Posted in Tradisi

“NGUKUS”: TRADISI MEMBAKAR KEMENYAN


Pengertian “Ngukus

“Ngukus” merupakan kata kerja dari kata “kukus” , yang mempunyai makna asal “mengepul”, “berasap”, ataupun “mengeluarkan asap”. Dalam budaya Sunda, “Ngukus ” bermakna “aktivitas membakar menyan (kemenyan) yang menyertai ritual tertentu. Sedangkan, “kukusan” bermakna tempat “kukus” yang biasanyadibuat dari tembikar berbetuk mangkuk.

“Kemenyan” berasal dari “getah” [eksudat] kering yang berasal dari pohon kemenyan, yang keluar dengan sendirinya atau senagaja ditoreh [diturih], serupa dengan cara mengambil getah karet. Terdapat beberapa jenis kemenyan yang masing-masing memiliki kadar wangi yang berbeda-beda, sangat tergantung pada kualitasnya.  Kemenyan yang bagus, pada masanya,  mempunyai harga sebanding dengan emas.

Continue reading ““NGUKUS”: TRADISI MEMBAKAR KEMENYAN”

Advertisements
Posted in Kampung Adat, Tradisi

Tradisi “Muludan”


Tulisan di bawah ini tidak dimaksudkan untuk melihat tradisi muludan atau maulid dalam kerangka teologis-doktrinal, tetapi tradisi ini ditempatkan sebagai ekspresi kultural masyarakat muslim-sunda berkaitan dengan momen, tempat, atau person tertentu.      

Muludan adalah salah tradisi yang seringkali diselenggarakan oleh masyarakat Muslim-Sunda terkait dengan hari kelahiran Nabi Muhammad saw.  Sebagian orang Sunda Muslim menyebutnya Muludan atau Maulidan merujuk pada Maulid (hari kelahiran) Nabi Muhammad saw. Kelahiran Muhammad saw. sediri diyakini tepat pada tanggal 12 Rabi’ul Awal pada kalender Hijriyah. Namun orang Sunda-Muslim menyebut bulan ini dengan sebutan bulan Mulud, karena terkait dengan kelahiran Nabi.

Continue reading “Tradisi “Muludan””

Posted in Kampung Adat, Tradisi

Dari Pojok Dunia


MEREKA MASIH ADA!!!

Selalu saja ada yang tak terperhatikan oleh banyak orang, yakni kedamaian, kesejukan, kebersamaan, dan pengabdian yang tulus dari manusia-manusia yang “dimarginalkan” dan “dipojokkan”. Mereka dimarginalkan dan dipojokkan oleh pengetahuan manusia, jamahan media, atau karena disengaja disimpan di “pojok” oleh kekuasaan atau arogansi masyarakat kota atau masyarakat modern. Tidak sedikit mereka adalah merupakan korban ketidakbijaksanaan  dari kebijakan para penguasa atau mal-praktek para borjuis. Ada banyak alasan mengapa mereka marjinal atau dimarjinalkan, baik karena faktor internal maupun eksternal.

Continue reading “Dari Pojok Dunia”