Posted in Tradisi

“BUBUR MERAH” DAN “BUBUR PUTIH”


Tradisi Nga-“bubur beureum” dan “bubur Bodas”

Masa kecilku di sekitar tahun 1975-1985-an masih sering menyaksikan beberapa pendudukan desa Melong, dan beberapa desa lainnya, di Cimahi Selatan kabupaten Bandung, menyuguhkan hidangan berupa bubur beureum (bubur merah) dan bubur bodas (bubur putih). Kebiasaan atau adat-istiadat ini dikenal oleh masyarakat Sunda Priangan sebagai tradisi ngabubur beureum jeung ngabubur bodas. Bubur ini, umumnya, dihidangkan bersamaan dalam sebuah piring kecil yang porsinya dibagi dua, yakni setengah untuk bubur merah, setengah lagi untuk bubur putih. Bubur merah terbuat dari beras ketan yang diberi gula merah [umumnya gula yang berasal dari gula kawung (aren)]. Sedangkan bubur putih terbuat dari beras yang diberi garam dan bumbu secukupnya.

Umumnya, saat itu, kedua jenis bubur ini dapat ditemui pada beberapa moment, yakni:

  1. Pada saat memberi nama seorang bayi dan atau mengganti nama seseorang. Oleh karena itu, terdapat pertanyaan dikalangan masyarakat Sunda Priangan “geus ngabubur beureum jeung ngabubur bodas atawa acan? [sudah membuat bubur merah atau bubur putih atau belum?] pertanyaan ini umumnya muncul ketika menanyakan nama seorang bayi yang baru berumur harian atau dilontarkan kepada seseorang yang mengganti namanya. Keluarga sang bayi, umumnya orang tuanya, membagikan kedua jenis bubur ini untuk menunjukkan bahwa bayi mereka telah diberi nama.
  2. Pada saat perayaan 10 Muharam atau dikenal dengan ‘asyura. Buburnya dikenal juga dengan bubur sura. Bubur ini, saat itu, umumnya dibagikan pada pagi hari, setelah perayaan “sura” dan dibagikan oleh orang yang cukup “berada”, terutama para kyai, pimpinan pondok pesantren, marabot (imam mesjid), atau para kara-dermawan.
  3. Pada saat mendirikan rumah; sebagian orang Sunda menyebutnya “pada saat ngadegkeun imah”.

Sekalipun tradisi ini diklaim merupakan tradisi yang sudah berurat-akar di kalangan masyarakat Sunda Priangan sebagai warisan dari nenekmoyang, tetapi mengenai asal-usul kemunculan tradisi ini masih belum jelas. Tapi umumnya sepakat bahwa tradisi muncul ketika Jawa Bagian Barat terpengaruh oleh Islam, terlebih terkait dengan Bubur Syura yang disajikan pada peringatan ‘Asuraan, yang dikaitkan dengan peristiwa “Syahidnya Sayyidina Husein, cucu Rasulullah, di Padang Karbala.

Terdapat pemaknaan simbolik terhadap keberadaan kedua jenis bubur ini, terutama ketika dihubungkan dengan moment-moment penyajiannya. Kedua bubur ini melambangkan keberanian dan kesucian; Merah (simbol dari keberanian) dan putih (simbol dari kesucian). Pada moment pemberian nama, kedua bubur ini merupakan simbol dari harapan keluarga, agar kelak si jabang bayi memiliki keseimbangan antara sifat berani [karena benar] dan kesucian (pemihakan pada kebenaran dan orang-orang lemah, mushtadh’afin).

Sedangkan pada moment10 Muharram atau Sura, kedua jenis bubur ini dihadirkan sebagai bentuk napak tilas terhadap peristiwa Syuhada-nya Sayyidina Husein (cucu Nabi Muhammad) di Padang Karbala oleh pasukan Yazid. Bubur ini menyimbolkan keberanian dan darah syihada dari Sayyidina Husein dan pasukannya yang melakukan puputan (perang terakhir, sekalipun dengan kekuatan tak berimbang). Sedangkan bubur putih menyimbolkan kesucian atau kebenaran yang dibela Sayyidina Husein. Pemaknaan ini jelas merupakan data khas Islam.

Selebihnya, kedua bubur ini pun seringkali diinisiasi sebagai napak tilas pada peristiwa banjir Nabi Nuh. Kala penyelamatannya dari banjir Bah, Nabi Nuh dan pengikutnya sempat hampir kehabisan cadangan makanan. Oleh karena itu, penghematan makanan dengan cara mencampur bahan makanan dilakukan, termasuk menyajikan kedua jenis bubur ini.

Sedangkan pada moment pendirian rumah, kedua bubur ini sering disandingkan dengan bendera merah putih serta makanan lainnya. Maksud dari si empunya rumah adalah untuk berbagi dengan tetangga sebagai ekspresi dari rasa syukur dikarunia oleh Allah berupa kemampuan mendirikan rumah. Kedua bubur ini pun, menurut sebagian kalangan tua, menyimbolkan pendidikan terhadap tanah air [merah: tanah; air:putih], terutama dalam konteks perlawanan [diam] terhadap kolonial Belanda dan Jepang. Ketika kain untuk bendera merah putih masih terbatas, maka bubur merah dan putih dijadikan media penyimbolan bagi lambang negara Indonesia.

Pada ketiga momen tersebut, penggunaan kedua jenis bubur ini, pada saatnya, tidak dapat dilepaskan dari fungsinya sebagai media pendidikan penanaman kesadaran nilai yang digunakan masyarakat Sunda. Kini fungsi ini diambil alih dengan media lain, yang belum tentu memiliki efektivitas yang sama. Tradisi ini kini sudah mulai memudar di kalangan pemakainya.

Cileunyi, 03 Februari 2011

Dadan Rusmana

Advertisements

Author:

Berkeinginan untuk menjadi pembelajar dan pencari kebenaran Ilahi yang hakiki serta selalu berkeinginan untuk bersimpuh membawakan terumpah dan jubah untuk Rasulullah. semoga

6 thoughts on ““BUBUR MERAH” DAN “BUBUR PUTIH”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s