Posted in Essay Sastra, Karya Sastra, Modern, Taufik Ismail, Teori Sastra

Taufiq Ismail: Kualitas Sastra Tentukan Peradaban


Tulisan di bawah ini merupakan hasil reportase kegiatan ‘Saresehan Budaya’ bertema Menemukan Kembali Esensi Kebudayaan Indonesia dalam Rangka Membentuk Karakter Bangsa’ di Auditorium UNY, Kamis (27/10/2011). Event digelar oleh Komunitas Studi Budaya, UKMF Muslim Al-Huda dan Mahasiswa FBS UNY. Di dalam, terdapat beberapa pandangan dari salah satu sastrawan Muslim Indonesia, yakni Taufiq Ismail.

Beberapa pokok pikiran beliau di antaranya: 1) Perkembangan sastra di Indonesia menunjukkan perkembangan kuantitatif yang menggembirakan, tetapi dari sisi kualitas masih minim dan belum greget; 2) pembelajaran sastra di lembaga pendidikan formal (sekolah) mengalami kemunduran, oleh karena itu diperlukan upaya serius dan sistematis untuk kembali meningkatkan kuantitas dan kualitas pembelajaran dan pendidikan sastra di sekolah-sekolah; 3) kualitas apresiasi dan (re)produksi sastra yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia dapat menjadi salah satu indokator kualitas peradaban bangsa dan masyarakat Indonesia.

 

Taufiq Ismail: Kualitas Sastra Tentukan Peradaban

Yogyakarta – Sastra adalah karya cipta dan rasa. Kegiatan kreatif ini juga bisa menjadi sarana untuk pembentukan karakter suatu bangsa yang beradab. Apalagi, dalam sastra kaya akan nilai-nilai. Jika kualitas sastra menurun, bagaimana dengan pembentukan karakter bangsa beradab yang ingin dicapai? Sastrawan Taufiq Ismail menyampaikan kegelisahannya itu dalam sarasehan kebudayaan bertema ‘Menemukan Kembali Esensi Kebudayaan Indonesia dalam Rangka Membentuk Karakter Bangsa’ di Auditorium UNY, Kamis (27/10/2011). Event digelar oleh Komunitas Studi Budaya, UKMF Muslim Al-Huda dan Mahasiswa FBS UNY.

Dalam penilaian Taufiq, keberlangsungan sastra harus terus digalakkan dan digiatkan sejak dini. Kualitas pembelajaran juga harus ditingkatkan. Diakui, meskipun saat ini banyak bermunculan sastrawan dengan hasil karya yang berjubel, namun dari segi kualitas masih sangat minim. “Perkembangan sastra saat ini cukup bagus, hanya saja dari isinnya masih kurang greget. Ini disebabkan karena banyak sastrawan yang tidak suka membaca dan menulis dengan serius,” ujar Taufiq. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya sastrawan yang mengekor pendahulunya.

Padahal, lanjut Taufiq, kualitas membaca dan menulis menjadi pilar dalam mewujudkan sastrawan berkualitas. Pembelajaran sastra di sekolah-sekolah juga mengalami kemunduran. Bahkan, saat ini banyak orang gandrung dengan bahasa asing daripada bahasa Indonesia, sungguh memprihatinkan. Karena itu, pihaknya terus berjuang bagaimana agar kurikulum pendidikan bisa berpihak kepada pengembangan sastra di tanah air. “Kalau bisa pembelajaran penulisan cerpen, pembacaan puisi dan kegiatan penulisan lainnya bisa ditingkatkan di sekolah-sekolah sejak dini,” harapnya.

“Dalam impian saya, terbayang sebuah kelas yang penuh dengan pelajaran sastra, siswa-siswanya diberikan buku antologi sastra, mulai dari puisi atau cerpen. Lalu mereka diminta membaca dan mendiskusikan bersama-sama,” ujarnya. Dengan pembelajaran bersama, dan peningkatan kualitas membaca dan menulis diharapkan kualitas sastra akan banyak bermunculan. Impian tersebut, lanjut Taufiq, membutuhkan guru bahasa dan sastra yang berkualitas dan prima, yang suka membaca dan pintar menulis. Fasilitas buku sastra di perpustakaan pun meningkat. Sehingga cita-cita menuju manusia dengan peradaban yang bagus bisa tercapai.

Sumber: http://www.kr.co.id30/10/2011 12:16:49

 

 

Advertisements

Author:

Berkeinginan untuk menjadi pembelajar dan pencari kebenaran Ilahi yang hakiki serta selalu berkeinginan untuk bersimpuh membawakan terumpah dan jubah untuk Rasulullah. semoga

One thought on “Taufiq Ismail: Kualitas Sastra Tentukan Peradaban

  1. Dengan semangat yang terus menggelora, Pak Taufiq pun menyampaikan hal ini pada seminar mmperingati bulan bahasa di kampus saya.
    cita-cita yang mulia,sayang sarana pendukung tidak memadai. saya sendiri sebagai calon guru bahasa Indonesia merasa berat mewujudkan cita-cita ini. Bagaimana mau berkualitas, fasilitas tak memadai..dosen jarang masuk. kami sendiri masih banyak tanda tanya tentang kebahasaan yang sebenarnya itu diajarkan pada jenjang pendidikan dasar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s