Posted in Falsafah Hidup

Nilai Kearifan Lokal Dan Pendidikan Karakter


Ditulis oleh Usman Supendi

EKSISTENSI peradaban sebuah bangsa, tentunya tidak terlepas dari masa lalu. Sebab masa kini terbentuk karena peradaban masa lalu yang sudah menjadi milik sejarah. Masa sekarangpun  akan membentuk peradaban masa datang. Artinya masa lalu merupkan sebuah pelajaran yang harus dipelajari,  masa sekarang harus kita jalani sebaik mungkin, dan masa depan merupakan penerapan hasil pembelajaran dari masa lalu dan masa sekarang. Tentunya masa lalu itu meninggalkan banyak kearifan lokal (local genius). Salah satunya kearifan lokal yang dimiliki suku Sunda. Kearifan lokal tersebut tersebar dalam adat istiadat, tradisi lisan, seni tradisi, naskah-naskah tua, dan bentuk-bentuk kebudayaan lain yang mencerminkan peradaban masa lalu.  Karena suku Sunda terbentuk bukan dalam waktu sebentar, tetapi terbentuk beratur-ratus tahun, sejak jaman prasejarah hingga menjadi bagian masyarakat modern. Tentunya dari perjalanan peradaban suku Sunda tersebut akan meninggalkan jejak yang berharga berupa ayat-ayat kearifan budaya untuk dipelajari, untuk ditafsir ulang nilai-nilainya.

Nilai-nilai kearifan lokal kiranya dapat dimanfaatkan sebagai sumbang nilai terhadap kehidupan masa sekarang dan masa yang akan datang. Ayat-ayat kearifan hidup menjadi nilai untuk direvitalisasi. Sebab menurut pendapat Ayatrohaendi (1986: 40) bahwa kearifan lokal (local genius) atau wujud cerlang budaya  mampu bertahan, mampu menghalau budaya luar, memiliki kemampuan mengakomodasi budaya-budaya baru yang menyerbu, mampu berintegrasi dengan kebudayaan baru atau budaya luar, mampu  mengendalikan budaya yang ada, serta menyumbangkan nilai untuk arah kebudayaan yang akan datang.

Kearifan lokal yang terdapat dalam peninggalan peradaban masa lalu seharusnya menjadi nilai revitalisasi untuk pembentukan karakter generasi berikutnya. Sebab menurut pendapat Alwasilah (2006: 18), revitalisasi dari sebuah kebudayaan dapat didefinisikan  sebagai upaya yang terencana, sinambung, dan diniati agar nilai-nilai budaya itu bukan hanya dipahami oleh pemiliknya, melainkan juga membangkitikan segala wujud kreativitas dalam kehidupan seharii-hari dan dalam menghadapi berbagai tantangan. Demi revitalisasi, maka ayat-ayat kebudayaan tersebut harus dikaji ulang atau ditafsir baru.

Revitalisasi memang perlu dilaksanakan.Transfer nilai harus dilakukan, agar ada benang merah yang tetap terjalin antara masa lalu dan masa sekarang. Terkait hal itu, saat ini pemerintah sedang merencanakan mata ajar pendidikan karakter untuk di tingkat pendidikan dasar (PAUD, TK, dan SD), pendidikan menengah (SMP dan SMA), serta pada tingkat perguruan tinggi. Alangkah baiknya kegiatan mentransfer ulang nilai dari masa lalu ke masa sekarang itu menggunakan pembelajaran pendidikan karakter. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional sudah merencanakan bahwa tahun mendatang harus hadir mata ajar pendidikan karekter di tengah-tengah kelas, dan bukan saja implisit, tetapi harus eksplisit dengan melibatkan pusat kurikulum. Pusat kurikulum harus mempersiapkan rambu-rambu pembelajaran pendidikan karakter di tingkat dasar dan menengah, sebagaimana layaknya mata pelajaran lain.  Padahal menurut pendapat Khan (2010: 120-121) pendidikan karakter bisa dipadukan ke dalam mata pelajaran; pendidikan agama, pendidikan moral pancasila, pendidikan kewarganegaraan, pendidikan sejarah bangsa, pendidikan kesusastraan, pendidikan budi pekerti, dan kepada pendidikan filsafat ilmu (bagi mahasiswa). Tetapi pemerintah ingin jelas output, ingin melihat hasilnya dalam bentuk evaluasi diri, sehingga pendidikan karakter harus menjadi mata pelajaran tersediri dalam kurikulum.

Pendidikan Karakter Orang Sunda

Jauh sebelum pendidikan karakter menjadi wacana akan dimasukan ke dalam kelas, menjadi pembelajaran kurikuler di sekolah dan di kampus, orang Sunda sudah memiliki landasan hidup yang berorientasi kepada pembentukan karakter. Orang Sunda memiliki filosofi hidup silih asah, silih asih, silih asuh. filosofi ini, kalau ditafsirkan kepada teori Benjamin S. Bloom dalam bukunya Taxonomy of Education of Objectives, Cognitive Domain  (1959), dapat disejajarkan dengan ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Sebab silih asah itu orientasi nilainya kepada peningkatan kualitas berpikir, mengasah kemampuan untuk mempertajam pikiran dengan tempaan ilmu dan pengalaman. Seperti tercermin dalam ungkapan “peso mintul mun terus diasah tangtu bakal seukeut” artinya pisau tumpul kalau terus diasah akan tajam juga; atau “cikarakac ninggang batu laun-laun jadi legok” artinya air tempias menimpa batu lama-lama batunya akan berlubang. Dengan kata lain, sebodoh-bodohnya orang kalau terus ditempa, suatu saat akan ada bekasnya dari hasil pembelajaran itu.

Makna silih asih, orientasi nilainya kepada makna tingkah laku atau sikap individu yang memiliki empati, rasa belas kasihan, tenggang rasa, simpati terhadap kehidupan sekelilingnya atau memiliki rasa sosial yang tinggi. Tercermin dalam ungkapan “ka cai kudu saleuwi ka darat kudu selebak” arti utamanya adalah kebersamaan. “Ulah pagiri-giri calik, ulah pagirang-girang tampian” artinya jangan ada permusuhan di antara manusia. Sebab manusia itu harus “sareundeuk saigel, sabobot sapihanean, sabata sarimbagan artinya harus memiliki jiwa kebersamaan, gotong royong atau saling menolong.

Makna silih asuh, orientasi nilainya adalah kasih sayang dalam tindakan yang nyata, sikap pragmatik seseorang di masyarakat, eksistensi diri, menerapkan potensi diri di masyarakat. Kepada yang lebih tua harus lebih hormat, kepada sesama harus saling menjaga, kepada yang lebih muda harus mampu mengayomi dan memberi contoh yang baik. Seperti tercermin dalam ungkapan “kudu landung kandungan kedah laer aisan” artinya hidup harus mengayomi orang lain selain mengoyomi diri sendiri. “Hirup ulah manggih tungtung, paeh ulah manggih beja” artinya selamanya dikenang dalam kebaikan dan kalau meninggal tidak meninggalkan sifat buruk.

Dalam pendidikan karakter menurut pendapat Khan (2010: 14) bahwa pendidikan karakter merupakan pendidikan yang tidak saja membimbing, dan membina setiap anak didik untuk memiliki kompetensi intelektual, kompetensi keterampilan mekanik, tetapi juga harus terfokus kepada pencapaian pembangunan dan perkembangan karakter. Jadi, manusia terdidik harus memiliki kompetensi intelektual atau silih asah, harus memiliki kompetensi keterampilan mekanik atau silih asuh, dan mampu mencapai pembangunan dan perkembangan karakter atau silih asih.

Karakter Pragmatis Orang Sunda

Kalau saja nilai-nilai lama direvitalisasi ke dalam kehidupan orang Sunda, tentunya wujud cemerlang kehidupan orang Sunda tidak perlu diragukan lagi. Tapi menurut Alwasilah (2006: 18) ayat-ayat kebudayaan lama yang tercermin dari kehidupan masa lalu sering dihujat sebagai pelestari feodalisme dan kemunafikan, dan inilah yang menghambat kompetisi global yang meniscayakan demokrasi dan transparansi. Mestinya lanjut Alwasilah (2006: 19) terbentuk dalam diri orang Sunda tentang perspektif budaya, yakni sudut pandang terhadap budayanya sendiri. Inilah revitalisasi kultur dalam tataran kognitif dan afektif sebagai pencerahan hidup.

Kesadaran akan nilai-nilai lama untuk menjadi pegangan hidup yang akan datang sebenarnya bagian dari pembentukan karakter manusia. Sebab menurut pendapat Aziz (2011: 128) yang membentuk manusia menjadi paripurna atau insan kamil adalah agama dan lingkungan hidup  yang mempengaruhi hidupnya.  Agama tentunya hubungan manusia dengan penciptanya atau hubungan vertikal. Lingkungan adalah hubungan horizontal, hubungan manusia dengan manusia atau ada interaksi sosial. Manusia Sunda tentu saja mengenal hal itu, dalam satu sisi harus memiliki keterikatan kepada Yang Di Atas, dan satu sisi harus menjadi pelaku di buana panca tengah (dunia) untuk mengemban azas tri tangtu di buana (resi, rama, dan ratu), dan hubungannya harus harmonis. Kehamonisan tersebut tercermin dari pragmatisme hidup orang Sunda, yaitu karakter religius, karakter personal, etos kerja, ketertiban hukum, kepemimpinan, dan bidang pendidikan atau pengasuhan.

a.      Sistem Religi

Manusia Sunda tercipta dari budaya ladang atau masyarakat huma dengan sistem religi bermula dari tidak mengenal Tuhan, berlanjut mengenal Tuhan dengan ditandai masuknya Hindu-Budha, dan terakhir datangnya agama Islam. Tetapi jauh sebelum Islam masuk, pada saat Sunda ada dalam dinasti Pajajaran, orang Sunda sudah memiliki agama Sunda Wiwitan, sebuah agama hasil akulturasi dari nilai-nilai masa lalu dengan agama Hindu-Budha sebagai agama baru. Orang Sunda sangat percaya akan adanya Sanghyang Taya (Tuhan yang tidak terlihat) atau  disebut juga Sanghyang Tunggal (Tuhan Maha Esa). Munculnya analogi bahwa Tuhan itu tidak terlihat, tidak ada dalam wujud kehidupan tetapi ada di atas sana dan hanya satu atau esa, mungkin pengaruh dari kepercayaan orang tua dahulu terhadap dunia kahiangan (kayangan) yang gaib. Sistem religius tersebut tercermin dari dua pantun Sunda yang fenomenal, yaitu pantun Mundinglaya Dikusumah dengan Lutung Kasarung. Kedua pantun tersebut isinya bercerita tentang dunia atas yang gaib, dunia atas sebagai penolong, dunia atas sebagai tempatnya roh-roh suci. Tapi dunia atas dalam pantun ini tidak digambarkan berupa nama-nama dewa seperti halnya dalam kepercayaan Hindu-Budha, dunia atas dalam kepercayaan Sunda sudah beradaptasi dengan kepercayaan orang Sunda terdahulu. Dunia atas dalam versi pantun ini adalah berisi tokoh gaib versi kepercayaan orang Sunda, serpeti Sunan Ambu, Sanghyang Tunggal, atau Sanghyang Taya.

Cerita Mundinglaya Dikusumah menceritakan seorang tokoh Mundinglaya Dikusumah yang meminta pertolongan pada penghuni dunia atas. Mundinglaya sosok teraniaya yang mendapat hukuman dari Raja Pajajaran yang sebenarnya ayahnya sendiri. Mundinglaya dihukum karena difitnah telah berlaku tercela, yaitu dituduh menggoda istri orang. Mundinglaya Dikusumah dihukum, salah satu syarat menebus hukuman tersebut Mundinglaya Dikusumah harus mengambil pusaka Lalayang Salaka Domas di jabaninglangit atau buana nyuncung. Lalayang Salaka Domas tersebut dibutuhkan untuk menyembuhkan rakyat dan Negara Pajajaran yang terkena musibah. Artinya Mundinglaya harus terbang ke jabaninglangit (dunia atas) untuk mengambil pusaka, dan harus mengalahkan Jongrang Kalapetong dan Guriang Tujuh sebagai faktor penghalang. Tafsir ayat kearifan pantun ini, manusia buana panca tengah (bumi) memerlukan buana nyungcung  (dunia atas) sebagai sarana tempat meminta, mengadu,  atau berharap, sebab di sajabaninglangit itulah Sanghyang Tunggal berada.

Cerita Lutung Kasarung terbalik dengan cerita Mundinglaya Dikusumah. Dalam cerita Lutung Kasarung dunia atas memberi pertolongan ke dunia bawah. Dunia atas menjalankan tugas dan fungsinya untuk memberi pertolongan pada dunia bawah. Tokoh Guru Minda diutus ke bumi untuk memberi pertolongan terhadap Purba Sari yang dianiaya oleh kakaknya bernama Purba Larang. Guru Minda menjelma menjadi lutung harus memenangkan kebaikan dan mengalahkan kejahatan yang dilakukan oleh Purba Larang dan Indra Jaya kekasihnya. Purba Larang dan Indra Jaya menganiaya Purba Sari karena menyingkirkan Purba Sari agar tidak naik tahta jadi ratu di  kerajaan Pasir Batang Anu Girang. Dalam cerita ini Guru Minda sebagai simbol dunia atas harus mampu membuktikan bahwa kejahatan bisa kalah oleh kebaikan, dan kemenangan itu atas perbuatan baik. Artinya dunia atas itu penolong kepada orang yang berusaha di jalan kebaikan, dan akan selalu berpihak kepada hal-hal yang dilakukan orang dalam kebaikan.

b.      Karakter Personal

Karakter manusia Sunda yang diharapkan sebagai manusia yang memiliki kepribadian, memiliki sikap, memiliki karisma, dan memiliki jiwa kepedulian sosial, yaitu (1) kudu hade gogog hade tagog, yaitu memiliki penampilan yang meyakinkan, optimistik, dan karismatik; (2) nyaur kudu diukur, nyabda kudu diungang, yaitu harus menjaga ucapan, tindakan atau perbuatan agar tidak menyakiti orang; (3) batok bulu eusi madu, yaitu harus memiliki otak atau kecerdasan yang baik; (4) ulah bengkung bekas nyalahan, yaitu jangan salah berbuat karena hasilnya akan sia-sia atau hasilnya tidak akan baik; (5) ulah elmu ajug, yaitu jangan menasehati orang tetapi diri sendirinya butuh nasihat orang lain atau jangan mengajak orang lain berbuat baik sendirinya saja tidak baik;  (6) sacangreud pageuh sagolek pangkek,  yaitu hidup harus memiliki prinsip; (7) ulah gindi pikir belang bayah, yaitu jangan berbuat jahat, memiliki pikiran jelek pada orang, atau dengki kepada orang; (8) kudu leuleus jeujeur liat tali, yaitu hidup itu harus kuat, menanggung beban sebarat apapun jangan menyerah.

c.       Etos Kerja

Manusia Sunda pun dituntut memiliki katakter menjadi manusia pekerja, manusia mandiri, manusia yang memiliki etos kerja. Filosofis manusia Sunda sebagai manusia pekerja di antaranya: (1)  mun teu ngoprek moal nyapek, mun teu ngakal moal ngakeul, mun teu ngarah moal ngarih, yaitu kalau mau makan atau mau mempertahankan hidup maka bekerjalah; (2) tungkul ka jukut tanggah ka sadapan, yaitu kerjakan apa yang mesti dikerjakan, jangan terganggu oleh hal-hal lain yang mengganggu perkerjaan utama dan harus rendah hati jika telah mendapatkan kesuksesan;  (3) ulah kumeok memeh dipacok, yaitu jangan pernah menyerah sebelum melakukan pekerjaan, harus tetap optimis; (4) ulah kurung batokkeun, yaitu manusia harus banyak bergaul agar banyak teman dan menambah pengalaman; (5) kudu bisa ka bala ka bale, yaitu manusia itu harus berusaha untuk memiliki banyak pengetahuan dan keterampilan, mau bekerja apa saja asal halal, jangan memilih-milih pekerjaan yang akhirnya malah menganggur; (6) ulah muragkeun duwegan ti luhur, yaitu jangan mengerjakan sesuatu yang hasilnya malah gagal atau sia-sia; (7) ulah cacag nangkaeun, yaitu jangan mengerjakan sesuatu setangah-setengah sebab hasilnya tidak akan memuaskan, malah menjadi berantakan; (8) ulah puraga tanpa kateda, yaitu jangan mengerjakan sesuatu asal jadi saja, pada akhirnya bos atau orang yang mengerjakan kitu merasa kecewa akan hasil kerja kita; (9) ulah ngarawu ku siku, jangan menerima pekerjaan jangan serakah, semua tawaran diambil, sebab pada akhirnya akan sia-sia bahkan tidak akan berbuah; (10) hejo tihang, yaitu jangan pindah-pindah tempat kerja; (11) muru julang ngaleupaskeun peusing, jangan tergiur dengan iming-iming yang belum tentu menghasilkan, lebih baik tekuni yang sedang digarap tetapi hasilnya sudah menjanjikan.

d.      Ketertiban dalam  Hukum dan Keadilan

Masalah keadilan harus tertanam juga dalam manusia Sunda. Leluhur Sunda sudah memberikan filosofis tentang keadilan, tujuannya agar manusia Sunda memiliki jiwa adil dan beradab, seperti yang tercermin dalam: (1) ulah cueut ka nu hideung ulah ponteng koneng, yaitu katakan salah bila salah, katakan benar kalau memang benar, jangan berpihak kepada yang salah; (2)  kudu nyanghulu ka hukum, nunjang ka nagara, mupakat ka balarea, yaitu aturan harus bersumber kepada hukum, harus berbakti benar ke Negara, dan kebenaran itu harus menurut orang banyak (rakyat); (3) kudu puguh bule hideungna, yaitu perkara itu harus jelas aturannya bila ingin mengambil tindakan; (4) bobot pangayon timbang taraju, yaitu menimbang kesalah harus dengan aturan yang jelas seusuai dengan kesalahan yang diperbuatnya; (5) nu lain kudu dilainkeun, nu enya kudu dienyakeun, nu ulah kudu diulahkeun; yaitu harus berkata jujur jangan melarang-larang sesuatu yang tidak sesuai dengan kebenaran.

e.       Kepemimpinan

Karakter pemimpin yang diinginkan oleh leluhur Sunda adalah jujur, adil dan menjadi pengayom yang dipimpinnya. Pempinan pada masyarakat Sunda yaitu dimulai dari RT, RW, kokolot, lebe, kuwu, camat, wadana, bupati, dan seterusnya. Mereka itu dalam kepemimpinannya sudah dibekali filosofis sebagai pembentukan karakter. Konsep kepempinan menurut ayat kearifan Sunda; (1)  lain palid ku cikiih, lain datang ku cileuncang, yaitu bahwa pemimpin itu tidak sekonyong-konyong ada di tengah masyarakat, tetapi keberadaanya itu melalui proses dan atas kepercayaan rakyat; (2) landung kandungan laer aisan, yaitu pemimpin harus memiliki jiwa kasih sayang, sebab pemimpin itu harus jadi ibu sekaligus bapak bagi rakyatnya; (3) kudu handap asor; yaitu pemimpin jangan sombong, jangan semena-mena; (4) bentik curuk balas nunjuk capetang balas miwarang, yaitu jadi pemimpin jangan otoriter, jangan main perintah, sebaiknya sama-sama bekerja dengan bawahan; (5) ulah getas harupateun, yaitu jangan emosional jangan cepat mengambil tindakan; (6) kudu dibeuweung diutahkeun, yaitu sebagai pemimpin harus mempertimbangkan masalah atau “kudu asak-asak ngejo bisi tutung tambagana, kudu asak-asak nempo bisi kaduhung jagana” (harus penuh pertimbangan dalam memutuskan perkara atau mengambil keputusan); (7) ngeuyeuk dayeuh ngolah nagara, yaitu pemimpin harus mampu mengelola daerahnya dengan mempotensikan rakyat, dan mampu menjadi abdi Negara yang baik; (8) ulah lali ka purwadaksi, yaitu jadi pemimpin jangan lupa kepada asal-usul, jangan (9) unggah pileumpangan, yaitu berubah sikap jadi sombong setelah jadi priayi.

f.       Arah Pendidikan Manusia Sunda

Manusia Sunda dibesarkan hidupnya di alam pegunungan, sebab nenek moyangnya adalah manusia ladang. Berbeda dengan manusia Jawa, mereka dibesarkan di lahan pesawahan. Ciri manusia ladang mengandalkan pepohonan yang hidup di ladang sebagai alat untuk bertahan hidupnya. Tidaklah heran manusia Sunda memanfaatkan pepohonan sebagai makanannya, maka pendidikan pun mengarah kepada bagaimana memanfaatkan potensi yang ada di pegunungan. Tercermin dari pembuatan rumah, alat rumah tangga, bahkan alat berburu pun menggunakan potensi yang ada di ladang.

Karakteristik orang Sunda ibarat “ayam”, karena ayam merupakan simbol hewan manusia ladang. Berbeda dengan manusia Jawa, bebek sebagai simbol hewan peliharaannya karena orang Jawa adalah manusia sawah. Tercermin dari ungkapannya; (1) ulah ngepek jawer, maksudnya jangan menjadi manusia penakut; (2) ulah ipis burih, sama artinya yaitu jangan menjadi manusia penakut dann peragu; (3) bengkung ngariung bongkok ngaronyok, maksudnya selalu berkumpul ibarat untuk menjalin kebersamaan. Dari ungkapan babasan dan paribasa di atas terdapat istilah jawer, burih, dan ngaronyok, itu adalah simbol ayam.

Dalam mendidik anak untuk tidak menjadi sombong, manusia Sunda menggunakan simbol alam sebagai perumpamaanya; (1) alak-alak cunampaka; (2) piit ngeundeuk-ngeundeuk pasir; (3) pacikrak ngawan merak; (4) cecendet mande kiara; (5) jogjog neureuy buah loa; maksud dari ungkapan di atas artinya sama, manusia jangan sombong, jangan menyepelekan hidup.

Adapun ungkapan yang menyuruh manusia Sunda untuk belajar; (1) elmu tungtut dunya siar,  maksudnya tuntutlah ilmu sambil mencari penghidupan; (2) ngundeur luang mah ka daluang jeung papada urang, artinya mencari ilmu itu dari buku (daluang) dan dari sesama manusia (guru, orang tua, atau masyarakat); (3) manuk hiber ku jangjangna jalma hirup ku akalna, pergunakan akal sebagai alat kehidupan;  (4) mending bodo alewoh, artinya lebih baik bodoh tetapi mau bertanya dari pada pintar tapi tidak mau bertanya kepada orang; (5) mending waleh manan leweh, lebih baik bertanya pada orang dari pada tidak bisa apa-apa;  (6) nete taraje nincak hambalan, belajar itu sebuah proses alami; (7) moal nukang ka burang, moal nonggong ka rombongan, nyanghareup mah ka kolot ka lalakon, artinya segala sesuatu segala sesuatu belajar dulu dari pengalaman. ***

 

Daftar Pustaka

Alwasilah, A. C. 2006. Pokoknya Sunda, Interpretasi untuk Aksi. Bandung: Kiblat.

Azis, H.A. 2011. Pendidikan Karakter Berpusat Pada Hati, Akhlak Mulia Pondasi Membangun Karakter Bangsa. Jakarta: Al-Mawardi.

Danandjaja, J. 1998. Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan lain-lain. Jakarta:Grafiti.

Dienaputra, R. D. 2006. Sejarah Lisan: Konsep dan Metode. Bandung: Balatin Pratama.

Ekadjati, E. S. 1988. Naskah Sunda. Bandung: Universitas Padjadjaran.

Endraswara, Suwardi. 2006. Metode, Teori, Teknik Penelirian Kebudayaan: Ideologi, Epistemologi, dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.

Hidayat, R. T, dkk. 2005. Peperenian Urang Sunda. Bandung: Kiblat.

Khan, D. Y. 2010. Pendidikan Karakter Berbasis Potensi Diri:  Mendongkrak Kualitas Pendidikan. Semarang: Pelangi Publishing.

LBSS. 1995. Kamus Umum Basa Sunda. Bandung: Tarate.

Rohaedi, A. 1986. Kepribadian Budaya Bangsa: Local Genius. Jakarta: Pustaka Jaya.

Rosidi, A. 2004. Sastera dan Kebudayaan: Kedaerahan  dalam Keindonesiaan. Jakarta: Pustaka Jaya.

Sumardjo, J. 2003. Simbol-simbol Artefak Budaya Sunda: Tafsir-tafsir Pantun Sunda. Bandung: Kelir.

Sumardjo, J. 2004. Hermeneutika Sunda. Bandung: Kelir.

Warnaen, S., dkk. 1987. Pandangan Hidup Orang Sunda, Seperti Tercermin dalam Tradisi Lisan dan Sastra Sunda. Bandung: Sundanologi.

Advertisements

Author:

Berkeinginan untuk menjadi pembelajar dan pencari kebenaran Ilahi yang hakiki serta selalu berkeinginan untuk bersimpuh membawakan terumpah dan jubah untuk Rasulullah. semoga

3 thoughts on “Nilai Kearifan Lokal Dan Pendidikan Karakter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s