Posted in Karya Sastra Muslim Modern di Afrika, Modern, Najib Kilani

HARI YANG DIJANJIKAN: NAJIB KAILANI


Pendahuluan     

Sebagaimana novel karya seorang Najib Kaelany yang lainya; novel yang satu ini merupakan novel sejarah yang didalamnya terdapat cirri – cirri sejarah kawasan benua Afrika tepatnya Mesir. Mesir adalah salah satu Negara yang dari zaman dahulu telah sedang menjadi pusat peradaban uat islam seluruh dunia. Semenjak runtuhnya babilonia yag pada mulanya seagai pusat peradaban Islam. Sekarang, Mesir telah menjadi Negara yang maju atas teknologi dan keilmuanya, salah satunya adalah karya sastra ini. Banyak sekali sebenarnya karya sastra yang terlahir dari para penulis creative anak bangsa Mesir; salah satuya adalah Najib Kaelany.
Beliau adalah seorang seniman yang berhasil mengangkat kisah – kisah sejarah dalam karyanya [epos sejarah]. Sejarah asli kerajaan Mesir semasa perag salib. Salah satuya adalah novel garapanya yang satu ini yang menceritakan seluk beluk perag salib dilihat dari segi sosialnya.
Najib Kaelany berusaha mengangkat peristiwa – peristiwa yang sebetulnya tidak perlu dikalaga banyak orang. Contohnya sikap manja dari seorang prajurit tangguh ketika menghadapi sorang wanita. Oleh karena itulah Najib Kaelany berusaha untuk easukan ekstrinsik karya sastra tersebut dari segi kehidupan social. Dan karyanya ini bersifat transparan karena dalam setiap alurnya berisi kisah – kisah yang mengangkat kaum wanita. Dari novel ini pula saya melihat bahwa adanya upaya dari Najib sendiri untuk menguak sifat dasar manusia yang ingin selalu dilindungi, berbuat kebaikan untuk orang lain dan memerikan rasa aman terhadap manusia yang lain.       
Sebenarnya peran karya sastra tidak jauh berbeda dengan peranan dunia pers yaitu sebagai control social. Dalam novel ini terdapat beberapa pejelasan mengenai sifat dasar manusi dan juga kondisi social yang mempengaruhi manusia tersebut menjadi lemah atau bahkan menjadi kuat. Banyak hal bias kita petik dari sepenggal kisah yang diceritakan; yaitu bagaimana seorang wanita yang kalau dilihat dari segi fisiknya leah, namu karena kondisi sosialya memaksa ia menjadi seorang wanita yang kuat dan mandiri. Bahkan sorang wanita bias menjadi sumber kekuatan bagi para prajurit pria yang akan berperang ke medan laga.            
Dalam kaitanya dengan dunia pers yang saat ini terkenal begitu pesat dalam perkembanganya, adalah dari sudut pandang perang pada saat ini. Invasi Amerika terahadap Irak telah menimbulkan banyak protes dari berbagai pihak seluruh dunia, kerena perbuatanya itu dianggap sebagai aksi yang tidak berprikemanusiaan. Dan duia pers pun menyoroti nya demikian sehingga timbulan anggapan demikian, akan tetapi sebagai pembanding dalam kasus perang irak tersebut adalah dengan di tampilkanya sosok para prajurit Amerika yang sedang termenung memikirkan nasibnya yang serba dalam ketidak pastian. Seorang prajurit yang duduk diatas tanker yang dikemudikanya sedang merenung mendengarkan kawan – kawanya yang sedang menyanyikan lagu rohani. Renungan seorang prajurit itu adalah renungan seorang pengasih terhadap sesama degan tatapan kosong terhadap semua peristiwa yang sedang berlalulalang dihadapanya. Dan nyanyian teman – temanya adalah ratapan sekelompok manusia terhadap teman – teman mereka yang gugur di medan perang.       
Jauh sebelum invasi Amerika ke Irak, ada seuntai kisah yang menceritakan keadaan peperangan dimana semua orang merasa resah akan adanya perang tersebut dan telah menimbulkan banyak korban dari rakyat yang tak berdosa; yaitu perang antara kaum salibis melawan kaum muslim dalam tragedy perang salib beberapa abad kebelakang. Oleh karena itulah setiap peristiwa yang bersifat peperagan akan selalu membawa dampak social yang buruk baik terhadap para prajurit ataupun masyarakat sekitar wilayah invasi.
Jadi sebenarya tidak ada bedaya antara invasi zaman dahulu dengan invasi zaman sekarang.
Menurut teorinya Sigmund Freud, seorang ahli psikologi, mengatakan bahwa kesadaran seseorang terlahir dari kesenangan yang dilaluinya, dan setiap kesenangan akan memberikan dampak yang sama terhadap objek yang dihadapiya. Karena kesadaran seseorang berasal dari kesenangan yang sama sebagai umat manusia, maka; setiap peristiwa kamapun dan dimanapun akan terjadi persis sama meskipun waktunya yang berbeda sagat jauh sekali.      
Pada sisi ini, Novel karya Najib kaelany ini merupakan novel sejarah yang meriwayatkan perjuangan seorang Raja yang melawan dua musuh beratnya, yaitu kaum salibis dari eropa dan penyakit yang menjalar dala tubuhnya, juga kisah perempuan yang sangat tangguh, persahabatan yang setia yang diperankan oleh tokoh rekaan. Tokoh rekaan dalam novel ini banyak mengisahkan rakyat biasa dan budak, sedangkan tokoh asli dalam kisah ini adalah orang – orang yang memegang kekuasaan di rerengan kerajaan Mamalik.           
Meskipun novel ini berbentik sejarah, akan tetapi bukan cerita sejarah, karena kalau cerita ini disusun berdasarkan kisah sejarah mulai dari alur plot dan penekanan terhadap climaksnya sesuai dengan kaidah buku ilmiah sejarah, maka; hal itu akan membuat karya ini sebagai buku sejarah dan bukan merupakan karya  sastra. Maka dari itulah pengarang sendiri menyadari akan pentingnya dalam memperhatikan karyanya hingga betul – betul sebagai karya sastra baik dari segi bentuk maupun isinya.

Analisis terhadap unsur intrinsik           

Dalam kisah ini terdapat dua jenis penokohan, sebagaiana telah dijelaskan dalam pembukaan novel ini, diataranya:
Tokoh – tokoh sejarah:
  • raja al malikus najmudin saleh ayyub
  • sajarattudur
  • fakhrudin bin syaikus syuyuk
  • Ø  turan syah
  • Ø  raja louis IX
  • Ø  pangeran Dereto – saudara raja louis
  • Ø  Marseil
  • Ø  Pendeta Robert     
Tokoh – tokoh rekaan :
  • Adnan bin Mujnir
  • Zumrudah
  • Abdul A’ la bin Salmon
  • Yaqutah

 

Karakterisasi:

Tokoh sejarah:
  • Raja AlMalikus Saleh sifatya tangguh, tidak pantang menyerah, dan bersahaja
  • Sajaratudur adalah seorag wanita cantik rupawan dan pemeri seangat terhadap suamiya raja Al Malikus Saleh,
  • Turan Syah adalah dari Al Malikus yang kikir dan cabul sehingga dibenci oleh ayahnya, juga rakyatnya.
  • Raja Louis XI adalah putra mahkota dari kerajan peracis yang cederung lalai dala enjalanka tugasya.
  • Pangeran Dereto merupakan saudara raja louis yang bertidak sebagai paglima perang. Ø  Marseil adalah seorag pemimpin pasukan salibis wajahya geram akan tetapi sifatya pengasih,
  • Pendeta Robert adalah seorang suci dari kaum salibis tapi muafik,
Tokoh rekaan:
  • adnan bin Muznir adalah seorang rakyat biasa yang berani menentang terhadap Turan Syah.
  • Zumrudah adalah wanita budak belian yang tinggal bersama keluarga Adnan
  • Abdul A’la adalah sahabat baik dari Adnan yang setiakawan
  • Yaqutah adalah wanita yang cerdas, cantik, dan kuat ia tiada lain adalah Zumrudah.

 

 

 

Advertisements
Posted in Karya Sastra Muslim Modern di Asia Selatan, Midnight Children, Modern, Salman Rusdhie

MIDNIGHT’S CHILDREN: SALMAN RUSDHIE


Biography Salman Rushdie
Salman Rushdie bernama lengkap Ahmed Salman Rushdie, ia lahir pada tanggal  19 Juni 1947 di Bombay India.  Ia lahir dari pasangan Anis Ahmed Rushdie dan Negin Butt, ayahnya adalah seorang pengusaha yang telah dididik di Universitas Cambridge, di Inggris. Ketika ia beranjak umur  14 tahun ia dikirim untuk ke Inggris di Universitas Rugby school. Dan pada tahun 1964 orang tua Rushdie pindah ke Karachi, Pakistan, bergabung dengan enggan Eksodus Muslim – selama bertahun – tahun terjadi perang antara India – Pakistan. Ia mendapatkan gelar Sarjana di universitas tersebut, yakni sarjana sejarah. Dan juga Rushdie adalah seorang novelis India. Pada tahun 1968, setelah lulus dari universitas, ia pergi ke Pakistan, di mana keluarganya telah pindah ke tahun 1964, dan menetap di Karachi.  Di Inggris, ia bergabung dengan kelompok teater sebagai aktor. Dia juga bekerja sebagai copywriter freelance untuk Ogilvy dan Mather dan Charles Barker selama hampir satu dekade. 

Adapun untuk perjalanan hidupnya ia menikah empat kali. Ia menikah dengan istri pertamanya, Clarissa Luard, pada tahun 1976. Dengannya ia memiliki seorang putra bernama Zafar.Namun, setelah sebelas tahun, pada tahun 1987, pernikahan berakhir dengan perceraian. Dia kemudian menikah Marianne Wiggins, seorang novelis Amerika , pada tahun 1988. Perkawinan tidak berlangsung lama dan mereka bercerai pada 1993. Ia menikah untuk ketiga kalinya kepada Elizabeth Barat dan kali ini pernikahan berlangsung selama tujuh tahun dari 1997 hingga 2004. Dengannya ia memiliki putra bernama Milan.  Pada tahun 2004, ia menikah dengan model terkenal Padma Lakshmi, yang menciptakan kehebohan besar di media karena perbedaan usia mereka. Bahkan pernikahan ini terbukti menjadi singkat dan pasangan segera bubar.
Dalam bersastra ia telah menciptakan banyak novel – novel yang sangat bagus.  Novel pertama Rushdie adalah “Grimus” diterbitkan pada tahun 1975 tetapi tidak diterima baik oleh kedua kritikus dan pembaca. Novel ini adalah fantasi fiksi ilmiah. Ini adalah kisah mengepakkan Eagle, penduduk asli Amerika yang berbakat dengan hidup kekal dan masuk ke dalam menemukan arti tersembunyi dari kehidupan. Novel yang kedua  sekaligus mendapatkan penghargaan booker prize adalah “ Midnights Childrenyang diterbitkan lima tahun kemudian, adalah kisah mencengkeram India setelah kemerdekaan dan menerima pujian kritis luas. Hal ini diikuti oleh ‘Shame’, sebuah cerita berdasarkan gejolak politik diPakistan. 
Dan untuk novel keempatnya yang membawa ia terkenal adalah berjudul The Satanic Verses “diterbitkan pada tahun 1988, bukan karena manfaat sastra, tetapi karena badai itu dibuat dalam dunia Islam. Dijuluki menghujat karena penghinaan yang seharusnya Islam dan Nabi Muhammad, pemimpin spiritual Iran ditempatkan Fatwa di kepalanya. Untuk sembilan tahun ke depan ia harus hidup di bawah tanah, dilindungi oleh pemerintah Inggris, dan terus menerus dibawah  ancaman kematian.  luar negeri Iran menghapus semua tuduhan terhadap Rushdie dan sejak itu ia mulai menjalani hidup normal. Setelah kejadian ini ia terus buku authoring beberapa di antara mereka yang terakhir adalah ‘si enchantress dari Florence pada tahun 2008 dan’ Luka dan Api Kehidupan pada tahun 2010. 
Latar belakang lahirnya novel Midnights Children
Menurut beberapa sumber yang telah saya baca bahwasannya karya ini terlahir dengan berbagai latar belakang yang melatar belakanginya, baik itu dari pengalaman hidupnya  dan keluargannya, juga salah satu karya yang memiliki terobosan baru yakni tentang interpretasi realitas kedalam sebuah imaginasi magis realistis, dimana seorang Rushdie membawa para pembacanya melihat tempat kelahirannya pada perjalanan  imajinatif yang sebelumnya pembaca tidak lakukan. Midnights Children adalah novel yang berhubungan dengan transisi India dari kolonialisme Inggris untuk  kemerdekaan dan partisi India.  . Hal ini dianggap sebagai contoh sastra postkolonial dan realisme magis . Kisah ini diceritakan oleh tokoh utamanya, Saleem Sinai, dan diatur dalam konteks peristiwa sejarah yang sebenarnya seperti dengan fiksi sejarah .
Midnights Children  adalah alegori  di India sebelum dan, terutama, setelah kemerdekaan dan partisi India . Protagonis dan narator cerita ini adalah Saleem Sinai , lahir pada saat yang tepat ketika India menjadi negara yang merdeka. Ia lahir dengan kekuatan telepati , serta hidung yang sangat besar dan terus menetes dengan rasa sangat sensitive penciuman.
Buku ini diawali dengan kisah keluarga Sinai, terutama dengan kejadian yang menyebabkan kemerdekaan India dan Partisi. Salim lahir tepat pada tengah malam, 15 Agustus 1947, ini bertepatan dengan kemerdekaan  India pada tanggal 14 Agustus 1947.  Dia kemudian menemukan bahwa semua anak yang lahir di India antara 12 malam  dan 1 pagi pada tanggal yang dijiwai dengan kekuatan khusus. Saleem, dengan menggunakan kekuatan telepatinya , merakit konfrensi anak tengah malam, itu artinya mencerminkan masalah yang dihadapi di Negara India awal mengenai perbedaan budaya, bahasa, agama, dan politik yang dihadapi oleh bangsa yang sangat beragam.  Salim bertindak sebagai saluran telepati, membawa ratusan anak geografis yang berbeda ke dalam kontak sementara juga berusaha menemukan arti dari hadiah mereka. Secara khusus, anak-anak lahir paling dekat dengan stroke hadiah memegang tengah malam lebih kuat dari yang lain. Shiva “dari Lutut”, musuh Salim, dan Parvati, yang disebut “Parvati-si-penyihir,” adalah dua dari anak-anak dengan hadiah terkemuka dan peran dalam cerita Salim.
Sinopsis Midnight’s Children
Saleem Sinai merupakan narrator sekaligus tokoh protagonis dari novel “Mid Night Children” ini yang membuka ceritanya dengan menjelaskan kelahirannya yang bertepatan dengan hari dn tanggal kemerdekaan India dari British. Sekarang ia berumur 31 tahun dan dia merasa bahwa waktu berjalan sangat cepat. Dia percaya bahwa waktu akan berakhir dan dia harus menceritakan semua cerita yang menjerat hatinya sebelum ia meninggal.
Cerita saleem di mulai di kashmir, 32 tahun sebelum kelahiranya, di tahun 1915, dia mengawali cerita dari kakeknya yang bernama Abdul Aziz yang juga merupakan seorang dokter, yang mulai mengobati Naseem, perempuan yang menjadi nenek Saleem. Selama tiga tahun Adam Aziz mengobati Naseem. Naseem selalu ditutupi oleh selembar selimut dengan lubang kecil untuk memperlihatkan bagian dirinya yang sakit. Adam Aziz pertama kali melihat wajah calon istrinya pada hari perang dunia 1berakhir, pada tahun 1918.
Adam aziz menikah dengan Naseem, dan pindah Ke agra, Adam dan Naseem memiliki tiga orang anak perempuan, Alia, mumtaz, dan emerald, dan dua anak laki- laki, Mustapha dan hanif. Adam menjadi pengikut dari aktifis Mian Abdullah, yang merupakan seorang anti sikap partisis dan yang akhirnya mengakibatkan kematian Abdullah itu sendiri, dan akhirnya Adam Aziz menyembunyikan asisten Abdullah, Nadir Khan, meskipun ditentang oleh istrinya. Walaupun Nadir hidup di ruang bawah di rumah dokter Adam namun ia jatuh cinta dengan Mumtaz, dan keduany secara diam- diam menikah. Namun, setelah menikah selama 2 tahun,Adam Aziz menemukan bahwa anaknya masih perawan, Nadir khan dan Mumtaz belum menyempurnakan perkawinan mereka. Akhirnya Nadir Khan di perintahkan untuk pergi ketika adik Mumtaz, Emerald, mengatakan Mayor Zulfikar dari tentara pakistan akan segera melamarnya. Karean di inggal oleh suaminya, Mumtaz setuju untuk menikah dengan Ahmed Sinai, seorang pedagang muda.
Mumtaaz akhirnya mengganti namanya menjadi Amina dan pindah ke Delhi dengan suami baru. Ketika akhirny dia hamil. Ia pergi ke peramal keberuntungan yang memberikan ramalan samar tentang anak yang di kandungnya dan mengtakan bahwa anaknya itu tidak akan lebih tua ataupun lebih muda dari negaranya. Setelah organisasi teroris membakar toko Ahmed, Amina dan suaminya pindah ke Bombay dan membeli rumah dari orang Inggris yang bernama William Methwold, yang meiliki perkebunan di puncak bukit.
Wee Willie Winky, yang merupakan seorang miskin dan menjadintukang hibur di keluarga William Methwold mengatakan bahwa istrinya, Vnita juga mengharapkan segera punya anak. Tanpa diketahui Wee Willie Winky, Vanita berselingkuh dengan William Methwold dan dia juga merupakan ayah biologis dari anak yan dikandung oleh Vanita dan bukanWee Willie Winky. Amina dan Vanita keduanya pergi ke seorang dukun, dan,tepat pada tengah malam, masing- masing wanita tersebut melahirkan seorang putra.
Saleem adalah salah satu anak yang telh dilahirkan, dia memiliki hidung besar dan mata biru yang dikira seperti kakeknya. Bebarapa tahun kemudian lahirlah adik saleem.suatu hari ketika ia bersembunyi di toilet, ia melihat ibunya yang sedang menangis di toilet tersebut. Akhirnya saleem di hukum hingga Saleem tidak dapat berbicara dan untuk pertama kalinya Saleem mendengar celotehan di kepalanya. Dia menyadari dia memiliki kekuatan telpati dan dapat membaca pikiran orang lain. Akhirnya, Saleem mulai mendengarkan  pikiran anak-anak lain yang lahir sam dengan dengannya.
Suatu hari, Saleem kehilangan sebagian jarinya di sebuah  kecelakaan dan dilarikan ke rumah sakit, dari kecelakaan inilah orang tuanya mengetahui bahwa Saleem bukanlah anak biologis mereka. Setelah ia meninggalkan rumah sakit, Saleem dikirim untuk tinggal bersama Paman dan Bibi Pia Hanif untuk sementara waktu. Tak lama setelah kembali ke rumah Saleem kepada orang tuanya, Hanif melakukan bunuh diri. Sementara keluarganyaberduka akan kematian Hanif, Ahmed-sekarang merupukan seorang alkoholik yang menjadikannya orang yang  keras pada Amina, mendorong dia untuk membawa Saleem dan adiknyake Pakistan,
Empat tahun kemudian, setelah Ahmed menderita gagal jantung, Amina dan anak-anak kembali ke Bombay. Saat itulah India sedangperang dengan China, sedangkan hidung Saleem terkena suatu penyakit dan terus-menerus mengalami operasi medis. Akibatnya, ia kehilangan kekuatan telepati, tetapi, sebagai imbalan ia dapat dapatkan rasa penciuman yang luar biasa   dan ia dapat mendeteksi emosi orang lain.
Saleem seluruh keluarga pindah ke Pakistan setelah militer India terkalahkan oleh Cina. Adik perempuannya, sekarang dikenal sebagai penyanyi Jamila, menjadi penyanyi yang paling terkenal di Pakistan. Di akhir cerita, ketika Saleem di tangkap dan dibebaskan, ia kembali ke india untuk mencari anak Parvati yang merupakan anak yang lahir di tanggal sama dengan Saleem. Akhirnya Saleem menikah dengan Padma, yang merupakan orang yang penyabar dan selalu mendengarkan Saleem pada hari ulang tahunnya yang ke- 30, yang jatuh pada peringat ke-30 kemerdekaan India, Saleem merasa bahwa dia akan mati pada hari itu, dan hacur menjadi jutaan debu.
                                            
Klasifikasi Isi Novel Midnight’s Children
Midnight’s Children terdiri dari tiga pembabakan, yang disebut di situ sebagai tiga “buku”.
BUKU SATU lah yang paling bernafaskan postkolonialisme: yaitu perihal kelahiran sebuah bangsa, disertai segala kehilangan dan keinginan menemukan kembali yang hilang itu. Tapi sebuah bangsa baru yang lahir dari penjajahan lahir dari dua rahim pula, dan karenanya medapat ciri sekaligus kehilangan rasa aman dari keduanya. Ini digambarkan dari kelahiran “kembar” dua bayi tengah malam: Saleem Sinai dan Shiva. Mereka adalah dua kelahiran yang terjadi dari rumah yang sama. Rumah Methwold. Sangat jelas, Rumah Methwold adalah metafor dari kolonialisme dalam aspek peradabaannya. Rumah Methwood adalah peradaban Inggris yang dibangun di tanah jajahan dan, menjelang pengesahan kemerdekaan India, akan diwariskan kepada bangsa yang sebelumnya dijajah. Tuan Methwold adalah representasi aristokrasi Inggris. Tapi, sebelum angkat kaki, Tuan Methwold rupanya suka main gila dengan istri seorang pemain akordion yang kerap tampil di rumah itu. Maka, di rumah itu ada dua kehamilan menjelang kemerdekaan. Kehamilan putri Adaam Azis, yang telah diboyong suaminya ke Mumbai dan menempati satu vila di Rumah Methwold. Serta, kehamilan istri pemain akordion dalam hubungan gelap. Peradaban Inggris telah menghasilkan anak haram dengan peradaban India. Si anak jadah akan lahir dari keluarga Hindu kelas bawah. Yang satu lahir dari keluarga Islam kelas menengah. Di luar representasi kelas ini (yang agaknya lebih menggambarkan latar pengarangnya), ini adalah representasi konflik Hindu dan Muslim yang membayangi India sejak dikandung dan beberapa tahun kemudian meletus dalam perpecahan India Pakistan. Lahirlah kedua anak itu, dari rumah yang sama, di rumah sakit yang sama, pada jam pertama kelahiran India.
Tapi, seorang suster beragama Katolik  yang patah hati pada seorang pemuda satu gereja yang murtad jadi komunis, menukar takdir kedua  bayi yang sama bermata biru dan berhidung besar. Ia berpikir dengan mengganti identitas bayi-bayi itu ia menyumbang pada penyelesaian konflik antara Hindu dan Muslim. Begitulah, cucu dari darah Adaam Azis yang Khasmir terlahir sebagai Shiva dari keluarga Hindu miskin. Dan anak haram Tuan Methwold dengan istri-tak-setia pemain-akordion-Hindu terlahir sebagai Saleem Sinai dari keluarga Muslim kelas menengah. Di sinilah salah satu puncak kepiawaian Rushdie. Ia seperti seorang pesulap yang membuat pembaca menikmati ilusi sekalipun pembaca telah mengetahui itu sebagai sebuah ilusi. Narator dalam novel ini adalah Saleem Sinai, dan kita percaya bahwa Adaam Azis yang berasal dari Kashmir, dokter muda yang kehilangan iman dan mencari penggantinya dalam pengertian di balik lubang seprai, itu adalah kakeknya meskipun kita tahu itu bukan kakeknya. Kita tak pernah merasa bahwa Tuan Methwood adalah ayahnya meskipun kita tahu bahwa bangsawan Inggris itu ayahnya. Lebih  gawat lagi, kita mengenali Saleem Sinai sebagai Saleem Sinai, padahal kita tahu bahwa dia adalah Shiva. Dan Shiva sesungguhnya adalah Saleem Sinai. Salman Rusdhie sungguh mewujudkan simulakrum antara yang riil dan imajiner, yang fakta dan yang fiksi, yang bagi saya menggelitik pembaca Indonesia untuk memikirkan kembali pendekatan politik identitas.
Pola-pola realisme-magis lebih banyak muncul pada BUKU DUA. Saleem Sinai dan semua anak yang terlahir pada jam pertama kelahiran India itu, termasuk juga Shiva, memiliki kelebihan supranatural. Saleem Sinai bisa mempertemukan mereka dalam “konferensi anak-anak tengah malam” yang ikut membicarakan persoalan-persoalan besar India–dengan cara pandang anak-anak yang segar dan ganjil. Di sanalah Saleem bertemu dengan Shiva, yang samar-samar menakutkan dia, tanpa ia tahu betul bahwa mereka adalah identitas yang tertukar. Ketakutan itu menarik. Ketakutan itu bagaikan sebuah rasa tidak aman (lagi-lagi sebuah lubang dan keretakan). Rasa tidak percaya diri pada keutuhan identitas. Di lini lain, Saleem Sinai tetap bertumbuh sebagai anak pada umumnya. Peristiwa-peristiwa hidup pribadinya bersimpulan dengan peristiwa-peristiwa sejarah India pasca-kemerdekaan, sebagai sebuah kelanjutan dari pertalian kehidupan kakeknya dengan peristiwa sejarah India pra-kemerdekaan. Peristiwa yang paling besar adalah perpecahan India-Pakistan, yang mengakibatkan perpisahan keluarga besar mereka pula.
Cerita bergulir menjadi semakin fantastis, dalam arti kehidupan pribadi Saleem Sinai semakin menempel pada titik-titik krusial sejarah India-Pakistan. Saleem terlibat dalam konspirasi pemisahan Bangladesh dari Pakistan. Bagian ini agaknya menunjukkan kelekatan hati Salman Rushdie pada India daripada Pakistan. Ia lebih terganggu oleh apa yang dilakukan Indira Gandhi terhadap India daripada perebutan kekuasaan berdarah di Pakistan. Pakistan seperti sudah meluncur ke nasib yang ditentukannya sendiri sehingga tak perlu dibicarakan. Musuh utamanya adalah Indira Gandhi, yang dalam novel ini menjadi paling bertanggungjawab atas runtuhnya cita-cita kemerdekaan. Nyonya perdana menteri ini disebut sebagai Si Janda jahat, yang memang sejak awal mengincar anak-anak tengah malam sebab mereka memiliki kemampuan khusus.
     Pada akhirnya, pada BUKU TIGA, Si Janda memang berhasil menangkapi peserta konferensi anak-anak tengah malam dan melakukan pengebirian terhadap mereka. Metafor dari pengebirian terhadap pemikiran dan ide-ide segar mengenai kemerdekaan itu sendiri. Saleem Sinai lepas dari rumah pengebirian itu sebagai sosok yang baru, yang telah dikalahkan dan menjadi biasa-biasa saja. Hidupnya, untuk sementara, diselamatkan oleh pekerjaan membuat acar. Dan acar ini, tentu saja, adalah metafor dari preservasi sejarah. Midnight’s Children berseberangan secara diametral dengan novel realisme-sosialis yang penuh visi untuk membangun dunia baru. Ia tidak memberi harapan, termasuk harapan palsu.  Ia tidak memberi pemahaman, sebab setiap pemahaman melakukan penyederhanaan atau epoche-nya. Penyederhaanaan yang dilakukan Midnight’s Children tidak bertujuan memberi pemahaman melainkan, sebaliknya, mengguyah ide-ide stabil kita. Seperti dikatakan di awal, ia adalah satire yang menggunakan eliminasi, seleksi, hiberbolisme, dan program distorsi yang lain untuk membangun makna yang ditawarkannya. Yaitu membongkar apa yang kita percaya sebagai sakral. Seperti mitos nasionalisme, keutuhan bangsa, kekuasaan.
Novel dan puisi tidak harus menanggung beban membangun visi utuh mengenai dunia seperti agama dan ideologi. Yang bisa dijawab sebuah novel adalah yang berada dalam cakupannya saja. Yaitu bagaimana ia membangun makna dengan unsur-unsur yang di dalam dirinya dan bukan dengan perbandingan dengan dunia  di luar novel itu. Dengan kata lain, pembacaan yang lebih strukturalis. Tuduhan seperti, misalnya, bahwa Midnight’s Children melecehkan sosialisme dan komunisme dengan penggambarannya atas kaum komunis dan sosialis sebagai tukang sulap, penjinak ular, badut dan pemain sirkus yang kacau barangkali bisa dibandingkan dengan bagaimana Rushdie sendiri bermain sebagai tukang sulap dalam novel ini dengan menciptakan ilusi. Artinya, makna tukang sulap dalam Midnight’s Children (bahkan karya lain Rushdie) barangkali bukanlah makna sebenarnya. Menurut saya, ia justru memiliki simpati pada pekerjaan-pekerjaan pencipta ilusi demikian. Pengolokannya atas banyak pihak setara dengan pengolokannya terhadap diri sendiri pula. Tidak seperti kecenderungan realisme-sosialis yang membikin representasi buruk hanya atas musuh ideologi, Midnight’s Children membuat ejekan terhadap semua pihak termasuk tokoh utama dan nilai-nilainya.
Dan akhirnya, bagi saya, novel ini menunjukkan simpatinya terhadap orang miskin, atau mereka yang tersingkirkan. Bukan dengan cara yang tertebak dan eksplisit dengan memberi kaum miskin makna dan harapan. Simpati itu justru terlihat dari apa yang paling sedikit diceritakan. Yang hilang, yaitu Saleem Sinai yang sesungguhnya. Ialah Shiva, yang ditukar dan terjerembab dalam kemiskinan nyaris tiada akhir. Dialah mimesis bagi si borjuis, yang sesungguhnya mendapatkan kemewahan bukan karena haknya. Borjuis yang, seperti kebanyakan borjuis dan kaum kaya,  merebut hak-hak itu dengan memiskinkan orang lain. Seperti Saleem Sinai palsu, si anak haram, merebutnya dari Saleem Sinai asli. Seorang yang lahir dari kelas menengah atau lebih, seperti Salman Rushdie dan saya, tidak bisa benar-benar bicara atas nama orang miskin.  Kecuali jika kelak ia jatuh miskin. Seorang yang punya pilihan tak bisa sungguh bicara atas nama orang yang tak punya pilihan. Dalam hal khusus ini, saya menghargai Midnight’s Children karena ia tidak berpretensi. Ia memilih jalan untuk menyatakan simpatinya dengan cara yang otentik pada dirinya.
 Sumber
  1. Salman Rusdhie. 1980. Midnight’s Children.   
  2. http://www.notablebiographies.com/Ro-Sc/Rushdie-Salman.html
  3. http://www.indobase.com/indians-abroad/salman-rushdie.html
  4. http://kirjasto.sci.fi/rushdie.htm

Posted in Karya Sastra, Karya Sastra Islam(i) modern, Karya Sastra Muslim Modern di Afrika, Modern, Najib Kilani

Bayang-Bayang Hitam, Najib Kailani


Dalam novel ini Najib Kailani mencoba mengungkap nilai-nilai kemanusiaan dari sebuah pergolakan ideology yang terjadi di negeri Ethiopia. Sebuah kegelisahan seorang  Iyasu  yang tidak pernah puas dengan kondisi sekitarnya yang penuh dengan kemunafikan dari para pemuka agama. Sebuah pencarian yang dalam tentang nilai-nilai universal kemanusiaan. Tentang kebebasan beragama, ketenangan, kejujuran, dan tentang agama kebenaran. Pencarian yang akhirnya ia harus terusir dari kekuasaannya karena ia terus berpegang teguh dengan apa yang diyakininya. Dan pada akhirnya pula Ethiopia harus jatuh ke tangan Negara lain, akibat dari ketamakan seorang Tafari, seorang gubernur di salah satu wilayah Ethiopia yang juga seorang kerabat kekaisaran. Karena dia tidak setuju dengan usulan-usulan kaisar muda yang memberikan kebebasan beragama bagi rakyatnya.

Perang Dunia I sudah lama berakhir. Dia telah menjadi bagian dari sejarah. Paling tidak, ia menjadi saksi atas kekalahan Turki melawan Negara-negara sekutu yang menyebabkan negeri tua itu runtuh pada tahun 1924 M. di tangan Sultan Abdul Hamid II Turki mengalami kehancuran yang disebabkan oleh Mustafa Kemal At- Taturk. Namun, jauh sebelum itu ia telah menjadi singa ompong yang hanya mampu menkaut-nakuti orang saja. Banyak pejabatnya yang korup dan sudah tidak memperhatikan rakyatnya. Yang mereka pikirkan hanyalah kesenangan diri dan keluarga masing-masing. Dan rasanya tidak ada yang patut dicontoh dari semua ketamakan itu, dan tidak pula patut untuk dikenang dari semua kepahitan itu selain pelajaran. Dan inilah yang dengan baik ingin diungkap dan diberikan oleh Najib Kailani dari novelnya. Secara tidak langsung, dengan berkaca pada peristiwa-peristiwa di atas Najib Kailani mencoba menggambarkannya dalam novel yang berjudul Bayang-Bayang Hitam.

Nama Ethiopia berasal dari bahasa Yunani yang berarti “wajah-wajah terbakar matahari”, yang diberikan bangsa Yunani kepada orang-orang yang mendiami bagian Timur dari Mesir- termasuk Ethiopia, karena mereka memiliki kulit yang lebih gelap. Sebelumnya Ethiopia dinamai Abbesinia (dari bahasa Arab, berarti campuran – merujuk beragam etnis disana). Pada tahun 1500-an kekaisaran Ethiopia terpecah menjadi beberpa kerajaan kecil, kemudian pada tahun 1889 Manelik II yang menjadi kaisar pada saat itu menyatukan Ethiopia dan menjadikan Addis Ababa sebagai ibukotanya.  Dengan beragam etnis disana, membuat novel ini mau tidak mau harus memberikan pelajaran dalam hubungan social antara etnis yang berbeda, juga dengan sistem pemerintahan kekaisaran yang dianut membuat kebudayaan di dalamnya bahwa rakyat akan sangat patuh terhadap perintah seorang kaisar. Dengan sedikit latar belakang sosial dan kebudayaan di atas, secara tidak langsung berperan penting dalam terlahirnya karya sastra ini. Karena sebagaimana diketahui novel Bayang-Bayang Hitam yang didalamnya menceritakan kehidupan sebuah kaisar, dan perintah kaisar menjadi hal yang harus dipatuhi oleh rakyatnya.

Secara umum tema dalam novel ini mengusung nilai-nilai kemanusiaan yang tertuang dalam perbedaan ideology. Iyasu yang ingin negaranya hidup damai dengan rasa toleransi antar umat beragama yang dijunjung tinggi oleh rakyatnya. Akan tetapi, Tafari yang masih kerabat dengan keluarga kekaisaran menganggap bahwa di suatu Negara tidak bisa berdiri jika di dalamnya terdapat perbedaan agama, dia ingin membuat Ethiopia negara Kristen, sehingga tidak ada agama lain di Ethiopia selain Kristen. Keinginan ini juga bukan hanya keinginan Tafari, seorang gubernur di salah satu wilayah di Ethiopia yang dipimpin kaisar muda Iyasu. Para pendeta gereja di Ethiopia pun berfikir sama seperti Tafari. Sehingga mereka bersama-sama menentang keputusan kaisar muda Iyasu

Keseluruhan latar tempat novel ini berada di Negara Ethiopia, meliputi istana kekaisaran yang berada di ibukota Negara Ethiopia Addis Ababa, dan setiap wilayah Ethiopia secara keseluruhan yang berada di lembah-lembah, pegunungan-pegunungan. Juga sebuah wilayah yang bernama Walelo salah satu wilayah di Ethiopia yang dipimpin oleh seorang gubernur bernama Michael, ayah kaisar muda Iyasu.

Perwatakan tokoh didalamnya secara tidak langsung digambarkan penulis melalui konflik yang runtun ada, dan dalam setiap pergolakan batin pada tokoh masing-masing secara tidak langsung menggambarkan watak tokoh pada novel tersebut. Tokoh-tokoh pada novel ini adalah : (1) Iyasu seorang kaisar Ethiopia sejak tahun 1913; (2) Michael adalah ayah Iyasu, dia seorang muslim yang dipaksa masuk Kristen, Ia adalah gubernur di wilayah Walelo di Ethiopia; (3) Shu Arkos adalah ibu kandung Iyasu, Ia adalah anak dari Manelik kaisar Ethiopia terdahulu; (4) Malvin adalah adik dari Iyasu; (5) Zauditu adalah adik dari Shu Arkos yang berarti bibi dari Iyasu dan Malvin, di akhir-akhir cerita Ia menjadi kaisar yang menggantikan Iyasu karena pada saat itu terjadi perang saudara antara Iyasu dan Tafari, yang mengakibatkan Iyasu harus lengser dari jabatannya; (6) Gugosa adalah suami dari Zauditu sekaligus penguasa wilayah; (7) Tafari adalah suami dari adik Iyasu Malvin dan juga ia penguasa wilayah; dan tokoh lainnya yaitu,  Istri Iyasu yang pertama dan Istri Iyasu yang kedua. Dan juga tukang masak Tafari, para intelejen, dan seorang cardinal di era kepemimpinan Iyasu yaitu Bapak Matheus.

Menurut Freytag diagram plot dimulai dengan exposition – raising action – conflict – climax – dan yang terakhir resolution. Exposition dalam novel ini yaitu ketika Michael ayah Iyasu dan Iyasu dipaksa oleh pendeta Michael untuk memrangi orang-orang Islam yang ada di Negara Ethiopia. Mereka berdua jelas-jelas tidak setuju karena mereka sangat menghargai perbedaan agama di suatu Negara karena itu adalah hak setiap rakyatnya, dan yang lebih penting dari itu Michael dan Iyasu adalah seorang Kristen yang beragama Islam. Kekristenannya adalah sebuah kedok, jauh di lubuk hati mereka Islam tertanam kuat. Pada kenyataannya Michael adalah seorang Islam yang dipaksa memeluk agama Kristen. Karena sudah tidak tahan lagi akan kemunafikan ini, ketika Iyasu menjelajahi setiap sudut negeri Ethiopia untuk menjenguk rakyat-rakyatnya yang berada di pelosok Ia mengumumkan ke-Islamannya, dan itu membuat gempar seluruh negeri terlebih keluarga kekaisaran dan para pendeta di gereja, ini menjadi raising action dalam novel ini. Mendengar keislaman sang kaisar Iyasu yang telah menyebar ke seluruh penjuru Ethiopia membuat para pendeta gereja geram, terutama Tafari adik iparnya. Mereka sangat marah dan akan membuat strategi untuk meruntuhkan Iyasu dari jabatannya. Hingga akhirnya mereka menyerang kekaisaran dan berperang dengan tentara istana kaisar dan para rakyat yang cinta pada kaisar Iyasu. Namun, malangnya istana harus kalah dan Iyasupun lengser dari jabatannya. 

Di atas adalah conflict dalam novel ini. Bukan hanya berperang melawan istana ternyata Tafari dan para pendeta menyandra keluarga istana, Ayah dan Ibu Iyasu juga isterinya. Kekuasaan Iyasu digantikan oleh bibinya Zaidatu, namun ia hanya sebuah symbol karena pada kenyataannya pemerintahan dijalankan oleh Tafari sebagai penguasa wilayah. Karena ketamakannya, Tafari tidak ada satupun orang yang dapat menghalanginya untuk menjadi kaisar istana. Ia meracuni isterinya Malvin, ayah mertuanya Michael, dan ibu Iyasu sudah tidak diketahui dimana rimbanya, Iyasu sendiri sudah bertahun-tahun mendekam di penjara. Zaidaru sang ratu dan suaminya pun mendapat nasib yang sama, mereka harus mati di tanagan Tafari, klimax ini yang coba diusung penulis dalam novelnya. Dan resolution dalam novel ini adalah kematian Iyasu yang dibunuh langsung oleh tentara suruhan Tafari, di mata kepala Tafari sendiri. Namun pada akhirnya, setelah kematian Iyasu Tafari menangis. Ia merasa sangat lemah, ketika dihadapkan kematian Iyasu orang yang sangat ia benci Tafari merasa Iyasu masih tersenyum bahagia.   

Dengan membaca setiap kata dalam novel ini, kita seakan-akan dibawa pada pergolakan batin di setiap tokoh. Novel ini banyak menggunakan pendekatan-pendekatan psikologis, dan secara tidak langsung penulis mengungkap nilai-nilai kemanusiaan yang tanpa kita sadari sering kita lupakan. Penulis dengan baik mengungkapkan sebuah tuntunan kehidupan berpolitik dalam kehidupan kita sehari-hari.

Posted in Karya Sastra tentang Muslim, Klasik, Maurel Maufrey, Rumi

"Kimya Putri Rumi"Karya Maurel Maufroy


            Alasan utama saya mengangkat tema ini adalah ketertarikan saya terhadap pengarang yang menampilkan perempuan sebagai tokoh sufi yang sejarah kehidupannya dan dikaitkan dengan tokoh sufi terkenal sepanjang masa, Jalaludin Rumi atau yang secara singkat dipanggil Rumi adalah hal esensial yang ingin ditunjukkan pengarang. Selama ini, seperti yang kita ketahui, sangat jarang ada sebuah karya sastra yang mengangkat karakter perempuan dalam tema-tema bersifat sufistik. Jika berbicara mengenai hal ini maka tidak bisa dilepaskan dari teori-teori mengenai karya yang melibatkan perempuan sebagai pengarang maupun sebagai karakter dalam suatu karya. Salah satu tokoh yang menyinggung mengenai hal ini adalah Mary Wollstonecraft. Ia mendekonstruksi deskripsi karakter perempuan dalam banyak karya ‘picisan’ yang dibuat oleh pengarang laki-laki. Mary menentang seluruh gambaran negatif yang mendiskreditkan peran perempuan yang selalu ada di bawah dominasi kaum pria. Namun, sebelum beranjak ke teori dan berbagai penjelasannya, pada awal tulisan akan terlebih dahulu menyinggung sedikit mengenai unsur ekstrinsik yang menjadi subtansi dasar dalam novel ini.

 Unsur Ekstrinsik Novel
Novel karangan Maurel Maufroy ini sangat erat kaitannya dengan sejarah, sosiobudaya dan politik yang ada pada settingyang menjadi latar belakang historis cerita ini. Meskipun tema mengenai perempuan menjadi landasan fundamen dalam novel ini, namun penggunaan tokoh Rumi sendiri memiliki alsan tertentu. Rumi adalah legenda yang menjadi kiblat bagi para pecinta Tuhan dengan konsep transendennya. Pengalaman-pengalaman ekstasenya yang kemudian di aplikasikan pada karya-karyanya banyak menginspirasi orang-orang, baik yang beragama Islam maupun selain Islam. Dari beberapa sumber yang saya baca, kepopuleran Rumi sebagai tokoh yang piawai mengajarkan ilmu keagamaan dari menjadi guru besar di tempat tinggalnya di Konya, salah satu pusat keilmuan di Turki pada saat itu hingga transformasinya menjadi ahli sufi tak bisa dilepaskan dari unsur sosiobudaya dan politik pada saat itu. Pada sekitar tarikh 1243 M, Bani Saljuk dikalahkan oleh tentara Mongol hingga menimbulkan keresahan masa yang berdampak negatif pada sisi spiritual dan psikologis para penduduk Timur Tengah. Paham yang masih dianut oleh khalifah yang berkuasa pada saat itu adalah Muktazilah yang sangat mengagungkan akal dalam pemecahan masalah hingga ke hal yang transenden sekalipun.
Namun, setelah mengalami kekecewaan perang, masyarakat menjadi goyah akan ideologi yang selama ini mereka usung mengenai logika berpikir. Saya berasumsi bahwa kehadiran Rumi merupakan angin segar untuk menggapai hal yang sebelumnya tak teralisasikan dalam kehidupan nyata. Ajaran-ajaran Rumi seolah mengisyaratkan bahwa masih ada sesuatu yang perlu digapai oleh seseorang dalam kehidupan spiritualnya yakni kedekatan dengan Tuhan (Meskipun pada saat Rumi telah menjadi tokoh sufi yang dianggap mumpuni banyak yang justru menganggap ia berubah dan tak lagi mau mengajarkan ilmu agama lagi pada para muridnya). Terlalu ironis mungkin jika dikatakan sebagai pelarian tapi mungkin ini bisa disebut sebagai pengembangan suatu metode pencerahan jiwa kearah yang samasekali baru.
Jika dilihat dari unsur ekstrinsiknya, sudah dipastikan novel ini sedikit banyaknya merupakan gambaran yang memuat  realitas sejarah. Ada kesinambungan tertentu yang terjalin antara struktur sosial dengan struktur karya. Namun, tidak semua realitas yang terjadi dalam kehidupan nyata bisa diungkap dengan gamblang dalam suatu karya kerena ada suatu proses seleksi tertentu yang nantinya akan menggabungkan fakta sosial dan imajinasi. Penggunaan imajinasi bukannya hanya digunakan untuk menghibur pembaca namun juga digunakan untuk menciptakan suatu kapasitas pemahaman mengenai ideologi dan pesan yang ingin disampaikan pengarang.
Karya sastra, karya seni pada umumnya, menganggap imajinasi, kreativitas, dan unsur-unsur estetis yang menyertainya, justru sebagai kualitas rekaan yang menyediakan sejumlah energi untuk memperbaharui pola-pola yang sudah usang, sekaligus membentuk pola-pola yang baru (Ratna, 2011:96).
            Jika disinggung apakah Kimya benar-benar ada di kehidupan nyata, bukan hanya sebagai tokoh rekaan belaka, saya tak mendapat informasi jelas mengenai ini. Sekalipun tokoh Kimya adalah semata-mata fiksi pun, hal itu tidak masalah samasekali, karena apa yang akan dibahas adalah realitas yang terjadi di novel yang terkandung dalam unsur intrinsiknya dan berkaitan langsung dengan teori Mary Wollstonecraft.
Unsur Intrinsik Novel Kimya Putri Rumi
Hal pertama yang menarik perhatian saya ketika membacanya adalah penggunaan diksinya. Novel ini seperti tidak begitu mementingkan alur atau jalan cerita dalam pengungkapan realitas yang terjadi. Narator menyediakan kapasitas lebih besar untuk mengungkap pengalaman-pengalaman spiritual setiap tokoh dengan keagungan bahasa beserta kedalaman maknanya. Pengungkapannya mengenai bagaimana para tokoh seperti Rumi, Tabriz dan Kimya menjalani kehidupan sehari-harinya yang sederhana tapi dengan pemaknaan yang berlimpah seakan mengingatkan pembaca untuk menggali kedalaman spiritualnya. Bahwa mungkin kehidupan akan lebih terarah jika kita tak sekedar memaknai kehidupan ini hanya sebagai aktivitas budaya yang berbanding lurus dengan berjalannya waktu. Saya rasa itulah yang menjadi ciri khas sekaligus pesan yang ingin disampaikan pengarang. Salah satu hal menarik yang saya dapat adalah dialog antara Akbar, salah seorang murid sekaligus pengagum Rumi dengan Sadruddin, sahabat Rumi. Akbar begitu kecewa dengan sikap Rumi yang berubah seratus delapan puluh derajat setelah kedatangan Syams. Ia merasa kehilangan pijakan karena selama ini seseorang yang selalu ia agungkan telah berubah sikapnya. Ia merasa dikhianati dan kehilangan pijakan.
‘Jagalah kemurnian cintamu pada Maulana dan kau akan lihat segalanya akan baik-baik saja. Waktu yang akan membuktikannya. Dan ingatlah selalu, bersabarlah.” Dia melafalkan kata terahir dengan perlahan, seolah sedang mengajarkan kosakata baru pada anak kecil. Kembali ia tertawa dan bangkit. ‘Sabar adalah sebuah kata, ya aku tau itu tak memikat anak muda.’
Mungkin perasaan Akbar ini mewakili keheranan dan perasaan pembaca. Bisa dikatakan bahwa narator seolah mengajak pembaca untuk mengembara dan mengalami keraguan akan salah satu tokoh tapi di saat yang sama narator menghadirkan pemuasan akan keraguan itu sendiri dengan menghadirkan karakter tokoh bandingan.
            Dari unsur narasinya, novel ini bercerita mengenai perjalanan seorang perempuan dalam menempuh perjalanan menjadi sufi wanita.  Kimya  berasal dari keluarga petani yang menetap di pedalaman Anatolia di Turki. Sejak kecil, ia telah banyak mengalami kejadian yang mengguncang sisi spiritual dalam dirinya. Ia dianggap berbeda oleh teman sepermainan bahkan oleh orang tuanya sendiri. Seringkali, ia terlihat seperti meninggalkan dunia tempat ia berada dan termenung, seakan jiwanya terbang mengelana ketempat yang tak terjangkau indra. Pada saat itu, ia tak bisa menjelaskan mengapa ia merasakan hal itu, ia sendiripun tak mengerti hal apa yang menimpanya. Kepindahannya ke Konya mengubah total seluruh kehidupannya. Sebagai putri angkat Rumi, Kimya banyak belajar banyak hal terutama, sisi spiritual dan kerinduannya akan Tuhan makin terasah. Konflik lalu timbul saat ia menikah dengan Tabriz, seorang sufi berasal dari Syams yang juga merupakan guru Rumi. Banyak orang yang tak suka akan keberadaan Tabriz, karena setelah kedatangannya ke Konya, Rumi tak lagi ingin mengajar ilmu agama tapi banyak berkhalwat dengannya. Rumi seolah menelantarkan murid-muridnya yang haus akan ilmu pengetahuan agama. Disinilah ketahanan Kimya sebagai seorang perempuan diuji. Kimya menunjukkan bagaimana ia bertahan menghadapi tuduhan orang-orang yang mengarah pada Tabriz sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas berubahnya Rumi. Para perempuan pun bergosip bahwa Tabriz telah mengekang Kimya sedemikian rupa hingga ia tak boleh bergaul dengan teman-temannya.
            Jika dilihat dari segi karakter utama, Kimya, menurut saya, sikap Kimya dalam menghadapi berbagai permasalahan yang menimpanya adalah identitas karakter yang membumi sekaligus memberikan teladan.  Saat usianya belum dewasapun Kimya telah mampu menunjukan kedewasaannya dengan tak berpikiran negatif mengenai apa yang terjadi dalam keluarganya setelah kedatangan Tabriz seperti apa yang orang-orang pikirkan. Ia begitu tersinggung dengan gunjingan orang-orang.
Keesokan harinya, di pasar Kimya mendengar orang-orang menyebut Syams sebagai Iblis dan ‘Betapa mengerikannya harus hidup bersamanya dalam satu atap!’ Dia terus berjalan, tak memedulikan omongan tersebut, tapi hatinya terasa sesak, ingin sekali ia menangis keras-keras. ‘Semua sama sekali tidak benar. Syams bukan iblis. Ia adalah angin yang sangat dahsyat  yang mengobarkan api yang membakar apapun yang disentuhnya. Dia adalah sang pembawa berita rahasia. Dia…’ (hl. 189)
            Dalam kutipan tersebut jelas bahwa adalah pribadi yang kuat dengan segala karakter feminin yang ia miliki. Ia tidak tergoyahkan dengan asumsi orang-orang yang mendiskreditkan kehadiran Tabriz ke tengah keluarganya. Ia tak menggunakan pertimbangan emosi belaka ketika menghadapi masalah. Di satu sisi, ia juga begitu membumi dengan segala kegelisahan yang ia alami ketika melihat sikap Tabriz kepadanya. Hal ini terbukti ketika ia bertanya-tanya mengapa suaminya seakan tak memperhatikan dirinya.
Kimya sedang berbaring di ranjang. Dia sepenuhnya terjaga. Syams telah pergi seharian. Sekarang malam semakin larut saja tapi Syams belum juga pulang. Apakah menikah itu hidup bersama layaknya kakak adik atau lebih seperti ayah dan anak? Apakah menikah itu jarang sekali bertatap muka dengan pasangannya? Kalau Syams berada di dekatnya, rasanya begitu tenang dan puas hati. Kehadirannya entah bagaimana, mengatur ulang kenyataan dan mempertajamnya.
            Dalam cerita selanjutnya, perjalanan spiritual Kimya menjadi semakin terasah dan berliku setelah ia mengalami berbagai peristiwa aneh. Kimya bisa tiba-tiba berada pada satu ruangan bersama Tabriz dan Maulana (Rumi) padahal sebelumnya ia sedang memasak  atau berbaring. Ketika ia ingat melihat tangannya, yang tampak hanyalah lantai tempat ia duduk. Ia terkejut saat melihat ka cermin, ia samasekali tak melihat pantulan bayangannya. Maulana menyebutnya sebagai karunia Tuhan. Namun, justru Kimya malah merasakan kesepian karenya. Ia merasa itu adalah hal yang menjadi penyebab utama kesendiriannya (hal. 286-287).
Karakter Kimya dan Konsep Mary Wollstonecraft
            Kaitannya dengan apa teori Mary adalah konsepnya mengenai penolakan terhadap novel yang disebut ‘picisan’ karena mendramatisir kearakter kelemahan perempuan. Di sini, saya bukannya akan megasumsikan bahwa novel ini adalah contoh apa yang disebut dengan karakter novel picisan atau mengaplikasikan teori Mary mengenai konsep karakter perempuan seharusnya dengan menganalisa karakter Kimya berdasarkan cerita. Karena, walaupun bagaimana tak akan terjadi korelasi sebab keduanya sangat kontradiktif, Mary menceritakan mengenai perempuan dalam kehidupan nyata sedangkan objek kajian kita adalah tokoh fiksi dalam sebuah cerita novel. Jadi, apa yang akan dibahas? Perlu saya jelaskan terlebih dahulu bahwa pemikiran-pemikiran Mary dilatarbelakangi oleh banyak karya yang memarginalkan karakter perempuan dalam banyak karya sehingga sedikit banyaknya hal itu berpengaruh terhadap perkembangan paradigma sosio masyarakat mengenai konsep patriarki. Secara singkatnya, Mary menentang karakter perempuan yang lebih terbelakang dalam segi pendidikan dan logika berpikir dibanding laki-laki. Perempuan hanya mementingkan perasan dibanding dengan intelejensi berpikir sehingga mereka lebih menyukai karya-karya yang picisan dan termehek-mehek. Mary dengan jelas menentang itu semua terlebih, pada kenyataannya novel picisan tersebut  dikarang oleh banyak kaum pria yang samasekali tak tau apa-apa mengenai perempuan, alasannya adalah kesangsian akan totalitas pria dalam mengemukakan perasaan perempuan sebab mereka bukanlah perempuan. Memang jika disinggung, hal itu adalah fiksi belaka, tapi hal yang menjadi masalah adalah mengenai penggambaran negatif itu sendiri. Seharusnya jika karya sastra itu fair maka tak akan ada makna superior dan inferior dalam karya yang menggambarkan karakter perempuan tadi. Bahkan Mary menyebutkan bahwa cara terbaik untuk menghadapi karya sastra yang termehek-mehek dan merendahkan karakter perempuan adalah dengan menganggapnya sebagai lelucon yang tak pantas dikonsumsi.
The best methode, I believe, that can be adopted to correct fondness for novels is to redicule them: not indiscriminately, for them it would have the little effect; but, if a judicious person, with some turn of humour, would read several to a young girl. And point out both tones and apt comparisons with patheic incidents and heroic characters in history, how foolishly and ridiculously they caricatured human nature, just opinions might be subtituted instead of romantic sentiments (Adam, 1996:339).
            Jadi, apa yang ingin saya kemukakan adalah novel Kimya Putri Rumi ini adalah contoh ideal dari realisasi penggambaran karakter perempuan seharusnya dalam karya sastra. Memang, dalam esaynya Mary tak menyebutkan karya sastra apa yang mendeskripsikan perempuan dari segi positif atau minimal segi netralnya karena memang yang menjadi fokus utamanya adalah perempuan dalam kehidupan nyata. Namun, sedikit banyaknya, karakter Kimya memperbaiki citra perempuan sebagai tokoh yang tak termarginalkan sekaligus menolak mentah karakter feminis yang melibihi kapasitasnya. Sebagai contoh, Kimya bersikap bijak dalam menghadapi konflik batin yang disebabkan oleh berbagai peristiwa aneh dalam jiwanya dan sikap suaminya. Kimya mengaitkan pemecahan masalahnya dengan hal transenden. Saya rasa inilah yang menjadi nilai plus dalam karakternya. Kekayaaan jiwanya yang telah terasah sejak ia kecil adalah suatu keagungan yang membantunya sendiri keluar dari masalahnya. 
Dia terkenang akan mawar-mawar Tabriz yang pernah dikatakan Syams dulu jauh sebelum pernikahan mereka mawar-mawar kuning dengan tetesa darah yang tertabut di pintu masuk pondok di hari pernikahan mereka. ‘Mawar-mawar ini begitu dekat dengan Tuhan,’ begitu katanya. Hanya hati yang berdarah-darah yang dapat menemukannya.’ Kalimat itu dulu terdengar menakutkan tapi sekarang dia paham apa maksudnya. Dia pernah merasa diabaikan Tuhan dan Syams. Di tengah kegersangan yang total itu, dia jadi memahami bahwa alih-alih melabuhkan hatinya untuk Tuhan, dia begitu bergantung pada Syams sehingga kondisi hatinya berubah-uba, dan kehilangan pijakan. Sekarang ia mengerti! Tanpa pijakan itu yang tersisa hanyalah kepedihan. Itulah perbedaannya! Cinta, cinta sejati, adalah sama seperti seseorang yang melihat melalui jendela Tuhan. Selain itu hanyalah keterikatan, dan keterikatan itu seperti kita terjatuh dari jendela itu. Dia diliputi kelegaan. Seseorang bisa saja mencintai tanpa menginginkan balasan apapun dari orang yang ia cintai! (hal.316)
Saya tak menyinggung ini sebagai masalah yang pantas untuk digiring ke ranah faminisme. Karena, terdapat perbedaan yang mendasar di sini mengenai sejarah konsep feminisme itu sendiri. Selalu ada konfrontasi antara perbandingan perkembangan feminisme Barat dan Timur. Seperti yang kita tau bahwa sejarah feminisme Barat begitu kelam hingga menimbulkan pemberontakan yang berlangsung hingga sekarang dan berakibat pada ekses negatif yang membawa pada aliran ekstrimis sedangkan di Timur sendiri, seperti banyak di negara-negara Timur Tengah, feminisme menjadi hal krusial karena ketidakpastiannya akan eksistensinya antara wilayah sosial dan agama. Dalam karya ini bagaimanapun, tujuan analisa saya bukanlah untuk berargumen di satu sisi membenarkan apa yang Mary ungkapkan mengenai konsep feminismenya. Tapi, seperti yang telah dijelaskan di atas, mencoba menyoroti karakter tokoh seorang perempuan dalam karya yang bertema sufistik.
Kesimpulannya adalah kehadiran tokoh Kimya dalam karya sastra yang bertema sufistik ini telah memposisikan karakter prempuan dengan identitas femininnya untuk berada dalam ranah sebagai tokoh yang termarginalkan tapi justru membuatnya menempati wilayah istimewa karena kedekatannya dengan Tuhan.
Daftar Pustaka
Faruk. 1999. Pengantar Sosiologi Sastra; dari Strulturalisme Genetik sampai Post-Modernisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Hazard, Adams. 1996. Critical Theory Since Plato. Harcourt Brace Jovanovich Collage Publishers.
Maufroy, Maurel. 2004. Kimya Putri Rumi. Bandung: mizan.
Ratna, Nyoman Kutha. 2011. Paradigma Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Posted in Karya Sastra, Karya Sastra Islam(i) modern, Karya Sastra Muslim di Timur Tengah, Modern, Nawal El Saadawi

PEREMPUAN DI TITIK NOL KARYA NAWAL EL SAADAWI


Pendahuluan
Karya sastra Muslim di Timur Tengah adalah sebuah karya sastra yang berisi tentang berbagai dimensi kehidupan  masyarakat Muslim di Timur Tengah, mulai dari budaya, tradisi, setting, dan yang terpenting adalah latar belakang pengarang berasal dari Timur Tengah. Ia bersifat realis, tidak bersifat fantasi. Di antara salah satu karya sastra yang lahir di wilayah ini adalah Perempuan di Titik Nol (PTN) karya Nawal el Saadawi.
            Nawal el Saadawi adalah seorang dokter bangsa Mesir. Ia terkenal di seluruh dunia sebagai novelis dan penulis wanita pejuang hak-hak wanita. Dilahirkan di sebuah desa bernama Karf Tahla di tepi sungai Nil, ia memulai prakteknya di daerah pedesaan, kemudian di rumah sakit – rumah sakit di Kairo, dan terakhir menjadi Direktur Kesehatan Masyarakat Mesir.
            Kehadiran Nawal dalam mendobrak ketidakadilan atas perempuan Mesir, menakuti Anwar el Sadat selaku pimpinan Negara pada saat itu. Nawal dianggap membahayakan nasionalis Mesir dengan karya-karyanya yang mencoba menyudutkan budaya patriarki sebagai budaya yang memiliki pengikut terbanyak di Mesir kala itu. 

Mesir Pada Tahun 1970an
            Seperti sudah diketahui sebelumnya, Perempuan di Titik Nol merupakan novel karya Nawal el Saadawi yang lahir pada tahun 1973. Dan pada tahun yang sama Mesir mengalami goncangan dahsyat dari pemerintahan Israel. Mesir dibantu oleh Syria untuk melancarkan serangan-serangan terhadap angkatan bersenjata Israel. Perang pun tidak bisa dihindari, perselisihan antara Mesir dan Israel berlangsung dari 06 Oktober hingga 25 Otktober 1973, oleh karena itu perang tersebut dikenal sebagai Perang Oktober atau Ramadhan atau Perang Yom Kippur. Seperti dalam Perang Atrisi sebelumnya, tujuan negara-negara Arab adalah mendapatkan kembali wilayah yang diduduki oleh Israel sejak Perang 1967.
            Kesombongan orang-orang Israel terhadap bangsa Arab telah menyesatkan bukan hanya dunia melainkan juga diri mereka sendiri. Sebagaimana terbukti kemudian, Israel mengalami salah satu kegagalan intelijen militer paling besar ketika Israel tidak mengantisipasi serangan gabungan Mesir-Syria terhadap pasukan pendudukan Israel pada 6 Oktober 1973. Bulan-bulan sebelum pecahnya perang dipenuhi dengan bualan orang-orang Israel tentang kekuatan Israel dan kelemahan negara-negara Arab.
            Pada April 1973, Sadat secara terbuka memberi peringatan dalam sebuah wawancara: “Semuanya sangat mengendurkan semangat. Pendeknya itu adalah sebuah kegagalan sempurna dan keputusasaan. Setiap pintu yang saya buka dihempaskan di muka saya oleh Israel, dengan restu Amerika. Telah tiba waktunya untuk sebuah kejutan. Segalanya di negeri ini sekarang tengah digerakkan untuk membuka kembali pertempuran yang kini tak terelakkan lagi.” Begitu kata Anwar el Sadat dalam wawancara terbukanya.
            Akibat dari peperangan itu tidak hanya dirasakan oleh pemerintahan Mesir saja, melainkan juga berakibat pada organisasi-organisasi kecil yang didirikan oleh rakyat mesir. Pada September 1981, Anwar Sadat mengenakan tindakan represif kepada organisasi pergerakan Islam yang dianggapnya fundamentalis, termasuk organasasi kaum Feminis yang didirikan oleh Nawal el Saadawi yang menurutnya dapat mengganggu stabilitas nasional Mesir. 
Pengaruh Nawal el Sadawi dan Karyanya Terhadap Mesir
            Dari tahun 1973 sampai 1976 Nawal menjadi sorang peneliti perempuan dan neurosis di Fakultas Ain Syams University of Medicine. Hasil penelitiaanya dipublikasikan Perempuan dan Neurosis di Mesir Pada tahun 1976 dengan judul Perempuaan dan Neeurosis, termasuk memasukan  20 study  penelitiaan yang mendalam tentang kasus perempuan di penjara-penjara dan rumah sakit. Novel dan buku-bukunya tentang perempuan (feminisme) memiliki efek yang mendalam pada generasi ke generasi secara berturut-turut baik perempuan muda dan laki-laki selama lima dekade terakhir.
Tidak sebatas itu, El Saadawi juga mengadakan penelitiaan tentang aborsi. ia melakukan penelitiaan tersebut dikarnakan melihat banyak sekali realitas sosial yang sangat steriotip sebagai jawaban dari maraknya tindakan aborsi ilegal perempuan Mesir. hasil penelitiaan ini sangatlah mengejutkan dimana tindakan aborsi marak dilakukan oleh keluarga yang mampu dibanding dengan keluarga yang tidak mampu, presentasi perbandingannya hampir tiga kali lipat. Kesimpulan lain aborsi ini dilakukan oleh perempuan yang belum menikah, dari kalangan perempuan yang belum menikah presentasinya 90 persen berusia sekitar 25-35 tahun dan rata rata mereka sudah memiliki anak satu, dua atau lebih.
            Pada tahun 1972, tulisan pertamanya dalam buku non-fiksi, selalu berjudul tentang Perempuan dan Masalah Seks. Semua karyanya saat itu terkait dengan subjek yang sangat tabu; yakni tentang feminisme, gender, perempuan dan seksualitas, dan juga subyek sensitif, patriarki, budaya, politik dan agama. Nawal El Sa’dawi melihat problem diskriminasi wanita sebagai masalah struktural yang sama peliknya dengan masalah Negara yang kebetulan saat itu sedang bersiap melawan pasukan Israel. Publikasi ini membangkitkan kemarahan otoritas politik dan teologis saat itu, dan Departemen Kesehatan memaksanya untuk memundurkan diri dan memecatnya. Di bawah tekanan yang sama ia kehilangan posisinya sebagai Pemimpin Redaksi sebuah jurnal kesehatan dan sebagai Asisten Sekretaris Jenderal di Asosiasi Medis di Mesir.
            Pada 1973, lahirlah novel yang membuat bulu kuduk merinding, Perempuan di Titik Nol menjadi serangan susulan dari Nawal el Saadawi untuk mengakhiri penindasan terhadap perempuan. Salah satu faktor yang melatar belakangi penulisan novel ‘Perempuan di Titik Nol’ adalah pengalaman Nawal Pada tahun 1969 yang melakukan observasi dan perjalanan ilmiah ke Sudan. Perjalanannya kesudan ini dalam rangka melihat lebih dekat praktek-praktek penyunatan terhadap perempuaan yang dilakukan secara tradisional, menyakitkan dan sangat berbahaya terhadap keselamatan bagi perempuaan itu sendiri.
Melihat praktek-praktek penyunatan terhadap perempuaan tersebut, di Mesir sendiri penyunatan itu dilakukan dengan cara hanya memotong sebagiaan dari klitoris tetapi di Sudan pemotongan tersebut dilakukan pada klitoris, dua bibir luar (labia minora). Akibat dari penyunatan yang tidak mengenal medis itu, banyak dari kaum perempuaan yang terkena infeksi akut atau kronis sehingga mereka tersiksa selama hidupnya. bahkan diantara mereka tidak sedikit yang kehilangan nyawanya sebagai akibat dari cara-cara yang primitif dan tidak manusiawi dalam mengoprasi.
            Pada tahun 1977, ia menerbitkan karya yang paling terkenal, The Hidden Face Hawa, yang meliputi sejumlah topik relatif terhadap wanita Arab seperti agresi terhadap anak-anak perempuan dan pemotongan alat kelamin perempuan, prostitusi, hubungan seksual, perkawinan dan perceraian dan fundamentalisme Islam.
Melihat dari itu semua kasus-kasus diatas bisa terjadi karena sangat berhubungan erat dengan persoalan konsep kepemimpinan dalam keluarga yang patriarki. kepemimpinan keluarga yang diserahkan kepaada kaum laki-laki secara mutlak, ditambah kaum lelaki tersebut tidak memahami konsep gender dan feminimitas dalam keluarga apalagi melihat sosial-kultur kebudayaan arab yang sangat patriarikat juga pemahaman mereka terhadap tafsir teologi agama yang kurang akan melahirkan ketimpangan dan ketidak adilan terhadap kaum perempuaan. Kaum perempuan berada pada pihak yang termarginalkan, tertindas, terkekang sementara kaum lelaki malah melanggengkan kekuasaan penindasan tersebut.
Atas gebrakan yang dilakukan Saadawi dengan memunculkan karya-karyanya termasuk novel Perempuan di Titik Nol, akhirnya pada tahun 1980, sebagai puncak dari perang lama ia berjuang untuk kemerdekaan perempuan Mesir dalam segala aspek, terutama dalam aspek sosial dan intelektual. Semua kegiatan/ekspresi perempuaan telah ditutup, perempuan tidak mempunyai hak dan peranannya dalam membangun negara karena tempatnya hanya dirumah untuk menjadi ibu rumah tangga, perempuaan dipenjarakan di bawah rezim Sadat, atas tuduhan “kejahatan terhadap Negara”. El Saadawi menyatakan “Saya ditangkap karena saya percaya Sadat Dia mengatakan ada demokrasi dan kami memiliki sistem multi-partai dan Anda bisa mengkritik. Jadi saya mulai mengkritik kebijakannya dan saya mendarat di penjara.” Begitu kata Nawal el Sadawi. Meskipun dalam penjara, El Saadawi terus melawan penindasan. Dan Pada September 1981, Anwar el Sadat menutup semua organisasi yang didirikan oleh Nawal dan juga organisasi-organisasi lain yang dianggap membahayakan Mesir.
Bahkan setelah dia dibebaskan dari penjara, kehidupan El Saadawi itu terancam oleh orang-orang yang menentang pekerjaannya,  terutama kaum Islam fundamentalis, dan penjaga bersenjata ditempatkan di luar rumahnya di Giza selama beberapa tahun sampai dia meninggalkan negara untuk menjadi profesor tamu di universitas di Amerika Utara .
Konsep Pemikiran Nawal el Saadawi
Sebagai seorang tokoh yang tak kenal lelah dalam memperjuangkan hak-hak perempuaan dan aktivis pergerakan pembebasan kaum perempuaan, El Saadawi bahu membahu untuk mengadvokasikan kepada kaum perempuaan di dunia bahwa  pembebasan kaum perempuan dari patriarki budaya masyarakat dan belenggu sistem sosial yang ada, hanya bisa dilakukan oleh kaum perempuaan itu sendiri. Perempuaan harus kuat di mulai dari pribadinya masing-masing. menurut beliau perempuaan harus bisa terbebaskan dan berani menyikap tabir pikiran mereka, yaitu kesadaran palsu, kesan-kesan minor, dan sikap lemah yang selama ini melekat pada kaum perempuan. Sehingga nantinya akan muncul sebuah kesadaran baru pada diri mereka bahwa sesungguhnya tidak ada perbedaan berarti antara dirinya dan kaum lelaki.
Konsep pemikiran Nawal El Sadaawi tentang feminisme bisa dilihat dari tujuan ia mendirikan organisasi perempuan yang ia dirikan AWSA (Arabic Women’s Solidarity Association). menurut asumsinya feminisme adalah penyikapan tabir yang menyelimuti pikiran kaum perempuaan. El Saadawi dalam mengungkapkan pemikirannya tidak jarang harus menolak norma-norma yang telah mapan. bahkan ia berani bersebrangan dengan pemerintahan Mesir dan menjadikannya sebagai oposisinya terhadap segala kebijakan pemerintah, tradisi masyarakat yang bertentangan dengan nalar dan keyakinannya beserta tidak menguntungkan bagi perjuangan kaum perempuan. Tentu itu semua harus dibayar dengan harga mahal dan ada pengorbanannya, ia sering keluar masuk penjara, banyak sekali teror dan ancaman pembunuhan terhadap dirinya. kini El Sadawi menghabiskan sisa hidupnya di Eropa dan Amerika dan sesekali berkunjung ke tanah kelahirannya di Mesir.
Gambaran Penindasan Perempuan Dalam Novel Perempuan di Titik Nol
Novel Perempuan di Titik Nol karya Nawal el Saadawi bercerita tentang seorang perempuan yang bernama Firdaus dari sel penjaranya, tempat dimana dia menunggu pelaksanaan hukuman matinya. Firdaus di penjara karena telah membunuh seorang lelaki yang bernama Marzouk. Marzouk adalah seorang germo yang memaksa Firdaus untuk menggunakan jasa germonya, padahal Firdaus merasa tidak perlu menggunakan seorang germo untuk profesinya sebagai pelacur. Tentang keperempuanan, kepedihan, kejahatan, kesadisan, serta seksualitas sangatlah kental dalam novel ini. Dalam novel ini banyak sekali kejutan-kejutan yang menggoncangkan perasaan, yang mengandung pula jeritan pedih, protes terhadap perlakuan tidak adil pada perempuan, sebagai yang diderita, dirasakan dan dilihat oleh perempuan itu sendiri.
Berikut adalah salah satu gambaran pelecehan terhadap perempuan, yang digambarkan oleh Firdaus. Ketika seorang lelaki bernama Bayoumi menyelamatkan Firdaus dari jalanan karena meninggalkan rumah suaminya. Tetapi yang ada bukanlah Bayoumi menyelamatkan Firdaus, tetapi pelecehan yang sudah terpendam tercipta lagi, hal tersebut terdapat pada kutipan berikut ini:
“Dia menggigit daging bahu saya dan menggigit buah dada saya beberapa kali, kemudian perut saya. Sambil menggigit berulang-ulang ia berkata:
“Pelacur, perempuan jalang.” Kemudian ia menghina ibu saya dengan kata-kata yang tak sanggup saya ikuti. Kemudian, ketika saya berusaha mengucapkannya, saya tak sanggup. Tetapi setelah malam itu, kata-kata itu seringkali saya dengar Bayoumi, dan kawan-kawan Bayoumi”. (Saadawi, 2004:72-73)
Penutup
       Novel ini beraliran Feminisme yang pada akhirnya mampu mengungkap permasalahan penindasan terhadap perempuan disegala bidang, baik itu politik, kelas sosial ataupun budaya di Mesir. “Perempuan di Titik Nol” merupakan sebuah protes dan kecaman terhadap paham dan system Patriarki untuk semua laki – laki di Mesir. Dan dari sana jugalah permasalahan Gender menjadi terbeberkan sedemikian rupa. Sadaawi dengan pandainya mampu menyampaikan kritik pedas untuk pemerintahan Mesir melalui karya – karyanya.

Posted in Karya Sastra, Karya Sastra Islam(i) modern, Modern, Samira dan Samir, Sastra Muslim di Asia Tengah

BEBERAPA ASPEK DALAM NOVEL “ SAMIRA AND SAMIR” KARYA SIBA SHAKIB


Sekilas Biografi Siba Shakib
Siba Shakib lahir di Teheran Iran. Dan bersekolah di Jerman University of Heidelberg. Penulis dan Fabricator dari dokumenter dan film, telah melakukan perjalanan ke Afghanistan beberapa kali dalam beberapa tahun terakhir, mengunjungi utara dan wilayah dikendalikan oleh Taliban . Beberapa film dokumenter-nya telah memenangkan penghargaan, termasuk menjadi saksi kengerian hidup di Afghanistan dan nasib wanita Afghanistan. Dia tinggal di New York , yang ‘ Italia dan Dubai .
Sebelum menulis novel pertamanya, Siba Shakib adalah seorang wartawan musik dan presenter radio. Bekerja sama dengan artis pendatang baru tetapi juga dengan musik besar, antara lain diwawancarai untuk televisi Miles Davis , Tina Turner dan Mick Jagger . Selama wawancara dan pembicaraan telah menawarkan pertimbangan politik sering dengan sukses besar di antara penonton remaja.. Tahun-tahun berikutnya, mulai memproduksi film dan dokumenter yang bersaksi dengan situasi ekonomi dan sosial yang membutuhkan di berbagai belahan dunia.

Sejak awal tahun sembilan puluhan Siba Shakib telah bekerja terutama di dua negara yaitu ‘ Iran , di mana ia dilahirkan dan dibesarkan dan ‘ Afghanistan .Sebuah Bunga untuk Wanita Kabul – Sebuah Bunga untuk Wanita Kabul – menerima di Jerman pada tahun 1998, untuk menandai peringatan 50 dari Deklarasi tentang Hak Asasi Manusia PBB , penghargaan untuk film Hak Asasi Manusia. Shakib sering menggunakan dana dari film dan buku-bukunya untuk membantu dalam membangun pusat perempuan di Kabul .
Siba Shakib berada di New York, menyelesaikan novel pertamanya, “Afghanistan, Dimana Tuhan Hanya Datang ke Menangislah” (Afghanistan, di mana Tuhan hanya datang untuk menangis), terjadi ketika 11 September serangan teroris pada World Trade Center  Selama seminggu, membantu dengan mendukung staf televisi ARD Jerman dalam penghitungan ulang dan merekonstruksi peristiwa. All’inizio del 2002 , Pada awal 2002 , Menteri Pertahanan Jerman menerima intuisi dan pengetahuan Afghanistan Siba Shakib mencari ide-ide dan kolaborasi sebagai konsultan bagi pasukan mereka penjaga perdamaian, ISAF di Afganistan. Kemudian bisnisnya berkembang di dukungan dan konseling pasukan NATO selama perang.
           
 
Sinopsis Karya
Namanya Samir. Sesungguhnya ia perempuan. Namun menjadi anak pertama kepala suku, yang justru mengharapkan sosok anak laki-laki, namanya Samira berubah menjadi Samir. Tak satupun orang sukunya tau fakta bahwa anak sang kepala suku sebenarnya perempuan. Ayah Samir pun mendandaninya sebagaimana lelaki. Mengajarinya sebagaimana mengajari lelaki suku. Samir pun mengira ia Samir. Sama dengan anak lelaki lain. Ia Samir. Bukan Samira.
Hingga di usia 7 tahun, ia bermain dengan anak-anak lelaki lain di sukunya di tepi sungai. Kemudian teman-temannya kencing di sana. Saat itulah ia melihat sesuatu yang tak sama. Yang dimiliki temannya, tapi tak dimilikinya. Dan ia sadar, ia berbeda. Ia bukan Samir yang selama ini ia pikirkan. Namun demi ayahnya, ia meneruskan perannya sebagai lelaki. Samir pun tumbuh menjadi sosok lelaki berwajah cantik.
Di usianya yang menginjak belasan, ayahnya memimpin sukunya berperang. Yang membawa ayahnya kembali dalam keadaan tak bernyawa. Terpaksa menyaksikan ibunya (maaf) diperkosa oleh pengkhianat sukunya, Samir pun menjadi bisu. Ia tak bicara. Tak ingin bicara.
Hingga suatu saat ia meninggalkan sukunya. Berkelana. Sebagai Samir. Dengan modal ajaran ayahnya yang mengharapkannya menjadi penerus suku pejuang pemberani. Mampu memanah. Berkuda. Menggunakan pedang. Menjadi lelaki. Yang mengagumi burung besi di cakrawala Nowshak.
Ia bertemu dengan seorang guru, yang mengajarinya membaca dan menulis. Samir. Menulis. Awalnya ia hanya mampu menusukkan pensilnya di kertas. Dipikirnya sebagaimana mengukir pisau di atas pohon.Dan perkenalannya dengan Bashir. Pemuda yang kelak akan membuatnya kalut dalam pilihan menjadi pasangan hidup Bashir, menjadi Samira. Yang artinya mengkhianati keluarganya. Atau mempertahankan eksistensinya sebagai Samir. Tetapi kehilangan Bashir.
Buku ini benar-benar mampu menangkap kompleks-nya hidup Samir dalam waktu yang singkat. Bukan sebuah buku yang tebal. Namun mengesankan. Bagaimana saya yang saat itu tak sampai usia 13 tahun terlarut dalam kompleksnya hidup Samir. Turut tersenyum, bersedih, menangis. Hingga mengaduk-ngaduk mencari novelnya di tumpukan buku Toga Mas Jogja. Ah, Samira..
Sebuah episode yang terkenang betul di benak saya. Ketika Samir terpaksa bernaung di sebuah desa. Sebagai Samir. Membalas jasa. Anak perempuan si kepala desa jatuh hati padanya. Ingin menikah dengannya. Maka disusunlah sebuah rencana penghilangan Samir di malam pertama pernikahannya. Unik. Menegangkan. Tidak terpikirkan.


Unsur-Unsur Intrinsik dalam Novel Samira and Samira
Budaya dalam Novel Samira and Samir
Untuk memahami unsur-unsur intrinsik dan latar belakang belakang seperti  sosial, budaya, ekonomi dan peradaban yang ada dalam karya sastra yang berjudul Samira and Samir. Pada novel ini kita bisa melihat bagaimana kondisi dan situasi yang terjadi pada saat itu. Karena penulisnya sendiri tidak hanya sekedar menulis tanpa mengetahui situasi dan kondisi yang terjadi dan yang ada di Negara tersebut. Tetapi juga penulis sebelumnya telah mengetahui bagaimana situasi dan kondisi yang terjadi pada masa itu.
Dalam novel tersebut penulis ingin menyampaikan sesuatu yang dia lihat dan dia rasakan ketika dia mengunjungi daerah afganistan.Novel yang berjudul Samira and Samir ini mengisahkan seorang anak perempuan yang terlahir dalam keluarga seorang Komandan perang, yang dimana pada saat itu amat sangat menjungjung tinggi nilai seorang laki-laki,Karena seorang laki-laki dianggap bisa meneruskan perjuangan ayah dan keluarganya, akan tetapi jika mendapatkan seorang anak perempuan bagi kebanyakan orang arab pada saat itu adalah sebuah aib yang sangat besar yang harus ditutupi. Karena Sang ayah merasa kecewa. Sang ayah pun memutuskan untuk mendidik anaknya yang bernama Samira sebagai lelaki. Dan tumbuhlah Samira sebagai Samir. 
Pada kenyataannya pun itu adalah  Sebuah peradaban yang belum bisa dirubah mungkin sampai saat ini. Karena bagi kebanyakan orang arab seorang wanita yang melahirkan seorang anak perempuan itu telah memberikan aib kepada keluarganya sendiri. Karena menurut mereka orang-orang Arab wanita  itu diciptakan hanya untuk menjadi seorang pelayan laki-laki. Tergambarkan dalam novel ini dimana Ibu dari Samira yang hidupnya hanya mengurusi rumah, membuat makanan untuk anak dan suaminya, dan tidak melakukan aktifitas yang lain.
Sejarah dan Ekonomi dalam Novel Samira and Samir
Dalam novel ini kesalahan identitas yang menjadikan hidup Samira kian rumit. Kerumitan itu bertambah ketika Samira menginjak remaja dan kemudian dewasa dan mengenal perasaan cinta. Samira dihadapkan pada dua pilihan yang menyakitkan. Samira ingin hidup sebagai seorang istri lelaki yang bernama Bashir, namun dia harus rela mengkhianati keluarganya, dengan mengungkapkan identitas aslinya sebagai seorang perempuan, dan dengan demikian dia telah mengorbankan kebebasannya sebagai seorang lelaki.
Adapun faktor sejarah yang melatarbelakangi kenapa seorang suami atau seorang ayah menginginkan seorang anak laki-laki, karena pada saat itu orang arab masih sangat menyukai peperangan, yang dimana peperangan itu banyak menelan korban jiwa, dan itu sebabnya kenapa banyak kaum laki-laki yang menginginkan seorang anak laki-laki untuk meneruskan estafeta perjuangan ayahnya.  Meski cerita itu amat sangat klasik tapi kita pasti masih tahu, bahwa pada zaman Rasulullah pun, Seorang khalifah Umar bin khatab pernah  membunuh anak perempuannya hidup-hidup karena seolah-olah aib dan sebuah malapetaka mendapatkan seorang anak perempuan, sehingga itulah yang dilakukan oleh sebagian orang arab dan itu sudah menjadi sebuah tradisi orang-orang arab.
Dalam novel ini diceritakan sangat jelas bagaimana Samira hidup sebagai seorang anak perempuan yang dididik layaknya seorang anak laki-laki. Dimana dia belajar berkuda dengan ayahnya, belajar bagaimana dia melakukan permainan yang biasa dilakukan oleh seorang anak laki-laki yang bernama permainan Buskazhi. Hingga dia dewasa pun dia tetap merasa bahwa dirinya adalah seorang anak lelaki sejati.
Dalam novel ini juga menunjukkan bahwa pada saat itu sedang berada dalam peperangan melawan Taliban. Bukan karena Islam, tetapi menjadi sebuah kesenangan dan merampas harta kekayaan mereka. Meski sedikit orang-orang yang berjihad dan berperang demi nama Islam. Faktor yang membuat warga Islam merasa hebat karena bisa menguasai seluruh kawasan khususnya di Afghanistan. Banyak kejadian yang akhirnya mereka melakukan peperangan ini, salah satunya karena faktor ekonomi, politik  dan sosial. Karena perebutan kekuasan dan ingin memiliki wilayah yang luas juga sehingga mereka melakukan peperangan. Oleh karena itu banyak diantara mereka yang rela mengorbankan segalanya demi peperangan ini.
Semasa kecilnya Samira pernah menjadi seorang perempuan bisu, karena dia merasa belum menjadi lelaki sejati, dia menangis meronta-ronta, menyapu tanah, merobek dinding tenda rumahnya. Merasa bahwa dia belum bisa seperti lelaki sejati yang pernah dia liat. Hari-hari Samira dilakukan dengan sangat penuh ketangguhan sebagai seorang laki-laki, dia belajar berkuda, belajar bagaimana menjadi seorang lelaki sejati seperti ayahnya. Seorang Komandan perang yang sudah banyak membunuh musuh-musuh perangnya. Karena pada saat itu masih berlangsungnya perang Taliban. 
            Samira melewati musim dingin dan musim panasnya untuk menjadi seorang lelaki sejati, menjadi putra perempuan yang tangguh untuk ayah dan Ibunya. Samira mulai mahir berkuda, mulai mahir melakukan permainan seorang laki-laki yaitu Buskazi. Ibunya sudah tidak ingin melihat Samira terus-terusan melakukan permainan laki-laki, tetapi ayahnya menginginkan Samira melakukan hal itu. Samira si bisu tetap dan selalu menurut perintah ayahnya. Mungkin karena Samira si bisu pun mulai merasakan nyaman melakukan permainan laki-laki.
Ketika Samira dewasa dia masih tetap bisu, dan mulai banyak orang yang meragukan kelaki-lakian Samira. Dan menganggap bahwa Samira bukanlah seorang lelaki sejati. Hingga Akhirnya permainan Buskazi pun tiba, dan Samira mengikuti permainan itu dan menunjukkan keahliannya membawa sang kuda berlari mengiringi dan mengikuti titah sang Samira tuannya. Orang yang mengejek Samira pun merasa tidak terima atas kemenangan Samira menaklukan kudanya untuk menunjukkan pada mereka bahwa Samira putra perempuan pak Komandan adalah seorang laki-laki sejati. Kemudian anak dari Olfat yang tidak menyukai Samira pun memukul samira hingga darah menetes dipelupuk mata Samira, akan tetapi Samira dan membalas dan tidak merasakan kesakitan.
Hingga akhirnya Samira semakin menjadi putra perempuan pak Komandan yang sudah sangat Dewasa. Dan ketika itu Samira mendengar kabar dari ibunya sendiri bahwa ayahnya meninggal terbunuh, Ibunya amat sangat terpukul atas kematian Suaminya. Ibunya Samira yang bernama Daria, menagis tersedu-sedu menginginkan suami hidup menemani dia lagi, Daria merasa belum bisa menyenangkan hati suaminya. Samira ingin menangis melakukan hal yang sama seperti ibunya, akan tetapi Samira merasa bahwa dirinya tidak perlu melakukan hal seperti itu karena dia sudah merasa seperti lelaki sejati. Yang kini harus menggantikan posisi ayahnya untuk menjaga Ibunya.
Daria masih merasakan kepiluan dan kesedihan yang mendalam ditinggal meninggal oleh suami tercintanya. Akan tetapi putra perempuannya selalu memberikan semangat kepada ibunya. Daria ibu Samira pun memutuskan untuk hijrah kerumah ayahnya, kakeh samira. Dan mulailah kehidupan Samira pun berlanjut ketika dia bertemu dengan Bashir. Karena pertemuannya dengan Bashir telah menimbulkan benih-benih asmara dalam hati Samira. Akan tetapi Samira tidak ingin identitasnya sebagai seorang perempuan diketahui oleh basher, karena itu akan membuat samira kehilangan kebebasannya menjadi seorang perempuan.
Samira menemukan banyak permasalah baru ketika dia meninggalkan kota dimana dia dilahirkan yaitu dikota Hindu-Kush, akan tetapi dia harus meninggalkan kota itu untuk menemukan kehidupan yang layak. Terlihat bagaimana perjuangan seorang perempuan untuk memepertahankan kehidupannya di kota yang belum pernah dia jumpai sebelumnya. Samira merasa bahwa hidupnya sudah menjadi seorang lelaki sejati, yang bisa menjaga ibunya dan dirinya sendiri. Meski dia sudah merasakan kecintaan terhadap lawan jenisnya sendiri, akan tetapi sifat maskulinnya yang membuat bahwa dirinya menginginkan menjadi seorang Samir saja.
 Hingga pada akhirnya, Bashir pun mengetahui bahwa Samira adalah seorang perempuan dan Bashir pun menginginkan Samira menjadi istrinya, yang bisa melahirkan seorang anak laki-laki dari rahimnya. Akan tetapi Samira tidak menolak, hanya memberikan jawaban bijaksana dari seorang putra perempuan pak Komandan yang kini telah menjadi perempuan yang tangguh. Samira hanya menjawab. Kita telah berburu bersama, kita juga telah menangkap ikan, kita tidak akan pernah melakukan hal ini jika kita tidak berteman lagi, jika aku jadi istrimu dank au jadi suamiku. Hati mereka tercabik-cabik seperti kertas, berubah menjadi serpihan-serpihan kecil. Akan Samira tidak menelan airmatanya, Bashir pun tidak menelan airmatanya. Samira memendam seribu pertanyaan, namun tak ada satupun jawaban. Hingga Samira tetap membisu. Samira pun melompat keatas punggung kuda jantan ayahnya, memacunya meninggal Hindu-Kush dan Bashir, Samira tidak menelan airmatanya. Ia menangis. Menangis Hingga tangisnya berubah menajdi tawa. Sebuah tawa yang tidak segera menghilang. Ini adalah tawa seorang wanita. Wanita sejati. Ini adalah tawa seorang Samira.

Posted in Karya Sastra, Karya sastra Islam(i) klasik, Klasik, Rumi, Sastra Sufi

AKULAH ANGIN ENGKAULAH API: HIDUP DAN KARYA JALALUDDIN RUMI


Di dalam buku ini Annemarie Schimmel menggambarkan sosok Jalaluddin Rumi yang selalu menjadi pusat perhatian dunia. Pada bagian awal, Schimmel menjelaskan tentang perjalanannya menuju tempat pemakaman Rumi yakni Konya. Disana makam maulana disebut dengan Yesil Turbe (kubah hijau). kemudian Schimmel menceritakan tentang pertemuan pertama maulana dengan seorang darwis yag bernama Syamsuddin Tabriz. Bagi Rumi syams merupakan matahari yag luar biasa yang mengubah aseluruh hidupnya,  membakarnya, membuatnya menyala, dan membawanya kedalaman cinta yang sempurna. Jalaludin dan syams tidak terpisahkan lagi dan menurut riwayat selama berbulan-bulan dapat berthana hidup tanpa kebutuhan-kebutuhan dasar manusia ketika mereka bersama-sama menuju cinta tuhan. Suatu hari syams dikabarkan menghilang. Jalaluddin merasa patah hati karena berpisah denga mataharinya. Saat itu jalaludin bingung dan kahirnya ia menuliskan syair-syair.

 
Dalam buku itu Schimmel menggunakan nama tokoh Rumi kadang-kadang sebagai Jalaluddin, Maulana, dan Rumi. Entah mengapa ia merubah nama di setiap bab misalnya bab pertama ia mnyebutnya dengan Jalaludin dan di bab berikutnya ia menyebutnya dengan maulana. Mungkin karena ia ingin agar pembaca tahu tentang nama panggilan Rumi. Dalam narasisnya diceritakan tentang sebuah perjalanan menuju Rumi atau dengan nama jelasnya Maulana Jalaluddin Rumi. Dimana seseorang  menceritakan tentang karya-karya rumi yaitu Matsnawi, yang berisikan kearifan kehidupan yang unik tetapi mulia, yang merupakan buah dari pengajaran dan kegiatan puitis juga buah dari terbakarnya cinta Ilahiah dan buah dari kehidupan. Dan Salah satunya lagi seperti Fihi Ma fihi (didalamnya lah apa yang ada didalam) yang bercerita tentang pengepungan sebuah kota yang didiami oleh ibunda Maulana atau Rumi dan bagaimana kekuatan doa seorang wanita dapat melindungi dari perbuatan keji musuhnya.   Pada umur 18 tahun Jalaluddin menikahi seorang gadis dari rombongan yang telah mengadakan perjalanan bersama mereka dari khurasan. Kemudian mempunyai putra yang bernama Sultan Walad, yang merupakan nama kakeknya yaitu Bahauddin Walad. Bahauddin Walad adalah seorang Sufi, sesungguhnya dia telah mengalami tahapan mistik tertinggi, sesuatu yang sensual, suatu cinta yang sempurna kepada Tuhan, sampai dia berada dalam pelukan-Nya.  Selama 1230 dan awal 1240, Maulana menjalani kehidupan sebagai seorang alim, mengajar dan  bermeditasi. Dia telah menggunakan pengaruhnya untuk membantu orang-orang miskin.
Rumi  tidak pernah menyebutkan nama Syams dalam syairnya tetapi secara tidak langsung ketika ia menggambarkan matahari, bulan dan bintang ia masih mengingat sahabatnya itu. Keemudian datang berita baik bahwa Syams ada di Damaskus dan Jalaludian memerintahkan anakanya, sultan walad untuk menjemput sahabatnya itu. Akan tetapi putra maualana, Alaudin, 5 Desember 1248 memanggil Syams dan membunuhnya. Kemudian alaudin mengatakan bahwa syams hilang begitu saja mungki pergi ke Suriah, katanya. Bagi Mulana Syams adalah  manusia yang bersifat ilahiah. Atas dasar inilah maulana sangat menyayangi Syams dan merasa kehilangan karena ia merupakan sahabat yang memberikan rahmat baginya. Dengaa Syam ia bisa mencari cinta tuhan dengan pemikiran baru karena syams memiliki ketajaman pikiran wlalupun ia adalah seorang yang “sombong” akan kemampuannya itu.
 Ekspresi puitis yang ia buat bukan semata-mata merupakan suatu yang tidak disengaja. Ia tidak berkeinginan untuk menjadi seorang penyair. Maka dari itu ia selalu memperingatkan diriya bahawa ia bisa berbicara jika ia tersentuh oleh seruling atau napas orag yang dicintainya. Seperti kecintaannya pada Syams yang merupakan sahabat karib yang tiada duanya. Ini merupakan gamabaran dari pikiran Rumi yang terkenal dengan syair yang dalam dan sarat akan makana yang ambigu. Seingga orang yang menafsirkannya harus benar-benar mengetahui sejarah perjalanan hidup Rumi. Beberapa kalimat menarik salah satunya adalah “matilah sebelum engkau mati!”, yang berarti bahwa matinya sifat-sifat rendah  diri kita sendri sebelum kematian tubuh maka kita akan terbebas  dari mpenjara materi.
Rumi selalu tampil dengan pengkauan terhadap kekuasaan, kemurah-hatian dan kearifan tuhan. Tidak seperti Athar yang sering mengandung usur kritik social, juga protes terhadap tuhan, yang menciptakan dunia ini penuh dengan kejahatan. Padahal tentu saja tuhan lebih mengetahui rahsia dibalik semuanya. Maulana menggambarkan manusia seperti itik yang hidup didarat dan di air atau manusia itu setengah lebah, setengah ular yag tidak dapat menghsilkan madu dan juga racun. Kemudian  ia juga mrengatakan bahwa org mengatahui semua tanda lahiriah segala sesuatu, tetapi tidak mengetahui hakiakat kehidupan.selalu saja kita berpikir tetang selukbeluk diri kita tanpa memikirkan bahwa ada jiwa yang tidak akn pernah mati dan jiwa inilah yang akan kembali pada tuhan. Artinya bahwa kita harus meyadri bahwa kita tidak akan selamunya berkutat dengan keadaan seperti ini selamanyha ada kalanya kita akan kembali pad sang pencipta.
Maulana mengakui bahwa tidak perlu mengasingkan wanita yang baik, sebab wanita seperti itu tahu apa yang harus dilakukannya dan tahu bagaimana berprilaku. Sedangkan wanita yag buruk akan selalu mencari tipu muslihat untuk melepaskan diri dan berlaku tak pantas, sebanding dengan upaya untuk mengasingkan dirinya.ini  berarti bahwa pria dan wanita harus berjaan dijalan yang sama dan keduanya harus berusaha memenuhi kewajiban-kewajiban yang sudah ditetapkan al-quran bagi orang-orang mukmin. Rumi cukup pragmatis untuk mengetahui bahwa setiap makhluk dapat bertindak hanya dalam rangka kemampuannya keadaan manusia itu kemungkinan dan kemampuan mereka juga berbeda-beda. Itulah sebabnya, mereka akan dinilai menurut bagaimana mereka memanfaatkan kemampuan mereka.mukhannats atau hemaprodit berulang-ulang muncukl dalam kisah-kisahmaulana sebagai model orang munafik yang bukan termasuk orang dunia maupun akhirat.
Aspek yang sering Rumi sebutkan adalah tentang tanggung jawab. Meskipun Allah telah merencanakan dan mengatur segalanya, manusia juga memilki tanggung jawab untuk melakukan apa yang dapat dilakukannya untuk menghindari kemlangan dn sekaligus bertanggung jawab untuk tidak menyesatkan orang lain.
Selain itu Schimmel juga menggambarkan tentang gambaran rumi tentang shalat. Shalat merupakan doa, dan tidak semua doa diterima. Setiap orang bertanya–tanya mengapa doanya belum juga dikabulkan. Rumi menggambarkan doa-doa yang  dipanjatkan bagaikan nyanyian brurung-burug di pagi hari. Sampai kapan tuhan ingin mendengrnya terserah padanya. Juga orang yang berdoa diibaratkan seorang pengemis jika orang yang datang adalah orang yang bruruk rupa maka kita langsung memberinya uang agar cepat pergi. Tapi orang yang berdoa dimata tuhan diibaratkan pengemis yang rupawan, tentuya akan diberikan beberapa ujian agar doanya dikabulkan. Doa itu sendiri merupakan pengakuan manusia bahwa tuhan maha kuasa atas segalanya da pengkauan bahwa manusia adalah makhluk yang lemah yang tidak bisa  berbuat apa-apa tandpa kehendaknya.
Sedangkan konsep Rumi tentang cinta adalah bahwa begitu cinta menguasai manusia. Maka tidak ada jalan untuk melepaskan diri dari dirinya. Oleh karena itu menyembunyikan cinta merupakan sesuatu yang tidak mungkin dilakukan. Cinta sering terlihat seperti perangkap atau jaring untuk menangkap burung jiwa. Seperti yang rum kataka dalam syairnya yakni orang yang jauh dari jaring cinta adalah burung yang tak bersayap. Karena hanya burung cantik yang masuk dalam perangkap cinta, bukan makhluk-makhluk seperti burung hantu yang tidak mau melihat matahari dan hanya puas dengan tinggal diantara puing-puing.
Kebanyakan diantara kita yang sering dibicarakan adalah pandangan Rumi tentang cinta. Padahal ada aspek lain yang lebih penting, seperti kesufian dan akhlak yang dibicarakan oleh Rumi. Sama’ ( tarian mistik ) membuka gerbang surga. Oleh karena itu, sama menjadi salah satu aspek terpenting bahkan bisa dikatakan sebagai poros dari syair-syair rumi. Sama adalah tangga menuju langit, tangga yang dapat digunakan jiwa yang merindu untuk mencapai atap dimana sang tercinta yang rupawan yang berseri-seri akan menanti. Begitulah Rumi dengan karyanya.
Jujur saja banyak yang kurang paham dengan tarian ini bagaimana sebenarnya bentuk tarian ini.  Seperti yang Rumi gamabarkan ketika berputar ia serasa bersatu denganlangit dan bumi. Mungkin hanya orang tertentu dan yang paham akan Rumi yang lebih tahu tentang makana danbentuk dari tarian ini. Yang saya pahami adalah dengan tarian ini Rumi bisa merasakan berada dekat dengantuhan. Entah makasudnya apa ? apakah tarian ini sangat penting untuk dimainklan atau hanya sebuah tarian yang memiliki ddaya tarik sendiri. Dan seperti yang telah saya ketahui bahwa terkadang tarian menggambarkan apa yang  sebenarnya kita inginkan. Kita akan merasa bahw aketika kita menari semua masalah akan berkurang darp pikiran kita.tapi terkadang sebuah tarian hanya akan emmbuat kita merasa berslah kepada diri. Karena hal itu sangat membuang-buang waktu. Sedangkan tarian yang Rumi  ciptakan merupakan sebuah tarian yang bisa menyatukan jiwa bagi sipenari dan apa yang ia inginkan.
Schimmel menggambarkan Rumi seakan-akan ia pernah hidup dengan Rumi dan merasakan bagaimana perasaan Rumi pada saat itu. Penggunaan gaya bahasa puitis yang digunakan oleh Schimmel juga menggambarkan bahwa sosok Rumi adalah sosok yang tidak mudah dimengerti akan pemahamannya tentang makna yang ada disetiap karyanya. Jujur aja saya baru merasa lebih kenal dengan Rumi setelah membaca biogarafi yang di tulis oleh Schimmel. Saya sangat terkesan dengan apa yang dipaparkan Schimmel. Dan ternyata kekaguman kita kepada seseorang dapat kita tuangkan melalui sebuah tulisan salah satunya adalah biografi orang yang kita kagumi. Demikian Schimmel saking kagumnya ia terhadap sosok Rumi ia menuangkannya dengan menulis biografi tentang Rumi.
Schimmel berbicara tentang kata, istilahnya kata ibarat sebuah pohon. Kata yang baik laksana pohon yang baik. Dengan demikian ia mengutip al- Quran bahwa kata adalah kekuatan kreatif oleh sebagian besar agama di dunia; katalah yang mengantarkan wahyu; kata diamanahkan kepada umat manusia sebagai titipan yang harus di jaga,jangan sampai ada yang teraniaya, terfitnah, atau terbunuh oleh kata-kata. Dapat disimpulakn bahwa bagi Schimmel kata memiliki kekuatan yang tidak dapat kita ukur. Dan pada kekuatan kata inilah terletak tanggung jawab para penyait, lebih-lebih lagi para penerjemah, karena slah satu kesalahan samar saja dapat memicu kesalahanpahaman yang berbahaya.
Seperti dalam sebuah artikel yang pernah saya baca bahwa demikian besar keyakinan Schimmel pada kata-kata, seyakin dia pada moto penyair Jerman Friedrich Ruckert, bahwa puisi mempu menuntun manusia menuju rekonsiliasi dunia. Puisi menurut Rucket, adalah lidah utama umat manusia; puisi menghubungkan manusia kareanaia menjadi bagian dari setiap peradaban dunia. Ia juga menggambarkan kekuatan kata dalam membangun hubungan antar manusia salah satunya dengan karyanya tentang biografi Jalaludin Rumi.
Pesona kata juga yang telah membawa Schimmel melanglang berbagai kawasan masyarakat muslim. Masyarakat yang menurutnya disebut masyarakat yang lebih tertarik pada kata dan bahasa, berbeda dengan rekannya di Barat yang lebih terpikat pada musik. Selain itu ia pernah mencatat pengalaman seorang mahasisiwanya, satu di antara warga Negara Amerika yang di sandera Teheran saat terjadi revolusi Iran. Sang mahasisiwa menyadari peruahan sikap penyanderanya ketika ia melafalkan seuah syair Persia. Kata-kata dalam syair itu telah menjadi sebuah jembatan, mengahapuskan ideologis yang begitu dalam. Persis seperti yang dikatakan Herder, bahwa dari puisi kita mendapatkan pemahaman tentang sebuah zaman atau suatu bangsa secara mendalam, lebih ketimbang yang kita dapatkan dari sejarah politik dan militer.
Hanya semangat dan kecintaannya terhadap kata-kata yang baik yang dapat kita lestarikan. Karena kata-kata yang baik pada era saat ini tak lebih dari kata-kat yangmemisahkan suatu hubungan ketimbang meyatukan suatu hubungan. Sering memutuskan ketimbang menghubungkan. Banyak yang terjadi hanya karena salah perkataan. Setiap orang mempunyai hak untuk berkata atau mengeluarkan pendapat tapi yang terjadi sekarang mereka malah saling perang mulut yang tiada hentinya dilakuakan. Dan itu tak ada gunanya bagi kita yang ada hanya membuat kita jauh dari orang yangmemiliki pendapat yang berbeda. Pepatah lama bilang sekalilancung seumur hidup tidak akan di percayalagi. Mungkin itu jug yang menyebabkan Schimmel membuat karya bernada puisi. Agar si pembaca paham dan meresapi apa yang ingin ia sampaikan. Dan seperti yang telah di jelaskan diatas bahwa dengan kata yang baik maka siapa yang membaca atau mendengarnya pasti akan mempunyai pemahaman yang lebih baik..

Posted in Abdulrazak Gurnah, Karya Sastra, Karya Sastra Islam(i) modern, Modern, Sinopsis karya sastra muslim Eropa modern

Sinopsis Novel "Paradise" Karya Abdulrazak Gurnah



Judul                           : Paradise
Judul Asli                    : Paradise
Penulis                         : Abdulrazak Gurnah
Penerjemah                  : Rika Iffati Farihah
Tahun terbit                 : Februari 2007
Penerbit                       : HIKMAH, Bandung
Jumlah halaman           : 387
 Synopsis
Suatu hari di Afrika Timur, di usianya yang kedua belas, Yusuf harus pergi meninggalkan keluarganya. Dia digadaikan sebagai budak kepada Paman Aziz, seorang saudagar, untuk menjamin utang ayahnya. Kemudian dia dipercaya ikut sang Saudagar berkelana dengan rombongan caravan dagangnya untuk berdagang. Perjalanan melintasi benua Afrika yang penuh keindahan surgawi itu tak berjalan mulus. Pergolakan kekuasaan yang saat itu terjadi membuat rombongan karavannya harus berhati-hati. Yusuf yang muda dan belum berpengalaman belajar tentang kehidupan ketika memasuki dunia yang penuh dengan peperangan dan kebencian antarsuku, agama, takhayul, wabah dan perbudakan anak. Masing-masing suku punya aturan dan karakter sendiri-sendiri, seperti diungkapkan salah seorang rombongan caravan terhadap orang-orang suku barbar “untuk menjadi pendekar penuh, mereka harus berburu singa dan membunuhnya, lalu memakan kemaluannya. Tiap kali mereka memakan sebuah penis, mereka boleh menikahi seorang perempuan,dan semakin banyak penis yang mereka makan,semakin terpandanglah mereka dikalangan orang-orang sebangsanya”, “demi Allah aku mengatakan yang sebenarnya, dan setiap kali mereka membunuh seorang manusia, mereka memotong salah satu bagian tubuhnya dan menyimpanya dalam kantong khusus”. 

Agama menjadi hinaan dan cemoohan dan dianggap biasa karena masing-masing pemeluk agama saling mencemooh agama lain, beberapa penggalan kalimat ini memperlihatkan kebencian yang mendalam diantara mereka, “dengan mata kuning dan bulu keperakan. Terlatih untuk memburu orang Islam. Jika kau paham arti gonggongan marahnya, isinya mengatakan aku suka daging para penyembah Allah. Bawakan daging orang Islam untukku” ucap salah seorang kafir terhadap orang Islam. “bayangkan bagaimana mungkin Tuhan menciptakan mahluk semacam itu! Mereka terlihat seperti sesuatu yang tercipta dari dosa” ucap seorang muslim pada orang-orang Barbar. Belum lagi kuku-kuku kolonialisme Eropa yang perlahan mencengkramAfrika mulai menampakan kengeriannya.
Yusuf kemudian tumbuh menjadi seorang pemuda tampan dan dewasa diperantauan. Dia menjadi seorang yang gagah dan pemberani. Banyak orang jatuh cinta dan memendam hasrat kepadanya, baik pria dan wanita. Termasuk pula Sang Nyonya, istri pertama Paman Aziz. Namun hati Yusuf telah tertambat pada Amina, pelayan Sang Nyonya.
Pengalaman adalah guru yang terbaik dalam kehidupan. Perjalanan demi perjalanan yang dilakukan Yusuf telah membuatnya menjadi seorang yang dewasa dan berwawasan. Dalam perjalannya tersebut, dia belajar tentang banyak hal. Alam yang indah dengan kehidupannya yang keras telah merubahnya dari pria yang polos, tidak tahu apa-apa dan penakut menjadi seorang pria yang gagah, pemberani dan kuat. Kebencian antarsuku dan agama yang begitu kuat, diramu dalam cerita dan bahasa yang menyentuh.
Biografi Abdulrazak Gurnah
                             Source: http://literature.britishcouncil.org/abdulrazak-gurnah
Biography
Novelist Abdulrazak Gurnah was born in 1948 on the island of Zanzibar off the coast of East Africa.
Critical Perspective
The writings of Abdulrazak Gurnah are dominated by the issues of identity and displacement and how these are shaped by the legacies of colonialism and slavery.
Bibliography
2011
The Last Gift, Bloomsbury
2007
The Cambridge Companion to Salman Rushdie, editor, Cambridge University Press
2005
Desertion, Bloomsbury
2001
By the Sea, Bloomsbury
1996
Admiring Silence, Hamish Hamilton
1994
Paradise, Hamish Hamilton
1993
Essays in African Literature: A Re-evaluation, editor, Heinemann
1990
Dottie, Cape
1988
Pilgrim’s Way, Cape
1987
Memory of Departure, Cape
Awards
2006
Commonwealth Writers Prize (Eurasia Region, Best Book), Desertion, shortlist
2001
Los Angeles Times Book Prize (Fiction), By the Sea, shortlist
1994
Booker Prize for Fiction, Paradise, shortlist

 

Posted in Klasik, Rumi, Sastrawan Muslim Pertengahan

Hakikat Manusia Dalam Matsnawi Jalal al-Din al-Rumi


“Karena itu, sementara dalam bentuk engkau adalah mikrokosmos,
pada hakikatnya engkau adalah makrokosmos.
Tampaknya ranting itu tempat tumbuhnya buah
padahal ranting itu tumbuh justru demi buah.
Kalau bukan karena mengharap dan menginginkan tubuh,
betapa pekebun itu akan menanam pohon.
Jadi sekalipun tampaknya pohon itulah yang melahirkan buah
(Tapi) pada hakikatnya (justru) pohon itulah yang lahir dari buah.”
(The Mastnawi 4:30)
Maulana Jalaluddin Rumi al-Balkhi adalah seorang arif besar. Beliau lebih dikenal dengan Maulawi Rumi, dan merupakan sastrawan Persia abad ke tujuh Hijriah. Salah satu karya masterpiece-nya adalah Matsnawi, yang isinya membahas tentang banyak hal. Dalam buku Menapak Jalan Spiritual, Murtadha Muthahhari mengatakan, “Matsnawi merupakan samudra filsafat dan irfan, yang sarat dan penuh dengan berbagai hal yang pelik yang bersifat spiritual, sosial dan irfan.”

Pembahasan tentang hakikat manusia adalah salah satu bahasan khusus yang dibahas oleh Rumi dalam Matsnawinya. Memahami hakikat manusia sangatlah sulit bagi sebagian dari kita. Padahal itu merupakan hakikat dirinya. Imam Khomeini pernah mengatakan “Menjadi ulama itu gampang tapi menjadi manusia itu amatlah sulit.” Dengan mengetahui esensi manusia akan mengantarkan seseorang kepada pengetahuan akan Tuhan.
Allah mengungkapkan tanda keagungan dan kekuaasaan-Nya melalui alam dan dalam diri manusia. Sehingga kalau kita mengetahuinya dengan baik maka hidup kita pun akan baik. Allah berfirman : “Akan Kami perlihatkan kepada mereka ayat-ayat (Tanda-tanda Kekuasaan) kami di ufuk (tepi langit) dan pada diri mereka sendiri. Sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Quran ini sebenarnya (dari Allah). Tidakkah cukup bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas tiap-tiap sesuatu.” (QS. Al-Ankabut : 53)
Manusia adalah makhluk yang unik. Hingga kini fisiknya saja masih diteliti dan masih banyak rahasia yang belum terpecahkan. Telebih lagi dari sisi jiwanya. Yang merupakan inti dari segala hal. Dalam hadis banyak disebutkan tentang keutamaan ma’rifatun nafs ini (pengetahuan tentang hakikat diri). Misalnya, Imam Ali berkata, “Barang siapa yang mengetahui hakikat dirinya, maka dia telah mencapai puncak setiap makrifah dan ilmu.”, “Janganlah kalian bodoh dengan tidak mengetahui hakikat diri kalian, karena kalau kalian bodoh dengan itu berarti kalian bodoh dengan segala hal.”, “Cukuplah pengetahuan seseorang itu kalau mengetahui hakikat dirinya dan cukuplah kebodohannya kalau tidak tahu akan hakikat dirinya.”
Maulawi Rumi adalah termasuk orang yang mengetahui hakikat dirinya, sehingga dia mencapai puncak makrifat dan keyakinan. Sebagaimana yang diutarakan dalam bait-bait syairnya. Dalam bait pertama dia mengatakan : “Karena itu, sementara dalam bentuk engkau adalah mikrokosmos, pada hakikatnya engkau adalah makrokosmos.”
Dari segi fisiknya, manusia adalah bagian dari makrokosmos, karena kita hidup di alam. Kita membutuhkan makan, kita membutuhkan air, kita perlu sayuran, kita pun perlu untuk makan daging. Apakah kebutuhan kita akan semua itu secara fitri dan tidak bisa dilepaskan sampai kapan pun ? Atau makanan hanyalah sebagai penunjang saja agar kita bisa bertahan hidup ? Dan alam diciptakan sebagai penunjang dalam hidup manusia ?
Rumi mengatakan bahwa dalam hakikatnya manusia, (bukan fisiknya) adalah makrokosmos. Kita adalah alam lain yang lebih besar dari alam ini. Sebagaimana perkataannya Imam Ali, “Apakah kalian mengira kalian, hanya tubuh kecil ini,padahal kalian adalah alam yang sangat besar.”Aneh memang manusia itu lebih banyak meneliti hal-hal diluar dirinya sedangkan hakikat dirinya sendiri tidak pernah diteliti, tidak pernah mencoba meneropong kedalam jiwanya. Selanjutnya Maulawi Rumi menjelaskan lebih jauh dengan sebuah perumpamaan :
“Tampaknya ranting itu tempat tumbuhnya buah,
padahal ranting itu tumbuh justru demi buah.”
Beliau umpamakan bahwa manusia itu ibarat buah, dan buah merupakan hasil akhir dan harapan petani penanam buah. Sedangkan alam ibarat ranting, ranting tercipta demi buah, ranting hanyalah sebagai wasilah untuk tumbuhnya buah. Jadi yang paling penting itu adalah buahnya bukan ranting atau pun pohon. Sebagaimana sering disebutkan dalam Al-Quran bahwa alam diciptakan merupakan tanda dari kasih sayang Allah akan manusia. Agar manusia bisa memanfaatkannya untuk lebih mendekatkan dirinya kepada Allah. Jadi inti dari itu semua adalah alam diciptakan untuk manusia, yang harus dijadikan sebagai perantara untuk mencapai ridha Allah.
Tapi sayang berapa banyak dari manusia ini yang menjadikan alam, materi, kekayaan sebagai tujuan bukannya sebagai perantara penghantar kepada Tuhan. Dan akibat dari itu adalah penyimpangan dan keserakahan untuk mendapatkan kekayaan dengan menggunakan segala cara. Kita terkadang melebihi binatang untuk mendapatkan hal yang kita inginkan. Kita banyak melakukan penyelewengan dalam menggunakan alam. Yang semestinya kita gunakan untuk kemajuan kemanusiaan kita malah menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan demi menguasai alam. Sebagaimana Allah berfirman, “Apabila kami berikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan darinya (tidak berterima kasih) tapi apabila ia tertimpa kejahatan, ia (berdoa) dengan doa yang panjang.”
Tubuh kita hanyalah perantara, karena kita hidup di alam fisik, alam yang senantiasa bebenturan dengan materi, Rumi melanjutkan : “Kalau bukan mengharap dan menginginkan tubuh betapa  pekebun itu akan menanam pohon.”
Pohon hanya sebagai perantara sang petani untuk mendapatkan buah, karena buah tidak mungkin ada tanpa adanya pohon. Begitu juga hakikat manusia itu tidak akan bercahaya tanpa melalui perantara tubuh kasar ini, tubuh harus mengikuti ruh, dan harus seiring dengan ruh,jangan sampai tubuh dan tuntutannya (hawa nafsu) yang mengendalikan.
Kalau kita pandang sekilas nampaknya kita bagian dari alam, kita tidak bisa lepas dari alam, tapi kalau kita teliti dan mencoba menganalisis lebih jauh rahasia-rahasia alam maka akan nampak dan akan kita ketahui bahwa alam diciptakan untuk kita, alam berasal dari kita, alam sebagai pemandu dan pengingat kita akan keagungan dan kebesaran sang pencipta, sepertinya pohon tumbuh untuk melahirkan buah padahal pohon asalnya dari buah. “Jadi sekalipun pohon itu tampaknya yang melahirkan buah (tetapi) pada hakikatnya justru pohon itulah yang lahir dari buah.”
Maulawi belum menerangkan secara rinci akan hakikat manusia, dia baru menerangkan bahwa kita adalah alam yang lain (makrokosmos lain) dan bukannya bagian dari alam, karena alam yang ini diciptakan demi cintanya Allah pada manusia sebagai bukti, pengantar dan pengingat akan kebesaran-Nya.
Hakikat manusia dalam kaca mata Rumi adalah debu, debu yang mengepul ketika kuda lewat, debu yang mengecap sepatu kuda ketika kaki kuda menginjaknya. Debu yang diinjak kaki sang kuda akan mengecap kaki kuda karena tidak mungkin jika debu diinjak kaki kuda menimbulkan tanda dan cap yang lain, bukan kaki kuda. Manusia seharusnya menjadi khalifah di alam dan bukannya perusak alam. Manusia seharusnya merupakan Tajalli (Manisfestasi) dari keagungan sifat-sifatNya. Manusia seharusnya menjadi khalifah dan duta kebesaran-Nya. Adakah manusia yang seperti itu ?
Jelas ada karena hakikat manusia yang sebenarnya adalah mereka, mereka yang sudah mencapai maqam kedekatan kepada-Nya, merekalah orang-orang yang senantiasa menjaga bumi, menjaga kelestarian alam dan penghuninya, merekalah yang senantiasa mengingatkan kita kepada Pencipta alam yaitu Allah, merekalah para Nabi, para Imam dan para aulia Allah.
Kita harus menjadi debu di kaki-Nya. Karena seharusnya setiap individu adalah menjadi debu di kaki-Nya. Agar kita menjadi hamba-Nya yang berserah diri seperti para wali Allah, supaya kita menjadi mahkota diatas kepala raja, keagungan di atas keagungan.
“…Setiap individu adalah debu,
Hanya telapak kaki kuda itu menjadi cap kaki-Nya di atas debu,
jadilah debu di kaki-Nya demi cap kaki kuda itu
agar engkau dapat menjadi Laksana mahkota di atas kepala raja.”
Namun bagaimanakah caranya untuk mengetahui hakikat diri ini, setelah kita mengetahui bahwa kita adalah makrokosmos dan alam sebagai wasilah kemudian hakikat kita adalah debu di kaki-Nya ? Dan bagaimanakah agar supaya hakikat diri ini senantiasa ada dan terpatri kuat dalam jiwa? Sehingga kita bisa menjadi mahkota di atas kepala raja ?
Karena mungkin saja banyak yang mengetahui hakikat diri tapi sayang hanya sekedar isapan jempol belaka, karena makrifat ini memiliki standar dan ciri tersendiri yang akan selalu tampak dalam sikap dan perbuatan kita sehari-hari, kita hanya terbiasa melihat bulan yang ada di air. Kita terpaku dan terpana dengan melihat indahnya rembulan yang ada di air padahal hakikat bulan ada di langit.
Maulawi Rumi dalam perkataannya yang lain, menerangkan tentang cara untuk mencapai makrifah diri ini, dia mengatakan bahwa untuk mencapai makrifah ini adalah dengan cara Tazkiyatun nafs, membersihkan diri dari debu keegoisan, mensucikan diri dari lumpur kemaksiatan dan mengosongkan diri dari selain-Nya. Senantiasa menghiasi diri dengan mengingat-Nya.menerangi jiwa dengan selalu berbuat baik, dan menanamkan asma-NYA dalam jiwa agar tidak gelap. Sehingga dengan jelas akan terlihat jalan dan tidak pernah tersandung, jalannya akan senantiasa lurus dan tidak pernah bengkok karena selalu dalam sinaran-Nya.
Hanya dengan mengosongkan diri dari selain-Nya dan menghiasi jiwa dengan keagungan-Nya kita bisa tahu siapa diri ktia, apa hakikat diri kita yang sebenarnya. Kita harus senantiasa berkontemplasi agar tahu hakikat diri kita dengan pasti. Rumi bertutur :
“Oh sucikanlah seluruh jiwamu dari debu keegoisan
bebaskanlah dirimu dari sifat mementingkan diri sendiri
sehingga kau lihat sendiri hakikat dirimu bersih tanpa noda,
lihatlah dalam lubuk hatimu pengetahuan para nabi
tanpa buku, tanpa perantara, tanpa guru.”
Itulah sosok Maulawi Rumi, Wali Allah yang telah mengetahui dirinya, telah mengosongkan dirinya dari selain-Nya, telah sampai kepada kedudukan debu di kaki-Nya. Sehingga dengan lancar dan gamblang menggambarkan kepada kita cara mengetahui dan menjadi debu di kaki-Nya. Kita sebagai manusia yang tidak mengetahui kebutuhan jasadi saja harus kembali merenungi perkataan sang maulawi, agar kita seperti dia, menjadi debu di kaki-Nya.
Akhirnya Maulawi mengungkapkan kekesalannya dengan mengungkapkan sebuah cerita, yaitu dia merasa kesal karena tidak pernah bertemu dengan manusia. Dia hanya selalu bertemu dengan hantu dan hewan-hewan yang menakutkan. Dia ingin sekali bertemu dengan manusia. Dan ingin selalu mencarinya, walau pun butuh waktu yang lama. Dia mengungkapkan kekesalannya dengan syairnya :
“Kemarin sang tuan jalan-jalan keliling kota, dan lentera di tangannya. Ia berkata, “aku bosan dengan hantu dan hewan, aku rindu bertemu manusia, hatiku jenuh melihat sahabat patah semangat. Aku ingin melihat singa Tuhan rastam putra zal, mereka berkata : “kami telah mencarinya dalam waktu yang panjang ia tak ditemukan ia Menjawab, “Sesuatu yang tak ditemukan itulah yang senantiasa aku cari.”
Sumber : http://buletinmitsal.wordpress.com/about/hakikat-manusia-dalam-matsnawi-rumi/yang mengutip dari Majalah Syi’ar terbitan Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta

Posted in Abad Pertengahan, Hamzah Fansuri, Karya Sastra, Karya Sastra Muslim Nusantara

Pencitraan Allah dalam Syair-Syair Hamzah Fansuri


     Sosok dan karya intelektual Hamzah Fansuri terus menerus menjadi perbincangan hangat di kalangan para pengkaji dan pemerhati sufis, sejarah Islam di Nusantara, dan sejarah sosial intelektual Islam di Indonesia. Sekalipun, dimunculkan dalam sosok yang dianggap kontroversial karena pandangan-pandangan atau cara mengekspresikan pandangannya yang berbeda, namun Hamzah Fansuri tetap memiliki akar sejarah dan intelektual dalam pararelisme sejarah dan intelektual Islam Indonesia. 
      Di bawah inidisajikan tulisan yang ditulis oleh Nab Bahany AS tentang  “Eksistensi Allah dalam Syair-Syair Hamzah Fansuri”. Di dalamnya konsepsi Allah dari Hamzah Fasuri dibedah dari berbagai segi, dan hasilnya adalah konsepsi Allah dari Hamzah Fansuri tetaplah monoteistik dan tidak keluar dari ajaran Islam mainstream.  
“Eksistensi Allah” dalam Syair Hamzah Fansuri
Nab Bahany As

Banyak dari kalangan Sejarawan, Sastrawan, dan Budayawan di berbagai belahan dunia yang menaruh minat untuk mengkaji perkembangan sejarah sosial intelektual Islam di Nusantara. Berbagai dinamika intelektual dan pergulatan sosial-budaya dalam perjalanan sejarah Islam di Nusantara dari zaman ke zaman ini memiliki daya tarik, akar sejarahnya sendiri, dan “semangat zaman”nya sendiri. Di antara tokoh Sufi dan Sastrawan terkenal di Nusantara (dan dunia Melayu) adalah sastrawan klasik dan ulama sufi terkenal dari Aceh, yakni Syeihk Hamzah Fansuri (1607). Dalam sejarahnya ia dikenal sebagai tokoh pelopor lahirnya kesusastraan Melayu Indonesia. Mengenai identitas Syeikh Hamzah Fansuri, sebuah syair yang disusunnya menyebutkan:

Hamzah ini asalnya Fansuri //
Mendapat wujud di tanah Shahrnawi //
Beroleh khilafat ilmu yang ‘Ali //

Daripada ‘Abd al-Qadir Jilani.

Hamzah di negeri Melayu //

Tempatnya kapur di dalam kayu.

Hamzah Fansuri di dalam Mekkah //

mencapai Tuhan di Baitul Ka’bah //
dari Barus terlalu payah //

akhirnya dijumpa di dalam rumah.

Hamzah Fansuri orang uryani //

seperti Ismail menjadi qurbani //
bukan Ajami  lagi Arabi //
senantiasa wasil dengan Yang Baqi.

Dari beberapa syair di atas, Syekh Hamzah Fansuri adalah berasal dari wilayah sekitar Aceh, yang terdapat padanya Fansur (Aceh Selatan), Tanah Shahrnawi (Perlak), negeri Melayu (Pasai-Malaka), Barus (Sumatra Utara). Adapun pernyataannya sebagai orang Uryani dan bukan Ajami lagi Arabi, dapat ditafsirkan sebagai keturunan yang berasal rumpunnya  dari bangsa Aria, yang lebih dekat dengan bangsa Romawi. Biasanya rumpun Melayu asal lebih mendekati keturunannya dari suku Iskandar Zulkarnaen yang memang diketahui berasal dari Rumawi klasik dan bukan dari bangsa Ajami yang biasanya menunjuk kepada bangsa Persia dan juga bukan dari keturunan bangsa Arab secara langsung.

Mengenai masa hidup Syekh Hamzah para peneliti masih banyak yang berbeda pendapat tentangnya. Penemuan terkini yang dikemukakan Claude Guillot dan Ludvik Kalus, yang menyebutkan bahwa Syekh Hamzah wafat pada tahun 1527 M dan dimakamkan di pekuburan Ma’la di Mekkah,

Para sarjana sastra di Aceh lebih berkutat pada karya-karya sastra modern yang dihasilkan pujangga baru atau sesudahnya. Sehingga banyak karya-karya sastra periode klasik di Aceh, seperti karya-karya Hamzah Fansuri tenggelam dari pemahaman mereka. Di tengah luputnya perhatian sarjana sastra di Aceh terhadap karya-karya Hamzah Fansuri, dua minggu lalu, saya dihadiahkan sebuah buku oleh Dr. Syarifuddin, M.Ag, Dosen Fakultas Adab IAIN Ar-Raniry. Judul bukunya: “Wujudiyah Hamzah Fansuri Dalam Perdebatan Para Sarjana; Kajian Hermeneutik atas Karya-Karya Sastra Hamzah Fansuri”. Buku yang diterbitkan oleh penerbit Almahira Jakarta, Maret 2011, adalah tesis dari Dr. Syarifuddin dalam menyelesaikan program S-2 pascasarjana IAIN Ar-Raniry Banda Aceh pada tahun 2000. Buku setebal 200 halaman ini memang menarik untuk dibaca, terutama dalam memahami sejarah perdebatan tuduhan sesat terhadap penganut ajaran wujudiyah Hamzah Fansuri di Aceh. Dalam buku ini Dr. Syarifuddin, setidaknya telah menaruh perhatian besar terhadap karya syair-syair Hamzah Fansuri, yang kemudian menjadi polemik basar di Aceh. Karena sebagian ulama Aceh saat itu (akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17), terutama Syeihk Nuruddin Ar-Raniry menuduh Syeihk Hamzah Fansuri telah menyebarkan ajaran Islam yang sesat melalui syair-syairnya.

Sumber: 

Sisi lain yang mebuat buku ini jadi menarik adalah di samping kita dapat memahami karya-karya sastra klasik Hamzah Fansuri, juga sedikitnya kita dapat mengetahui bagaimana Syeihk Nuruddin Ar-Raniry–seorang ulama besar Aceh asal Ranir India–mengklaim ajaran wujudiyah yang dikembangkan Hamzah Fansury di Aceh dulu sebagai ajaran sesat. Sehingga, tidak sedikit karya-karya Hamzah Fansuri atas fatwa Nuruddin Ar-Raniry ketika itu harus dibakar, dan pengikut Hamzah juga tidak sedikit yang dibunuh atas fatwa Nuruddin Ar-Raniry.

Hamzah dan Tuhan
Dalam buku ini, sang penulisnya memaparkan, akar dari tuduhan sesat yang dilancarkan Nuruddin Ar-Raniry terhadap Hamzah Fansuri, karena Hamzah dianggap sebagai ulama yang telah menyamakan “Tuhan dengan alam” melalui ajaran wujudiyah yang dikembangkan. Dalam pemahaman Ar-Raniry wujudiyah ini adalah zindiq (sesat) dan panteistis. Memang dalam konsep Hamzah Fansuri, Tuhan adalah satu-satunya pemilik wujud yang hakiki yang dipancarkan kepada alam. Ibarat cahaya mata hari yang menerangi alam secara terus menerus. Jadi, alam dalam konsep Hamzah adalah wujud wahmi (bayangan) yang dipancarkan oleh cahaya. Sedangkan Allah adalah wujud hakiki yang memberikan bayangan kepada alam yang fenomenal. Konsep ini dapat dipahami seperti dilukiskan Hamzah dalam syair yang sangat simbolik di bawah ini:

Cahaya atar-Nya tiadakan padam
Memberikan wujud pada sekalian alam
Menjadikan makhluk siang dan malam
Ila abad al-abad tiada karam

Syair di atas, menurut penulis buku ini, sebenarnya Hamzah ingin memperlihatkan perbedaan esensial antara Tuhan dan alam. Karena dalam konsep Hamzah Fansuri, alam adalah penampakan (tajalli) Tuhan, seperti ombak yang muncul dari laut yang dalam. Maka pada taraf ini Tuhan dalam pandangan Hamzah Fansuri adalah Musyabbah, serupa dengan makhluknya pada tingkat tertentu. Atau secara analogis, dalam aspek-Nya yang imanen, Tuhan tidak terpisah dari menifestasi-manifestasinya. Laksana laut yang tak dapat dipisahkan dari ombaknya. Kansep ini juga dilukiskan Hamzah Fansuri dalam syairnya:

Tuhan kita itu seperti bahr al-amiq
Ombaknya penuh pada sekalian tariq
Laut dan ombak keduanya rafiq
Akhir ke dalamnya jua ombaknya ghariq

Di sini dapat dipahami bahwa Hamzah menamsilkan zat Allah seperti bahr al-amiq (seperti laut yang dalam) yang tak terhingga. Tapi ini bukan berarti bahwa Hamzah telah mengindektikan Tuhan dengan alam seperti yang dituduh Nuruddin Ar-Raniry. Syair di atas harus dianalogikan bahwa Hamzah Fansuri ingin mengatakan Tuhan itu adalah mutlak keesaan-Nya, tidak terbatas oleh waktu dan tempat. Sebagaimana halnya ketidakterbatasan laut yang dalam dengan ombaknya. Ini mengandung makna bahwa Hamzah Fansuri mengakui bahwa Tuhan dalam esensi-Nya adalah Yang Tidak Tampak dan transenden (tanzih) secara total. Tidak dapat dilihat, diketahui, dan didekati secara absolut.

Ketidakmampuan Ar-Raniry
Maka yang menjadi masalah di sini, atas dasar apa Syeihk Nuruddin Ar-Raniry melancarkan kecaman sesat terhadap ajaran Wujudiyah Hamzah Fansuri. Kalau Nuruddin Ar-Raniry beralasan bahwa dalam ajaran Hamzah telah menyamakan Tuhan dengan alam, alasan ini malah semakin menampakkan ketidakmampuan Ar-Raniry dalam menangkap simbol-simbol yang terkandung di balik makna syair-syair Hamzah Fansuri.
Seperti dijelaskan dalam buku Dr. Syaifuddin ini, sekiranya Nuruddin Ar-Raniry mampu menangkap “dari dalam teks” yang tersembunyi di balik syair-syair Hamzah, tentu Ar-Raniry tidak akan mengklaim Hamzah Fansuri telah kufur dan sesat. Tetapi, karena Ar-Raniry tidak mampu menangkap simbol-simbol dan makna ungkapan Hamzah yang metaforik dalam syair-syairnya, maka tak heran kalau Ar-Raniry melancarkan kecaman sesat atau mulhid terhadap ajaran Wujudiyah.
Nuruddin Ar-Raniry dalam memahami pikiran Hamzah telah terjebak dalam makna lahir yang nampak di balik permukaan teks yang tersembunyi dalam syiar-syair Hamzah Fansuri. Misalnya, Hamzah mengungkapkan: “Tamsilnya seperti biji pohon, pohonnya di dalam biji itu lengkap serta dalam biji itu. Maka nyatalah bahwa seru semesta alam sekaliannya adalah lengkap berujud dalam Haqq Ta’ala. Maka ke luarlah alam daripada-Nya, seperti pohon kayu yang ke luar dari bijinya”. Ungkapan Hamzah ini diterjemahkan Nuruddin Ar-Raniry bahwa Hamzah Fansuri telah mengajarkan paham bahwa Tuhan itu identik dengan alam.
Padahal, yang ingin dikatakan Hamzah dalam ungkapan itu, Hamzah melihat Tuhan dari dua aspeknya, yaitu aspek al-batin (yang tidak nampak) dan al-zahir (yang nampak). Dua aspek ini ditamsilkan Hamzah Fansuri seperti pohon kayu yang masih tersembunyi di dalam sebutir biji. Pada taraf ini, Tuhan dalam pandangan Hamzah: Dia-lah Tuhan yang dalam esensi-Nya adalah yang tidak tampak dan transenden (tanzih) secara total. Akan tetapi, Ar-Raniry telah menafsirkan lain dari apa yang diungkapkan Hamzah. Malah dengan ungkapan itu, Ar-Raniry mengatakan bahwa Hamzah telah menyamakan Tuhan dengan alam.
Hasil kajian Dr. Syarifuddin ini, tampaknya makin terkuak ketidakmampuan Syeihk Nuruddin Ar-Raniry dalam menjangkau pikiran-pikiran Hamzah Fansuri. Hal ini bisa jadi karena Ar-Raniry adalah sosok ulama fiqih yang model pemikiran keislamannya banyak dipengaruhi oleh pemikiran Syeihk Ahmad Sirhindi (1624), seorang ulama dari daerah asal Nuruddin Ar-Raniry di Ranir India. Di mana pemikiran Ahmad Sirhindi ini cenderung menolak pola-pola pemikiran keinslaman yang sufistik. Hal ini pula yang kemudian diterapkan Nuruddin Ar-Raniry di Aceh, ketika ia menbat Qadhi Malikul Adil (Mufti Kejaraan Aceh) pada masa Pemerintahan Sultan Iskandar Shani (1636-1641 M).
Sedangkan Syeihk Hamzah Fansuri adalah sosok ulama tasauf (ahli sufi) yang pemikirannya lebih banyak dipengaruhi oleh sufi-sufi terbesar dari Persia. Sepanjang sejarah pemikiran Islam, antara ulama fiqih dengan ulama tasauf memang tidak pernah saling ketemu pemikirannya, keduanya selalu berkonflik, terutama dalam memahami persoalan Ketuhanan. Dan karena konflik itu pula sehingga dalam perjalanan sejarahnya banyak ulama-ulama sufi akhirnya harus mengakhiri hidupnya di tiang eksekusi alias dibunuh.
Kasus penjatuhan hukuman mati terhadap Al-Hallaj (w.922 M) adalah tragedi dunia sufi yang sangat memilukan. Demikian pula putusan penguasa kerajaan Demak di Jawa yang menghukum pancung Syeihk Siti Jenar karena dianggap sesat dengan mengembangkan ajaran Wahdatul Wujud (pemahaman sufi tingkat tinggi) juga tragedi yang dialami dunia sufi yang amat tragis. Seperti juga halnya yang dialami oleh murid-murid Syeihk Hamzah Fansuri di Aceh, mereka banyak yang dibunuh (dieksekusi) atas fatwa sesat yang dikeluarkan oleh Syeihk Nuruddin Ar-Raniry ketika ulama dari Ranir India ini diberi jabatan Qadhi Malikul Adil di Kerajaan Aceh pada masa Sultan Iskandar Shani. Haruskah Nuruddin Ar-Raniry bertanggung jawab atas fatwanya sebagai awal dari terjadinya kekacauan kehidupan beragama di Aceh? Wallahu’alam.

Pengaruh
Pengaruh pemikiran Syeikh Hamzah Fansuri cukup kuat pada ulama-ulama Aceh dan Melayu setelah ditinggalkannya, terutama pada keulamaan Syeikh Syamsuddin Sumatrani.  Syekh Hamzah banyak disebut dalam karya-karya Syekh Syamsuddin al-Sumatrani dan  murid-muridnya yang hidup antara tahun 1580-an sampai masa Maulana Syiah Kuala akhir 1680-an. Penemuan ini diperkuat dengan kajian literatur karya-karya paham wujudiyah dalam pembahasan martabat yang dianut Syekh Hamzah lebih klasik (lima martabat) dibandingkan dengan pemahaman Syekh Syamsuddin terkemudian, yang telah menjelaskan “Martabat Tujuh”. Ajaran Martabat Tujuh ini mulai berkembang pada pertengahan abad ke-16, yakni setelah wafatnya Syekh Hamzah, sehingga belum menjadi pembahasan beliau.

Nab Bahany As
* Penulis adalah budayawan, tinggal di Banda Aceh

Sumber: http://yasirmaster.blogspot.com/2011/10/keberadaan-tuhan-dalam-syair-hamzah.html