Posted in Eksotisme Dunia Islam, Islam di Eropa dan Amerika

Islam Jadi Agama Terbesar Kedua di 20 Negara Bagian AS


Pertumbuhan kuantitatif jumlah muslim di Amerika terus menunjukkan grafik naik, semoga hal ini diimbangi dengan kenaikan tingkat kualitas. Tulisan di bawah ini menunjukkan hal demikian.

Pertumbuhan penduduk muslim ini disebabkan imigrasi, terutama pengungsi dari Somalia, Irak, Afghanistan dan Bosnia.

Dream – Sensus terbaru Amerika Serikat menyebutkan Islam adalah agama terbesar di 20 negara bagian, setelah Kristen. Data terbaru ini dirilis Asosiasi Statistik dari Badan Keagamaan Amerika, yang melakukan sensus agama setiap 10 tahun sekali.

Menurut Washington Post, Islam datang ke Amerika dan berhasil menjadi agama terbesar kedua di 20 negara, terutama di utara bagian tengah dan bagian selatan Amerika. Di sisi lain, Yahudi memiliki pengikut paling besar di 15 negara bagian, terutama di timur laut. Sementara Hindu di tempat kedua, terutama di Arizona dan Delaware. Sensus ini juga menemukan Kristiani masih menjadi agama terbesar di Amerika Serikat dengan lebih dari tiga perempat penduduk Amerika menganut agama Kristen. Lebih dari setengahnya adalah Protestan, sekitar 23 persen adalah Katolik dan sekitar 2 persen Mormon. Kristen Katolik mendominasi negara-negara bagian yang terletak di timur laut dan barat daya.

Pada sensus sebelumnya yang diterbitkan oleh ASARB menunjukkan secara nasional, penganut Islam tumbuh sebesar 1 juta pada 2000 dan 2010, diikuti oleh Mormonisme. Islam tumbuh sebesar 67 persen, sedangkan Mormonisme tumbuh sebesar 46 persen. Pertumbuhan penduduk muslim ini disebabkan imigrasi, terutama pengungsi dari Somalia, Irak, Afghanistan dan Bosnia. Hal itu ditambah dengan meningkatnya jumlah kelahiran dan mualaf. Meskipun tidak ada pernyataan resmi, AS merupakan rumah bagi 7-8 juta muslim. Menurut sebuah studi 2011 yang dilakukan Pew Forum tentang Agama dan Kehidupan Publik, sekitar 20 persen orang AS menjadi mualaf yang terdiri dari 54 persen adalah laki-laki dan 46 persen adalah perempuan.

Sumber: http://www.dream.co.id/jejak/islam-jadi-agama-terbesar-kedua-di-20-negara-bagian-as-1406067.html

 

Advertisements
Posted in Eksotisme Dunia Islam, Islam di Eropa dan Amerika

Apa yang Bikin Orang Barat Menjadi Muslim?


 

Kalimat syahadat di dinding sebuah universitas di jerman
Kalimat syahadat di dinding sebuah universitas di jerman
REPUBLIKA.CO.ID, Islam bukan lagi menjadi agama asing di dunia Barat. Usai peristiwa 9 September, berbondong-bondong warga Amerika Serikat dan Eropa bersyahadat memeluk Islam.
Dikutip dari Onislam, Pada tahun 2009, sekitar 40.000 orang Inggris , 70.000 warga negara Prancis dan 100.000 orang Amerika Serikat menjadi Muslim. Jutaan lainnya mengikuti bersyahadat dari beragam profesi. Mulai pesepakbola, hingga politikus.
Sebenarnya, apa alasan di balik membludaknya warga Barat yang notabene penuh dengan materialisme untuk tertarik kepada spiritualisme Islam? Apa yang mereka lihat di dalam Islam yang membuat mereka memutuskan untuk menjadi Muslim? Apakah perang di Afghanistan dan Irak atau dukungan Barat untuk Israel mendorong warga Eropa untuk mengucap syahadat?
Ditulis dari Onislam, Orang-orang di dunia Barat telah masuk Islam untuk beberapa waktu. Cassius Clay alias Muhammad Ali, juara tinju dunia untuk kelas barat  sebanyak tiga kali, memeluk Islam pada tahun 1965.

Dia melukiskan perasaannya saat berhaji.  “Perasaan aku sambil berdiri di Gunung Arafat pada hari haji adalah yang paling unik. Aku merasa ditinggikan oleh suasana spiritual yang tak terlukiskan. Di sana, lebih dari satu setengah juta jamaah dipanggil Tuhan untuk mengampuni dosa mereka. Itu adalah pengalaman yang menggembirakan untuk melihat orang-orang milik berbagai warna, ras dan kebangsaan, raja-raja , kepala negara dan orang-orang biasa dari negara-negara sangat miskin semua berpakaian dalam dua lembar putih sederhana berdoa kepada Tuhan tanpa rasa baik kesombongan atau rendah diri. Itu adalah manifestasi praktis dari konsep kesetaraan dalam Islam.”
Sementara, Jemima Goldsmith, putri miliarder Inggris Sir James Goldsmith, memeluk Islam ketika baru berusia 21 tahun. Dia berkata, “Tampaknya bahwa kebahagiaan seorang wanita Barat yang sebagian besar bergantung pada klub malam, alkohol dan pakaian yang terbuka, dibandingkan dengan tidak adanya kebebasan dan kemewahan dalam masyarakat Islam yang  seperti dipandang sebagai pelanggaran hak-hak dasar nya. Namun, seperti yang kita semua tahu, fasilitas super (di barat) memiliki sangat sedikit hubungannya dengan kebahagiaan sejati.”
Setelah pencarian yang lama untuk makna dan kehidupan ketenaran, obat-obatan , dan rock ‘ n’ roll, Cat Stevens memeluk agama Islam.
Saat memeluk Islam, dia berkata, “Saya menyadari bahwa ini adalah agama yang benar. Agama dimana Barat tidak memahami itu. Bukan hanya terletak pada usia tua Anda. Kita harus mengikuti kehendak Tuhan (Allah ). Kemudian, kita bisa naik lebih tinggi dari malaikat.Hal pertama yang ingin saya lakukan sekarang adalah untuk menjadi seorang Muslim.”
Posted in Eksotisme Dunia Islam, Uncategorized

Turki Berencana Fungsikan Hagia Sophia Sebagai Masjid


Mueseum Hagia Sophia di Turki
Mueseum Hagia Sophia di Turki
REPUBLIKA.CO.ID, ISTANBUL — Pemerintah Turki berencana memfungsikan kembali Hagia Sophia sebagai masjid. Hal itu dibenarkan Wakil Perdana Menteri Turki, Bulent Arinc.

“Saat ini, kami sangat dekat dengan masjid Aya Sofia. Meski Anda tidak mendengar, saya percaya hati Anda berada di dalam,” kata dia, seperti dilansir today zaman, Ahad (17/11).

Arinc yang menghadiri acara pembukaan museum karpet mengatakan masjid Aya Sofia seolah memberitahukan sesuatu akan hal yang perlu dilakukan. Pertanyaannya, apa yang ingin disampaikan.

Hagia Sophia, sebelum penaklukan Ustmani merupakan Gereja Ortodoks di Rowawi Timur. Ketika Ustmani menaklukan Konstantinopel, Sultan Mehmet I mengubahnya menjadi masjid tanpa mengubah apapun di dalamnya.

Memasuki era Republik, pemerintah Turki menjadikan Hagia Sophia sebagai masjid. Sekian dekade, muncul kembali wacana untuk mengembalikan fungsi Hagia Sophia semasa penaklukan Ustmani.

“Mari kita dengarkan apa yang ingin disampaikan. Terima kasih Allah SWT, selama hidup saya, saya berharap bisa menyaksikan dua hal baik, yakni pertama masjid yang bernama Masjid Aya Sofia kembali dibuka. Kedua, Turki adalah negara hukum, dahulu Aya Sofia adalah masjid. Bangunan ini tidak bisa digunakan selain ibadah,” kata dia.

Arinc mengungkap meskipun tidak ada hukum yang menyatakan bahwa masjid bisa berubah ke museum , beberapa pihak mengatakan itu harus menjadi sebuah museum. Namun, pemerintah memiliki tanggung jawab kepada hukum dan menurut hukum ini, masjid tidak dapat digunakan untuk keperluan lain.

Sumber: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/13/11/17/mwez40-turki-berencana-fungsikan-hagia-sophia-sebagai-masjid

Redaktur : Agung Sasongko
Posted in Eksotisme Dunia Islam, Uncategorized

Peninggalan Islam di Malta Dirahasiakan


Makam Muslim di Malta
Makam Muslim di Malta
REPUBLIKA.CO.ID, VALLETTA — Pada periode imperium Islam, posisi Malta sangat strategis. Itu sebabnya, Malta menyimpan rekaman historis yang selama ini ditutup-tutupi.

Hal itu disampaikan, Mark Camilleri, dalam buku terbarunya berjudul ‘Il-Mit Pawlin u l-abbuz tal-Istorja Maltija’, seperti dilansir Malta Today, Rabu (4/12). “Sejumlah peninggalan penting kejayaan Islam ditemukan dalam penelitian di Mdina, sejak lima tahun lalu. Ini artinya, ada yang ditutup-tutupi soal peninggalan ini,” ucap Ketua Dewan Buku Nasional ini.

Tuduhan itu juga sempat dipaparkan Camilleri dalam bukunya berjudul ‘ The Myth Pauline ‘. Dikatakan Camilleri dalam bukunya, ada usaha menyembunyikan sejarah peradaban Islam di Malta dari masyarakat. “Apa yang dilakukan seperti pemerintahan fasis, Nazi Jerman dan Uni Soviet,” tegas dia.

Tuduhan Camilleri bukan tanpa dasar. Dari wawancaranya bersama sejarawan Prof. Godfrey Wettinger, diketahui ada sentuhan peradaban Islam di Malta. Informasi itu diperkuat pula dengan pidato Presiden George Abela yang menyebutkan adanya kapal karam, kapal pelaut Islam di St. Paulus.

Soal itu, Inspektur Anthony Pace menolak tuduhan Camelleri. “Penelitian dilakukan secara bersama-sama. Akurasi ilmiahnya diawasi dengan ketat,” kata dia. Pace berjanji publikasi informasi yang dilakukan sebelumnya akan dipublikasikan dalam dua tahun ini. “Kami kekurangan sumber daya. Ini berdampak pada lambatnya penelitian,” ucap dia.

Populasi Muslim mencapai 400 ribu jiwa. Ada satu masjid di Malta yang dibangun oleh World Islamic Call Society. Fakta lain, beberapa kosa kata bahasa Malta diketahui turunan bahasa Arab.

Redaktur : Agung Sasongko

Sumber: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/13/12/04/mxa24l-peninggalan-islam-di-malta-dirahasiakan

Posted in Eksotisme Dunia Islam, Eksotisme Mesjid di Eropa

Gereja-Gereja di Dunia yang Berubah Menjadi Masjid


Gereja sejatinya merupakan tempat ibadah umat Kristen, sementara Masjid merupakan tempat ibadah umat Islam. Keduanya sama sama tempat untuk melakukan ibadah ketuhan namun cara yang digunakan untuk beribadah berbeda.
Di Inggris dan beberapa wilayah di Eropa dan Amerika, masjid-masjid yang telah berdiri memang tidak semuanya dibangun dari nol atau dari tanah kosong, tetapi dibangun dari tempat ibadah agama lain. Karena kedatangan warga muslim, maka diubahlah tempat ibadah itu menjadi masjid. Seiring dengan banyaknya orang Islam keturunan ataupun pendatang dan juga bertambahnya populasi umat Islam di daerah tersebut, Sehingga sejumlah gereja yang ditinggal oleh ummat kristiani dialihfungsikan menjadi Masjid. Berikut adalah bangunan yang dulunya adalah gereja di sejumlah kota di Inggris yang saat ini telah berubah menjadi Masjid.

1. Gereja Katolik di Inggris terjual pada komunitas muslim
Sebuah gereja Katolik di wilayah Stoke-on-Trent, Kota Cobridge, Inggris, dijual setelah mengalami penurunan umat datang ke tempat itu. Pembelinya adalah komunitas muslim.
Surat kabar the Daily Mail melaporkan, Senin (21/10), Gereja Santo Petrus telah ditutup setelah laku. Identitas pembelinya yakni komunitas muslim belum dapat diungkapkan.
Gereja ini masuk dalam Keuskupan Agung Birmingham. Lebih dari 200 gereja paroki terdaftar. Setiap keputusan soal gereja termasuk penjualan selalu dikonsultasikan dengan pimpinan tertinggi gereja.
Paroki Cobridge memiliki sejarah panjang, namun dalam dua tahun terakhir jumlah umat Katolik menyusut hingga mereka yang menghadiri misa hanya tinggal segelintir orang. Bahkan mereka tidak mampu lagi membangun gereja itu dengan lebih baik.
Gereja itu segera dijual terbuka. Sejumlah penawaran telah diterima, tetapi pengurus gereja mengatakan komunitas muslim lokal di wilayah itu membuat penawaran terbaik. Setelah berkonsultasi dengan paroki lainnya, akhirnya gereja itu resmi terjual pada mereka.

2. Masjid Jamme, dari gereja beralih jadi pusat Islam di London

brick-lance

Tempat ibadah ini juga dikenal dengan sebutan masjid Brick Lane, karena posisinya di Brick Lane 52. Bangunan berdinding bata merah itu, merupakan masjid terbesar di London, yang mampu menampung 4000 jama’ah. Walau demikian luas, masjid ini belum bisa menampung seluruh anggota jama’ah shalat Jumat, hingga sering kali jama’ah meluber ke jalan raya. Mayoritas anggota jama’ah merupakan keturunan Banglades, hingga wilayah tersebut disebut Banglatow.

Masjid ini memiliki sejarah yang sangat unik dan panjang. Awalnya, Masjid Jamme ini bukan difungsikan sebagai tempat ibadah umat Islam. Berdiri tahun 1743, bangunan ini merupakan sebuah bagi komunitas Hugenot atau para pemeluk gereja Protestan yang lari dari Perancis untuk menghindari kekejaman penganut Katolik. Di tahun 1809, bangunan ini digunakan masyarakat London untuk mempromosikan Kristen kepada para pemeluk Yahudi, dengan cara mengajarkan Kristen dengan akar ajaran Yahudi atau menjadi sebuah chapel bagi kaum Metodis. Tapi, program ini juga gagal. Komunitas Metodis cukup lama “memegang” gereja ini. Walau demikian, pada tahun 1897, tempat ini diambil oleh komunitas Ortodok Independen dan berbagi dengan Federasi Sinagog yang menempati lantai dua.

Tapi tahun 1960-an komunitas Yahudi menyusut, karena mereka pindah ke wilayah utara London, seperti Golders Green dan Hendon, sehingga bangunan ditutup sementara, dan hal itu berlanjut hingga tahun 1976. Karena jama’ah Gereja ini terus menurun, maka gereja ini dijual. Pada tahun 1976, barulah bangunan tua ini difungsikan sebagai Masjid Jamme London. Masjid ini menyimpan banyak cerita bagi muslim Inggris yang dibawa oleh imigran asal Bangladesh.

Masjid Jamme merupakan kombinasi dari teknologi modern abad 21 dan juga tradisi yang berabad-abad lamanya. Masjid ini sangat terkenal di sepanjang daratan Eropa dan merupakan pusat kegiatan umat muslim di London. Ambisi dari Masjid Jamme adalah untuk menyebarkan Islam dan melayani komunitas muslim dengan baik serta untuk menghadirkan atau mengenalkan Islam ke masyarakat luas. Di sana terdapat banyak sekali literatur Islam yang bisa ditemukan.

Selain sebagai tempat beribadah, Masjid Jamme juga ikut menyokong pendidikan anak muslim di London. Mereka mempunyai Mosque’s Mother Tongue School dan juga madrasah.
Masjid ini dilengkapi oleh empat kelas belajar yang biasanya digunakan oleh para guru di sana untuk mengajarkan baca Alquran dan juga kajian Islam.

3. Museum Hagia Sophia di Turki jadi masjid

Masjid-Masjid di Dunia Yang Dulunya Adalah Gereja

Sumber: Hagia Sophia foto: istanbulvisions.com

Di tengah masih berlangsungnya demonstrasi besar-besaran, pemerintah Turki berencana mengubah museum Hagia Sophia menjadi masjid.
Sebuah komisi di parlemen Turki Februari lalu tengah menggodok pengajuan permintaan warga untuk mengubah Hagia Sophia di Kota Istanbul itu menjadi sebuah masjid.

Hagia Sophia dalam bahasa Yunani berarti Kebijaksanaan Suci. Dulunya selama ribuan tahun museum itu adalah katedral agung bagi umat Kristen. Gereja itu dibangun pada abad ke-6 di masa Kekaisaran Bizantium dan menjadi Gereja Ortodok Konstantinopel hingga Kekaisaran Ottoman pada 1453. Gereja itu kemudian diubah fungsinya menjadi masjid. Ketika kekaisaran Ottoman jatuh pada Perang Dunia Pertama, pemimpin sekuler Turki Kemal Ataturk mengubah masjid itu menjadi museum.
Namun kini di masa pemerintahan Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan Turki berencana mengubah museum itu menjadi masjid. Menanggapi rencana itu pemimpin gereja Ortodok Bartholomew I dari Konstantinopel menyatakan ketidaksetujuannya.

4. Gereja gothik di Inggris berubah jadi masjid
Di Distrik Didsbury, Kota Manchester, Inggris, berdiri sebuah bangunan gereja berarsitektur Gothik modern. Anehnya gereja ini tidak memiliki salib di puncak menaranya. Memang seharusnya demikian, karena sekarang bangunan gereja ini adalah sebuah masjid.
Salah satu penyebab dari gereja ini menjadi masjid lantaran jumlah jemaat gereja semakin sedikit. Sedangkan jumlah komunitas muslim semakin bertambah.
Warga muslim di Kota Manchester membeli bangunan gereja ini dan mengubahnya menjadi sebuah masjid. Patung dan ornamen gereja lainnya dipindahkan.
Karpet berwarna hijau dipasang di aula utama, mihrab, dan mimbar dipasang di bagian sayap bangunan sesuai dengan arah kiblat, dan ruangan untuk wudlu dan kantor dibangun di beberapa bekas ruangan keuskupan.
Beberapa ruangan lainnya juga dijadikan madrasah di kompleks bangunan bekas gereja yang sekarang bernama Didsbury Mosque ini.

5. Terbengkalai, gereja tua di Inggris berubah jadi masjid
Sebuah bangunan gereja di Kota Clitheroe, Wilayah Lancashire, Inggris beralih fungsi menjadi masjid. Alasan utamanya karena gereja itu sudah lama tidak terpakai, sementara banyak warga muslim di daerah itu membutuhkan sebuah masjid untuk beribadah.
Bangunan itu dahulu bernama Gereja Bukit Sion, sebuah bangunan paling terkenal di Clitheroe, kala itu. Bahkan sempat menjadi lukisan adikarya dari seniman kenamaan, Laurence Stephen Lowry. Judul gambarnya adalah ‘A Street in Clitheroe’ atau ‘Jalan di Clitheroe’.
Namun, entah kenapa gereja ini ditutup selama 14 tahun. Beberapa kali gereja ini berubah fungsi menjadi sebuah toko amunisi, pabrik kotak logam, dan garmen. Sejak itulah, warga muslim kemudian mengajukan gereja itu agar berubah fungsi sebagai sebuah masjid sejak 2006.
Meski saat itu sempat ditentang banyak pihak, terutama dari anggota partai sayap kanan, Partai Nasional Inggris, yang terkenal rasis, namun pengajuan warga muslim tersebut akhirnya disetujui.
Dukungan juga datang dari Anggota Dewan Kota Clitheroe, Jim Shervey. Dia mengatakan warga muslim berhak beribadah di mana pun. Alhasil, pertentangan sudah berhasil diselesaikan.
Kini tujuh tahun telah berlalu. Proses konversi gedung tersebut sudah menginjak tahap akhir. Tinggal dipasang pemanas, lampu, dekorasi dalam, pintu dan jendela. Dana pun masih dikumpulkan.

6. Masjid Sentral Wembley

   wembley-central-mosque-in-london-united-kingdom-0

Masjid ini terletak di jantung kota Wembley, dekat dengan Wembley Park Station. Daerah ini memiliki komunitas Muslim besar dan banyak toko Muslim yang berada di sekitarnya. Gedung masjid ini sebelumnya juga merupakan bekas gereja. Walau sudah terpasang kubah di puncak menaranya, tapi kekhasan bangunan gereja masih nampak jelas.

Dengan demikian, siapa saja yang melihatnya, akan mengetahui bahwa bangunan itu dulunya adalah gereja. Selian masjid-masjid di atas, sebuah gereja bersejarah di Southend juga sudah dibeli oleh Masjid Jami’ Essex dengan harga 850 ribu pound sterling. Gereja dijual, karena jama’ah berkurang, sehingga kegiatan peribadatan dipusatkan di Bournemouth Park Road. Konseskwensinya, gereja ini sudah tidak beroprasi sejak tahun 2006 lalu.

Rencananya gereja akan dijadikan apartemen, tapi gagasan itu ditolak oleh Dewan Southend. Akhirnya, gereja kosong itu dibeli oleh komunitas Muslim yang tinggal di kota itu, yang juga sedang membutuhkan tempat untuk melaksanakan ibadah.

Saat itu jumlah komunitas ini mencapai 250 orang, “gereja bekas” itu merupakan tempat yang sesuai, karena mampu menampung 300 jama’ah. Tidak banyak dilakukan perubahan pada bentuk bangunan yang telah berumur 100 tahun lebih itu, hanya perlu menambah tempat untuk berwudhu dan sebuah menara.

7. Masjid Zakariyya, Bolton

Di Peace Street 20 Bolton, berdiri sebuah gedung besar berkubah yang amat berwibawa, yang lengkap dengan menara. Tempat itu ramai dikunjungi warga Bolton, terutama yang memeluk Islam, bahkan tiap pekannya, ribuan umat Islam hadir di tempat ini, guna melaksanakan shalat Jumat. Gedung itu tidak lain adalah Masjid Zakariyya.

Sejarah berdirinya masjid itu, bukanlah kisah yang singkat. Kala itu antara tahun 1965 hingga 1967 umat Islam Bolton dan Balckburn belum memiliki tempat permanen untuk melaksanakan shalat.
Untuk melakukan shalat Jumat saja, mereka melaksanakannya di The Aspinal, sebuah diskotik dan tempat dansa yang digunakan di malam hari, sedang siangnya di hari Jumat tempat itu dibersihkan para relawan guna dijadikan sebagai tempat melaksanakan shalat Jumat.
Karena jumlah jama’ah semakin bertambah, maka diperlukan tempat besar yang permanen. Dan dimulailah pencarian bangunan yang bisa digunakan sebagai masjid sekaligus islamic center.
Pada tahun 1967, ada penawaran pembelian gedung bekas gereja komunitas Metodis, yang terpaksa dijual karena terbakar. Dengan dana sebesar 2750 pound sterling dari komunitas Muslim lokal, akhirnya bangunan itu menjadi milik umat Islam. Bangunan itulah yang kini disebut Masjid Zakariyya itu.
Tidak hanya Masjid Zakariyya, beberapa masjid Inggris pun memiliki kisah yang hampir sama dengan kisah masjid kebanggan Muslim Bolton itu, yakni sama-sama berasal dari gereja yang dijual, baik karena kehilangan pengikut, atau karena sebab lainnya.

8. Masjid Didsbury, Manchester

 

Masjid ini terletak di Burton Road, Didsbury Barat, Manchester. Gedung yang digunakan sebelumnya merupakan bekas gereja komunitas Metodis, yang bernama Albert Park. Gedung ini tergolong bangunan kuno, karena telah beroprasi sejak tahun 1883.
Akan tetapi, pada tahun 1962 gereja ditutup, dan beralih menjadi masjid dan islamic center. Masjid ini, kini mampu menampung 100 jama’ah, dan yang bertanggung jawab sebagai imam dan khatib hingga kini adalah Syeikh Salim As Syaikhi.

9. Masjid New Peckham

new-peckham-mosque-exterior-2016
[new-peckham-mosque]

Didirikan oleh Syeikh Nadzim Al Kibrisi. Terletak di dekat Burgess Park, tepatnya di London Selatan SE5. Kini masjid ini berada di bawah pengawasan Imam Muharrim Atlig dan Imam Hasan Bashri. Sebelumnya, gedung masjid ini merupakan bekas gereja St Marks Cathedral.

10. Masjid Brent

 
brent_mosque_and_islamic_centre_chichele_road_london_nw2_-_geograph-org-uk_-_412691

Terletak di Chichele Road, London NW2, dengan kapasitas 450 orang, dan dipimpin oleh Syeikh Muhammad Sadeez. Awalnya, bangunan itu merupakan gereja. Hingga kini ciri bentuknya tidak banyak berubah. Hanya ditambah kubah kecil berwarna hijau di beberapa bagian bangunan dan puncak menara.

11. Masjid Jami, Essex

Selain masjid-masjid di atas, sebuah gereja bersejarah di Southend juga sudah dibeli oleh Masjid Jami’ Essex dengan harga 850 ribu pound sterling. Gereja dijual, karena jama’ah berkurang, sehingga kegiatan peribadatan dipusatkan di Bournemouth Park Road. Konseskuensinya, gereja ini sudah tidak beroperasi sejak tahun 2006 lalu. Rancananya gereja akan dijadikan apartemen, tapi gagasan itu ditolak oleh Dewan Southend. Akhirnya, gereja kosong itu dibeli oleh komunitas Muslim yang tinggal di kota itu, yang juga sedang membutuhkan tempat untuk melaksanakan ibadah.
Saat itu jumlah komunitas ini mencapai 250 orang, “gereja bekas” itu merupakan tempat yang sesuai, karena mampu menampung 300 jamaah. Tidak banyak dilakukan perubahan pada bentuk bangunan yang telah berumur 100 tahun lebih itu, hanya perlu menambah tempat untuk berwudhu dan sebuah menara.

Posted in Eksotisme Dunia Islam, Kota Muslim di Timur Jauh

Menengok Muslim Uyghur di Cina: Kashgar, Kota Tua Berusia Ribuan Tahun, Kota Sejuta Kambing


REPUBLIKA.CO.ID, KASHGAR-– Para wartawan Indonesia dan Malaysia diajak melihat pusat kerajinan tangan di pusat kota Kashgar, Xinjiang, China. Namun saat turun dari kendaraan, yang terlihat dan menarik perhatian malah banyak daging domba digantung dan siap untuk dimasak. Menyusuri pusat kerajinan tangan di kota Kashgar, selain banyak toko menjual kerajinan tangan dari perak, alat musik Uyghur, baju dan topi berbulu, pisau, dan makanan khas Kasghar, ternyata banyak ditemui orang melakukan transaksi penjualan domba. Juga restoran yang menjual makanan dengan daging domba.
Menengok Muslim Uyghur di Cina (Bagian 2): Kashgar, Kota Tua Berusia Ribuan Tahun
Kashgar, Kota Tua
Restoran yang menyajikan daging domba juga tersebar di berbagai sudut kota. Di depan restorannya digantung domba yang sudah dikuliti dan siap untuk dimasak. Restoran shabu-shabu ala Tiongkok dan restoran China di hotel pun akan menyajikan daging domba. “Masyarakat Kashgar yang mayoritas etnis Uyghur dan beragama Islam memang suka makan daging domba. Ada yang dibakar seperti sate, namun tusukannya panjang, mie ada daging domba, sup domba, martabak isinya daging domba, bahkan dinsum di sini pun isinya daging domba,” kata Kaderya, pemandu turis kota Kashgar.
Pengaruh Islam
Kegemaran makan daging domba merupakan salah satu budaya masyarakat Kashgar yang dipengaruhi oleh Islam. Bukan itu saja pengaruh Islam di kota yang memiliki peran strategis dalam jalur sutra (silk road). Bahasa dan arsitektur bangunan di kota Kashgar sangat dipengaruhi oleh budaya Islam. Banyak gedung pertokoan, hotel, restoran dan perkantoran menuliskan nama dengan tiga bahasa sekaligus yakni bahasa Uyghur yang menggunakan huruf Arab gundul, bahasa Mandarin, dan bahasa Inggris (huruf latin). Begitu juga dengan papan penunjuk jalan dan nama jalan dituliskan dalam tiga bahasa tersebut.
Kashgar adalah salah satu kota di propinsi Xinjiang, China, yang berbatasan dengan Kyrgyzstan, Afghanistan dan Pakistan yang memiliki peran strategis dalam jalur sutra – jalur perdagangan China, Asia tengah, hingga Eropa. Kashgar adalah pintu keluar masuk jalur perdagangan China dengan negara-negara Asia Tengah dan Eropa pada masa itu. Walaupun di bawah pemerintahan Tiongkok dan Partai Komunis China, namun pengaruh budaya Islam sangat kuat di Kashgar. “Rakyat China tidak ada libur pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, namun penduduk  Kashgar libur selama tiga hari,” kata Imam Masjid Idkah, Ilma.
Karena mayoritas penduduknya muslim, pemerintah China memberikan otonomi kepada masyarakat kota Kashgar, dan juga propinsi Xinjiang. “Otonomi yang diberikan kepada kota Kashgar adalah boleh menegakan hukum sesuai dengan adat istiadat masyarakat setempat namun tidak bertentangan dengan UUD pemerintahan Beijing,” tambah Ilma. Oleh sebab itu, muslim di Kashgar boleh merayakan Idul Adha dan libur selama tiga hari. Ada sekolah khusus bahasa Uyghur yang menggunakan huruf Arab. Dan menggunakan huruf Arab pada papan nama perkantoran, restoran, pertokoan dan lain lainnya.
Kashgar merupakan salah satu destinasi wisata Islam China yang menarik untuk dikunjungi. Banyak peninggalan sejarah Islam di sana. Misalkan, Masjid Idkah, di pusat kota Kashgar, yang dibangun tahun 1442. Ini merupakan masjid yang terbesar di China dan mampu menampung 100 ribu orang untuk melakukan sholat Idul Fitri dan Idul Adha. Masjid dan pesanten para ulama besar di Kashgar yang juga cukup berpengaruh dalam penyebaran Islam di Tiongkok. Tiga ulama besar yakni Mahmud Kashgari Tomb, Yusuf Has Hacib Tomb, dan Xianfei Thomb atau yang lebih dikenal dengan Abakh Hojam Tomb.
Mahmud Kashgari telah mendirikan pusat kajian dan penyebaran Islam sejak abad ke-10 dan membangun kawasan Islamic (pesantren) 48 Km dari kota Kashgar. Ulama ini meningglkan pesantren yang cantik dan menarik untuk dikunjungi. Ulama Yusuf tidak banyak meninggalkan bangunan sejarah, tapi Abakh Hojam Tomb meninggalkan pesantren, masjid tercantik di China dan kuburan keluarganya dalam sebuah bangunan seperti masjid dengan dinding marmer warna-warni. Lokasinya hanya lima Km dari kota Kashgar.
Banyak turis domestik dari Shanghai, Hongkong Beijing dan turis asing misalkan dari Taiwan, Eropa dan Amerika yang tertarik dengan KotaTua Kashgar. Kota dengan bangunan dan model abad ke-10 masih bertahan, bahkan masih didiami sekitar 10.000 orang atau 2.000 keluarga. Bangunannya masih terbuat dari tanah liat dan rumput (jerami). “Masyarakat yang tinggal di kota tua ini adalah etnis Uyghur, semuanya beragama Islam. Hingga kini mereka adalah keturunan dari etnis Uyghur yang sudah tinggal ribuan tahun lalu,” kata Murod, pemandu wisata kota tua. Arsitektur Islam sangat kental pada rumah-rumah di kota tua itu.
Untuk belanja, wisatawan dapat menikmati pertokoan dan pusat perbelanjaan di Bazzar Kashgar. Pusat pertokoan yang sudah ada sejak 2.000 tahun lalu, atau ratusan tahun sebelum Masehi, di mana Kashgar memang merupakan kota yang strategis dan berperan penting dalam jalur sutra. Jalur perdagangan yang menghubungkan China, dengan negara-negara Asia Tengah, hingga ke Eropa. Semua pedagangnya adalah etnis Uyghur yang muslim. Berbagai produk Kashgar, Pakistan, Afghanistan, Rusia, juga produk dari China dapat dijumpai di Bazzar Kashgar. “Bagi wisatawan Indonesia dan masyarakat muslim lainnya, jangan takut, sebagian besar restoran di sini menyajikan makanan halal,” kata Kaderya, pemandu wisata Kashgar.
Namun sayang belum ada penerbangan internasional yang langsung ke kota Kashgar. Hanya satu penerbangan asing yang melayani rute Kashgar – Urumqi – Islamabad – Istambul. Dari Asia Tenggara, wisatawan harus terbang ke Beijing, kemudian ke Urumqi, baru terbang lagi ke Kashgar. Masalah komunikasi juga sulit. Sangat jarang warga Kashgar bisa berbahasa Inggris. Mereka umumnya menggunakan bahasa Mandarin dan Uyghur. Namun, bagi wisatawan muslim yang mau melihat sejarah Islam di China dan punya tantangan maka Kashgar patut menjadi pilihan.
 
Redaktur: Stevy Maradona
Sumber: Antara
Sumber:
  1. http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/11/11/07/lu9nc9-menengok-muslim-uyghur-di-cina-bagian-1-kashgar-kota-sejuta-kambing
  2. http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/11/11/07/lu9nzn-menengok-muslim-uyghur-di-cina-bagian-2-kashgar-kota-tua-berusia-ribuan-tahun

 

Posted in Eksotisme Dunia Islam, Eksotisme Mesjid di Eropa

Masjid Hagia Sophia


Turki Kembalikan Museum Hagia Sophia Menjadi Masjid

REPUBLIKA.CO.ID,ISTANBUL– Berita membahagiakan datang dari Istambul, Turki. Terbetik kabar, bangunan bersejarah Hagia Sophia atau Aya Sofia akan difungsikan sebagai masjid kembali. Bangunan bersejarah, Hagia Sophia di Istanbul, tersebut sebelumnya merupakan Katedral Ortodoks Cathedral dan sebuah masjid, lalu menjadi museum. Surat Kabar Turki, Sabah, Senin (31/10/2011) melaporkan perbaikan tengah dilakukan guna memfungsikan kembali Hagia Sofia sebagai sebuah Masjid. Dalam perbaikan itu, sebuah mimbar rencananya akan dibangun. Sebelumnya, Wakil Perdana Menteri Turki Bulent Arinc saat kunjungan ke museum mengatakan pemerintah Turki akan melakukan perubahan besar pada Hagia Sofia.

Turkey
 
Aya Sofia Akulturasi Budaya Islam-Kristen
Pada masa dinasti Turki Utsmani, dibangun empat buah menara sebagai simbol Islam. Kini namanya Museum Aya Sofia. Sebelum menjadi museum, bangunan ini dulunya adalah masjid. Dan sebelum menjadi masjid, ia adalah gereja yang bernama Haghia Sopia. Usia bangunan ini sudah sangat tua, sekitar lima abad. Bangunan ini merupakan kebanggaan masyarakat Muslim di Istanbul, Turki. Keindahan arsitekturnya begitu mengagumkan para pengunjung. Karenanya, jika berkunjung ke Istanbul, belum lengkap tanpa melihat kemegahan Aya Sofia.
Tampak dari luar, pengunjung disuguhkan ukuran kubah yang begitu besar dan tinggi. Ukuran tengahnya 30 meter, tinggi dan fundamennya 54 meter. Ketika memasuki area bangunan, pengunjung dibuai oleh keindahan interior yang dihiasi mosaik dan fresko. Tiang-tiangnya terbuat dari pualam warna-warni. Sementara dindingnya dihiasi beraneka ragam ukiran. Selain keindahan interior, daya tarik bangunan ini juga didapat dari nilai sejarahnya. Di sinilah simbol pertarungan antara Islam dan non-Islam, termasuk di dalamnya nilai-nilai sekuler pascaruntuhnya Kekhalifahan Turki Usmani.
Gereja
Sebelum diubah menjadi masjid, Aya Sofia adalah sebuah gereja bernama Hagia Sophia yang dibangun pada masa Kaisar Justinianus (penguasa Bizantium), tahun 558 M. Arsitek Gereja Hagia Sophia ini adalah Anthemios (dari Tralles) dan Isidorus (dari Miletus). Berkat tangan Anthemios dan Isidorus, bangunan Hagia Sophia muncul sebagai simbol puncak ketinggian arsitektur Bizantium. Kedua arsitek ini membangun Gereja Hagia Sophia dengan konsep baru. Beberapa perubahan pun dilakukan oleh para penerus keduanya, terutama menyangkut kubahnya. Hal ini dilakukan setelah orang-orang Bizantium mengenal bentuk kubah dalam arsitektur Islam, terutama dari kawasan Suriah dan Persia. Keuntungan praktis bentuk kubah yang dikembangkan dalam arsitektur Islam ini, terbuat dari batu bata yang lebih ringan daripada langit-langit kubah orang-orang Nasrani di Roma, yang terbuat dari beton tebal dan berat, serta mahal biayanya.
Konsep kubah dalam arsitektur Islam ini dikombinasikan dengan bentuk bangunan gereja yang memanjang. Dari situ kemudian muncullah bentuk kubah yang berbeda secara struktur, antara kubah Romawi dan kubah Bizantium. Pada arsitektur Romawi, kubah dibangun di atas denah yang sudah harus berbentuk lingkaran, dan struktur kubahnya ada di dalam tembok menjulang tinggi, sehingga kubah itu sendiri hampir tidak kelihatan. Sedangkan kubah dalam arsitektur Bizantium dibangun di atas pendentive–struktur berbentuk segitiga melengkung yang menahan kubah dari keempat sisi denah persegi–yang memungkinkan bangunan kubah tersebut terlihat secara jelas.
Bangunan gereja ini sempat hancur beberapa kali karena gempa, kemudian dibangun lagi. Pada 7 Mei 558 M, di masa Kaisar Justinianus, kubah sebelah timur runtuh terkena gempa. Pada 26 Oktober 986 M, pada masa pemerintahan Kaisar Basil II (958-1025), kembali terkena gempa. Akhirnya, renovasi besar-besaran dilakukan agar tak terkena gempa di awal abad ke-14. 
Pengembangan Turki Usmani
Pada 27 Mei 1453, Konstantinopel takluk oleh tentara Islam di bawah pimpinan Muhammad II bin Murad II atau yang terkenal dengan nama Muhammad Al-Fatih yang artinya sang penakluk. Saat berhasil menaklukkan kota besar Nasrani itu, Al-Fatih turun dari kudanya dan melakukan sujud syukur. Ia pergi menuju Gereja Hagia Sophia. Saat itu juga, bangunan gereja Hagia Sophia diubah fungsinya menjadi masjid yang diberi nama Aya Sofia. Pada hari Jumatnya, atau tiga hari setelah penaklukan, Aya Sofia langsung digunakan untuk shalat Jumat berjamaah. Sepanjang kekhalifahan Turki Usmani, beberapa renovasi dan perubahan dilakukan terhadap bangunan bekas gereja Hagia Sophia tersebut agar sesuai dengan corak dan gaya bangunan masjid.
Dalam sejarah arsitektur Islam, orang-orang Turki dikenal sebagai bangsa yang banyak memiliki andil dalam pengembangan arsitektur Islam ke negara-negara lainnya. Sementara dalam masalah keagamaan, orang-orang Turki terkenal sangat bijak, sebab mereka tidak memaksakan penduduk daerah taklukannya untuk masuk Islam, meskipun mereka berani berperang untuk membela Islam. Karena orang-orang Turki yang beragama Islam cukup arif, maka ketika Gereja Hagia Sophia dialihfungsikan menjadi masjid pada 1453, bentuk arsitekturnya tidak dibongkar. Kubah Hagia Sophia yang menjulang ke atas dari masa Bizantium ini tetap dibiarkan, tetapi penampilan bentuk luar bangunannya kemudian dilengkapi dengan empat buah menara. Empat menara ini, antara lain, dibangun pada masa Al-Fatih, yakni sebuah menara di bagian selatan. Pada masa Sultan Salim II, dibangun lagi sebuah menara di bagian timur laut. Dan pada masa Sultan Murad III, dibangun dua buah menara.
Pada masa Sultan Murad III, pembagian ruangnya disempurnakan dengan mengubah bagian-bagian masjid yang masih bercirikan gereja. Termasuk, mengganti tanda salib yang terpampang pada puncak kubah dengan hiasan bulan sabit dan menutupi hiasan-hiasan asli yang semula ada di dalam Gereja Hagia Sophia dengan tulisan kaligrafi Arab. Altar dan perabotan-perabotan lain yang dianggap tidak perlu, juga dihilangkan.
Begitu pula patung-patung yang ada dan lukisan-lukisannya sudah dicopot atau ditutupi cat. Lantas selama hampir 500 tahun bangunan bekas Gereja Hagia Sophia berfungsi sebagai masjid.
Akibat adanya kontak budaya antara orang-orang Turki yang beragama Islam dengan budaya Nasrani Eropa, akhirnya arsitektur masjid yang semula mengenal atap rata dan bentuk kubah, kemudian mulai mengenal atap meruncing. Setelah mengenal bentuk atap meruncing inilah merupakan titik awal dari pengembangan bangunan masjid yang bersifat megah, berkesan perkasa dan vertikal. Hal ini pula yang menyebabkan timbulnya gaya baru dalam penampilan masjid, yaitu pengembangan lengkungan-lengkungan pada pintu-pintu masuk, untuk memperoleh kesan ruang yang lebih luas dan tinggi.
Museum
Perubahan drastis terjadi di masa pemerintahan Mustafa Kemal Ataturk di tahun 1937. Penguasa Turki dari kelompok Muslim nasionalis ini melarang penggunaan bangunan Masjid Aya Sofia untuk shalat, dan mengganti fungsi masjid menjadi museum. Mulailah proyek pembongkaran Masjid Aya Sofia. Beberapa desain dan corak bangunan yang bercirikan Islam diubah lagi menjadi gereja. Sejak difungsikan sebagai museum, para pengunjung bisa menyaksikan budaya Kristen dan Islam bercampur menghiasi dinding dan pilar pada bangunan Aya Sofia. Bagian di langit-langit ruangan di lantai dua yang bercat kaligrafi dikelupas hingga mozaik berupa lukisan-lukisan sakral Kristen peninggalan masa Gereja Hagia Sophia kembali terlihat. Sementara peninggalan Masjid Aya Sofia yang menghiasi dinding dan pilar di ruangan lainnya tetap dipertahankan. Sejak saat itu, Masjid Aya Sofia dijadikan salah satu objek wisata terkenal di Istanbul oleh pemerintah Turki. Nilai sejarahnya tertutupi gaya arsitektur Bizantium yang indah memesona.

Menjadi Inspirasi dalam Perkembangan Arsitektur Islam

Arsitektur Islam dapat dikatakan identik dengan arsitektur masjid. Sebab, ciri-ciri arsitektur Islam dapat terlihat jelas dalam perkembangan arsitektur masjid. Salah satu masjid yang gaya arsitekturnya banyak ditiru oleh para arsitek Muslim dalam membangun masjid di berbagai wilayah kekuasaan Islam adalah Masjid Aya Sofia di Istanbul, Turki. Desain dan corak bangunan Aya Sofia sangat kuat mengilhami arsitek terkenal Turki Sinan (1489-1588) dalam membangun masjid.
Sinan merupakan arsitek resmi kekhalifahan Turki Usmani dan posisinya sejajar dengan menteri. Kubah besar Masjid Aya Sofia diadopsi oleh Sinan–yang kemudian diikuti oleh arsitek muslim lainnya–untuk diterapkan dalam pembangunan masjid. Salah satu karya terbesar Sinan yang mengadopsi gaya arsitektur Aya Sofia adalah Masjid Agung Sulaiman di Istanbul yang dibangun selama 7 tahun (1550-1557). Seperti halnya Aya Sofia, masjid yang kini menjadi salah satu objek wisata dunia itu memiliki interior yang megah, ratusan jendela yang menawan, marmer mewah, serta dekorasi indah. Dalam sejarah arsitektur Islam, orang-orang Turki dikenal sebagai bangsa yang banyak memiliki andil dalam pengembangan arsitektur Islam hingga ke negara lainnya.
Misalnya, Dinasti Seljuk yang menampilkan tiga ciri arsitektur Islam, khususnya arsitektur masjid. Pertama, Dinasti Seljuk tetap mengembangkan konsep mesjid asli Arab, dengan lapangan terbuka di bagian tengahnya. Kedua, konsep masjid madrasah dan berkubah juga dikembangkan. Ketiga, mengembangkan konsep baru setelah berkenalan dengan kebudayaan Barat, terutama pada masa Dinasti Umayyah.
Ketika orang-orang Turki memperluas kekuasaannya atas dasar kepentingan ekonomi dan militer pada abad ke-11, mereka akhirnya bisa menguasai Bizantium. Saat kebudayaan Islam bersentuhan dengan kebudayaan Eropa di Kerajaan Romawi Timur (Bizantium/ Konstantinopel) pada abad ke-11, arsitektur Islam juga menimba teknik dan bentuk arsitektur Eropa, yang tumbuh dari arsitektur Yunani dan Romawi. Sebaliknya, teknik dan bentuk arsitektur Islam yang dibawa oleh bangsa Turki juga disadap oleh bangsa Romawi untuk dikembangkan di Kerajaan Romawi Timur.
Akibat adanya kontak budaya antara orang-orang Muslim Turki dan budaya Nasrani di Eropa Timur inilah, arsitektur Islam yang semula hanya mengenal atap bangunan rata dan bentuk kubah, kemudian mulai mengenal atap meruncing ke atas. Selain itu, sejak bersentuhan dengan kebudayaan Kerajaan Romawi Timur ini juga, arsitektur Islam mulai mengenal arsitektur yang bersifat megah, berkesan perkasa, dan vertikalisme.
Sumber:
  1. http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/khazanah/09/08/24/71362-aya-sofia-akulturasi-budaya-islam-kristen
  2. http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/11/10/31/ltxgmt-turki-kembalikan-museum-hagia-sophia-menjadi-masjid
Posted in Eksotisme Dunia Islam, Eksotisme Mesjid di Eropa

Masjid Cambridge


Cambridge Segera Bangun Masjid Ramah Lingkungan
Masjid Cambridge
Masyarakat Cambridge Merindukan Kehadiran Sebuah Masjid
REPUBLIKA.CO.ID,CAMBRIDGE – Sebuah masjid direncanakan akan dibangun di Cambridge. Bangunan tiga lantai di bekas gudang Robert Sayle di jalan Mill ini akan memakan biaya total 13 juta Pondsterling. Hingga saat ini, uang untuk pembangunan berasal dari penggalangan dana sebanyak 4,5 juta Pondsterling. Mayarakat percaya, dana akan mengalir dengan cepat jika izin mendirikan bangunan sudah diperoleh. Sarah Elgazzar, juru bicara Cambridge Moslem Academic Trust, mengatakan izin pendirian bangunan adalah kunci utama dalam pembangunan masjid ini. Konsultasi izin kepada dewan kota masih akan berlangsung hingga 14 Desember. “Masyarakat telah melakukan banyak hal selama empat tahun terakhir. Mereka menyiapkan rencana dan mencoba untuk memperoleh hak mendirikan bangunan. Merka juga telah mengadakan survei tentang bangunan apa yang ingin mereka lihat di jalan Mill,” kata dia.

Pembangunan masjid kini sudah memasuki tahap desain. Akan ada ruangan untuk shalat dengan kapasitas seribu orang dan kubah. Fasilitas lain, nantinya akan ada sebuah kafe, tempat belajar mengajar, perpustakaan, kamar mayat, dan dua rumah. Adanya masjid ini ia berharap bisa bisa meningkatkan semangat keislaman di sana. Masjid ini telah dinanti-nantikan oleh masyarakat. Mereka berharap dalam waktu lima tahun, masjid sudah bisa berdiri. Masjid juga akan dilengkapi dengan tempat parkir mobil bawah tanah. Sebelum ada masjid, komunitas Muslim biasa berkumpul di rumah yang berada di jalan Mawson (Jalan Mawson berjarak tak jauh dari jalan Mill). Namun sayang, rumah itu terlalu kecil. Mereka merencanakan akan membuat satu tempat yang lebih besar lagi. Desainnya sudah dibuat oleh Marks Barfield, desainer yang merancang London Eye. Melalui bangunan ini diharapkan akan semakin menghasilkan energi positif tentang keislaman. 
Redaktur: taufik rachman
Reporter: dwi murdaningsih
Cambridge Segera Bangun Masjid Ramah Lingkungan
REPUBLIKA.CO.ID, CAMBRIDGE – Pemerintah kota Cambridge dalam waktu dekat akan membangun masjid ramah lingkungan. Usulan untuk membuat masjid tersebut sudah sampai kepada dewan kota. Arsitek masjid, Mark Barfield merancang masjid dengan struktur hemat energi. Untuk wudhu, mereka menerapkan prinsip daur ulang air. Atapnya akan berwarna hijau sehingga meminimalisir karbon. Konsep ini diterapkan untuk menekankan peran manusia sebagai khalifah yang bertanggung jawab menjaga ciptaan Allah. Rumah ibadah ini akan berperan sebagai oase. “Dikelilingi pohon cemara. Ruang untuk shalat akan bisa dipakai oleh seribu jamaah,” ujar Barfield seperti ikutip fm-world, Selasa (6/12/2011). Begitu memasuki area masjid, pengunjung akan melewati sebuah taman. Mereka akan berjalan melewati serambi tertutup dan atrium hingga sampai pada ruang shalat utama.  Di sepanjang jalan akan ditanami pohon. Sebelum masuk ke ruang utama masjid akan dibangun air mancur. Masjid ini juga akan dilengkapi dapur, kafe, ruang belajar, tempat parkir bawah tanah yang cukup untuk 80 kendaraan.
Tembok akan dibangun dengan bata Gault lokal. Kamar mandi akan dirancang agar bisa memperoleh cahaya alami. Di atas mihrab, akan ada kubah yang terbuat dari emas. “Ketika keadaan gelap, akan ada lampu LCD yang memberikan cahaya lembut,” kata dia. Masjid yang diusulkan ini dibangun karena masjid yang telah ada sudah cukup penuh sesak. Bangunan ini dirancang untuk Trust Akademik Muslim, sebuah badan amal yang didirikan pada 1996. Tim desain dipimpin oleh Marks Barfield. Ia dibantu beberapa orang untuk membuat struktur masjid, hiasan, serta manajemen dan perencanaan. Para desainer ini berkonsultasi dengan masyarakat setempat untuk memastikan tempat ibadah ini nantinya akan aman, nyaman dan dapat diterima semua orang. “Kami berharap masjid ini menjadi sebuah bangunan penting yang akan menyuntikkan kehidupan baru ke daerah Romsey Cambridge. Nantinya masjid ini akan menjadi monumen yang dibanggakan oleh masyarakat lokal,” katanya. 
Redaktur: Djibril Muhammad
Reporter: Dwi Murdaningsih


Posted in Eksotisme Dunia Islam, Eksotisme Mesjid di Timur Tengah

Masjid Sayyidah Zainab Damaskus, Integrasi Segala Bentuk Keindahan


Masjid Sayyidah Zainab Damaskus, Integrasi Segala Bentuk Keindahan
Masjid Sayyidah Zainab Damaskus, sebuah pertautan dan integrasi segala seni.

REPUBLIKA.CO.ID, Salah satu tujuan ziarah dan wisata ruhani menarik lain di Damaskus, Suriah, adalah Masjid Sayyidah Zainab. Masjid anggun sekaligus makam bergaya Iran ini terletak di selatan Damaskus. Masjid ini menarik minat peziarah Muslim Syiah dari Iran dan seluruh dunia karena arsitektur keramiknya yang kebiru-biruan dan adanya makam Sayiddah Zainab, putri Ali bin Abi Thalib, cucu Nabi Muhammad SAW. Sebagian besar wisatawan atau peziarah yang mengunjungi Damaskus kerap melewatkan makam Sayyidah Zainab, namun keberadaannya sangat berharga sebagai sebuah bangunan indah dan pemandangan penuh emosi bagi Muslim Syiah di luar Karbala dan Najaf di Irak. Mengunjungi tempat ini begitu mudah dengan menggunakan taksi, dan pengunjung non-Muslim pun dipersilakan datang, namun terbatas di luar area makam.

Makam dan Masjid Sayiddah Zainab diyakini merupakan bekas rumah Siti Zainab, putri Ali bin Abi Thalib (Khalifah Rasyidah keempat). Dia ditawan oleh tentara Yazid bin Muawiyah setelah pembantaian saudara-saudaranya, Hassan dan Hussein, di Karbala dan Najaf. Bagi Muslim Syiah saat ini, ketika keluarga Ali dikhianati adalah saat yang menentukan dan paling tragis dalam sejarah mereka. Dus, suasana di kompleks Masjid Sayyidah Zainab bukanlah sebuah ritual atau ibadah yang tenang dan senyap, namun gairah berkabung yang diruapi ratapan, nyanyian, tangisan dan ‘penyiksaan’ diri dengan memukul-mukul dada.
Adapun masjidnya sendiri dibangun Sejak 1990-an, di atas sebuah makam yang sudah ada sebelumnya. Memang lokasi masjid ini agak sedikit sulit ditemukan, ia bagai tersembunyi di balik deretan toko, pasar dan hotel-hotel. Untuk menemukannya, cukup dengan melihat salah satu menara biru yang menjulang, atau lebih baik lagi dengan mengikuti arus peziarah berjubah hitam yang mengalir menuju pintu masuknya.
Masjid ini terdiri dari sebuah halaman luas dengan bangunan di tengahnya. Secara arsitektur, masjid ini memiliki semua ciri-ciri masjid khas Iran; dekorasi hiasan yang menonjolkan keramik biru, lapisan emas, dan cermin kaca. Masjid ini dilindungi kubah emas berkilauan. Halaman masjid biasanya penuh dengan pria dan wanita yang berbaris dalam lingkaran, melagukan kidung dalam bahasa Persia atau Arab sambil memukul-mukul dada mereka. Seringkali aksi ini sengaja direkam dengan kamera video. Adegan ini dipimpin oleh seorang imam. 
Ketika bernyanyi dan memukul dada, aliran air mata menetes deras di pipi mereka, seolah-olah mereka merasakan tragedi pedih yang dialami Zainab ketika kehilangan saudara dan menjadi tawanan. Dalam ritual ini, seolah-olah mereka menghadiri sendiri pemakaman Zainab. Dan itulah cara Syiah memandang peristiwa yang menimpa cucu Rasulullah. Kompleks makamnya sendiri terbagi menjadi dua bagian; untuk pria dan wanita. Alas kaki harus ditinggalkan di depan pintu makam. Ruangan makam, walau relatif kecil namun selalu ramai. Ruang untuk jamaah wanita dan pria hanya dibatasi oleh dinding kayu tipis. Ratap dan isak tangis dari kedua bagian ini saling sahut-bersahutan ke sisi yang lain. Tak hanya dari ruangan wanita, dari ruangan ziarah kaum pria pun isak tangis yang terdengar tak kalah serunya. Semua yang hadir, tua ataupun muda duduk membentuk lingkaran sambil memukul dada, menangis dan meratap. Saking ekstasenya, beberapa orang bahkan melemparkan diri ke dinding makam, memeluk, memutari dan menghujaninya dengan ciuman. Yang lain berlutut dan berdoa, dahi mereka menempel pada serpihan batu yang diambil dari bumi Karbala.
Para sejarawan mengatakan bahwa Mousa Murtadha—kakek sang penjaga makam—membangun kompleks makam dari campuran batu, bata dan kayu. Pada 1870 langit-langit makam yang hancur direnovasi dengan bata dan diperkuat kerangka kayu oleh Salim Murtadha, yang memberikan hak pemeliharaan makam kepada anaknya, dan kemudian penerusnya yang tertua. Saat ini komplek makam Sayyidah Zainab dikelola oleh sebuah komite yang diketuai bersama oleh Hani Murtadha dan Mohammad Ridha Murtadha. 
Pada 1952, Mohammad Ridha Murtadha menyiapkan skema kompleks Masjid Sayyidah Zainab dengan luas 150 x 190 meter persegi; luas halaman 90 x 90 meter persegi dan luas ruang utama masjid 30 X 30 meter persegi. Lantai masjid ditutupi ubin marmer berkilau. Masjid ini memiliki empat pintu gerbang, masing-masing selebar empat meter dengan serambi seluas empat meter pula.  Atap masjid setinggi 10 meter ditutupi dengan keramik dan porselen Iran nan indah. Kubahnya dilapisi lempengan emas murni yang membuatnya berkilauan di siang maupun malam hari, kian menarik dipandang dari segala penjuru. 
Jika arsitektur dianggap sebagai cetakan seni terintegrasi, maka Masjid Sayyidah Zainab merepresentasikan nilai estetika dan arsitektur Islam modern. Ia memperkaya khazanah Islam dan warisan dunia karena mempertautkan semua bentuk keindahan seni; fotografi, ornamen, kaligrafi, selain seni terapan seperti porselen, cermin, kaca, dekorasi, karpet tenun, dan balutan pencahayaan. Untuk memperluas area masjid, berdasarkan rekomendasi Menteri Waqaf dan Departemen Perumahan, komite pembangunan membeli beberapa real estate di sebelahnya pada 1979 dan mengalokasikan anggaran yang diperlukan untuk memulai proyek perluasan yang hingga kini belum terlaksana. Komite ini menjadikan masjid sebagai sebuah usaha wisata religius yang digarap secara profesional dengan karyawan sebanyak 90 orang. Salah satu tugas komite lainnya adalah mendanai dan melindungi masjid serta mengelola keuangannya. Kini Masjid Sayyidah Zainab merupakan salah satu situs wisata religi di Suriah, dikunjungi oleh lebih dari satu setengah juta orang tiap tahunnya. 
Redaktur: cr01
Sumber: Dari berbagai sumber
Posted in Eksotisme Dunia Islam, Eksotisme Mesjid di Timur Tengah

Masjid Agung Damaskus, masjid bersejarah peninggalan Bani Umayyah


Masjid Agung Damaskus, Peninggalan Daulah Umayyah
Masjid Agung Damaskus, masjid bersejarah peninggalan Bani Umayyah
REPUBLIKA.CO.ID, Salah satu tempat yang layak dikunjungi atau diziarahi di Timur Tengah adalah Masjid Agung Damaskus, lebih dikenal dengan sebutan Masjid Umayyah. Ia termasuk salah satu tertua dan suci di dunia, terletak di ibukota Suriah, Damaskus. Dalam kompleks masjdi, di taman kecil sebelah dinding utara terdapat Makam Salahuddin Al-Ayyubi, pahlawan terkenal dalam sejarah Islam. Selain itu, masjid ini konon menyimpan sebuah kuil kecil yang berisi kepala sang Pembaptis Yohanes, yang dianggap sebagai Nabi oleh umat Kristen. Damaskus diyakini sebagai salah satu kota tertua di dunia yang didiami umat manusia dengan berbagai peradaban yang silih berganti. Dan di antara peradaban yang pernah tumbuh dan berkembang di kota ini adalah Islam. 

Masjid Umayyah berdiri di tanah yang dianggap suci selama setidaknya 3.000 tahun. Sekitar 1.000 tahun sebelum Masehi, kaum Aram membangun kuil—di lokasi di mana masjid berdiri—sebagai tempat pemujaan terhadap Hadad, dewa badai dan petir. Sebuah basal orthostat (batu) yang berasal dari periode ini, bergambar sphinx, ditemukan di sudut timur laut masjid. Pada awal abad pertama Masehi, bangsa Romawi tiba dan membangun sebuah kuil besar untuk Dewa Jupiter atas kuil Aram. Kuil Romawi ini berdiri di atas serambi empat persegi panjang (temenos) yang berukuran sekitar 385 meter 305 meter, dengan menara persegi di tiap sudutnya. Bagian dinding luar temenos masih bertahan, namun hampir tak ada yang tersisa dari kuil itu sendiri.
Pada akhir abad ke-4, kawasan kuil menjadi situs suci Kristen. Kuil Jupiter dihancurkan dan sebuah gereja dibangun di atasnya sebagai persembahan kepada Yohanes Sang Pembaptis.  Kaisar Theodosius (330 M) melarang penyembahan dewa-dewa dan mengubah bangunan ini menjadi sebuah gereja katedral dengan nama Gereja St John Baptist Basilika. Gereja tersebut diyakini sebagai tempat untuk mengabadikan kepala Yohanes, dan menjadi situs paling penting sebagai
tujuan ziarah di era Byzantium.
Semasa Dinasti Umayyah (661-750 M), Damaskus menjadi ibu kota dunia Islam. Para khalifah Umayyah yang memerintah dari Damaskus menguasai seluruh kawasan, mulai dari Spanyol hingga ke India. Sejarah mencatat, peradaban Islam telah meninggalkan banyak bangunan indah di Damaskus, ibukota negara Suriah. Masjid Umayyah (Umawi) dibangun pada masa Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik (88-97 H/705-715 M) dari Dinasti Umayyah. Arsitekturnya telah memberi pengaruh bagi seni bangun masjid di seluruh dunia. Dari masjid inilah, arsitektur Islam mulai mengenal lengkungan, menara segi empat, dan maksurah.
Awalnya, penaklukan Muslim atas Damaskus pada 636 Masehi tidak memengaruhi gereja, karena bangunan itu dipakai bersama oleh Muslim dan Kristen. Bangunan ini tetap berupa gereja dan kian menarik minat para peziarah Kristen. Kaum Muslimin membangun struktur lumpur-bata di dinding selatan agar mereka dapat melakukan shalat. Walau demikian,  Khalifah Al-Walid akhirnya menghancurkan gereja dan membangun masjid. Khalifah memberikan ganti rugi kepada orang-orang Kristen sebagai kompensasi. Konon cerita, Al-Walid sendiri yang memulai pembongkaran dengan memancangkan paku emas ke dalam gereja.
Pada waktu itu, Damaskus adalah salah satu kota yang paling penting di Timur Tengah dan menjadi ibukota dari kekhalifahan Umayyah. Masjid Umayyah dibangun dengan struktur yang megah, yang melibatkan ribuan pekerja dan ahli ukir Koptik, Persia, India dan Byzantium. Masjid Umayyah direnovasi beberapa kali akibat kebakaran di tahun 1069, 1401 dan 1893. Pada tahun 2001 Paus Yohanes Paulus II mengunjungi masjid ini, terutama untuk mengunjungi relik Yohanes Sang Pembaptis. Ini adalah pertama kalinya seorang paus berkunjung ke masjid.

Masjid Umayyah merupakan salah satu bangunan yang paling impresif di dunia Islam, halaman yang lapang dan ruang shalat yang luas. Beberapa mosaik asli abad ke-8 masih dipertahankan. Menara-menara yang dibangun pada masa Al-Walid tetap juga masih bertahan hingga kini. Masjid Agung Damaskus atau Masjid Umayyah, kadang juga disebut Masjid Umawi, sangat layak dikunjungi dan menjadi tujuan ziarah jika ada kesempatan dan kemudahan ke sana. Ia adalah salah satu lambang kejayaan Islam yang masih tersisa hingga kini.


Redaktur: cr01
Sumber: Dari berbagai sumber