Posted in Karya Sastra, Karya Sastra Islam(i) modern, Modern, Najib Kilani

Membaca Ulang Dunia Timur Lewat Karya Najib Kilani dalam "Melodi Kaki Langit"


 
Sumber Gambar: 

 
Latar Belakang Masalah 
           Karya sastra adalah hasil pengejawatahan berpikir kreatif-imajinatif seorang pengarang atas realitas sosial yang terjadi di sekelilingnya, baik yang memiliki hubungan sebab akibat langsung terhadap dirinya maupun yang terjadi di luar dirinya dan dituangkan dalam media yang dikehendakinya pula. Ia juga terkait dengan proses pengelolaan pengembaraan emosional dan imajinasi terhadap segala yang dirasa dan dialami dalam kehidupan fisik dan batinnya. Begitu pula dengan ide dan gagasan pengarang. Bersandar pada teori mimetik dan atau homologus, imajinasi pengarang lahir dari kondisi sosial yang dialami oleh pengarang itu sendiri, maka dari itu karya sastra yang dibuat seorang pengarang tentunya bersandar dan mencerminkan pada kenyataan sosial pada saat karya itu dibuat. Jika karya tersebut lahir dalam kondisi sosial yang baik maka karya sastra yang dihasilkannya akan baik pula, dan jika karya sastra tersebut lahir dalam kondisi sosial yang buruk maka karya sastra yang lahir akan buruk pula. Karya sastra dapat diposisikan sebagai representasi dari nilai, norma, dan tata perilaku dari masyarakat yang mengitarinya. 
          Sebuah karya sastra juga memiliki peran yang penting dalam masyarakat, selain merupakan refleksi dari kondisi sosial masyarakat, karya sastra juga memiliki kemampuan untuk menggugah perasaan orang lain untuk berpikir tentang kehidupan dan permasalahannya. Membangun sebuah konsep pemikiran melalui karya sastra ternyata mampu memberikan ruang kepada para pembaca untuk menelisik karya itu tidak hanya mengenai struktur dalam pembangunnya namun juga segala sesuatu yang berkaitan dengan gejala-gejala kemasyarakatan yang melingkupinya. Berbagai ideologi kemudian ditawarkan, salah satunya adalah wacana orientalisme yang dibangun Barat, yang kemudian membentuk konsep Barat yang dinamis dan Timur yang statis. Konsep Timur bukan lagi hanya menjadi bentukan letak geografis melainkan juga menjadi bentukan secara kultural, bahwa yang disebut Timur adalah konsep semua yang ada diluar peradaban Barat. Konsep Timur adalah sesuatu yang misterius namun juga segala sesuatu itu masih orisinil sehingga lebih dekat pada konsep surgawi. Dengan konsep itu pula muncul wacana East as the Paradise.

Konsep Teori
          Dalam menetaskan ide pokok seorang pengarang dalam bentuk karya sastra, tentunya harus disusun dari dan berdasarkan realitas sosial yang tercerabut, kemudian barulah disusun menjadi sebuah komposisi karya sastra yang utuh. Realitaslah yang menentukan kualitas karya sastra terhadap masalah-masalah sosial yang terjadi di sekelilingnya, efektif dan tidaknya karya tersebut tersebut tergantung pada daya dan kemampuan maknanya mengolah konteks. Hal demikianlah yang membuat beberapa orang pakar dalam ilmu kesusteraan berpendapat bahwa karya sastra sejatinya haruslah murni mengangkat tema-tema sosial beserta kritik-kritiknya, guna selain fungsi perjuangan menegakkan ketidakadilan, hal ini berfungsi pula sebagai penegasan posisi dari kelas mana orang tersebut berasal. Pengarang bukanlah siapa-siapa jika karya yang dihasilkan tidak memberitahukan tentang kebenaran, sebab karya yang sifatnya imaginatif hanya lahir dari aspek yang tidak realistis atau bualan subjektifisme pengarang terhadap adegan-adegan dan tokoh-tokoh yang diciptakannnya dalam keadaan pasif. Karya sastra harus memilki basis material yang rasional.
Secara definitif, teori poskolonial adalah teori yang digunakan untuk menganalisis berbagai gejala kultural, seperti; sejarah, politik, ekonomi, sastra, dan sebagainya, yang terjadi di negara-negara bekas kolonialisme (dan imperialisme) Eropa modern. Pada umumnya, gejala-gejala kultural tersebut terkandung dalam berbagai teks studi mengenai dunia Timur, yang ditulis oleh para orientalis, yang disebut sebagai teks-teks oriental (yang berasal dari kata orien yang berarti timur). Meskipun demikian, sebagai akibat dominasi intelektualitas Barat, banyak juga karya-karya yang melukiskan ketidakseimbangan hubungan antara masyarakat Barat dengan masyarakat Timur yang ditulis oleh para intelektual pribumi yang telah terkonstruksi oleh pemikiran Barat. Secara etimologis postkolonial berasal dari kata ‘post’ dan kolonial yang juga berasal dari kata colonia, bahasa Romawi, yang berarti tanah pertanian atau pemukiman. Jadi, secara etimologis kolonial tidak mengandung arti penjajahan, penguasaan, pendudukan, dan konotasi eksploitasi lainnya. Konotasi negatif kolonial muncul setelah adanya interaksi yang tidak seimbang antara penduduk pribumi yang dikuasai dengan penduduk pendatang sebagai penguasa.
  Dengan menghasilkan berbagai kajian mengenai bangsa Timur, maka yang didapatkan adalah pengetahuan mengenai kekuatan sekaligus kelemahan dari Bangsa Timur itu sendiri. Sebagai penjajah, dengan sendirinya mereka telah mempersiapkan tujuan-tujuan tertentu yang dengan demikian tidak selalu berdasarkan standar objektif penilaiannya, melainkan justru mengungkap bahasan budaya yang dibuat berdasarkan perspektifnya yang bersifat subjektif, yaitu tergantung pada pemikiran si pengarang.
Adapun alasan mengapa karya sastra dianggap tepat untuk dianalisis dengan teori poskolonial adalah:
  1. Segala gejala kultural sastra menampilkan sistem komunikasi antara pengirim dan penerima, sebagai mediator antara masa lampau dengan masa sekarang.
  2. Karya sastra menampilkn berbagai problematika kehidupan, emosionalitas dan intelektualitas, fiksi dan fakta, karya sastra adalah masyarakat itu sendiri.
  3. Karya sastra tidak terikat oleh ruang dan waktu, kontemporaritas adalah manifestasinya yang palingsignifikan.
  4. Berbagai masalah yang dimaksudkan dilukiskan secara simbolis, terselubung, sehingga tujuan-tujuan yang sesungguhnya tidak tampak. Disinilah ideologi oriental ditanamkan, disni pula analisis dekonstruksi poskolonial dilakukan.
Dikaitkan dengan tujuannya, maka wacana orientalis adalah wacana yang mewakili sistem ideologi Barat dalam kaitannya untuk menanamkan hegemoni terhadap bangsa Timur. Sebaliknya, wacana poskolonial adalah wacana yang mewakili sistem ideologi Timur untuk menanamkan pemahaman ulang sekaligus memberikan citra diri yang baru terhadap bangsa Timur mengenai hegemoni Barat tersebut. Berakhirnya penjajahan tidak dengan sendirinya berarti bahwa kekuasaan Barat juga berakhir. Berakhirnya penjajahan Barat ternyata masih menyisakan berbagai tradisi kolonial yang dikenal sebagai hegemoni kultural. Warsan lain adalah elite lokal yang hidup dalam dua dunia, yaitu dunia penjajah dan yang terjajah.
Biografi Najib Kilani 
           Najib lbrahim bin Abd al-Lathiif al-Kilani dilahirkan tanggal 10 Juni 1931 di Syarsyabah, suatu desa di wilayah bagian barat Republik Arab Mesir, sebagai anak pertama dari keluarga petani. Ketika meletus Perang Dunia II, ia berusia 8 tahun. Perang Dunia II menimbulkan pengaruh buruk pada kehidupan di Mesir, termasuk di tanah kelahirannya, Syarsyabah. Mesir dilanda krisis ekonomi ditambah dengan tekanan penjajah Inggris yang membuat para petani menanggung berbagai derita.     Demikianlah Najib al-Kailani lahir dan tumbuh dalam situasi politik dan ekonomi yang sangat sulit. Pendidikan Najib al-Kailani, sebagaimana kebanyakan anak-anak di Mesir, dimulai di Kuttab, di mana ia belajar membaca dan menulis, menghafal banyak surat-surat dari Al-Qur’an, Perjalanan Hidup Nabi saw, dan kisah-kisah para Nabi lainnya. Kemudian ia melanjutkan pelajaran ibtidaiyyahnya di Sinbath, dan Tsanawiyahnya (5 tahun, setingkat dengan SLTP-SLTA) di Thontho.
Pada tahun 1951, ia melanjutkan studinya di Fakultas Kedokteran Universitas Fuad I (sekarang Universitas Kairo). Pada tahun keempat di fakultas tersebut, Najib al-Kailani diajukan ke pengadilan, berkenaan keterlibatannya dalam masalah politik (ia bergabung dengan gerakan Ikhwanul Muslimin) dan divonis hukuman penjara selama 10 tahun, tapi setelah menjalani hukuman selama 3,5 tahun, ia dikeluarkan. Setelah keluar dari penjara ia menyelesaikan kuliahnya. Pada tahun 1960, ia kembali dimasukan penjara selama 1,5 tahun. Setelah tamat dari Fakultas Kedokteran, Najib al-Kailani bekerja sebagai dokter pada Kementrian Perhubungan dan Jawatan Kereta Api Mesir. Pada tahun 1967, ia meninggalkan Mesir dan bekerja sebagai dokter di Kuwait, kemudian di Dubai. Selanjutnya ia berpindah-pindah dari satu jabatan ke jabatan lain, terakhir ia menjabat sebagai Direktur Departemen Budaya pada Kementrian Kesehatan Persatuan Emirat Arab, di samping menjadi anggota panitia-panitia yang bergerak dalam bidang kesehatan masyarakat untuk negara-negara teluk. Ia telah banyak menghadiri berbagai muktamar para Menteri Kesehatan negara-negara Arab. Ia kembali ke Kairo pada tahun 1992.
Kiprah Najib al-Kilani dalam dunia sastra sebagai cerpenis, novelis dan penyair, bermula dari kegemarannya membaca, terutama membaca majalah-majalah sastra yang terbit pada masa itu, seperti Ar-Risalah, Ats-Tsaqofah, Al-hilaal, dan Al-Muqtathof. Melalui majalah-majalah tersebut, ia dapat berkenalan dengan banyak para sastrawan, seperti Sayyid Quthb, Mushthofa Shodiq ar-Rofi’i, Al-’Aqqod, Al-Mazini, Al-Manfaluthi, Thoha Husen dan Taufiq El-Hakim. Tulisan-tulisan beliau sangat khas. Karena lahir dari penghayatan nilai-nilai kemanusiaan, persaudaraan dan cinta. Ditengah penghimpitan dan tekanan kezaliman. Terutama berbagai bentuk penyiksaan di penjara. Lebih dari 70 buku novel dan cerita yang beliau tulis.
Nuansa-nuansa sosial dalam tulisan beliau sangat kental. Terutama pembelaan terhadap para kaum lemah dan teraniaya, serta melawan rezim kezhaliman dan kebatilan. Disamping itu nuansa-nuansa religius yang cukup kental. Serta mengangkat para ulama dan ilmuan. Menurut sastrawan ini, tak ada yang bertentangan dan berlawanan antara seni, sastra dan Islam. Jika ada kontradiksi, pada hakikatnya merupakan sebuah pemahaman parsial dari Islam, atau upaya menjauhkan seni dan sastra dari nilai-nilai Islam. Yaitu usaha sekularisasi dari aspek sastra dan seni. Islam tak pernah memerangi atau mengebiri seni dan sastra. Justru menumbuhkan dan mendukungnya. Hanya saja mengedepankan nilai-nilai normatif dan moral. Bukan mengatasnamakan liberalisasi tanpa aturan untuk membungkus kebobrokan dengan nama seni dan sastra.
Najib Al-Kailani menulis puisi sejak di Tsanawiyah. Ketika dipenjara ia menulis beberapa novel. Di antara novel-novelnya adalah : Ardlu al-Anbiyaa, Hikayat Jaad Alloh, Hamamah Salaam, Damm li Fathir Shuhyuun, Alladzima Yahtariquun, Ro’s asy-Syaithoon, Ar-Robii’ al-’Ashif, Rihlah Ila Alloh, Romadloon Habiibii, Ath-Thoriq ath-Thowiil, Tholai’ al-Fajr, Adh-Dhillu al-Aswad, ‘Adzroo’ Jakarta, ‘Alaa Abwaah Khoibar, ‘Amaliqoh asy-Syamaal, Fi adh-Dholaam, Qootil Hamzah, Layaalii Turkistaan, Lail al-Khothooyaa, Marookib al-Abroor, An-Nidaa’ al-Khoolid, Nuur Alloh, Al-Yaum al-Mau’uud, Imroat ‘Abdal-Mutajalli, dan Ar-Rojul Alladzii Aamana.Di antara antologi-antologi cerpennya adalah: Ibtisaamah fi Qolb asy-Syaithoon, Ardl al-Asywaaq, Amiroh al-Jabal, Ar-Rooyaat as-Suud, ‘Adzroo ‘ al-Qoryah, Al-Ka’sal-Farighoh, Liqoo’ ‘Inda Zamzam, Lail al-’Abiid, Yaumiyyaat al-Kalb Syamluul, Dumu’ al-Amiir, Hikaayaat Thobiib, ‘Inda ar-Rohiil, Faaris Hawaazin, Mao ‘idunaa Ghodan, dan Al- ‘Alam adl-Dloyyiq.Sedangkan di antara antologi puisi-puisinya adalah : ‘Ashr asy-Syahiid (1971), Aghooni al-Ghurobaa’ (1972), Kaifa Alqooka (1980), dan Madiinah al-Kabaa-ir (1988).
Najib Al-Kailani termasuk sastrawan Arab penggagas Sastra Islam (Muslim) dan Teater Islam. Di samping cerpen dan novel dan bahasan tentang sastra, Najib Al-Kailani juga menulis karya-karya ilmiah dalam bidang kedokteran, keagamaan dan politik. Di antara karya-karya ilmiahnya adalah : Haula ad-Diin wa ad-Daulah, Ath-Thoriiq ilaa Ittihaad Islaami, Nahnu wa al-islaam, Tahta Rooyat al-islam, Al-Mujtama’ al-Mariidl, Iqbaal asy-Syaa ‘ir ats-Tsaair, Syauqii fii Rokb al-Khoolidiin, Fi Rihaah ath-Thibb an-Nabawi, Ash-Shoum wa ash-Shihhah, dan Mustaqbal al- ‘Alam fii Shihhah ath-Thifl.
Berbagai hadiah dan penghargaan ilmiah dan sastra yang diterimanya, di antaranya yang terpenting adalah : (1) Hadiah Kementrian Pendidikan dan Pengajaran atas novelnya : Ath-Thoriiq ath-Thowiil (1957). (2) Hadiah Kementrian Pendidikan dan Pengajaran atas novelnya : Fii adh-Dholaam (1958). (3) Hadiah Kementrian Pendidikan dan Pengajaran atas bukunya : Iqbaal asy-Syaa’ir ats-Tsaair (1958). (4) Hadiah Mentri Pendidikan dan Pengajaran atas bukunya : Syauqy fii Rokb al-Khoolidiin (1958). (5) Hadiah Kementrian Pendidikan dan Pengajaran atas bukunya : Al-Mujtama’ al-Mariidl (1958). (6) Hadiah Klab Novel dan Medali Emas dari Thoha Husen atas kumpulan cerpennya: Mao’iduna Ghodan (1959). (7) Hadiah Majlis A’laa untuk Perlindungan Seni dan Sastra atas novelnya : Al-Yaum al-Mau’uud (1960). (8) Hadiah Kementrian Pendidikan dan Pengajaran atas antologi cerpennya : Dumuu’ al-Amiir. (9) Hadiah Majma’ al-Lughoh al-’Arobiyah atas novelnya: Qootil Hamzah (1972). (10) Medali Emas dari Presiden Pakistan, Ziaul Haqq, atas bukunya: Iqbaal asy-Sya’ir ats-Tsaair (1980). Beberapa karyanya telah diterjemahkan ke dalamberbagai bahasa, di antaranya ke dalam bahasa Inggris, Itali, Rusia, Turki dan Indonesia
Sinopsis cerita
Kisah ini bercerita tentang penemuan hidup baru. Lingkungan lama yang serba modern ternyata tidak memberikan Iryan kebahagiaan. Kemajuan yang telah digapai Barat justru melahirkan keterasingan baginya. Maka dia memilih pergi ke Timur untuk menemukan jalan baru. Sesampai di Timur, dia mendapatkan yang diinginkan. Keyakinan lama, Kristen, ditinggalkan untuk memeluk keyakinan baru, Islam. Setelah memeluk keyakinan baru inilah dia mendapatkan cahaya kalbu, yang mengubah jalan hidupnya. Dia tinggalkan ketenaran dan gemerlap dunia musik. Dia memilih bersunyi diri di jalan Tuhan. Dendang musik dia gubah menjadi dendang pada Tuhan, hingga dia dapatkan kebahagian sejati. Novel ini memberikan jawaban atas carut marutnya modernisme yang diagung-agungkan Barat.
Analisis karya
Novel merupakan salah satu bentuk karya sastra yang menyajikan cerita fiksi dalam bentuk tulisan atau kata-kata, yang mempunyai unsur intrinsik dan ekstrensik. Sebuah novel biasanya menceritakan tentang kehidupan manusia bermacam-macam masalah dalam interaksinya dengan lingkungan dan sesamanya. Seorang pengarang berusaha semaksimal mungkin mengarahkan pembaca kepada gambaran-gambaran realita kehidupan lewat cerita yang ada dalam novel tersebut. Di bulan Juni 1797, Perancis masuk ke Mesir pertama kali melalui Alexandria yang dipimpin oleh Napoleon. Setelah bentrok berkali-kali antara orang-orang Osmani dengan Perancis, akhirnya Perancis bisa diusir berkat persekutuan antara Osmani, Inggris dan Mamalik. Dan Mesir kembali jatuh ke tangan Turki Osmani pada bulan Oktober 1801.
Babak berikutnya terjadi perebutan kekuasaan antara Turki Osmani dengan Mamalik serta beberapa golongan yang ada di Mesir. Akhirnya kekuasaan di Mesir berhasil dipegang oleh Muhammad Ali Pasha di bulan Juli 1805.Untuk membantu Mamalik yang tersingkir dari kekuasaannya di Mesir, Inggris melakukan agresi militer serta menaklukkan Alexandria pada bulan Maret 1807. Tapi berkat kelihaian Muhammad Ali Pasha dalam diplomasi, akhirnya di tahun yang sama dia berhasil mencapai kesepakatan untuk memaksa Inggris keluar dari Alexandria pada bulan Agustus 1807.
Berakhirnya kekuasaan Barat di Mesir tentu juga meninggalkan permasalahan yang sama yang terjadi pada wilayah-wilayah bekas jajahan lainnya. Konsep orientalisme yang berkembang terus menjadi wacana yang menjadi bahan untuk direkonstruksi mengenai dunia Barat dan dunia Timur. Dalam novel Melodi Kaki Langit, Najib Kailani dengan jelas mengisyaratkan wacana ini. Konsep hegemoni Barat terhadap dunia Timur justru terbalik dalam cerita ini. Disinilah Najib Kailani mencoba mengungkapkan bagaimana konsep yang ditawarkan Barat itu tidaklah selalu benar. Setidaknya jika catatan sejarah suatu bangsa bergantung pada siapa yang memegang kendali dalam dunia politik pemerintahan, maka begitupun karya sastra yang kemudian ideologi yang ditawarkannya pun bergantung pada sudut pandang pemikiran pengarang.  Jungkir balik wacana atau konsep orientalisme inilah yang menarik untuk dibahas, bahkan pada paragraf pertama cerita inipun Najib Kailani sudah dengan jelas mengungkapkannya. Sebuah keadaan yang memperbandingkan dunia Barat dan Timur itu. selanjutnya konsep orientalisme ini dapat ditelisik melalui tokoh-tokoh dan realitas kehidupannya.
“Pergilah ke timur. Negeri indah yang penuh pesona dan misteri. Singgahlah di pesisir teluk yang teduh. Penduduknya menyebut pesisir emas hitam. Nikmati dunia bar dengan segala keajaiban dan keindahannya. Tapi jangan pernah lalai dengan hak-hak Tuhanmu”….
Roma, atau bahkan seluruh Italia baginya sudah menjemukan, begitu bising dan kacau. Kekayaan dan kekuasaan telah menjadi berhala. Komplotan mafia merajalela. Kerusakan menjarah seluruh kota hingga meluruhkan kemanusiaan. Dan, kebaikan telah tergadaikan (Kailani, 2009: 3-4)
Pada bagian ini, Najib Kailani telah dengan jelas mengungkapkan perbandingan kondisi dunia Timur yang indah dan penuh kedamaian yang berbanding terbalik dengan kondisi dunia Barat yang walaupun penuh pesona namun telah begitu hancur dengan segala carut marut kehidupan di dalamnya. Suatu wacana yang menjadi awal pembentukan alur cerita beserta konflik-konflik yang menyertainya.
Novel berjudul Melodi Kaki Langit ini bertitik tolak dari keterasingan yang dialami tokoh utama dalam novel ini, Iryan, seorang musisi muda dengan gaya hidup modern di sebuah kota dengan seribu pesona, Roma, Italia, sebagai representasi dari dunia Barat, sebuah proses keterasingan yang menjadi gejala dalam peradaban modern Barat. Barat yang awalnya begitu antusias dengan kemajuan yang mereka capai, pada akhirnya sampai pada satu titik dimana mereka menyadari bahwa kemajuan yang mereka ciptakan tidak selamanya mampu menghasilkan kebahagiaan, bergelimangnya materi tidak serta merta membuat mereka meraih kebahagiaan namun lebih tampak menjauhkan mereka dari semua itu. Seperti itu pula keadaan yang dialami Iryan. Dalam perenungannya Iryan menyadari bahwa kemajuan di Roma hanya bersifat fisik semata. Gedung-gedung megah yang berdiri kokoh hampir di setiap sudut kota, pusat-pusat kesenangan duniawi yang hampir memenuhi setiap penjuru kota tidak lantas memberi kebahagiaan yang diinginkannya. Semua itu justru membuat Iryan merasa terasing dalam dunia dan hidupnya, Iryan kehilangan eksistensinya. Dalam kondisi inilah Iryan mulai berontak.
“Italia adalah negeri asalku. Timur akan tetap menjadi Timur, dan Barat tetap saja Barat”. Sanggah Sofia tak senang mendengar sanjungan Iryan terhadap Dubai yang dianggapnya terlalu berlebihan… (Kailani, 2009: 6)
Sekali lagi wacana orientalisme terungkap jelas. Kali ini dari sudut pandang Sofia, seorang gadis Roma yang pikirannya hanya diisi oleh pesta dan gemerlap kehidupan malam. Sofia yang hanya sibuk dengan segala sesuatu yang menyangkut kepentingan dirinya sendiri dan tempat hiburan dan tidak pernah perduli pada orang lain. Ini menjadi representasi lain dari dunia Barat yang senang menghambur-hamburkan materi demi kesenangan duniawi serta sifat mereka individualistis, tidak perduli apapun selain segala sesuatu yang menguntungkan dirinya sendiri.
Iryan sepenuhnya mengerti maksud dari kata-kata Sofia. Meski dadanya penuh sesak, namun di memahami gaya hidup dan cara berpikir anak muda Roma. Dia tidak akan mampu meyakinkan atau memaksa Sofia. Semua orang tahu, di Roma kebebsan adalah raja. Tak boleh ada paksaan…
Moralitas di kota ini sudah mati. Gerutu Iryan dalam hati. (Kailani, 2009: 8-9)
Kesadaran Iryan datang bersamaan dengan meranggasnya cinta Iryan pada kekasihnya, Sofia, seseorang yang ikut larut dalam siklus kehidupan Roma yang sudah sangat menjemukan Iryan. Namun apapun itu, tidak dapat merubah sikap dan pendirian Sofia karena pola pikir dan budaya Barat telah mengakar kuat dalam diri Sofia dan Sofia pun tidak merasa harus ikut berubah. Sofia tidak merasa harus perduli dengan kematian moralitas yang dirasakan Iryan di kota Roma. Konsep kebebasan yang diusung Barat mencakup segalanya, merajai segala aspek kehidupan manusia disana.
Hari-hari Syams di Dubai semakin bersinar cerah. Dia telah sukses mengumpulkan uang dan memiliki banyak pengagum, tentunya tanpa menjual diri dan kehormatan. Tak heran kalau dia ingin sekali menetap di Dubai walaupun akhir-akhir ini penculikan dan pemerkosaan sering terjadi. Bagi Syams, Dubai telah menjadi surga. (Kailani, 2009: 89)
Di Timur, Iryan menemukan sosok baru, Syams, yang merupakan seorang penari kafe yang bertugas menyenangkan setiap orang. Penjelasan mengenai gerakan tarinya yang dinamis, kadang menghentak, dan kadang mengalir gemulai menggambarkan ciri dari perubahan, yaitu dinamis. Gerak perubahan kadang dapat menghentak sehingga membuat orang terkejut, atau kadang mengalir perlahan sehingga terasa dengan jelas. Namun demikian, sosok Syams digambarkan mewakili sebagian sosok perempuan Timur yang juga bisa maju namun tetap menjaga kehormatannya sebagai perempuan Timur. Di satu sisi Syams meraih popularitas dan materi yang berlimpah yang tentunya memrupakan sesuatu hal yang bisa didapatkan perempuan Barat dengan pekerjaan yang sama, di sisi lain, Syams mewakili sosok perempuan maju yang berbeda dengan pola hidup perempuan Barat yang benar-benar bebas, kebebasan yang dimiliki Syams sebagai perempuan tidak lantas juga membebaskan nilai-nilai ketimuran yang harus tetap menjaga kehormatan dirinya. Perbandingannya adalah bahwa ada dua sosok perempuan dalam konteks wilayah yang berbeda, Sofia mewakili sosok perempuan Barat yang bisa melakukan apa saja dengan kebebasannya dan Syams pun mewakili sosok perempuan Timur yang dalam kebebasannya masih memegang norma ketimurannya.
 “Aku tidak menafikan kesaktian uang, tapi bagiku uang bukan segala-galanya,” jawab Saqar tetap dengan ketenangan yang luar biasa.
Saqar tersenyum. Kemudian berujar, “Mungkin. Tapi bagiku, rasa kemanusiaan selalu menjadi pertimbangan dalam mengambil setiap langkah-langkahku. Ini yang membedakanku dengan banyak pengusaha lain”. (Kailani, 2009: 43-45)
Sosok Timur yang lain digambarkan Najib Kailani adalah Saqar, seorang pengusaha muda yang sangat sukses. Ini menggambarkan bahwa Timur tidak identik dengan wilayah yang terbelakang seperti yang selalu dicitrakan Barat. Saqar mewakili sosok Timur yang juga maju, memiliki visi hidup ke depan, kaya raya dengan hasil usahanya sendiri, seperti apa yang dapat diraih Barat namun dengan tegas menyatakan perbedaannya yaitu bahwa dia tidak mendewakan uang dan masih tetap memegang teguh norma-norma ketimuran terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Dan Iryan, sekalipun tidak dapat menahan rasa cemburunya karena Saqar mendekati Syams, sadar atau tidak Iryan menjadikan sosok Saqar sebagai salah satu pembangding dalam titik tolaknya menuju perubahan.  
…..Segala tentang Syams memenuhi benaknya. Setiap kata yang keluar dari bibir Syams terasa membentur-bentur batok kepalanya…
Mungkinkah aku akan melepaskan agamaku demi seorang Syams, padahal ayahku seorang pendeta yang tidak perbah lelah mengabarkan ajaran al Masih?…
Di tengah kekacauan dan kegalauan pikiran seperti itu akhirnya Iryan nekad mengambil keputusan, akan mempelajari agama Islam, kemudian memilih yang dekat dengan akal dan hatinya. (Kailani, 2009: 58-59),“Biarkan aku meneruskan kembara tak bertepi ini. Aku akan kembali setelah menemukan kebenaran itu,” kata Iryan seraya berdiri, kemudian berjalan meninggalkan Syams. (Kailani, 2009: 70)
Pertemuan Iryan dengan Syams menjadi pangkal perubahan hidup Iryan selanjutnya, membawa Iryan pada dunia baru yang dibentangkan oleh Syams. Namun setelah itu Iryan tetap harus melangkah sendiri untuk mencari makna yang jauh lebih dalam menuju kebermaknaan hidupnya dan berani menghadapi segalanya. Meskipun pada awalnya perubahan yang hendak diambil Iryan adalah karena keinginannya untuk memiliki Syams, namun pada akhirnya dia dihadapkan pada pergolakan batinnnya tentang hakikat pencarian kebenaran yang diinginkannya dengan caranya sendiri. Iryan tidak lagi hanya tertuju pada maksud untuk memperistri Syams karena syarat yang diajukan Syams untuk bisa menikahinya adalah keislaman Iryan, Iryan telah sampai pada jalan hidup pilihannya sendiri, sungguh-sungguh karena ingin merengkuh kebenaran yang didasari atas kesadarannya pribadi, tanpa paksaan atau tekanan siapapun atau kondisi apapun itu. namun Iryan sungguh pasti sangat sadar bahwa memulai suatu perubahan bukanlah hal yang mudah, selalu ada konsekuensi yang siap menerpa melalui konflik yang terjadi setelah pengambilan keputusan untuk berubah.
Sebagai seorang pendeta yang telah banyak berjasa menyebarkan agama Kristen mulai dari India, Afrika, sampai Timur jauh, tentu Carlo tidak ingin reputasinya tercoreng gara-gara kemurtadan anaknya. Dia juga tidak ingin harga dirinya runtuh karena dianngap tidak mampu menjaga keimanan anaknya, padahal selama ini dia selalu menjaga iman jamaatnya. Maka, segala cara akan ditempuhnya asal Iryan, anak satu-satunya bisa kembali ke pangkuan Kristus. (Kailani, 2009: 128)
Maka konflik yang dialami Iryan pun tidak dapat dielakan. Ayah Iryan, Carlo, yang merupakan seorang pendeta Kristen yang sangat taat pasti menentang rencana Iryan untuk mempelajari agama baru itu. Ini menjadi salah satu ciri khas dari konflik peradaban dimana terjadi pertentangan hebat antara yng tua dan yang muda, antara kaum konservatif melawan kaum progresif. Namun selalu, walaupun kaum konservatif mengikat kuat, tetap saja kaum progresif yang menang. Sebuah kontradiksi yang selalu mengiringi perubahan, dimulai dengan kontradiksi dalam diri, kemudian merambah pada kontradiksi dengan keluarga, lingkungan, bahkan lebih luas lagi dengan peradaban lama. Maka Carlo mencoba membuktikan kata-katanya dengan mengirim Sofia dengan tujuan untuk menjemput Iryan termasuk membawanya kembali pada ajaran Kristus yang selama ini menentukan jalan pikiran dan hidupnya. Sebagai perbandingan bagi tokoh Carlo dari dunia Barat, maka Najib Kailani membentuk tokoh Syekh Id dari dunia Timur. Carlo mewakili agamawan Barat dalam hal ini Kristen, sementara Syekh Id mewakili sosok agamawan Timur yang dalam hal ini pula adalah Islam. Melalui tokoh-tokohnya, Najib Kailani terus memperbandingkan dunia Barat dan Dunia Timur. Dalam cerita ini juga terdapat dua sosok kawan Iryan yang juga merepresentasikan Barat dan Timur, yaitu Benito dan Ali. Benito adalah rekan Iryan di band-nya, dia pula lah yang kemudian membantu Sofia dalam menjalankan misi mengembalikan Iryan ke Roma dan agama Kristen. Sedangkan Ali mewakili sosok kawan dari dunia Timur yang selalu mendukung Iryan untuk menemukan jalan kebenaran yang dicarinya. Benito dengan keras mencoba menarik Iryan kembali ke pola pikir peradaban Barat, sedangkan Ali justru mendukung dan memberi kebebasan penuh pada Iryan untuk memilih namun apapun yang dipilih Iryan nantinya, Ali akan selalu mendukungnya. Benito digambarkan sebagai sosok Barat yang pamrih karena kemudian dia menginginkan Sofia sebagai imbalannya, sedangkan Ali digambarkan sebagai sosok Timur yang tulus dan toleran terhadap segala pilihan Iryan.
“Dia seorang tenaga pengajar di sebuah departemen. Berkebangsaan Suriah. Sangat memelihara ajaran Tuhan dan norma agamanya. Dia sudah setuju. Tugasmu kini hanya mengangguk atau menggeleng” (Kailani, 2009: 175)
Maisun lahir dan besar di Suriah. Memiliki paras yang cantik dan halus perasaannya. Dia berasal dari lingkungan terpelajar dan terhormat. Ayahnya seorang tokoh pemikir Islam terkemuka. Karena krisis politik di Suriah memaksa sang ayah hengkang, meninggalkan negerinya. Dan sekarang, keluarga itu terpencar di anerika, Australia, Saudi Arabia, sementara Maisun terdampar di Dubai. (Kailani, 2009: 187)
Satu lagi sosok terakhir perempuan Timur diungkapkan dalam cerita ini, dalam perjalanan Iryan yang telah menemukan kebenaran yang dicarinya. Perempuan Timur yang maju dan tidak lagi terkesan sebagai kaum primitif seperti dalam pandangan Barat. Perempuan Timur yang benar-benar taat beragama, tidak setengah-setengah dalam memahami agama maupun menjalankan kewajiban agamanya namun tetap bisa berkiprah dan memberikan kontribusi positif di masyarakat luas. Sampai disini, jika tadi perbandingan antara Sofia dan Syams adalah perbandingan berdasarkan konsepsi pemikiran barat dan timur, maka sekarang ada perbandingan antara dua perempuan yang sama-sama Timur, yaitu Syams yang berkebangsaan Mesir dan Maisun yang berkebangsaan Suriah. Dengan mengetahui pilihan Iryan yang telah mengubah namanya menjadi Abdullah Carlo jatuh pada Maisun, tentunya yang menjadi landasan perbandingan itu adalah agama dan gaya hidup mereka. Syams memang seorang yang beragama Islam namun dia memilih jalan hidup yang moderat, dia terkesan menganggap keislamannya hanya sebatas pada keimanan kepada Tuhan dan mengakui kerasulan Muhammad, sedangkan gaya hidupnya hampir menyamai kehidupan Barat yang bebas meskipun dia juga tetap memegang kuat prinsip untuk menjaga kehormatannya. Adapun Maisun digambarkan mewakili sosok perempuan Timur yang sebenarnya, kebebasan yang juga menjadi hak bagi perempuan digunakannya dalam jalan hidup yang sejalan dengan koridor agamanya, dia banyak menjalankan aktifitas di luar namun dalam pergaulan yang terjaga.hal ini tidak berarti Maisun seorang yang konservatif karena toh dia juga berpikiran maju, tidak terkungkung budaya yang mengikatnya hanya untuk beraktifitas di dalam rumah.
Maka melalui karakter-karakter dalam cerita ini, Najib Kailani mengungkapkan berbagai konsep pemikiran seputar dunia Barat dan Timur. Melalui karyanya, pengarang mencoba mentransformasikan peradaban sehingga terjadi toleransi dan saling menghargai antara satu peradaban dengan peradaban lainnya serta tidak ada satu peradaban saja yang mendominasi dalam kehidupan dan pembentukan pola pikir seseorang.  
 Penutup
 Cerita yang ditawarkan Najib Kailani dalam novel Melodi Kaki Langit ini tidak serta merta hanya mengungkap perjalanan hidup seorang musisi bernama Iryan, dengan segala konflik yang timbul atas pilihannya dan menanggung semua konsekuensi positif maupun negatifnya. Namun lebih jauh mengungkapkan penuturan mengenai benturan budaya dan peradaban Barat dan Timur yang selalu menjadi wacana tanpa batas untuk dieksplorasi perkembangannya. Seolah sudah menjadi takdirnya bahwa sifat konservatif itu adalah menghambat, sedangkan sifat progresif itu adalah mengubah. Sebagai representasi dari sifat progresif itu, Iryan mewakili sosok itu. Pilihannya untuk memandang dunia dengan cara pandang baru merupakan titik awal dari perubahan hidupnya. Cara berpikir Iryan pada awalnya ditentukan oleh cara berpikir dunia Barat, sudut pandangnya berdasarkan pada logika Barat, lalu kemudian Iryan berpaling ke Timur, di cakrawala baru inilah Iryan menemukan cara pandang dan cara berpikir serta logika yang benar-benar asing namun memberinya ruang yang tidak disangka-sangka mulai mendamaikan gemuruh kehidupannya.
Referensi
  1. Kailani, Najib. 2009. Melodi Kaki Langit. Yogyakarta: Navila
  2. Roberts, Edgar V. 1977. Writing Themes about Literature. New Jersey: Prentice-Hall, Inc., Englewood Cliffs
  3. Ratna, Nyoman Kutha. 2008. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
  4. Eagleton, Terry. 2006. Teori Sastra; Sebuah Pengantar Komprehensif. Bandung: Jalasutra
  5. Teeuw, A. 2003. Sastera dan Ilmu Sastera. Bandung: Pustaka Jaya
Advertisements

Author:

Berkeinginan untuk menjadi pembelajar dan pencari kebenaran Ilahi yang hakiki serta selalu berkeinginan untuk bersimpuh membawakan terumpah dan jubah untuk Rasulullah. semoga

3 thoughts on “Membaca Ulang Dunia Timur Lewat Karya Najib Kilani dalam "Melodi Kaki Langit"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s