Biarkan aku meneruskan kembara tak bertepi ini. Aku akan kembali setelah menemukan kebenaran itu,” kata Iryan seraya berdiri, kemudian berjalan meninggalkan Syams. (Kailani, 2009: 70)
Pertemuan Iryan dengan Syams menjadi pangkal perubahan hidup Iryan selanjutnya, membawa Iryan pada dunia baru yang dibentangkan oleh Syams. Namun setelah itu Iryan tetap harus melangkah sendiri untuk mencari makna yang jauh lebih dalam menuju kebermaknaan hidupnya dan berani menghadapi segalanya. Meskipun pada awalnya perubahan yang hendak diambil Iryan adalah karena keinginannya untuk memiliki Syams, namun pada akhirnya dia dihadapkan pada pergolakan batinnnya tentang hakikat pencarian kebenaran yang diinginkannya dengan caranya sendiri. Iryan tidak lagi hanya tertuju pada maksud untuk memperistri Syams karena syarat yang diajukan Syams untuk bisa menikahinya adalah keislaman Iryan, Iryan telah sampai pada jalan hidup pilihannya sendiri, sungguh-sungguh karena ingin merengkuh kebenaran yang didasari atas kesadarannya pribadi, tanpa paksaan atau tekanan siapapun atau kondisi apapun itu. namun Iryan sungguh pasti sangat sadar bahwa memulai suatu perubahan bukanlah hal yang mudah, selalu ada konsekuensi yang siap menerpa melalui konflik yang terjadi setelah pengambilan keputusan untuk berubah.
Sebagai seorang pendeta yang telah banyak berjasa menyebarkan agama Kristen mulai dari India, Afrika, sampai Timur jauh, tentu Carlo tidak ingin reputasinya tercoreng gara-gara kemurtadan anaknya. Dia juga tidak ingin harga dirinya runtuh karena dianngap tidak mampu menjaga keimanan anaknya, padahal selama ini dia selalu menjaga iman jamaatnya. Maka, segala cara akan ditempuhnya asal Iryan, anak satu-satunya bisa kembali ke pangkuan Kristus. (Kailani, 2009: 128)
Maka konflik yang dialami Iryan pun tidak dapat dielakan. Ayah Iryan, Carlo, yang merupakan seorang pendeta Kristen yang sangat taat pasti menentang rencana Iryan untuk mempelajari agama baru itu. Ini menjadi salah satu ciri khas dari konflik peradaban dimana terjadi pertentangan hebat antara yng tua dan yang muda, antara kaum konservatif melawan kaum progresif. Namun selalu, walaupun kaum konservatif mengikat kuat, tetap saja kaum progresif yang menang. Sebuah kontradiksi yang selalu mengiringi perubahan, dimulai dengan kontradiksi dalam diri, kemudian merambah pada kontradiksi dengan keluarga, lingkungan, bahkan lebih luas lagi dengan peradaban lama. Maka Carlo mencoba membuktikan kata-katanya dengan mengirim Sofia dengan tujuan untuk menjemput Iryan termasuk membawanya kembali pada ajaran Kristus yang selama ini menentukan jalan pikiran dan hidupnya. Sebagai perbandingan bagi tokoh Carlo dari dunia Barat, maka Najib Kailani membentuk tokoh Syekh Id dari dunia Timur. Carlo mewakili agamawan Barat dalam hal ini Kristen, sementara Syekh Id mewakili sosok agamawan Timur yang dalam hal ini pula adalah Islam. Melalui tokoh-tokohnya, Najib Kailani terus memperbandingkan dunia Barat dan Dunia Timur. Dalam cerita ini juga terdapat dua sosok kawan Iryan yang juga merepresentasikan Barat dan Timur, yaitu Benito dan Ali. Benito adalah rekan Iryan di band-nya, dia pula lah yang kemudian membantu Sofia dalam menjalankan misi mengembalikan Iryan ke Roma dan agama Kristen. Sedangkan Ali mewakili sosok kawan dari dunia Timur yang selalu mendukung Iryan untuk menemukan jalan kebenaran yang dicarinya. Benito dengan keras mencoba menarik Iryan kembali ke pola pikir peradaban Barat, sedangkan Ali justru mendukung dan memberi kebebasan penuh pada Iryan untuk memilih namun apapun yang dipilih Iryan nantinya, Ali akan selalu mendukungnya. Benito digambarkan sebagai sosok Barat yang pamrih karena kemudian dia menginginkan Sofia sebagai imbalannya, sedangkan Ali digambarkan sebagai sosok Timur yang tulus dan toleran terhadap segala pilihan Iryan.
“Dia seorang tenaga pengajar di sebuah departemen. Berkebangsaan Suriah. Sangat memelihara ajaran Tuhan dan norma agamanya. Dia sudah setuju. Tugasmu kini hanya mengangguk atau menggeleng” (Kailani, 2009: 175)
Maisun lahir dan besar di Suriah. Memiliki paras yang cantik dan halus perasaannya. Dia berasal dari lingkungan terpelajar dan terhormat. Ayahnya seorang tokoh pemikir Islam terkemuka. Karena krisis politik di Suriah memaksa sang ayah hengkang, meninggalkan negerinya. Dan sekarang, keluarga itu terpencar di anerika, Australia, Saudi Arabia, sementara Maisun terdampar di Dubai. (Kailani, 2009: 187)
Satu lagi sosok terakhir perempuan Timur diungkapkan dalam cerita ini, dalam perjalanan Iryan yang telah menemukan kebenaran yang dicarinya. Perempuan Timur yang maju dan tidak lagi terkesan sebagai kaum primitif seperti dalam pandangan Barat. Perempuan Timur yang benar-benar taat beragama, tidak setengah-setengah dalam memahami agama maupun menjalankan kewajiban agamanya namun tetap bisa berkiprah dan memberikan kontribusi positif di masyarakat luas. Sampai disini, jika tadi perbandingan antara Sofia dan Syams adalah perbandingan berdasarkan konsepsi pemikiran barat dan timur, maka sekarang ada perbandingan antara dua perempuan yang sama-sama Timur, yaitu Syams yang berkebangsaan Mesir dan Maisun yang berkebangsaan Suriah. Dengan mengetahui pilihan Iryan yang telah mengubah namanya menjadi Abdullah Carlo jatuh pada Maisun, tentunya yang menjadi landasan perbandingan itu adalah agama dan gaya hidup mereka. Syams memang seorang yang beragama Islam namun dia memilih jalan hidup yang moderat, dia terkesan menganggap keislamannya hanya sebatas pada keimanan kepada Tuhan dan mengakui kerasulan Muhammad, sedangkan gaya hidupnya hampir menyamai kehidupan Barat yang bebas meskipun dia juga tetap memegang kuat prinsip untuk menjaga kehormatannya. Adapun Maisun digambarkan mewakili sosok perempuan Timur yang sebenarnya, kebebasan yang juga menjadi hak bagi perempuan digunakannya dalam jalan hidup yang sejalan dengan koridor agamanya, dia banyak menjalankan aktifitas di luar namun dalam pergaulan yang terjaga.hal ini tidak berarti Maisun seorang yang konservatif karena toh dia juga berpikiran maju, tidak terkungkung budaya yang mengikatnya hanya untuk beraktifitas di dalam rumah.
Maka melalui karakter-karakter dalam cerita ini, Najib Kailani mengungkapkan berbagai konsep pemikiran seputar dunia Barat dan Timur. Melalui karyanya, pengarang mencoba mentransformasikan peradaban sehingga terjadi toleransi dan saling menghargai antara satu peradaban dengan peradaban lainnya serta tidak ada satu peradaban saja yang mendominasi dalam kehidupan dan pembentukan pola pikir seseorang.  
 Penutup
 Cerita yang ditawarkan Najib Kailani dalam novel Melodi Kaki Langit ini tidak serta merta hanya mengungkap perjalanan hidup seorang musisi bernama Iryan, dengan segala konflik yang timbul atas pilihannya dan menanggung semua konsekuensi positif maupun negatifnya. Namun lebih jauh mengungkapkan penuturan mengenai benturan budaya dan peradaban Barat dan Timur yang selalu menjadi wacana tanpa batas untuk dieksplorasi perkembangannya. Seolah sudah menjadi takdirnya bahwa sifat konservatif itu adalah menghambat, sedangkan sifat progresif itu adalah mengubah. Sebagai representasi dari sifat progresif itu, Iryan mewakili sosok itu. Pilihannya untuk memandang dunia dengan cara pandang baru merupakan titik awal dari perubahan hidupnya. Cara berpikir Iryan pada awalnya ditentukan oleh cara berpikir dunia Barat, sudut pandangnya berdasarkan pada logika Barat, lalu kemudian Iryan berpaling ke Timur, di cakrawala baru inilah Iryan menemukan cara pandang dan cara berpikir serta logika yang benar-benar asing namun memberinya ruang yang tidak disangka-sangka mulai mendamaikan gemuruh kehidupannya.
Referensi
  1. Kailani, Najib. 2009. Melodi Kaki Langit. Yogyakarta: Navila
  2. Roberts, Edgar V. 1977. Writing Themes about Literature. New Jersey: Prentice-Hall, Inc., Englewood Cliffs
  3. Ratna, Nyoman Kutha. 2008. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
  4. Eagleton, Terry. 2006. Teori Sastra; Sebuah Pengantar Komprehensif. Bandung: Jalasutra
  5. Teeuw, A. 2003. Sastera dan Ilmu Sastera. Bandung: Pustaka Jaya
Posted in Modern, Taufik Abdullah

Taufik Abdullah, "Barangkali benar, sejarah itu tidak adil"


Proklamasi membedakan dengan tajam
antara pahlawan dengan penghianat.
Mengapa sejarah mengagung-agungkan seorang tokoh
dan seakan-akan membunuh tokoh lain?
Barangkali benar, sejarah itu tidak adil.
Mengapa sejarah mencatat suatu peristiwa
atau mengagung-agungkan seorang tokoh,
tetapi melupakan peristiwa lain
dan seakan-akan membunuh tokoh lain?
(Taufik Abdullah, Refleksi Tempo, Agustus 1987)

 

Posted in Modern, Sami Yusuf

Sami’ Yusuf: Sepenggal Biografi


Performing at Royal Concert Hall Glasgow, April 2006



Wikipedia menulis bahwa “Sami Yusuf is a British singer-songwriter, composer, producer and multi-instrumentalist musician of Azerbaijan origin.” Ini berarti  bahwa Sami Yusuf diakui sebagai “a British Singer-Songwriter”. Terlahir dengan nama Siamak Radnamish, Sami Yusuf lahir dari sebuah keluarga etnis Ezeri (Tabrizi), di Teheren-Iran, pada tanggal 19 Juli 1980. Ia dilabeli sebagai salah seorang musisi, penulis lagu, penyanyi, komposer, dan produser Inggris-Iran. Sekalipun lahir di Teheran, namun sejak umur tiga tahun ia sudah tinggal di London, Inggris. Ayahnya adalah salah seorang penyair besar Iran, yang telah menulis banyak syair tentang Iran, termasuk lirik untuk tim sepakbola Iran. Saudaranya pun ada yang menjadi seniman, yang seringkali dilibatkan pada waktu Sami menyusun lirik-liriknya.

Sami Yusuf belajar memainkan beberapa alat musik di usia yang sangat muda (tiga tahun) dan menunjukkan minat dalam menyanyi dan menulis syair. Ayah Sami’ lah yang mulai memperkenalkan (dan mengajari) Sami’ untuk belajar menulis syair dan belajar musik Iran Klasik (Tombak, salah satu alat music tradisional Persia). Ia berlajar untuk memainkan beberapa alat music, seperti santoor, piano,violin, oud, setar, tar, dan daf pada beberapa guru music tradisional. Ia mampu menunjukkan kemampuannya untuk memainkan music pada umur 9 tahun. Kala muda, ia sangat suka mendengarkan music dari Chopin dan Mozart.
Dalam sebuah wawancara, ia menyebutkan bahwa pada usia 16 tahun, Sami’ pernah berniat untuk meninggalkan dunia musik, dan ingin menekuni dunia hukum untuk perubahan dunia Islam. Ia pun kemudian belajar tentang hukum di King’s Collge London. Masa ini, Sami Yusuf hampir meninggalkan dunia musik. Akan tetapi seorang sahabatnya, Bara Kherigi, berusaha meyakinkannya bahwa melalui dunia music, siapa pun (termasuk Sami Yusuf) dapat menyampaikan pesan-pesan posotif dan dapat mengajak orang-orang untuk mencintai Allah dan Nabi.
Karenanya ia belajar musik di beberapa institusi pada beberapa composer dan musisi ternama, di antaranya Royal Academi of Music di London, salah satu institusi kursus musik bergengsi di dunia musik di wilayah Inggris (dan Eropa lainnya). Ia dinobatkan oleh Royal Academic of Music sebagai salah satu murid bertalenta berkat penguasaannya terhadap beberapa instrument music kontemporer, khususnya Iran klasik. Selain memahami tradisi musik Barat (Amerika dan Eropa), ia pun cukup kuat memahami seni (musik) Iran dan Timur Tengah. Karenanya, ia dikenal sebagai salah satu musisi yang akrab dengan kedua tradisi musik tersebut, serta mampu memadukan keduanya pada sajian kontemporer. Ia juga pernah menyelesaikan studi tentang Islam dan Bahasa Arab di Universitas al-Azhar menjelang ia meliris album al-Mu’allim.
Pada tahun 2002, ia mulai  mengerjakan proyek musiknya bertajuk al-Mu’allim, yang kemudian dirilisnya ke dunia industri music pada tahun 2003, saat ia berumur 23 tahun. Melalui album Al-Mu’allim inilah, Sami Yusuf memulai debut internasionalnya sebagai musisi (dan penyanyi) dengan meliris albumnya yang mampu menggebrak industri music dunia, yakni Al-Mu’allim  yang telah terjual lebih dari dua juta kopi di seluruh dunia. Al-Mua’allim merupakan sebuah album perkusi yang terdiri dari delapan lagu. Cover allbumnya terdiri dari sebuah kubus cerah dan ungu yang melambangkan “cahaya dari pesan Nabi yang menerangi kegelapan malam”. Sami Yusuf fasih berbahasa Inggris, Arab, Persia, dan sedikit mampu berbahasa Azari; yang tercermin dari lirik-lirik yang disusunnya yang terdiri dari banyak bahasa. Selain itu, ia pun berusaha mengolaborasikan perkusi Barat dan Timur sebagai media untuk menyampaikan pesan universalitas nilai-nilai (keislaman) tentang kedamaian, persaudaraan, dan kasih sayang.  
Debut musiknya inilah yang mulai membuka mata dunia akan eksistensi Sami Yusuf dan kolega, dan tanpa diduga albumnya terjual dua juta kopi di di seluruh dunia. Lagu-lagunya menjadi hit  di Timur Tengah, Afrika Utara, dan Asia Tenggara, terutama di Mesir dan Turki, selama dua belas minggu berturut-turut. Ini adalah sebuah pencapaian yang luar biasa sebagai debut internasional pertama bagi seorang musisi. Kunci suksesnya adalah kemampuan Sami Yusuf untuk membaurkan lirik dan musiknya yang multietnik, multilingual, dan mulitiinstrumental. Ia pun bersama koleganya kemudian mendirikan sebuah yayasan alNahdhah (kebangkitan) yang menghasilkan produk untuk music timur dan seluruh dunia dan mengarusutamakan “Pop Islam”.
Pada tahun 2005, ia pun merilis album My Ummah dan terjual lebih dari tiga juta kopi. Pada tahun 2010, ia pun meluncurkan album ketiganya bertajuk Wherever You Are (Di Mana pun Anda berada). Pada tahun 2010 inilah, Sami Yusuf menyebutkan genre music yang disusunnya, yakni Spiritique, yang mengusung tema-tema “spirit” untuk penyebaran cinta, kasih sayang, dan semangat kaum muda. Beberapa konsernya telah menarik banyak penonton di Timur Tengah, Eropa, dan Amerika, termasuk kehadiran 250.000 penonton yang menghadiri konsernya di Istanbul, Turki.
Popularitasnya semakin “terbentuk” setelah dipublikasikan oleh Time Magazine sebagai “The Great of Islamic Rock Star” [Bintang Rock Islam Terbesar]. Ia pun tampil di lusinan sampul majalah dan media massa mainstreamlainnya di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Melalui musik dan liriknya, Sami Yusuf menyampaikan pesan-pesan cinta, kasih sayang, perdamaian, toleransi, dan memotivasi kaum muda agar bangga akan identitas mereka.
 
 
*******
      Inilah salah satu lirik yang ditulis oleh Sami’ Yusuf dalam album al-Mu’allim
 
Al-Mu’allim
By Sami Yusuf
We once had a Teacher
The Teacher of teachers,
He changed the world for the better
And made us better creatures,
Oh Allah we’ve shamed ourselves
We’ve strayed from Al-Mu’allim,
Surely we’ve wronged ourselves
What will we say in front him?
Oh Mu’allim…

He was Muhammad salla Allahu ‘alayhi wa sallam,
Muhammad, mercy upon Mankind,
He was Muhammad salla Allahu ‘alayhi wa sallam,
Muhammad, mercy upon Mankind,
Teacher of all Mankind.

Abal Qasim
Ya Habibi ya Muhammad
(My beloved O Muhammad)
Ya Shafi’i ya Muhammad
(My intercessor O Muhammad)
Khayru khalqillahi Muhammad
(The best of Allah’s creation is Muhammad)
Ya Mustafa ya Imamal Mursalina
(O Chosen One, O Imam of the Messengers)
Ya Mustafa ya Shafi’al ‘Alamina
(O Chosen One, O intercessor of the worlds)
He prayed while others slept
While others ate he’d fast,
While they would laugh he wept
Until he breathed his last,
His only wish was for us to be
Among the ones who prosper,
Ya Mu’allim peace be upon you,
Truly you are our Teacher,
Oh Mu’allim..

Ya Habibi ya Muhammad
(My beloved O Muhammad)
Ya Shafi’i ya Muhammad
(My intercessor O Muhammad)
Ya Rasuli ya Muhammad
(O My Messenger O Muhammad)
Ya Bashiri ya Muhammad
(O bearer of good news O Muhammad)
Ya Nadhiri ya Muhammad
(O warner O Muhammad)
‘Ishqu Qalbi ya Muhammad
(The love of my heart O Muhammad)
Nuru ‘Ayni ya Muhammad
(Light of my eye O Muhammad)

He taught us to be just and kind
And to feed the poor and hungry,
Help the wayfarer and the orphan child
And to not be cruel and miserly,
His speech was soft and gentle,
Like a mother stroking her child,
His mercy and compassion,
Were most radiant when he smiled

 
Sumber:
 

 

Posted in Khaled Khosseini, Modern

A Thousand Splendid Suns, Khaled Khosseini: Resensi


        Selain The Kite Runner, salah satu karya Khaled Khosseini yang tak kalah menariknya adalah A Thousand Splendid Suns. Buku ini dipublish pada tahun 2007 dan mendapat pujian dari banyak kalangan, termasuk Kirkus, Publishers Weekly, Library Journal, and Booklist, serta menduduki karya popoler di Amazon.com

                      
                                Sumber: en.wikipedia.org                         Sumber: swotti.com


————– 
 Resensi Oleh Iswanto
 
Kata kata yang selalu diucapkan ibu kepada Mariam : “ Hati pria sangat berbeda dengan rahim ibu, Maria. Rahim tak akan berdarah ataupun melar karena harus menampungmu”. “Hanya akulah yang kaumiliki di dunia ini, dan kalau aku mati, kau tak akan punya siapa-siapa lagi. Tak akan ada siapa pun yang peduli padamu. Karena kau tidak berarti! Selalu dan selalu kalimat itu terucap dari ibunya setiap Mariam bersikeras ingin berjumpa dengan Jalil. Seorang ayah yang tak pernah sah mengakuinya sebagai anak.


Kenekatan Mariam menemui ayahnya (Jalil) pada akhirnya harus dibayar mahal. Dia mendapati sosok tubuh yang tidak bernapas, sosok mayat ibunya yang gantung diri secara diam-diam karena kenekatan anaknya. Kehidupan Mariam sontak berubah. Dengan hidup sendiri dia sekarang menapaki kehidupan yang semakin pahit. Diakui sebagai anak haram, menjalani kepasrahan dengan perkawinan yang dipaksakan, perihnya hati karena perlakuan suami. Kepahitan yang dijalani ternyata juga ada asa sebagai mentari yang muncul yang bias dijadikan surga dalam menghadapi kehidupannya.

= = = = = = = = = = = =



Itulah sepenggal sinopis dari novel ber judul A Thousand Splendid Suns, karya Khaled Khosseini. Sebuah novel bergenre fiksi-drama yang ditulis tahun 2008, setebal 508 yang diterbitkan Qanita (Mizan Grup).


Novel berkisah awalnya dari dua orang manusia yang bernama Mariam dan Nana. Mereka hidup pada satu “kesalahan” paradigma budaya di tanah Afghan, sehingga mereka harus hidup dalam lingkup keterbatasan konsekwensi budaya dengan label “harami”. Anak haram yang melekat pada Mariam hasil buah tindakan ibunya, Nana, dengan seorang laki-laki yang bernama Jalil. Seorang laki-laki sebagai ayah biologis Mariam, tetapi laki-laki itu tidak pernah secara syah mengakui Mariam sebagai anaknya.


Kerinduan sang anak kepada ayahnya, telah menimbulkan tindakan nekad untuk menemui sang bapak, tetapi keinginan kuat itu tidak diijini ibunya dan ditentang keras olehnya.


Mariam suatu ketika nekad menemuinya, tetapi kenekatan itu pada akhirnya harus dibayar mahal dengan hilangnya nyawa seseorang yang selama ini menjadi teman hidupnya. Nana , ibunya kedapatan telah gantung diri dan Marian begitu menyesalinya dengan kepergian ibunya itu.


Waktu berikutnya, Mariam harus menjalani kehidupannya sendiri ditengah-tengan kerasnya kehidupan di tanah Afghan. Di tanah ini tak seorangpun yang peduli pada dirinya karena dia anak “harami”. Mariam terus menapaki kehidupan dengan mengais cinta dalam kegersangan siang dengan latar belakang kehidupan Afghanistan yang “keras”, aroma mesiu dan hentakan dentuman yang khas, Mariam juga masih menaruh asa dalam cengkraman angina malam yang begitu dingin menyengat.


Satu novel dari sang penulis yang cukup enak dibaca setelah buku pertamanya The Kite Runner.