Posted in Karya Sastra tentang Muslim, Klasik, Maurel Maufrey, Rumi

"Kimya Putri Rumi"Karya Maurel Maufroy


            Alasan utama saya mengangkat tema ini adalah ketertarikan saya terhadap pengarang yang menampilkan perempuan sebagai tokoh sufi yang sejarah kehidupannya dan dikaitkan dengan tokoh sufi terkenal sepanjang masa, Jalaludin Rumi atau yang secara singkat dipanggil Rumi adalah hal esensial yang ingin ditunjukkan pengarang. Selama ini, seperti yang kita ketahui, sangat jarang ada sebuah karya sastra yang mengangkat karakter perempuan dalam tema-tema bersifat sufistik. Jika berbicara mengenai hal ini maka tidak bisa dilepaskan dari teori-teori mengenai karya yang melibatkan perempuan sebagai pengarang maupun sebagai karakter dalam suatu karya. Salah satu tokoh yang menyinggung mengenai hal ini adalah Mary Wollstonecraft. Ia mendekonstruksi deskripsi karakter perempuan dalam banyak karya ‘picisan’ yang dibuat oleh pengarang laki-laki. Mary menentang seluruh gambaran negatif yang mendiskreditkan peran perempuan yang selalu ada di bawah dominasi kaum pria. Namun, sebelum beranjak ke teori dan berbagai penjelasannya, pada awal tulisan akan terlebih dahulu menyinggung sedikit mengenai unsur ekstrinsik yang menjadi subtansi dasar dalam novel ini.

 Unsur Ekstrinsik Novel
Novel karangan Maurel Maufroy ini sangat erat kaitannya dengan sejarah, sosiobudaya dan politik yang ada pada settingyang menjadi latar belakang historis cerita ini. Meskipun tema mengenai perempuan menjadi landasan fundamen dalam novel ini, namun penggunaan tokoh Rumi sendiri memiliki alsan tertentu. Rumi adalah legenda yang menjadi kiblat bagi para pecinta Tuhan dengan konsep transendennya. Pengalaman-pengalaman ekstasenya yang kemudian di aplikasikan pada karya-karyanya banyak menginspirasi orang-orang, baik yang beragama Islam maupun selain Islam. Dari beberapa sumber yang saya baca, kepopuleran Rumi sebagai tokoh yang piawai mengajarkan ilmu keagamaan dari menjadi guru besar di tempat tinggalnya di Konya, salah satu pusat keilmuan di Turki pada saat itu hingga transformasinya menjadi ahli sufi tak bisa dilepaskan dari unsur sosiobudaya dan politik pada saat itu. Pada sekitar tarikh 1243 M, Bani Saljuk dikalahkan oleh tentara Mongol hingga menimbulkan keresahan masa yang berdampak negatif pada sisi spiritual dan psikologis para penduduk Timur Tengah. Paham yang masih dianut oleh khalifah yang berkuasa pada saat itu adalah Muktazilah yang sangat mengagungkan akal dalam pemecahan masalah hingga ke hal yang transenden sekalipun.
Namun, setelah mengalami kekecewaan perang, masyarakat menjadi goyah akan ideologi yang selama ini mereka usung mengenai logika berpikir. Saya berasumsi bahwa kehadiran Rumi merupakan angin segar untuk menggapai hal yang sebelumnya tak teralisasikan dalam kehidupan nyata. Ajaran-ajaran Rumi seolah mengisyaratkan bahwa masih ada sesuatu yang perlu digapai oleh seseorang dalam kehidupan spiritualnya yakni kedekatan dengan Tuhan (Meskipun pada saat Rumi telah menjadi tokoh sufi yang dianggap mumpuni banyak yang justru menganggap ia berubah dan tak lagi mau mengajarkan ilmu agama lagi pada para muridnya). Terlalu ironis mungkin jika dikatakan sebagai pelarian tapi mungkin ini bisa disebut sebagai pengembangan suatu metode pencerahan jiwa kearah yang samasekali baru.
Jika dilihat dari unsur ekstrinsiknya, sudah dipastikan novel ini sedikit banyaknya merupakan gambaran yang memuat  realitas sejarah. Ada kesinambungan tertentu yang terjalin antara struktur sosial dengan struktur karya. Namun, tidak semua realitas yang terjadi dalam kehidupan nyata bisa diungkap dengan gamblang dalam suatu karya kerena ada suatu proses seleksi tertentu yang nantinya akan menggabungkan fakta sosial dan imajinasi. Penggunaan imajinasi bukannya hanya digunakan untuk menghibur pembaca namun juga digunakan untuk menciptakan suatu kapasitas pemahaman mengenai ideologi dan pesan yang ingin disampaikan pengarang.
Karya sastra, karya seni pada umumnya, menganggap imajinasi, kreativitas, dan unsur-unsur estetis yang menyertainya, justru sebagai kualitas rekaan yang menyediakan sejumlah energi untuk memperbaharui pola-pola yang sudah usang, sekaligus membentuk pola-pola yang baru (Ratna, 2011:96).
            Jika disinggung apakah Kimya benar-benar ada di kehidupan nyata, bukan hanya sebagai tokoh rekaan belaka, saya tak mendapat informasi jelas mengenai ini. Sekalipun tokoh Kimya adalah semata-mata fiksi pun, hal itu tidak masalah samasekali, karena apa yang akan dibahas adalah realitas yang terjadi di novel yang terkandung dalam unsur intrinsiknya dan berkaitan langsung dengan teori Mary Wollstonecraft.
Unsur Intrinsik Novel Kimya Putri Rumi
Hal pertama yang menarik perhatian saya ketika membacanya adalah penggunaan diksinya. Novel ini seperti tidak begitu mementingkan alur atau jalan cerita dalam pengungkapan realitas yang terjadi. Narator menyediakan kapasitas lebih besar untuk mengungkap pengalaman-pengalaman spiritual setiap tokoh dengan keagungan bahasa beserta kedalaman maknanya. Pengungkapannya mengenai bagaimana para tokoh seperti Rumi, Tabriz dan Kimya menjalani kehidupan sehari-harinya yang sederhana tapi dengan pemaknaan yang berlimpah seakan mengingatkan pembaca untuk menggali kedalaman spiritualnya. Bahwa mungkin kehidupan akan lebih terarah jika kita tak sekedar memaknai kehidupan ini hanya sebagai aktivitas budaya yang berbanding lurus dengan berjalannya waktu. Saya rasa itulah yang menjadi ciri khas sekaligus pesan yang ingin disampaikan pengarang. Salah satu hal menarik yang saya dapat adalah dialog antara Akbar, salah seorang murid sekaligus pengagum Rumi dengan Sadruddin, sahabat Rumi. Akbar begitu kecewa dengan sikap Rumi yang berubah seratus delapan puluh derajat setelah kedatangan Syams. Ia merasa kehilangan pijakan karena selama ini seseorang yang selalu ia agungkan telah berubah sikapnya. Ia merasa dikhianati dan kehilangan pijakan.
‘Jagalah kemurnian cintamu pada Maulana dan kau akan lihat segalanya akan baik-baik saja. Waktu yang akan membuktikannya. Dan ingatlah selalu, bersabarlah.” Dia melafalkan kata terahir dengan perlahan, seolah sedang mengajarkan kosakata baru pada anak kecil. Kembali ia tertawa dan bangkit. ‘Sabar adalah sebuah kata, ya aku tau itu tak memikat anak muda.’
Mungkin perasaan Akbar ini mewakili keheranan dan perasaan pembaca. Bisa dikatakan bahwa narator seolah mengajak pembaca untuk mengembara dan mengalami keraguan akan salah satu tokoh tapi di saat yang sama narator menghadirkan pemuasan akan keraguan itu sendiri dengan menghadirkan karakter tokoh bandingan.
            Dari unsur narasinya, novel ini bercerita mengenai perjalanan seorang perempuan dalam menempuh perjalanan menjadi sufi wanita.  Kimya  berasal dari keluarga petani yang menetap di pedalaman Anatolia di Turki. Sejak kecil, ia telah banyak mengalami kejadian yang mengguncang sisi spiritual dalam dirinya. Ia dianggap berbeda oleh teman sepermainan bahkan oleh orang tuanya sendiri. Seringkali, ia terlihat seperti meninggalkan dunia tempat ia berada dan termenung, seakan jiwanya terbang mengelana ketempat yang tak terjangkau indra. Pada saat itu, ia tak bisa menjelaskan mengapa ia merasakan hal itu, ia sendiripun tak mengerti hal apa yang menimpanya. Kepindahannya ke Konya mengubah total seluruh kehidupannya. Sebagai putri angkat Rumi, Kimya banyak belajar banyak hal terutama, sisi spiritual dan kerinduannya akan Tuhan makin terasah. Konflik lalu timbul saat ia menikah dengan Tabriz, seorang sufi berasal dari Syams yang juga merupakan guru Rumi. Banyak orang yang tak suka akan keberadaan Tabriz, karena setelah kedatangannya ke Konya, Rumi tak lagi ingin mengajar ilmu agama tapi banyak berkhalwat dengannya. Rumi seolah menelantarkan murid-muridnya yang haus akan ilmu pengetahuan agama. Disinilah ketahanan Kimya sebagai seorang perempuan diuji. Kimya menunjukkan bagaimana ia bertahan menghadapi tuduhan orang-orang yang mengarah pada Tabriz sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas berubahnya Rumi. Para perempuan pun bergosip bahwa Tabriz telah mengekang Kimya sedemikian rupa hingga ia tak boleh bergaul dengan teman-temannya.
            Jika dilihat dari segi karakter utama, Kimya, menurut saya, sikap Kimya dalam menghadapi berbagai permasalahan yang menimpanya adalah identitas karakter yang membumi sekaligus memberikan teladan.  Saat usianya belum dewasapun Kimya telah mampu menunjukan kedewasaannya dengan tak berpikiran negatif mengenai apa yang terjadi dalam keluarganya setelah kedatangan Tabriz seperti apa yang orang-orang pikirkan. Ia begitu tersinggung dengan gunjingan orang-orang.
Keesokan harinya, di pasar Kimya mendengar orang-orang menyebut Syams sebagai Iblis dan ‘Betapa mengerikannya harus hidup bersamanya dalam satu atap!’ Dia terus berjalan, tak memedulikan omongan tersebut, tapi hatinya terasa sesak, ingin sekali ia menangis keras-keras. ‘Semua sama sekali tidak benar. Syams bukan iblis. Ia adalah angin yang sangat dahsyat  yang mengobarkan api yang membakar apapun yang disentuhnya. Dia adalah sang pembawa berita rahasia. Dia…’ (hl. 189)
            Dalam kutipan tersebut jelas bahwa adalah pribadi yang kuat dengan segala karakter feminin yang ia miliki. Ia tidak tergoyahkan dengan asumsi orang-orang yang mendiskreditkan kehadiran Tabriz ke tengah keluarganya. Ia tak menggunakan pertimbangan emosi belaka ketika menghadapi masalah. Di satu sisi, ia juga begitu membumi dengan segala kegelisahan yang ia alami ketika melihat sikap Tabriz kepadanya. Hal ini terbukti ketika ia bertanya-tanya mengapa suaminya seakan tak memperhatikan dirinya.
Kimya sedang berbaring di ranjang. Dia sepenuhnya terjaga. Syams telah pergi seharian. Sekarang malam semakin larut saja tapi Syams belum juga pulang. Apakah menikah itu hidup bersama layaknya kakak adik atau lebih seperti ayah dan anak? Apakah menikah itu jarang sekali bertatap muka dengan pasangannya? Kalau Syams berada di dekatnya, rasanya begitu tenang dan puas hati. Kehadirannya entah bagaimana, mengatur ulang kenyataan dan mempertajamnya.
            Dalam cerita selanjutnya, perjalanan spiritual Kimya menjadi semakin terasah dan berliku setelah ia mengalami berbagai peristiwa aneh. Kimya bisa tiba-tiba berada pada satu ruangan bersama Tabriz dan Maulana (Rumi) padahal sebelumnya ia sedang memasak  atau berbaring. Ketika ia ingat melihat tangannya, yang tampak hanyalah lantai tempat ia duduk. Ia terkejut saat melihat ka cermin, ia samasekali tak melihat pantulan bayangannya. Maulana menyebutnya sebagai karunia Tuhan. Namun, justru Kimya malah merasakan kesepian karenya. Ia merasa itu adalah hal yang menjadi penyebab utama kesendiriannya (hal. 286-287).
Karakter Kimya dan Konsep Mary Wollstonecraft
            Kaitannya dengan apa teori Mary adalah konsepnya mengenai penolakan terhadap novel yang disebut ‘picisan’ karena mendramatisir kearakter kelemahan perempuan. Di sini, saya bukannya akan megasumsikan bahwa novel ini adalah contoh apa yang disebut dengan karakter novel picisan atau mengaplikasikan teori Mary mengenai konsep karakter perempuan seharusnya dengan menganalisa karakter Kimya berdasarkan cerita. Karena, walaupun bagaimana tak akan terjadi korelasi sebab keduanya sangat kontradiktif, Mary menceritakan mengenai perempuan dalam kehidupan nyata sedangkan objek kajian kita adalah tokoh fiksi dalam sebuah cerita novel. Jadi, apa yang akan dibahas? Perlu saya jelaskan terlebih dahulu bahwa pemikiran-pemikiran Mary dilatarbelakangi oleh banyak karya yang memarginalkan karakter perempuan dalam banyak karya sehingga sedikit banyaknya hal itu berpengaruh terhadap perkembangan paradigma sosio masyarakat mengenai konsep patriarki. Secara singkatnya, Mary menentang karakter perempuan yang lebih terbelakang dalam segi pendidikan dan logika berpikir dibanding laki-laki. Perempuan hanya mementingkan perasan dibanding dengan intelejensi berpikir sehingga mereka lebih menyukai karya-karya yang picisan dan termehek-mehek. Mary dengan jelas menentang itu semua terlebih, pada kenyataannya novel picisan tersebut  dikarang oleh banyak kaum pria yang samasekali tak tau apa-apa mengenai perempuan, alasannya adalah kesangsian akan totalitas pria dalam mengemukakan perasaan perempuan sebab mereka bukanlah perempuan. Memang jika disinggung, hal itu adalah fiksi belaka, tapi hal yang menjadi masalah adalah mengenai penggambaran negatif itu sendiri. Seharusnya jika karya sastra itu fair maka tak akan ada makna superior dan inferior dalam karya yang menggambarkan karakter perempuan tadi. Bahkan Mary menyebutkan bahwa cara terbaik untuk menghadapi karya sastra yang termehek-mehek dan merendahkan karakter perempuan adalah dengan menganggapnya sebagai lelucon yang tak pantas dikonsumsi.
The best methode, I believe, that can be adopted to correct fondness for novels is to redicule them: not indiscriminately, for them it would have the little effect; but, if a judicious person, with some turn of humour, would read several to a young girl. And point out both tones and apt comparisons with patheic incidents and heroic characters in history, how foolishly and ridiculously they caricatured human nature, just opinions might be subtituted instead of romantic sentiments (Adam, 1996:339).
            Jadi, apa yang ingin saya kemukakan adalah novel Kimya Putri Rumi ini adalah contoh ideal dari realisasi penggambaran karakter perempuan seharusnya dalam karya sastra. Memang, dalam esaynya Mary tak menyebutkan karya sastra apa yang mendeskripsikan perempuan dari segi positif atau minimal segi netralnya karena memang yang menjadi fokus utamanya adalah perempuan dalam kehidupan nyata. Namun, sedikit banyaknya, karakter Kimya memperbaiki citra perempuan sebagai tokoh yang tak termarginalkan sekaligus menolak mentah karakter feminis yang melibihi kapasitasnya. Sebagai contoh, Kimya bersikap bijak dalam menghadapi konflik batin yang disebabkan oleh berbagai peristiwa aneh dalam jiwanya dan sikap suaminya. Kimya mengaitkan pemecahan masalahnya dengan hal transenden. Saya rasa inilah yang menjadi nilai plus dalam karakternya. Kekayaaan jiwanya yang telah terasah sejak ia kecil adalah suatu keagungan yang membantunya sendiri keluar dari masalahnya. 
Dia terkenang akan mawar-mawar Tabriz yang pernah dikatakan Syams dulu jauh sebelum pernikahan mereka mawar-mawar kuning dengan tetesa darah yang tertabut di pintu masuk pondok di hari pernikahan mereka. ‘Mawar-mawar ini begitu dekat dengan Tuhan,’ begitu katanya. Hanya hati yang berdarah-darah yang dapat menemukannya.’ Kalimat itu dulu terdengar menakutkan tapi sekarang dia paham apa maksudnya. Dia pernah merasa diabaikan Tuhan dan Syams. Di tengah kegersangan yang total itu, dia jadi memahami bahwa alih-alih melabuhkan hatinya untuk Tuhan, dia begitu bergantung pada Syams sehingga kondisi hatinya berubah-uba, dan kehilangan pijakan. Sekarang ia mengerti! Tanpa pijakan itu yang tersisa hanyalah kepedihan. Itulah perbedaannya! Cinta, cinta sejati, adalah sama seperti seseorang yang melihat melalui jendela Tuhan. Selain itu hanyalah keterikatan, dan keterikatan itu seperti kita terjatuh dari jendela itu. Dia diliputi kelegaan. Seseorang bisa saja mencintai tanpa menginginkan balasan apapun dari orang yang ia cintai! (hal.316)
Saya tak menyinggung ini sebagai masalah yang pantas untuk digiring ke ranah faminisme. Karena, terdapat perbedaan yang mendasar di sini mengenai sejarah konsep feminisme itu sendiri. Selalu ada konfrontasi antara perbandingan perkembangan feminisme Barat dan Timur. Seperti yang kita tau bahwa sejarah feminisme Barat begitu kelam hingga menimbulkan pemberontakan yang berlangsung hingga sekarang dan berakibat pada ekses negatif yang membawa pada aliran ekstrimis sedangkan di Timur sendiri, seperti banyak di negara-negara Timur Tengah, feminisme menjadi hal krusial karena ketidakpastiannya akan eksistensinya antara wilayah sosial dan agama. Dalam karya ini bagaimanapun, tujuan analisa saya bukanlah untuk berargumen di satu sisi membenarkan apa yang Mary ungkapkan mengenai konsep feminismenya. Tapi, seperti yang telah dijelaskan di atas, mencoba menyoroti karakter tokoh seorang perempuan dalam karya yang bertema sufistik.
Kesimpulannya adalah kehadiran tokoh Kimya dalam karya sastra yang bertema sufistik ini telah memposisikan karakter prempuan dengan identitas femininnya untuk berada dalam ranah sebagai tokoh yang termarginalkan tapi justru membuatnya menempati wilayah istimewa karena kedekatannya dengan Tuhan.
Daftar Pustaka
Faruk. 1999. Pengantar Sosiologi Sastra; dari Strulturalisme Genetik sampai Post-Modernisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Hazard, Adams. 1996. Critical Theory Since Plato. Harcourt Brace Jovanovich Collage Publishers.
Maufroy, Maurel. 2004. Kimya Putri Rumi. Bandung: mizan.
Ratna, Nyoman Kutha. 2011. Paradigma Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Advertisements
Posted in Karya Sastra, Karya sastra Islam(i) klasik, Klasik, Rumi, Sastra Sufi

AKULAH ANGIN ENGKAULAH API: HIDUP DAN KARYA JALALUDDIN RUMI


Di dalam buku ini Annemarie Schimmel menggambarkan sosok Jalaluddin Rumi yang selalu menjadi pusat perhatian dunia. Pada bagian awal, Schimmel menjelaskan tentang perjalanannya menuju tempat pemakaman Rumi yakni Konya. Disana makam maulana disebut dengan Yesil Turbe (kubah hijau). kemudian Schimmel menceritakan tentang pertemuan pertama maulana dengan seorang darwis yag bernama Syamsuddin Tabriz. Bagi Rumi syams merupakan matahari yag luar biasa yang mengubah aseluruh hidupnya,  membakarnya, membuatnya menyala, dan membawanya kedalaman cinta yang sempurna. Jalaludin dan syams tidak terpisahkan lagi dan menurut riwayat selama berbulan-bulan dapat berthana hidup tanpa kebutuhan-kebutuhan dasar manusia ketika mereka bersama-sama menuju cinta tuhan. Suatu hari syams dikabarkan menghilang. Jalaluddin merasa patah hati karena berpisah denga mataharinya. Saat itu jalaludin bingung dan kahirnya ia menuliskan syair-syair.

 
Dalam buku itu Schimmel menggunakan nama tokoh Rumi kadang-kadang sebagai Jalaluddin, Maulana, dan Rumi. Entah mengapa ia merubah nama di setiap bab misalnya bab pertama ia mnyebutnya dengan Jalaludin dan di bab berikutnya ia menyebutnya dengan maulana. Mungkin karena ia ingin agar pembaca tahu tentang nama panggilan Rumi. Dalam narasisnya diceritakan tentang sebuah perjalanan menuju Rumi atau dengan nama jelasnya Maulana Jalaluddin Rumi. Dimana seseorang  menceritakan tentang karya-karya rumi yaitu Matsnawi, yang berisikan kearifan kehidupan yang unik tetapi mulia, yang merupakan buah dari pengajaran dan kegiatan puitis juga buah dari terbakarnya cinta Ilahiah dan buah dari kehidupan. Dan Salah satunya lagi seperti Fihi Ma fihi (didalamnya lah apa yang ada didalam) yang bercerita tentang pengepungan sebuah kota yang didiami oleh ibunda Maulana atau Rumi dan bagaimana kekuatan doa seorang wanita dapat melindungi dari perbuatan keji musuhnya.   Pada umur 18 tahun Jalaluddin menikahi seorang gadis dari rombongan yang telah mengadakan perjalanan bersama mereka dari khurasan. Kemudian mempunyai putra yang bernama Sultan Walad, yang merupakan nama kakeknya yaitu Bahauddin Walad. Bahauddin Walad adalah seorang Sufi, sesungguhnya dia telah mengalami tahapan mistik tertinggi, sesuatu yang sensual, suatu cinta yang sempurna kepada Tuhan, sampai dia berada dalam pelukan-Nya.  Selama 1230 dan awal 1240, Maulana menjalani kehidupan sebagai seorang alim, mengajar dan  bermeditasi. Dia telah menggunakan pengaruhnya untuk membantu orang-orang miskin.
Rumi  tidak pernah menyebutkan nama Syams dalam syairnya tetapi secara tidak langsung ketika ia menggambarkan matahari, bulan dan bintang ia masih mengingat sahabatnya itu. Keemudian datang berita baik bahwa Syams ada di Damaskus dan Jalaludian memerintahkan anakanya, sultan walad untuk menjemput sahabatnya itu. Akan tetapi putra maualana, Alaudin, 5 Desember 1248 memanggil Syams dan membunuhnya. Kemudian alaudin mengatakan bahwa syams hilang begitu saja mungki pergi ke Suriah, katanya. Bagi Mulana Syams adalah  manusia yang bersifat ilahiah. Atas dasar inilah maulana sangat menyayangi Syams dan merasa kehilangan karena ia merupakan sahabat yang memberikan rahmat baginya. Dengaa Syam ia bisa mencari cinta tuhan dengan pemikiran baru karena syams memiliki ketajaman pikiran wlalupun ia adalah seorang yang “sombong” akan kemampuannya itu.
 Ekspresi puitis yang ia buat bukan semata-mata merupakan suatu yang tidak disengaja. Ia tidak berkeinginan untuk menjadi seorang penyair. Maka dari itu ia selalu memperingatkan diriya bahawa ia bisa berbicara jika ia tersentuh oleh seruling atau napas orag yang dicintainya. Seperti kecintaannya pada Syams yang merupakan sahabat karib yang tiada duanya. Ini merupakan gamabaran dari pikiran Rumi yang terkenal dengan syair yang dalam dan sarat akan makana yang ambigu. Seingga orang yang menafsirkannya harus benar-benar mengetahui sejarah perjalanan hidup Rumi. Beberapa kalimat menarik salah satunya adalah “matilah sebelum engkau mati!”, yang berarti bahwa matinya sifat-sifat rendah  diri kita sendri sebelum kematian tubuh maka kita akan terbebas  dari mpenjara materi.
Rumi selalu tampil dengan pengkauan terhadap kekuasaan, kemurah-hatian dan kearifan tuhan. Tidak seperti Athar yang sering mengandung usur kritik social, juga protes terhadap tuhan, yang menciptakan dunia ini penuh dengan kejahatan. Padahal tentu saja tuhan lebih mengetahui rahsia dibalik semuanya. Maulana menggambarkan manusia seperti itik yang hidup didarat dan di air atau manusia itu setengah lebah, setengah ular yag tidak dapat menghsilkan madu dan juga racun. Kemudian  ia juga mrengatakan bahwa org mengatahui semua tanda lahiriah segala sesuatu, tetapi tidak mengetahui hakiakat kehidupan.selalu saja kita berpikir tetang selukbeluk diri kita tanpa memikirkan bahwa ada jiwa yang tidak akn pernah mati dan jiwa inilah yang akan kembali pada tuhan. Artinya bahwa kita harus meyadri bahwa kita tidak akan selamunya berkutat dengan keadaan seperti ini selamanyha ada kalanya kita akan kembali pad sang pencipta.
Maulana mengakui bahwa tidak perlu mengasingkan wanita yang baik, sebab wanita seperti itu tahu apa yang harus dilakukannya dan tahu bagaimana berprilaku. Sedangkan wanita yag buruk akan selalu mencari tipu muslihat untuk melepaskan diri dan berlaku tak pantas, sebanding dengan upaya untuk mengasingkan dirinya.ini  berarti bahwa pria dan wanita harus berjaan dijalan yang sama dan keduanya harus berusaha memenuhi kewajiban-kewajiban yang sudah ditetapkan al-quran bagi orang-orang mukmin. Rumi cukup pragmatis untuk mengetahui bahwa setiap makhluk dapat bertindak hanya dalam rangka kemampuannya keadaan manusia itu kemungkinan dan kemampuan mereka juga berbeda-beda. Itulah sebabnya, mereka akan dinilai menurut bagaimana mereka memanfaatkan kemampuan mereka.mukhannats atau hemaprodit berulang-ulang muncukl dalam kisah-kisahmaulana sebagai model orang munafik yang bukan termasuk orang dunia maupun akhirat.
Aspek yang sering Rumi sebutkan adalah tentang tanggung jawab. Meskipun Allah telah merencanakan dan mengatur segalanya, manusia juga memilki tanggung jawab untuk melakukan apa yang dapat dilakukannya untuk menghindari kemlangan dn sekaligus bertanggung jawab untuk tidak menyesatkan orang lain.
Selain itu Schimmel juga menggambarkan tentang gambaran rumi tentang shalat. Shalat merupakan doa, dan tidak semua doa diterima. Setiap orang bertanya–tanya mengapa doanya belum juga dikabulkan. Rumi menggambarkan doa-doa yang  dipanjatkan bagaikan nyanyian brurung-burug di pagi hari. Sampai kapan tuhan ingin mendengrnya terserah padanya. Juga orang yang berdoa diibaratkan seorang pengemis jika orang yang datang adalah orang yang bruruk rupa maka kita langsung memberinya uang agar cepat pergi. Tapi orang yang berdoa dimata tuhan diibaratkan pengemis yang rupawan, tentuya akan diberikan beberapa ujian agar doanya dikabulkan. Doa itu sendiri merupakan pengakuan manusia bahwa tuhan maha kuasa atas segalanya da pengkauan bahwa manusia adalah makhluk yang lemah yang tidak bisa  berbuat apa-apa tandpa kehendaknya.
Sedangkan konsep Rumi tentang cinta adalah bahwa begitu cinta menguasai manusia. Maka tidak ada jalan untuk melepaskan diri dari dirinya. Oleh karena itu menyembunyikan cinta merupakan sesuatu yang tidak mungkin dilakukan. Cinta sering terlihat seperti perangkap atau jaring untuk menangkap burung jiwa. Seperti yang rum kataka dalam syairnya yakni orang yang jauh dari jaring cinta adalah burung yang tak bersayap. Karena hanya burung cantik yang masuk dalam perangkap cinta, bukan makhluk-makhluk seperti burung hantu yang tidak mau melihat matahari dan hanya puas dengan tinggal diantara puing-puing.
Kebanyakan diantara kita yang sering dibicarakan adalah pandangan Rumi tentang cinta. Padahal ada aspek lain yang lebih penting, seperti kesufian dan akhlak yang dibicarakan oleh Rumi. Sama’ ( tarian mistik ) membuka gerbang surga. Oleh karena itu, sama menjadi salah satu aspek terpenting bahkan bisa dikatakan sebagai poros dari syair-syair rumi. Sama adalah tangga menuju langit, tangga yang dapat digunakan jiwa yang merindu untuk mencapai atap dimana sang tercinta yang rupawan yang berseri-seri akan menanti. Begitulah Rumi dengan karyanya.
Jujur saja banyak yang kurang paham dengan tarian ini bagaimana sebenarnya bentuk tarian ini.  Seperti yang Rumi gamabarkan ketika berputar ia serasa bersatu denganlangit dan bumi. Mungkin hanya orang tertentu dan yang paham akan Rumi yang lebih tahu tentang makana danbentuk dari tarian ini. Yang saya pahami adalah dengan tarian ini Rumi bisa merasakan berada dekat dengantuhan. Entah makasudnya apa ? apakah tarian ini sangat penting untuk dimainklan atau hanya sebuah tarian yang memiliki ddaya tarik sendiri. Dan seperti yang telah saya ketahui bahwa terkadang tarian menggambarkan apa yang  sebenarnya kita inginkan. Kita akan merasa bahw aketika kita menari semua masalah akan berkurang darp pikiran kita.tapi terkadang sebuah tarian hanya akan emmbuat kita merasa berslah kepada diri. Karena hal itu sangat membuang-buang waktu. Sedangkan tarian yang Rumi  ciptakan merupakan sebuah tarian yang bisa menyatukan jiwa bagi sipenari dan apa yang ia inginkan.
Schimmel menggambarkan Rumi seakan-akan ia pernah hidup dengan Rumi dan merasakan bagaimana perasaan Rumi pada saat itu. Penggunaan gaya bahasa puitis yang digunakan oleh Schimmel juga menggambarkan bahwa sosok Rumi adalah sosok yang tidak mudah dimengerti akan pemahamannya tentang makna yang ada disetiap karyanya. Jujur aja saya baru merasa lebih kenal dengan Rumi setelah membaca biogarafi yang di tulis oleh Schimmel. Saya sangat terkesan dengan apa yang dipaparkan Schimmel. Dan ternyata kekaguman kita kepada seseorang dapat kita tuangkan melalui sebuah tulisan salah satunya adalah biografi orang yang kita kagumi. Demikian Schimmel saking kagumnya ia terhadap sosok Rumi ia menuangkannya dengan menulis biografi tentang Rumi.
Schimmel berbicara tentang kata, istilahnya kata ibarat sebuah pohon. Kata yang baik laksana pohon yang baik. Dengan demikian ia mengutip al- Quran bahwa kata adalah kekuatan kreatif oleh sebagian besar agama di dunia; katalah yang mengantarkan wahyu; kata diamanahkan kepada umat manusia sebagai titipan yang harus di jaga,jangan sampai ada yang teraniaya, terfitnah, atau terbunuh oleh kata-kata. Dapat disimpulakn bahwa bagi Schimmel kata memiliki kekuatan yang tidak dapat kita ukur. Dan pada kekuatan kata inilah terletak tanggung jawab para penyait, lebih-lebih lagi para penerjemah, karena slah satu kesalahan samar saja dapat memicu kesalahanpahaman yang berbahaya.
Seperti dalam sebuah artikel yang pernah saya baca bahwa demikian besar keyakinan Schimmel pada kata-kata, seyakin dia pada moto penyair Jerman Friedrich Ruckert, bahwa puisi mempu menuntun manusia menuju rekonsiliasi dunia. Puisi menurut Rucket, adalah lidah utama umat manusia; puisi menghubungkan manusia kareanaia menjadi bagian dari setiap peradaban dunia. Ia juga menggambarkan kekuatan kata dalam membangun hubungan antar manusia salah satunya dengan karyanya tentang biografi Jalaludin Rumi.
Pesona kata juga yang telah membawa Schimmel melanglang berbagai kawasan masyarakat muslim. Masyarakat yang menurutnya disebut masyarakat yang lebih tertarik pada kata dan bahasa, berbeda dengan rekannya di Barat yang lebih terpikat pada musik. Selain itu ia pernah mencatat pengalaman seorang mahasisiwanya, satu di antara warga Negara Amerika yang di sandera Teheran saat terjadi revolusi Iran. Sang mahasisiwa menyadari peruahan sikap penyanderanya ketika ia melafalkan seuah syair Persia. Kata-kata dalam syair itu telah menjadi sebuah jembatan, mengahapuskan ideologis yang begitu dalam. Persis seperti yang dikatakan Herder, bahwa dari puisi kita mendapatkan pemahaman tentang sebuah zaman atau suatu bangsa secara mendalam, lebih ketimbang yang kita dapatkan dari sejarah politik dan militer.
Hanya semangat dan kecintaannya terhadap kata-kata yang baik yang dapat kita lestarikan. Karena kata-kata yang baik pada era saat ini tak lebih dari kata-kat yangmemisahkan suatu hubungan ketimbang meyatukan suatu hubungan. Sering memutuskan ketimbang menghubungkan. Banyak yang terjadi hanya karena salah perkataan. Setiap orang mempunyai hak untuk berkata atau mengeluarkan pendapat tapi yang terjadi sekarang mereka malah saling perang mulut yang tiada hentinya dilakuakan. Dan itu tak ada gunanya bagi kita yang ada hanya membuat kita jauh dari orang yangmemiliki pendapat yang berbeda. Pepatah lama bilang sekalilancung seumur hidup tidak akan di percayalagi. Mungkin itu jug yang menyebabkan Schimmel membuat karya bernada puisi. Agar si pembaca paham dan meresapi apa yang ingin ia sampaikan. Dan seperti yang telah di jelaskan diatas bahwa dengan kata yang baik maka siapa yang membaca atau mendengarnya pasti akan mempunyai pemahaman yang lebih baik..

Posted in Klasik, Rumi, Sastrawan Muslim Pertengahan

Hakikat Manusia Dalam Matsnawi Jalal al-Din al-Rumi


“Karena itu, sementara dalam bentuk engkau adalah mikrokosmos,
pada hakikatnya engkau adalah makrokosmos.
Tampaknya ranting itu tempat tumbuhnya buah
padahal ranting itu tumbuh justru demi buah.
Kalau bukan karena mengharap dan menginginkan tubuh,
betapa pekebun itu akan menanam pohon.
Jadi sekalipun tampaknya pohon itulah yang melahirkan buah
(Tapi) pada hakikatnya (justru) pohon itulah yang lahir dari buah.”
(The Mastnawi 4:30)
Maulana Jalaluddin Rumi al-Balkhi adalah seorang arif besar. Beliau lebih dikenal dengan Maulawi Rumi, dan merupakan sastrawan Persia abad ke tujuh Hijriah. Salah satu karya masterpiece-nya adalah Matsnawi, yang isinya membahas tentang banyak hal. Dalam buku Menapak Jalan Spiritual, Murtadha Muthahhari mengatakan, “Matsnawi merupakan samudra filsafat dan irfan, yang sarat dan penuh dengan berbagai hal yang pelik yang bersifat spiritual, sosial dan irfan.”

Pembahasan tentang hakikat manusia adalah salah satu bahasan khusus yang dibahas oleh Rumi dalam Matsnawinya. Memahami hakikat manusia sangatlah sulit bagi sebagian dari kita. Padahal itu merupakan hakikat dirinya. Imam Khomeini pernah mengatakan “Menjadi ulama itu gampang tapi menjadi manusia itu amatlah sulit.” Dengan mengetahui esensi manusia akan mengantarkan seseorang kepada pengetahuan akan Tuhan.
Allah mengungkapkan tanda keagungan dan kekuaasaan-Nya melalui alam dan dalam diri manusia. Sehingga kalau kita mengetahuinya dengan baik maka hidup kita pun akan baik. Allah berfirman : “Akan Kami perlihatkan kepada mereka ayat-ayat (Tanda-tanda Kekuasaan) kami di ufuk (tepi langit) dan pada diri mereka sendiri. Sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Quran ini sebenarnya (dari Allah). Tidakkah cukup bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas tiap-tiap sesuatu.” (QS. Al-Ankabut : 53)
Manusia adalah makhluk yang unik. Hingga kini fisiknya saja masih diteliti dan masih banyak rahasia yang belum terpecahkan. Telebih lagi dari sisi jiwanya. Yang merupakan inti dari segala hal. Dalam hadis banyak disebutkan tentang keutamaan ma’rifatun nafs ini (pengetahuan tentang hakikat diri). Misalnya, Imam Ali berkata, “Barang siapa yang mengetahui hakikat dirinya, maka dia telah mencapai puncak setiap makrifah dan ilmu.”, “Janganlah kalian bodoh dengan tidak mengetahui hakikat diri kalian, karena kalau kalian bodoh dengan itu berarti kalian bodoh dengan segala hal.”, “Cukuplah pengetahuan seseorang itu kalau mengetahui hakikat dirinya dan cukuplah kebodohannya kalau tidak tahu akan hakikat dirinya.”
Maulawi Rumi adalah termasuk orang yang mengetahui hakikat dirinya, sehingga dia mencapai puncak makrifat dan keyakinan. Sebagaimana yang diutarakan dalam bait-bait syairnya. Dalam bait pertama dia mengatakan : “Karena itu, sementara dalam bentuk engkau adalah mikrokosmos, pada hakikatnya engkau adalah makrokosmos.”
Dari segi fisiknya, manusia adalah bagian dari makrokosmos, karena kita hidup di alam. Kita membutuhkan makan, kita membutuhkan air, kita perlu sayuran, kita pun perlu untuk makan daging. Apakah kebutuhan kita akan semua itu secara fitri dan tidak bisa dilepaskan sampai kapan pun ? Atau makanan hanyalah sebagai penunjang saja agar kita bisa bertahan hidup ? Dan alam diciptakan sebagai penunjang dalam hidup manusia ?
Rumi mengatakan bahwa dalam hakikatnya manusia, (bukan fisiknya) adalah makrokosmos. Kita adalah alam lain yang lebih besar dari alam ini. Sebagaimana perkataannya Imam Ali, “Apakah kalian mengira kalian, hanya tubuh kecil ini,padahal kalian adalah alam yang sangat besar.”Aneh memang manusia itu lebih banyak meneliti hal-hal diluar dirinya sedangkan hakikat dirinya sendiri tidak pernah diteliti, tidak pernah mencoba meneropong kedalam jiwanya. Selanjutnya Maulawi Rumi menjelaskan lebih jauh dengan sebuah perumpamaan :
“Tampaknya ranting itu tempat tumbuhnya buah,
padahal ranting itu tumbuh justru demi buah.”
Beliau umpamakan bahwa manusia itu ibarat buah, dan buah merupakan hasil akhir dan harapan petani penanam buah. Sedangkan alam ibarat ranting, ranting tercipta demi buah, ranting hanyalah sebagai wasilah untuk tumbuhnya buah. Jadi yang paling penting itu adalah buahnya bukan ranting atau pun pohon. Sebagaimana sering disebutkan dalam Al-Quran bahwa alam diciptakan merupakan tanda dari kasih sayang Allah akan manusia. Agar manusia bisa memanfaatkannya untuk lebih mendekatkan dirinya kepada Allah. Jadi inti dari itu semua adalah alam diciptakan untuk manusia, yang harus dijadikan sebagai perantara untuk mencapai ridha Allah.
Tapi sayang berapa banyak dari manusia ini yang menjadikan alam, materi, kekayaan sebagai tujuan bukannya sebagai perantara penghantar kepada Tuhan. Dan akibat dari itu adalah penyimpangan dan keserakahan untuk mendapatkan kekayaan dengan menggunakan segala cara. Kita terkadang melebihi binatang untuk mendapatkan hal yang kita inginkan. Kita banyak melakukan penyelewengan dalam menggunakan alam. Yang semestinya kita gunakan untuk kemajuan kemanusiaan kita malah menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan demi menguasai alam. Sebagaimana Allah berfirman, “Apabila kami berikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan darinya (tidak berterima kasih) tapi apabila ia tertimpa kejahatan, ia (berdoa) dengan doa yang panjang.”
Tubuh kita hanyalah perantara, karena kita hidup di alam fisik, alam yang senantiasa bebenturan dengan materi, Rumi melanjutkan : “Kalau bukan mengharap dan menginginkan tubuh betapa  pekebun itu akan menanam pohon.”
Pohon hanya sebagai perantara sang petani untuk mendapatkan buah, karena buah tidak mungkin ada tanpa adanya pohon. Begitu juga hakikat manusia itu tidak akan bercahaya tanpa melalui perantara tubuh kasar ini, tubuh harus mengikuti ruh, dan harus seiring dengan ruh,jangan sampai tubuh dan tuntutannya (hawa nafsu) yang mengendalikan.
Kalau kita pandang sekilas nampaknya kita bagian dari alam, kita tidak bisa lepas dari alam, tapi kalau kita teliti dan mencoba menganalisis lebih jauh rahasia-rahasia alam maka akan nampak dan akan kita ketahui bahwa alam diciptakan untuk kita, alam berasal dari kita, alam sebagai pemandu dan pengingat kita akan keagungan dan kebesaran sang pencipta, sepertinya pohon tumbuh untuk melahirkan buah padahal pohon asalnya dari buah. “Jadi sekalipun pohon itu tampaknya yang melahirkan buah (tetapi) pada hakikatnya justru pohon itulah yang lahir dari buah.”
Maulawi belum menerangkan secara rinci akan hakikat manusia, dia baru menerangkan bahwa kita adalah alam yang lain (makrokosmos lain) dan bukannya bagian dari alam, karena alam yang ini diciptakan demi cintanya Allah pada manusia sebagai bukti, pengantar dan pengingat akan kebesaran-Nya.
Hakikat manusia dalam kaca mata Rumi adalah debu, debu yang mengepul ketika kuda lewat, debu yang mengecap sepatu kuda ketika kaki kuda menginjaknya. Debu yang diinjak kaki sang kuda akan mengecap kaki kuda karena tidak mungkin jika debu diinjak kaki kuda menimbulkan tanda dan cap yang lain, bukan kaki kuda. Manusia seharusnya menjadi khalifah di alam dan bukannya perusak alam. Manusia seharusnya merupakan Tajalli (Manisfestasi) dari keagungan sifat-sifatNya. Manusia seharusnya menjadi khalifah dan duta kebesaran-Nya. Adakah manusia yang seperti itu ?
Jelas ada karena hakikat manusia yang sebenarnya adalah mereka, mereka yang sudah mencapai maqam kedekatan kepada-Nya, merekalah orang-orang yang senantiasa menjaga bumi, menjaga kelestarian alam dan penghuninya, merekalah yang senantiasa mengingatkan kita kepada Pencipta alam yaitu Allah, merekalah para Nabi, para Imam dan para aulia Allah.
Kita harus menjadi debu di kaki-Nya. Karena seharusnya setiap individu adalah menjadi debu di kaki-Nya. Agar kita menjadi hamba-Nya yang berserah diri seperti para wali Allah, supaya kita menjadi mahkota diatas kepala raja, keagungan di atas keagungan.
“…Setiap individu adalah debu,
Hanya telapak kaki kuda itu menjadi cap kaki-Nya di atas debu,
jadilah debu di kaki-Nya demi cap kaki kuda itu
agar engkau dapat menjadi Laksana mahkota di atas kepala raja.”
Namun bagaimanakah caranya untuk mengetahui hakikat diri ini, setelah kita mengetahui bahwa kita adalah makrokosmos dan alam sebagai wasilah kemudian hakikat kita adalah debu di kaki-Nya ? Dan bagaimanakah agar supaya hakikat diri ini senantiasa ada dan terpatri kuat dalam jiwa? Sehingga kita bisa menjadi mahkota di atas kepala raja ?
Karena mungkin saja banyak yang mengetahui hakikat diri tapi sayang hanya sekedar isapan jempol belaka, karena makrifat ini memiliki standar dan ciri tersendiri yang akan selalu tampak dalam sikap dan perbuatan kita sehari-hari, kita hanya terbiasa melihat bulan yang ada di air. Kita terpaku dan terpana dengan melihat indahnya rembulan yang ada di air padahal hakikat bulan ada di langit.
Maulawi Rumi dalam perkataannya yang lain, menerangkan tentang cara untuk mencapai makrifah diri ini, dia mengatakan bahwa untuk mencapai makrifah ini adalah dengan cara Tazkiyatun nafs, membersihkan diri dari debu keegoisan, mensucikan diri dari lumpur kemaksiatan dan mengosongkan diri dari selain-Nya. Senantiasa menghiasi diri dengan mengingat-Nya.menerangi jiwa dengan selalu berbuat baik, dan menanamkan asma-NYA dalam jiwa agar tidak gelap. Sehingga dengan jelas akan terlihat jalan dan tidak pernah tersandung, jalannya akan senantiasa lurus dan tidak pernah bengkok karena selalu dalam sinaran-Nya.
Hanya dengan mengosongkan diri dari selain-Nya dan menghiasi jiwa dengan keagungan-Nya kita bisa tahu siapa diri ktia, apa hakikat diri kita yang sebenarnya. Kita harus senantiasa berkontemplasi agar tahu hakikat diri kita dengan pasti. Rumi bertutur :
“Oh sucikanlah seluruh jiwamu dari debu keegoisan
bebaskanlah dirimu dari sifat mementingkan diri sendiri
sehingga kau lihat sendiri hakikat dirimu bersih tanpa noda,
lihatlah dalam lubuk hatimu pengetahuan para nabi
tanpa buku, tanpa perantara, tanpa guru.”
Itulah sosok Maulawi Rumi, Wali Allah yang telah mengetahui dirinya, telah mengosongkan dirinya dari selain-Nya, telah sampai kepada kedudukan debu di kaki-Nya. Sehingga dengan lancar dan gamblang menggambarkan kepada kita cara mengetahui dan menjadi debu di kaki-Nya. Kita sebagai manusia yang tidak mengetahui kebutuhan jasadi saja harus kembali merenungi perkataan sang maulawi, agar kita seperti dia, menjadi debu di kaki-Nya.
Akhirnya Maulawi mengungkapkan kekesalannya dengan mengungkapkan sebuah cerita, yaitu dia merasa kesal karena tidak pernah bertemu dengan manusia. Dia hanya selalu bertemu dengan hantu dan hewan-hewan yang menakutkan. Dia ingin sekali bertemu dengan manusia. Dan ingin selalu mencarinya, walau pun butuh waktu yang lama. Dia mengungkapkan kekesalannya dengan syairnya :
“Kemarin sang tuan jalan-jalan keliling kota, dan lentera di tangannya. Ia berkata, “aku bosan dengan hantu dan hewan, aku rindu bertemu manusia, hatiku jenuh melihat sahabat patah semangat. Aku ingin melihat singa Tuhan rastam putra zal, mereka berkata : “kami telah mencarinya dalam waktu yang panjang ia tak ditemukan ia Menjawab, “Sesuatu yang tak ditemukan itulah yang senantiasa aku cari.”
Sumber : http://buletinmitsal.wordpress.com/about/hakikat-manusia-dalam-matsnawi-rumi/yang mengutip dari Majalah Syi’ar terbitan Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta

Posted in Hafiz al-Syirazi, Klasik

Engkau Bersama Sang Sahabat Sekarang


Aku Berharap,
Aku mampu menunjukkan kepadamu,
Ketika engkau kesepian, atau berada dalam kegelapan
Cahaya Mempesona Wujudmu Sendiri
(Hafidz al-Syirazi)
     Pada penggalan puisi di atas, Hafidz menggambarkan sebagian persiapan yang dibutuhkan untuk “Perjalanan Cinta” ruhaniyah, yakni sahabat (atau lebih utamanya adalah mursyid [sang guru]. Tanpa kehadiran sang guru, yang juga memosisikan diri sebagai sahabat, perjalanan menuju Sang Kekasih, akan sangat mungkin tidak terarah, terjal, dan tersesat. Oleh karena itu, keberadaan sang guru diperlukan sebagai pembimbing dan penunjuk jalan. Pada bagian lain, Dia mendesak kita untuk membuang perilaku-perilaku negatif yang telah menjadi kebiasaan dan sifat-isfat yang tidak perlu, yang hanya akan membebani diri kita. Untuk melakukan perjalanan ini, kita harus ringan, senang dan bebas untuk menari (menapaki perjalanan Cinta menuju sang Khalik)
Sumber:
  1. Daniel Ladinsky, Hafidz: Aku Mendengar Tuhan Tertawa, Surabaya: Risalah Gusti, 2005.
Posted in Karya Sastra, Karya sastra Islam(i) klasik, Klasik, Rumi

RUMI: KERENDAHAN HATI


KERENDAHAN HATI
ADALAH GURU PARA GURU
Kerendahan-hatian bisa melampaui segala pendakian
tahap demi tahap!
ia adalah pintu yang tak terkunci
karena semua telah diserahkan kepadanya!
adalah kotor, dia yang memeperturutkan kedirian
dan sucilah ia yang mengikuti akal.
sedangkan kerendah-hatian berarti
mendirika tenda di sisi lain dari keduanya
Hati-hati pecinta Tuhan
telah membentuk lingkaran kerendah-hatian
maka kerendah-hatian adalah guru dari para guru
di mana semua hati adalah muridnya
(9326-9328)
Sumber:
Jalalu al-Din al-Rumi, Kisah Keajaiban Cinta, penejemah Anik, Yogyakarta: Kreasi Wacana, hlm. 2
Posted in Hafiz al-Syirazi, Klasik, Sastra Persia

Konvensi Puitis Persia: Hafidz


Konvensi-Konvensi Puitis Persia

Sastra Muslim masa klasik pada masa awal menunjukkan dominasi Bahasa Arab sebagai “bahasa dunia sastra Muslim”. Hal ini disebabkan banyak faktor, yakni a) al-Qur’an turun dalam bahasa Arab, b) para penguasa politik yang menguasai dunia Arab dan non-Arab berasal dari kalangan Arab (khususnya Quraish), sehingga bahasa resmi negara pun adalah bahasa Arab, didasarkan pada determinasi dan hegemoni bangsa Arab. Hal ini berlaku sejak jaman Khulafa al-Rasyidun, masa Umayyah, dan masa Abbasiah awal; c) terkait dengan penyebaran bahasa [dan budaya] Arab, Bani Umayyah memiliki peranan penting, karena kekuasaan Bani Umayyah melakukan Arabization yang intensif, sehingga beberapa wilayah seperti Palestina, Iran, Mesir, dan Afrika Utara banyak yang terarabkan, baik dari segi bahasa maupun budaya.

Dominasi Bahasa dan Sastra Arab di dunia Islam masa klasik mulai mendapatkan penyeimbangnya dari kalangan Muslim Persia dan Muslim Turki pada masa Abbasiah Akhir. Hal ini disebabkan oleh banyaknya kalangan Muslim Persia dan Muslim Turki yang mulai memegang posisi penting dalam politik dan khazanah keilmuan di dunia Islam, termasuk dalam kreativitas Sastra Muslim. Penguatan ini cukup berpengaruh pada penambahan corak sastra Muslim, sekalipun tetap masih berbahasa Arab, namun varian Persia dan Turkinya mulai nampak.
Salah satu hal yang harus diperhatikan oleh para pengkaji sastra Muslim, khususnya Sastra Muslim-Persia, adalah beberapa tekhnik [pola] peralihan [iltifat] narasi yang, terkadang, membingungkan para pembaca pemula. Iltifat adalah pola peralihan (pergantian) subjek, objek, tema, analogi, dan lainnya yang dilakukan secara eksplisit maupun implisit. Dalam beberapa Puisi, Hafidz misalnya, seakan-akan memerankan seluruh karakter: sang Pencinta, sang murid, sang Guru, dan Pembimbing, suara Tuhan, dan bahkan kadang-kadang pembaca. Seringkali aku, engkau (laki-laki), dia (perempuan), dan Hafidz mengacu pada suatu orang yang sama. Tidak jarang ia memasukkan namanya [Hafidz] dalam satu stanza. semua ini merupakan sebuah metode yang “menandai” puisinya, sebagaimana seseorang mungkin melampirkan tanda tangan dalam suratnya kepada seorang kawan atau senoman yang mungkin saja menandatangani lukisannya.

Posted in Klasik, Rumi

Rumi: Memahami Makna


Memahami Makna

Jalal al-Din al-Rumi
Seperti bentuk dalam sebuah cermin,
kuikuti wajah itu.
Tuhan menampakkan dan menyembunyikan sifat-sifat-Nya.
Tatkala Tuhan tertawa, maka aku pun tertawa.
dan
Manakala Tuhan gelisah,
menjadi gelisahlah aku
Maka katakan tentang Dirimu, ya Tuhan.
Agar segala makna terpahami,
sebab mutiara-mutiara makna yang telah kurentangkan di atas kalung pembicaraan
adalah berasal dari Lautan-Mu
(1454-1456)
  • Sumber: Jalal al-Din al-Rumi, KIsah Keajaiiban Cinta, Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2001, penerjemah Anik, hlm. 15
Posted in Klasik, Rumi

Rumi: Sadarlah Akan Diri Sendiri


Sadarlah Akan Diri Sendiri

 Jalal al-Din al-Rumi
Duhai Sana’i!
Jika Kau tak menemukan seorang kawan,
maka jadilah kawan bagi diri sendiri!
Di Dunia ini,
setiap orang memiliki kewajiban masing-masing!
Penuhilah kewajibanmu sendiri!
Setiap kafilah memiliki barangnya sendiri,
letakkanlah dirimu di dekat barangmu sendiri!
Orang-orang menjual keindahan
sesaat dan membeli cinta sesaat
itu hanyalah dua ranjang sungai yang kering.
Tinggalkan ia dan jadilah sungai!
Keindahan-keindahan ini terlukis di atas kain
yang menyelubungi segala keindahan hati.
Angkat selubung dan masuklah
maka jadilah kekasih bagi dirimu sendiri!
jadilah kekasih bagi dirimu sendiri
yang senantiasa berhusnu dzan, duhai manusia yang baik!
lampauilah dua dunia!
dan Tinggallah di kediaman sendiri!
Pergi! jangan mabuk dengan anggur
dan kecongkakan-kecongkakan itu!
Lihatlah kilauan wajah itu!
dan sadarlah akan Dirimu sendiri!

Sumber: Jalal al-Din al-Rumi, Kisah Keajaiban Cinta,  Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2001, hlm 14; penerjemah Anik.

Posted in Klasik, Rumi

Rumi: Tuhan adalah Cahaya


Tuhan Adalah “Cahaya”

Jalal al-Din al-Rumi

Kita adalah kegelapan dalam rumah
dan Tuhan adalah Cahaya.

Rumah itu menerima cahaya dari Matahari
yang dalam perjalanannya akan bercampur 
dengan bayang-bayang
 

Maka jika engkau menginginkan cahaya,
bersegeralah keluar dari rumah
dan naiklah ke atas atap

(30842-30843)

  • Sumber: Jalal al-Din al-Rumi, Kisah Keajaiban Cinta,  Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2001, hlm 25; penerjemah Anik.

Tuhan Hadir dalam setiap Gerak

Jalal al-Din al-Rumi

Tuhan berada di mana-mana
Ia hadir dalam setiap gerak

Namun Tuhan tidak dapat ditunjuk
dengan ini dan itu
Sebab wajah-Nya terpantul
dalam keseluruhan ruang
sekalipun pada hakikatnya
Tuhan itu mengatasi ruang

  • Sumber: Jalal al-Din al-Rumi, Kisah Keajaiban Cinta,  Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2001, hlm 26; penerjemah Anik.
Posted in Hafiz al-Syirazi, Karya Sastra, Karya sastra Islam(i) klasik, Klasik

Selembar Undangan Ilahi: Hafidz


Selembar Undangan Ilahi 

—- Hafidz al-Syirazi—

 Engkau telah diundang untuk menemui sang Sahabat
Tak seorang pun mampu menolak undangan Ilahi
 
Hanya dua pilihan tersisa untuk kita sekarang:
Kita penuhi undangan Tuhan, 
Bergegas untuk menari
atau
Dibawa di atas usungan 
menuju Bangsal-Nya.
Sumber:
  1. Daniel Ladinsky, Aku Mendengar Tuhan Tertawa, Yogyakarta:Risalah Gusti, 2005, hlm. 5.
 

          Puisi dari Hafidz al-Syirazi ini mengingatkan kepada pembaca tentang kesadaran spiritual, yakni 1) keasadaran bertuhan, dan 2) persiapan untuk menemui sang Kekasih [Allah].

Engkau telah diundang untuk menemui sang Sahabat
Tak seorang pun mampu menolak undangan Ilahi
        Pada satu sisi, potongan Puisi di atas, secara eksplisit, mengingatkan pada diri manusia mengenai [keharusan] adanya kesadaran bertuhan. Dalam konteks agama Islam, hal ini berarti setiap diri manusia harus menyadari dan mengimani adanya Allah [Iman] sebagai pencipta, pemelihara, dan sumber penggerak. Selain itu, setiap jiwa muthma’innah menyadari bahwa Allah senantiasa “ada”, “bersama”, serta dan “mengawasi” setiap rasa, pikiran, jiwa, dan perilaku manusia. Pada sisi lain, puisi ini pun mengisyaratkan “kedekatan” antara Hamba-Allah. Hafidz menggunakan istilah “sahabat” [shahabah atau rafiq] untuk merujuk pada Allah. Hal ini untuk menunjukkan kesadaran “kedekatan” dengan Tuhan.
      Hafidz juga mengingatkan bahwa “ketika manusia diundang oleh Allah, maka tak seorang pun mampu menolaknya”. Undanga Hafidz ini merujuk pada beberapa hal, yakni 1)  undangan pada masa hidup manusia dalam bentuk, panggilan menuju keimanan, ibadah ritual, dan perbuatan-perbuatan baik, 2) undangan ilahi ketika kematian. Ketika undangan Ilahi ini datang, manusia hanya diberi dua pilihan, yakni:
Kita penuhi undangan Tuhan, 
Bergegas untuk menari
atau
Dibawa di atas usungan 

menuju Bangsal-Nya.

Cileunyi, 28-08-2012
Dadan Rusmana