Posted in Sejarah Sastra, Sejarah Sastra Muslim, Teori Sastra, Teori Sastra Muslim

PERIODESASI SEJARAH SASTRA MUSLIM


  index
Kendala Periodesasi Sastra Muslim
     Tidaklah mudah untuk membuat pembabakan atau periodesasi sastra di dunia Islam. Faktor utamanya adalah karena periodesasi umumnya menjadikan “peristiwa besar” dalam bidang itu sebagai patokan peralihan, perubahan, atau pergantian periode, dari satu periode ke periode lain; sementara peristiwa besar dalam proses dan hasil “bersastra” dari masyarakat Muslim yang menjadi patokan peralihan dari periode ke priode sangat sulit diidentifikasi, bersifat relatif, dan sangat debatable. Misalnya, apakah yang menjadi patokan peralihah sastra itu ditandai dengan perubahan bahasa yang digunakan? atau perubahan bentuk [genre] sastra?, atau perubahan tema-tema sastra?, atau pergantian tokoh-tokoh sastra? atau perubahan zaman atau masa bersastra terkait dengan kekuasaan politik?

   Hanya saja, bagaimanapun, dengan berbagai kesulitan, bahkan kekurangan dan kelemahan yang ada, periodesasi sastra diperlukan untuk melihat perkembangan sastra dari zaman ke zaman. Hal yang umumnya dilakukan untuk pembabakan sastra di dunia Islam ini adalah mengekor pada peristiwa peralihan politik yang terjadi dalam sejarah politik Muslim (Islam). Harun Nasution dalam Islam Ditinjau dari Berbagai Aspek, membagi sejarah Islam, berdasar sejarah kekuasaan politik [dominan] di dunia Islam, ke dalam tiga periode, yakni masa klasik [611-1258 M], masa pertengahan [1258-1800 M], dan masa modern [1800 sampai masa sekarang].
Periodesasi Sastra Muslim
         Berdasarkan periodesasi yang diajukan Harun Nasution di atas, pembabakan Sastra Islam atau sastra Muslim dapat dipetakan menjadi beberapa periode, yakni klasik (611-1258 M), pertengahan (1258-1800), dan modern (1800-s.d. sekarang). Rinciannya adalah sebagai berikut.
        Pertama, Periode Klasik, yakni sastra muslim yang berkembang pada masa Rasulullah hingga masa hancurnya Bani Abbasiyah. Periode ini dapat dibagi lagi menjadi beberapa masa lagi, yakni:
  • Masa Rasulullah (23 Tahun, yakni 611-632);
  • Masa Khulafa al-Rasyidun (30 tahun, yakni 632-661);
  • Masa Daulah Umayyah (92 tahun, yakni 661-750);
  • Masa Daulah Abbasiyah (518 tahun, yakni 750-1258). Tahun 1258 ini merupakan titik tonggak peralihan dari masa klasik ke masa pertengahan dari periodesasi peradaban Islam. Tahun ini merupakan masa keruntuhan Dinasti Abbasiah yang berpusat di Baghdad karena serangan pasukan Mongol. Setelah keruntuhan ini, wilayah muslim dikuasai oleh penguasa-penguasa lokal [sultan atau wazir] yang berpusat di berbagai wilayah yang tersebar, baik di Timur maupun di Barat, hingga munculnya beberapa kerajaan besar di berbagai wilayah dunia Islam.
      Kedua, Periode Pertengahan, yakni sastra muslim yang berkembang pada masa 1258-1800. Sebagaimana dijelaskan di atas, bahwa setelah keruntuhan Baghdad, sebagai pusat utama kekhalifahan (kekuasaan politik) muslim, wilayah-wilayah muslim dikuasai oleh penguasa-penguasa lokal, yang kemudian dikenal sebagai “lima kerajaan muslim” besar, yakni Turki Utsmani [Eropa], Safawiah-Persia, Mughal-India [Asia Selatan], Aceh Darussalam (Melayu) dan Mataran Islam (Jawa) [Keduanya berada di Asia Tenggara]. Semua kerajaan ini tumbuh berkembang di daerah-daerah periferal [penyangga] dunia Islam, atau tidak muncul di wilayah pusat [Timur Tengah]. Karenanya, sebagian ahli menganggap masa ini sebagai abad kegelapan bagi Islam di Timur Tengah. Anggapan ini tidak terlalu salah jika sudut pandangnya adalah politik; tetapi jika ditelisik dari aktivitas lainnya, Islam di Timur Tengah tidaklah sesuram yang disajikan dalam bidang politik.
      Pada periode ini, kehidupan aktivitas sastra muslim berada pada beberapa wilayah besar, yakni
  • Sastra muslim pada wilayah protektorat Turki Utsmani,
  • Sastra muslim di wilayah Safawiyah-Persia,
  • Sastra muslim di wilayah Mughal-India,
  • Sastra muslim di Melayu-Nusantara, dan
  • Sastra muslim di Jawa (Cirebon, Banten, Demak,Mataran Islam)
  • Sastra muslim di Sulawesi (Bone dan Tidore)
     Ketiga, Periode Modern, yakni sastra muslim (Islam) yang berkembang pada masa 1800 hingga masa sekarang. Titik tonggak peralihannya adalah ketika dunia Muslim dikuasai oleh kolonial dan imperialis Eropa, terutama wilayah-wilayah di Timur Tengah. Misalnya, Mesir jatuh pada kekuasaan Napoleon Bonaparte pada tahun 1789. Pada sisi lain, imperialisme Eropa atas dunia Islam ini telah memunculkan berbagai gerakan pembaharuan dan modernisasi di berbagai wilayah Muslim. Karenanya, periode 1800 ini dijadikan tonggak masa modern dalam periodesasi sejarah Muslim.
     Periode ini dapat juga dipetakan menjadi beberapa masa:
  • Sastra muslim pada masa intensif persentuhan Barat terhadap dunia timur [untuk tujuan perdagangan dan koloni]
  • Sastra muslim pada masa kolonialisme dan imperialisme Barat atas dunia Timur
  • Sastra muslim pada masa pembaharuan pemikiran dan pergerakan menuju kemerdekaan
  • Sastra muslim pada masa revolusi fisik kemerdekaan dunia Islam
  • Sastra muslim pada masa pasca-kemerdekaan
     Pembabakan di atas, sekali lagi, mengikuti periodesasi politik yang terjadi pada masyarakat muslim.
Advertisements

Author:

Berkeinginan untuk menjadi pembelajar dan pencari kebenaran Ilahi yang hakiki serta selalu berkeinginan untuk bersimpuh membawakan terumpah dan jubah untuk Rasulullah. semoga

5 thoughts on “PERIODESASI SEJARAH SASTRA MUSLIM

  1. baguss,,,Penting membuat periodisasi Sejarah muslim,, secara beragam dan mandiri, berusaha keluar dari periodisasi kolonialitas dan berdasar politik belaka, atau juga mengikuti periodisasi kekhalifahan dan mencoba mencari alternatif lain, misalnya berdasar dinamika sejarah pemikiran umat Islam Indonesia, produk kesenian dan budayanya, sosial dan ekonominya harus lebih,,, di perkuat,, lagi,,

  2. Kesulitan melakukan periodesasi berdasarkan peralihan pemikiran, budaya, dan ekonomi adalah tonggak peralihannya tidak dapat diketahui secara umum, atau hanya dipahami oleh sebagian orang. Hal ini berbeda dengan peralihan periodesasi dalam bidang politik yang cukup diketahui oleh banyak pihak. Misalnya, di Indonesia, peralihan dari orde lama ke orde baru serta dari orde baru ke orde reformasi dapat diketahui umum, yakni pergantian rezim.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s