Posted in Eksotisme Dunia Islam, Islam di Eropa dan Amerika

Islam Jadi Agama Terbesar Kedua di 20 Negara Bagian AS


Pertumbuhan kuantitatif jumlah muslim di Amerika terus menunjukkan grafik naik, semoga hal ini diimbangi dengan kenaikan tingkat kualitas. Tulisan di bawah ini menunjukkan hal demikian.

Pertumbuhan penduduk muslim ini disebabkan imigrasi, terutama pengungsi dari Somalia, Irak, Afghanistan dan Bosnia.

Dream – Sensus terbaru Amerika Serikat menyebutkan Islam adalah agama terbesar di 20 negara bagian, setelah Kristen. Data terbaru ini dirilis Asosiasi Statistik dari Badan Keagamaan Amerika, yang melakukan sensus agama setiap 10 tahun sekali.

Menurut Washington Post, Islam datang ke Amerika dan berhasil menjadi agama terbesar kedua di 20 negara, terutama di utara bagian tengah dan bagian selatan Amerika. Di sisi lain, Yahudi memiliki pengikut paling besar di 15 negara bagian, terutama di timur laut. Sementara Hindu di tempat kedua, terutama di Arizona dan Delaware. Sensus ini juga menemukan Kristiani masih menjadi agama terbesar di Amerika Serikat dengan lebih dari tiga perempat penduduk Amerika menganut agama Kristen. Lebih dari setengahnya adalah Protestan, sekitar 23 persen adalah Katolik dan sekitar 2 persen Mormon. Kristen Katolik mendominasi negara-negara bagian yang terletak di timur laut dan barat daya.

Pada sensus sebelumnya yang diterbitkan oleh ASARB menunjukkan secara nasional, penganut Islam tumbuh sebesar 1 juta pada 2000 dan 2010, diikuti oleh Mormonisme. Islam tumbuh sebesar 67 persen, sedangkan Mormonisme tumbuh sebesar 46 persen. Pertumbuhan penduduk muslim ini disebabkan imigrasi, terutama pengungsi dari Somalia, Irak, Afghanistan dan Bosnia. Hal itu ditambah dengan meningkatnya jumlah kelahiran dan mualaf. Meskipun tidak ada pernyataan resmi, AS merupakan rumah bagi 7-8 juta muslim. Menurut sebuah studi 2011 yang dilakukan Pew Forum tentang Agama dan Kehidupan Publik, sekitar 20 persen orang AS menjadi mualaf yang terdiri dari 54 persen adalah laki-laki dan 46 persen adalah perempuan.

Sumber: http://www.dream.co.id/jejak/islam-jadi-agama-terbesar-kedua-di-20-negara-bagian-as-1406067.html

 

Advertisements
Posted in Budaya, Budaya Suku Tradisional, Cross Cultural Understanding, Kebudayaan

Ritual Menuju Kedewasaan di Berbagai Suku


Merdeka.com – Transisi dari anak-anak menuju kedewasaan merupakan saat yang penting dalam kehidupan manusia. Karena itulah masa peralihan ini biasanya disambut dengan pesta, perayaan, atau tradisi khusus. Di negara-negara barat, masa peralihan ini disambut dengan pesta debut. Keluarga mengadakan pesta di mana anak gadis diperkenalkan secara resmi kepada khalayak untuk pertama kalinya. Pesta debut ini menandai diterimanya si anak sebagai anggota masyarakat.

Budaya-budaya di negara lain umumnya memiliki tradisi yang berkonsep serupa. Ritual inisiasi untuk menandai peralihan seseorang dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Tetapi tak selalu diwarnai dengan pesta dan kesenangan, beberapa budaya di dunia menjalankan ritual menyakitkan untuk menyambut kedewasaan. Ada yang harus dipukuli, dicambuk, sampai disayat dengan pisau. Semua itu ditujukan untuk melatih mental dan ketahanan fisik orang yang diinisiasi, sehingga kelak dia bisa menjadi manusia yang kuat dan tabah dalam menjalani cobaan hidup. Tetapi bagi orang-orang dari kebudayaan lain bisa jadi ritual-ritual ini dianggap kejam.

Berikut ini kami sajikan 7 dari sekian banyak ritual menyakitkan untuk memasuki gerbang kedewasaan yang dirangkum dari Listverse dan Ranker.

1. Mengenakan sarung tangan dengan semut beracun, Amazon

Merdeka.com – Suku Satere-Mawe yang hidup di pedalaman hutan Amazon juga memiliki tradisi mengerikan untuk mengantar pemuda menuju kedewasaan. Para pemuda suku yang hendak menuju kedewasaan harus menjalani ritual di mana tangan mereka dimasukkan ke dalam sarung tangan yang sudah diisi semut peluru selama sepuluh menit. Sekadar informasi, semut peluru adalah spesies serangga yang memiliki racun sangat kuat. Menurut Schmidt Sting Pain Index, tingkat rasa sakit akibat gigitan semut ini berada pada skala 1,0 – 4,0, bisa digambarkan seperti terbakar hidup-hidup. Dan rasa sakit itu bisa berlangsung selama berjam-jam atau sehari penuh.

Ritual memasukkan tangan ke dalam sarung tangan berisi semut peluru itu dilakukan sampai 20 kali. Si pemuda harus menahan rasa sakit yang dia rasakan untuk membutktikan kejantanan dan kekuatannya. Dia tidak boleh berteriak atau mengeluh walaupun kadang ada saja yang sampai pingsan karena tak tahan dengan rasa sakitnya.

2. Tato motif buaya, Papua Nugini

Merdeka.com – Suku primitif yang tinggal di sepanjang sungai Sepik, Papua Nugini menjalankan tradisi menyakitkan untuk mengantarkan para pemuda anggota suku menuju kedewasaan. Tradisi itu berkaitan erat dengan ritual pemasangan tato di tubuh pemuda yang sedang dipersiapkan untuk menuju kedewasaan. Kulit di dada, punggung, dan pinggang si pemuda dilukai sedemikian rupa hingga nantinya menghasilkan tato yang bentuknya mirip seperti sisik buaya. Kenapa harus buaya? Karena anggota suku ini percaya kalau hewan yang dianggap punya kekuatan mistis itu akan menyerap kemudaan si pemuda selama proses tato yang menyakitkan tersebut. Jika sudah kehilangan kemudaannya, maka yang tersisa hanyalah kedewasaan saja.

Tak cukup sampai di situ, si pemuda masih harus menjalani sebuah ritual di mana dia akan dipermalukan dengan berbagai cara selama berminggu-minggu. Kedua ritual ini dipercaya dapat memperkuat mental dan fisik si pemuda, dua hal yang dibutuhkan untuk menjadi seorang pria dewasa dalam suku itu.

3. Khitan ala Aborigin, Australia

Merdeka.com – Suku Mardudjara adalah salah satu etnis pribumi Aborigin yang merupakan penduduk asli Australia. Anak-anak lelaki di suku itu menjalani ritual mirip khitan begitu memasuki usia baliq, yaitu 15 atau 16 tahun. Tetapi berbeda dengan tradisi khitan di budaya Indonesia, proses khitan ini dilakukan di depan api unggun menggunakan pisau khusus yang sudah dimantrai. Tak ada proses pembiusan seperti yang biasa ditemui dalam pengkhitanan modern. Jadi si anak harus menahan rasa sakitnya. Tak selesai sampai di situ, setelah proses khitan selesai si anak harus membuka mulut dan menelan kulit yang dipotong dari organ kemaluannya itu mentah-mentah.

4. Khitan perempuan suku Sabiny, Uganda

Merdeka.com – Khitan untuk wanita sebenarnya adalah praktek yang cukup umum ditemui dalam berbagai budaya, termasuk Indonesia. Tetapi proses khitan untuk menandai kedewasaan perempuan yang dijalankan oleh suku Sabiny di Uganda ini cukup mengerikan dan tak biasa. Dalam khitan ala suku Sabiny, bagian klitoris wanita akan dipotong sebagian. Kadang-kadang klitoris dipotong seluruhnya. Alasannya, dengan tak adanya klitoris hasrat seksual wanita akan berkurang. Jadi dia akan selalu setia kepada suaminya kelak dan tidak memiliki perilaku ‘liar’ di ranjang (yang dianggap memalukan).

Saat khitan berlangsung, perempuan yang menjalaninya harus menahan rasa sakit luar biasa ketika klitoris disayat. Jika berhasil melaluinya, dipercaya si perempuan nantinya sanggup menanggung rasa sakit saat melahirkan anak-anaknya kelak dan melalui berbagai cobaan dalam hidup.

Praktek khitan tradisional ini dianggap berbahaya oleh kalangan medis karena tidak dilakukan secara higienis dan tak ada perawatan khusus untuk mengurangi risiko infeksi pada organ pasien.

5. Setrika dada, Kamerun

Merdeka.com – Yang satu ini mungkin lebih tepat jika disebut sebagai tradisi, meskipun tak kalah menyakitkan dibandingkan ritual-ritual di atas. Gadis-gadis di Kamerun, terutama yang hidup dalam lingkungan dengan budaya tradisional harus menjalani proses di mana dada mereka disetrika agar tampak rata. Para ibu yang memiliki anak gadis di usia remaja menyetrika dada puteri mereka yang sedang tumbuh dengan batu, palu, spatula logam, atau kayu yang sudah dipanaskan terlebih dahulu. Setelah itu si anak diharuskan mengenakan sejenis korset untuk semakin menyamarkan bentuk dadanya.

proses-menyetrika-dada-di-uganda-002-tantri-setyorini

Photo by CNN

Hal ini dilakukan untuk menghindarkan si anak dari ‘perhatian yang tak diinginkan’ para pria. Orang-orang Kamerun berpendapat kalau dada yang menonjol bisa menimbulkan birahi. Jadi dengan dada yang rata para wanita akan terhindar dari pelecehan dan tampak lebih terhormat.

6. Penyayatan perut, Nigeria

Merdeka.com – Etnis Tiv yang tinggal di Nigeria juga memiliki ritual menyakitkan yang harus dilakukan para wanita untuk inisiasi menuju kedewasaan. Begitu mendapatkan haid, gadis-gadis suku Tiv harus menjalani ritual penyayatan perut. Untuk menandai kedewasaan, perut gadis yang baru mendapat haid tersebut disayat dengan beberapa torehan luka berbentuk garis memanjang.

Ritual ini sifatnya wajib bagi para perempuan di sana. Selain menandakan kedewasaan, sayatan-sayatan ini dipercaya dapat meningkatkan kesuburan si gadis. Seorang gadis baru bisa disebut wanita sejati jika sudah memiliki empat bekas sayatan di perutnya. Dengan begitu mereka pun bisa mendapatkan jodoh yang baik.

7. Ritual berburu suku Matis, Brasil

Merdeka.com – Suku Matis adalah etnis minoritas di Brasil yang mata pencahariannya adalah berburu. Pria-pria di suku ini adalah pemburu-pemburu yang andal. Tetapi pekerjaan berburu hanya boleh dilakukan oleh pria-pria dewasa saja. Para pemuda harus menjalani ritual kedewasaan dulu sebelum diizinkan ikut dalam kegiatan berburu.

Ritual kedewasaan ini dimulai dengan kegiatan berburu. Para pemuda yang menjalani ritual dikirim berburu ke hutan untuk pertama kalinya. Sebelum itu mata mereka ditetesi racun yang konon bisa memperkuat daya penglihatan dan indera-indera lainnya. Setelah itu mereka harus dicambuk dan dipukuli untuk menguji ketahanan fisik. Tak berhenti sampai di situ, tubuh mereka disuntik dengan racun dari katak Phyllomedusa yang terkenal mematikan. Orang-orang Matis percaya racun katak tersebut dapat meningkatkan kekuatan dan kekebalan. Tetapi sebelum memperoleh kekebalan, si pemuda harus menanggung efek sampingnya terlebih dahulu, antara lain pusing luar biasa, mual, muntah, bahkan sampai pingsan.

Sumber : http://www.merdeka.com/gaya/7-ritual-menuju-kedewasaan-yang-menyakitkan-dari-berbagai-negara

Posted in Karya Sastra Muslim Modern di Afrika, Modern, Najib Kilani

HARI YANG DIJANJIKAN: NAJIB KAILANI


Pendahuluan     

Sebagaimana novel karya seorang Najib Kaelany yang lainya; novel yang satu ini merupakan novel sejarah yang didalamnya terdapat cirri – cirri sejarah kawasan benua Afrika tepatnya Mesir. Mesir adalah salah satu Negara yang dari zaman dahulu telah sedang menjadi pusat peradaban uat islam seluruh dunia. Semenjak runtuhnya babilonia yag pada mulanya seagai pusat peradaban Islam. Sekarang, Mesir telah menjadi Negara yang maju atas teknologi dan keilmuanya, salah satunya adalah karya sastra ini. Banyak sekali sebenarnya karya sastra yang terlahir dari para penulis creative anak bangsa Mesir; salah satuya adalah Najib Kaelany.
Beliau adalah seorang seniman yang berhasil mengangkat kisah – kisah sejarah dalam karyanya [epos sejarah]. Sejarah asli kerajaan Mesir semasa perag salib. Salah satuya adalah novel garapanya yang satu ini yang menceritakan seluk beluk perag salib dilihat dari segi sosialnya.
Najib Kaelany berusaha mengangkat peristiwa – peristiwa yang sebetulnya tidak perlu dikalaga banyak orang. Contohnya sikap manja dari seorang prajurit tangguh ketika menghadapi sorang wanita. Oleh karena itulah Najib Kaelany berusaha untuk easukan ekstrinsik karya sastra tersebut dari segi kehidupan social. Dan karyanya ini bersifat transparan karena dalam setiap alurnya berisi kisah – kisah yang mengangkat kaum wanita. Dari novel ini pula saya melihat bahwa adanya upaya dari Najib sendiri untuk menguak sifat dasar manusia yang ingin selalu dilindungi, berbuat kebaikan untuk orang lain dan memerikan rasa aman terhadap manusia yang lain.       
Sebenarnya peran karya sastra tidak jauh berbeda dengan peranan dunia pers yaitu sebagai control social. Dalam novel ini terdapat beberapa pejelasan mengenai sifat dasar manusi dan juga kondisi social yang mempengaruhi manusia tersebut menjadi lemah atau bahkan menjadi kuat. Banyak hal bias kita petik dari sepenggal kisah yang diceritakan; yaitu bagaimana seorang wanita yang kalau dilihat dari segi fisiknya leah, namu karena kondisi sosialya memaksa ia menjadi seorang wanita yang kuat dan mandiri. Bahkan sorang wanita bias menjadi sumber kekuatan bagi para prajurit pria yang akan berperang ke medan laga.            
Dalam kaitanya dengan dunia pers yang saat ini terkenal begitu pesat dalam perkembanganya, adalah dari sudut pandang perang pada saat ini. Invasi Amerika terahadap Irak telah menimbulkan banyak protes dari berbagai pihak seluruh dunia, kerena perbuatanya itu dianggap sebagai aksi yang tidak berprikemanusiaan. Dan duia pers pun menyoroti nya demikian sehingga timbulan anggapan demikian, akan tetapi sebagai pembanding dalam kasus perang irak tersebut adalah dengan di tampilkanya sosok para prajurit Amerika yang sedang termenung memikirkan nasibnya yang serba dalam ketidak pastian. Seorang prajurit yang duduk diatas tanker yang dikemudikanya sedang merenung mendengarkan kawan – kawanya yang sedang menyanyikan lagu rohani. Renungan seorang prajurit itu adalah renungan seorang pengasih terhadap sesama degan tatapan kosong terhadap semua peristiwa yang sedang berlalulalang dihadapanya. Dan nyanyian teman – temanya adalah ratapan sekelompok manusia terhadap teman – teman mereka yang gugur di medan perang.       
Jauh sebelum invasi Amerika ke Irak, ada seuntai kisah yang menceritakan keadaan peperangan dimana semua orang merasa resah akan adanya perang tersebut dan telah menimbulkan banyak korban dari rakyat yang tak berdosa; yaitu perang antara kaum salibis melawan kaum muslim dalam tragedy perang salib beberapa abad kebelakang. Oleh karena itulah setiap peristiwa yang bersifat peperagan akan selalu membawa dampak social yang buruk baik terhadap para prajurit ataupun masyarakat sekitar wilayah invasi.
Jadi sebenarya tidak ada bedaya antara invasi zaman dahulu dengan invasi zaman sekarang.
Menurut teorinya Sigmund Freud, seorang ahli psikologi, mengatakan bahwa kesadaran seseorang terlahir dari kesenangan yang dilaluinya, dan setiap kesenangan akan memberikan dampak yang sama terhadap objek yang dihadapiya. Karena kesadaran seseorang berasal dari kesenangan yang sama sebagai umat manusia, maka; setiap peristiwa kamapun dan dimanapun akan terjadi persis sama meskipun waktunya yang berbeda sagat jauh sekali.      
Pada sisi ini, Novel karya Najib kaelany ini merupakan novel sejarah yang meriwayatkan perjuangan seorang Raja yang melawan dua musuh beratnya, yaitu kaum salibis dari eropa dan penyakit yang menjalar dala tubuhnya, juga kisah perempuan yang sangat tangguh, persahabatan yang setia yang diperankan oleh tokoh rekaan. Tokoh rekaan dalam novel ini banyak mengisahkan rakyat biasa dan budak, sedangkan tokoh asli dalam kisah ini adalah orang – orang yang memegang kekuasaan di rerengan kerajaan Mamalik.           
Meskipun novel ini berbentik sejarah, akan tetapi bukan cerita sejarah, karena kalau cerita ini disusun berdasarkan kisah sejarah mulai dari alur plot dan penekanan terhadap climaksnya sesuai dengan kaidah buku ilmiah sejarah, maka; hal itu akan membuat karya ini sebagai buku sejarah dan bukan merupakan karya  sastra. Maka dari itulah pengarang sendiri menyadari akan pentingnya dalam memperhatikan karyanya hingga betul – betul sebagai karya sastra baik dari segi bentuk maupun isinya.

Analisis terhadap unsur intrinsik           

Dalam kisah ini terdapat dua jenis penokohan, sebagaiana telah dijelaskan dalam pembukaan novel ini, diataranya:
Tokoh – tokoh sejarah:
  • raja al malikus najmudin saleh ayyub
  • sajarattudur
  • fakhrudin bin syaikus syuyuk
  • Ø  turan syah
  • Ø  raja louis IX
  • Ø  pangeran Dereto – saudara raja louis
  • Ø  Marseil
  • Ø  Pendeta Robert     
Tokoh – tokoh rekaan :
  • Adnan bin Mujnir
  • Zumrudah
  • Abdul A’ la bin Salmon
  • Yaqutah

 

Karakterisasi:

Tokoh sejarah:
  • Raja AlMalikus Saleh sifatya tangguh, tidak pantang menyerah, dan bersahaja
  • Sajaratudur adalah seorag wanita cantik rupawan dan pemeri seangat terhadap suamiya raja Al Malikus Saleh,
  • Turan Syah adalah dari Al Malikus yang kikir dan cabul sehingga dibenci oleh ayahnya, juga rakyatnya.
  • Raja Louis XI adalah putra mahkota dari kerajan peracis yang cederung lalai dala enjalanka tugasya.
  • Pangeran Dereto merupakan saudara raja louis yang bertidak sebagai paglima perang. Ø  Marseil adalah seorag pemimpin pasukan salibis wajahya geram akan tetapi sifatya pengasih,
  • Pendeta Robert adalah seorang suci dari kaum salibis tapi muafik,
Tokoh rekaan:
  • adnan bin Muznir adalah seorang rakyat biasa yang berani menentang terhadap Turan Syah.
  • Zumrudah adalah wanita budak belian yang tinggal bersama keluarga Adnan
  • Abdul A’la adalah sahabat baik dari Adnan yang setiakawan
  • Yaqutah adalah wanita yang cerdas, cantik, dan kuat ia tiada lain adalah Zumrudah.

 

 

 

Posted in Karya Sastra Muslim Modern di Asia Selatan, Midnight Children, Modern, Salman Rusdhie

MIDNIGHT’S CHILDREN: SALMAN RUSDHIE


Biography Salman Rushdie
Salman Rushdie bernama lengkap Ahmed Salman Rushdie, ia lahir pada tanggal  19 Juni 1947 di Bombay India.  Ia lahir dari pasangan Anis Ahmed Rushdie dan Negin Butt, ayahnya adalah seorang pengusaha yang telah dididik di Universitas Cambridge, di Inggris. Ketika ia beranjak umur  14 tahun ia dikirim untuk ke Inggris di Universitas Rugby school. Dan pada tahun 1964 orang tua Rushdie pindah ke Karachi, Pakistan, bergabung dengan enggan Eksodus Muslim – selama bertahun – tahun terjadi perang antara India – Pakistan. Ia mendapatkan gelar Sarjana di universitas tersebut, yakni sarjana sejarah. Dan juga Rushdie adalah seorang novelis India. Pada tahun 1968, setelah lulus dari universitas, ia pergi ke Pakistan, di mana keluarganya telah pindah ke tahun 1964, dan menetap di Karachi.  Di Inggris, ia bergabung dengan kelompok teater sebagai aktor. Dia juga bekerja sebagai copywriter freelance untuk Ogilvy dan Mather dan Charles Barker selama hampir satu dekade. 

Adapun untuk perjalanan hidupnya ia menikah empat kali. Ia menikah dengan istri pertamanya, Clarissa Luard, pada tahun 1976. Dengannya ia memiliki seorang putra bernama Zafar.Namun, setelah sebelas tahun, pada tahun 1987, pernikahan berakhir dengan perceraian. Dia kemudian menikah Marianne Wiggins, seorang novelis Amerika , pada tahun 1988. Perkawinan tidak berlangsung lama dan mereka bercerai pada 1993. Ia menikah untuk ketiga kalinya kepada Elizabeth Barat dan kali ini pernikahan berlangsung selama tujuh tahun dari 1997 hingga 2004. Dengannya ia memiliki putra bernama Milan.  Pada tahun 2004, ia menikah dengan model terkenal Padma Lakshmi, yang menciptakan kehebohan besar di media karena perbedaan usia mereka. Bahkan pernikahan ini terbukti menjadi singkat dan pasangan segera bubar.
Dalam bersastra ia telah menciptakan banyak novel – novel yang sangat bagus.  Novel pertama Rushdie adalah “Grimus” diterbitkan pada tahun 1975 tetapi tidak diterima baik oleh kedua kritikus dan pembaca. Novel ini adalah fantasi fiksi ilmiah. Ini adalah kisah mengepakkan Eagle, penduduk asli Amerika yang berbakat dengan hidup kekal dan masuk ke dalam menemukan arti tersembunyi dari kehidupan. Novel yang kedua  sekaligus mendapatkan penghargaan booker prize adalah “ Midnights Childrenyang diterbitkan lima tahun kemudian, adalah kisah mencengkeram India setelah kemerdekaan dan menerima pujian kritis luas. Hal ini diikuti oleh ‘Shame’, sebuah cerita berdasarkan gejolak politik diPakistan. 
Dan untuk novel keempatnya yang membawa ia terkenal adalah berjudul The Satanic Verses “diterbitkan pada tahun 1988, bukan karena manfaat sastra, tetapi karena badai itu dibuat dalam dunia Islam. Dijuluki menghujat karena penghinaan yang seharusnya Islam dan Nabi Muhammad, pemimpin spiritual Iran ditempatkan Fatwa di kepalanya. Untuk sembilan tahun ke depan ia harus hidup di bawah tanah, dilindungi oleh pemerintah Inggris, dan terus menerus dibawah  ancaman kematian.  luar negeri Iran menghapus semua tuduhan terhadap Rushdie dan sejak itu ia mulai menjalani hidup normal. Setelah kejadian ini ia terus buku authoring beberapa di antara mereka yang terakhir adalah ‘si enchantress dari Florence pada tahun 2008 dan’ Luka dan Api Kehidupan pada tahun 2010. 
Latar belakang lahirnya novel Midnights Children
Menurut beberapa sumber yang telah saya baca bahwasannya karya ini terlahir dengan berbagai latar belakang yang melatar belakanginya, baik itu dari pengalaman hidupnya  dan keluargannya, juga salah satu karya yang memiliki terobosan baru yakni tentang interpretasi realitas kedalam sebuah imaginasi magis realistis, dimana seorang Rushdie membawa para pembacanya melihat tempat kelahirannya pada perjalanan  imajinatif yang sebelumnya pembaca tidak lakukan. Midnights Children adalah novel yang berhubungan dengan transisi India dari kolonialisme Inggris untuk  kemerdekaan dan partisi India.  . Hal ini dianggap sebagai contoh sastra postkolonial dan realisme magis . Kisah ini diceritakan oleh tokoh utamanya, Saleem Sinai, dan diatur dalam konteks peristiwa sejarah yang sebenarnya seperti dengan fiksi sejarah .
Midnights Children  adalah alegori  di India sebelum dan, terutama, setelah kemerdekaan dan partisi India . Protagonis dan narator cerita ini adalah Saleem Sinai , lahir pada saat yang tepat ketika India menjadi negara yang merdeka. Ia lahir dengan kekuatan telepati , serta hidung yang sangat besar dan terus menetes dengan rasa sangat sensitive penciuman.
Buku ini diawali dengan kisah keluarga Sinai, terutama dengan kejadian yang menyebabkan kemerdekaan India dan Partisi. Salim lahir tepat pada tengah malam, 15 Agustus 1947, ini bertepatan dengan kemerdekaan  India pada tanggal 14 Agustus 1947.  Dia kemudian menemukan bahwa semua anak yang lahir di India antara 12 malam  dan 1 pagi pada tanggal yang dijiwai dengan kekuatan khusus. Saleem, dengan menggunakan kekuatan telepatinya , merakit konfrensi anak tengah malam, itu artinya mencerminkan masalah yang dihadapi di Negara India awal mengenai perbedaan budaya, bahasa, agama, dan politik yang dihadapi oleh bangsa yang sangat beragam.  Salim bertindak sebagai saluran telepati, membawa ratusan anak geografis yang berbeda ke dalam kontak sementara juga berusaha menemukan arti dari hadiah mereka. Secara khusus, anak-anak lahir paling dekat dengan stroke hadiah memegang tengah malam lebih kuat dari yang lain. Shiva “dari Lutut”, musuh Salim, dan Parvati, yang disebut “Parvati-si-penyihir,” adalah dua dari anak-anak dengan hadiah terkemuka dan peran dalam cerita Salim.
Sinopsis Midnight’s Children
Saleem Sinai merupakan narrator sekaligus tokoh protagonis dari novel “Mid Night Children” ini yang membuka ceritanya dengan menjelaskan kelahirannya yang bertepatan dengan hari dn tanggal kemerdekaan India dari British. Sekarang ia berumur 31 tahun dan dia merasa bahwa waktu berjalan sangat cepat. Dia percaya bahwa waktu akan berakhir dan dia harus menceritakan semua cerita yang menjerat hatinya sebelum ia meninggal.
Cerita saleem di mulai di kashmir, 32 tahun sebelum kelahiranya, di tahun 1915, dia mengawali cerita dari kakeknya yang bernama Abdul Aziz yang juga merupakan seorang dokter, yang mulai mengobati Naseem, perempuan yang menjadi nenek Saleem. Selama tiga tahun Adam Aziz mengobati Naseem. Naseem selalu ditutupi oleh selembar selimut dengan lubang kecil untuk memperlihatkan bagian dirinya yang sakit. Adam Aziz pertama kali melihat wajah calon istrinya pada hari perang dunia 1berakhir, pada tahun 1918.
Adam aziz menikah dengan Naseem, dan pindah Ke agra, Adam dan Naseem memiliki tiga orang anak perempuan, Alia, mumtaz, dan emerald, dan dua anak laki- laki, Mustapha dan hanif. Adam menjadi pengikut dari aktifis Mian Abdullah, yang merupakan seorang anti sikap partisis dan yang akhirnya mengakibatkan kematian Abdullah itu sendiri, dan akhirnya Adam Aziz menyembunyikan asisten Abdullah, Nadir Khan, meskipun ditentang oleh istrinya. Walaupun Nadir hidup di ruang bawah di rumah dokter Adam namun ia jatuh cinta dengan Mumtaz, dan keduany secara diam- diam menikah. Namun, setelah menikah selama 2 tahun,Adam Aziz menemukan bahwa anaknya masih perawan, Nadir khan dan Mumtaz belum menyempurnakan perkawinan mereka. Akhirnya Nadir Khan di perintahkan untuk pergi ketika adik Mumtaz, Emerald, mengatakan Mayor Zulfikar dari tentara pakistan akan segera melamarnya. Karean di inggal oleh suaminya, Mumtaz setuju untuk menikah dengan Ahmed Sinai, seorang pedagang muda.
Mumtaaz akhirnya mengganti namanya menjadi Amina dan pindah ke Delhi dengan suami baru. Ketika akhirny dia hamil. Ia pergi ke peramal keberuntungan yang memberikan ramalan samar tentang anak yang di kandungnya dan mengtakan bahwa anaknya itu tidak akan lebih tua ataupun lebih muda dari negaranya. Setelah organisasi teroris membakar toko Ahmed, Amina dan suaminya pindah ke Bombay dan membeli rumah dari orang Inggris yang bernama William Methwold, yang meiliki perkebunan di puncak bukit.
Wee Willie Winky, yang merupakan seorang miskin dan menjadintukang hibur di keluarga William Methwold mengatakan bahwa istrinya, Vnita juga mengharapkan segera punya anak. Tanpa diketahui Wee Willie Winky, Vanita berselingkuh dengan William Methwold dan dia juga merupakan ayah biologis dari anak yan dikandung oleh Vanita dan bukanWee Willie Winky. Amina dan Vanita keduanya pergi ke seorang dukun, dan,tepat pada tengah malam, masing- masing wanita tersebut melahirkan seorang putra.
Saleem adalah salah satu anak yang telh dilahirkan, dia memiliki hidung besar dan mata biru yang dikira seperti kakeknya. Bebarapa tahun kemudian lahirlah adik saleem.suatu hari ketika ia bersembunyi di toilet, ia melihat ibunya yang sedang menangis di toilet tersebut. Akhirnya saleem di hukum hingga Saleem tidak dapat berbicara dan untuk pertama kalinya Saleem mendengar celotehan di kepalanya. Dia menyadari dia memiliki kekuatan telpati dan dapat membaca pikiran orang lain. Akhirnya, Saleem mulai mendengarkan  pikiran anak-anak lain yang lahir sam dengan dengannya.
Suatu hari, Saleem kehilangan sebagian jarinya di sebuah  kecelakaan dan dilarikan ke rumah sakit, dari kecelakaan inilah orang tuanya mengetahui bahwa Saleem bukanlah anak biologis mereka. Setelah ia meninggalkan rumah sakit, Saleem dikirim untuk tinggal bersama Paman dan Bibi Pia Hanif untuk sementara waktu. Tak lama setelah kembali ke rumah Saleem kepada orang tuanya, Hanif melakukan bunuh diri. Sementara keluarganyaberduka akan kematian Hanif, Ahmed-sekarang merupukan seorang alkoholik yang menjadikannya orang yang  keras pada Amina, mendorong dia untuk membawa Saleem dan adiknyake Pakistan,
Empat tahun kemudian, setelah Ahmed menderita gagal jantung, Amina dan anak-anak kembali ke Bombay. Saat itulah India sedangperang dengan China, sedangkan hidung Saleem terkena suatu penyakit dan terus-menerus mengalami operasi medis. Akibatnya, ia kehilangan kekuatan telepati, tetapi, sebagai imbalan ia dapat dapatkan rasa penciuman yang luar biasa   dan ia dapat mendeteksi emosi orang lain.
Saleem seluruh keluarga pindah ke Pakistan setelah militer India terkalahkan oleh Cina. Adik perempuannya, sekarang dikenal sebagai penyanyi Jamila, menjadi penyanyi yang paling terkenal di Pakistan. Di akhir cerita, ketika Saleem di tangkap dan dibebaskan, ia kembali ke india untuk mencari anak Parvati yang merupakan anak yang lahir di tanggal sama dengan Saleem. Akhirnya Saleem menikah dengan Padma, yang merupakan orang yang penyabar dan selalu mendengarkan Saleem pada hari ulang tahunnya yang ke- 30, yang jatuh pada peringat ke-30 kemerdekaan India, Saleem merasa bahwa dia akan mati pada hari itu, dan hacur menjadi jutaan debu.
                                            
Klasifikasi Isi Novel Midnight’s Children
Midnight’s Children terdiri dari tiga pembabakan, yang disebut di situ sebagai tiga “buku”.
BUKU SATU lah yang paling bernafaskan postkolonialisme: yaitu perihal kelahiran sebuah bangsa, disertai segala kehilangan dan keinginan menemukan kembali yang hilang itu. Tapi sebuah bangsa baru yang lahir dari penjajahan lahir dari dua rahim pula, dan karenanya medapat ciri sekaligus kehilangan rasa aman dari keduanya. Ini digambarkan dari kelahiran “kembar” dua bayi tengah malam: Saleem Sinai dan Shiva. Mereka adalah dua kelahiran yang terjadi dari rumah yang sama. Rumah Methwold. Sangat jelas, Rumah Methwold adalah metafor dari kolonialisme dalam aspek peradabaannya. Rumah Methwood adalah peradaban Inggris yang dibangun di tanah jajahan dan, menjelang pengesahan kemerdekaan India, akan diwariskan kepada bangsa yang sebelumnya dijajah. Tuan Methwold adalah representasi aristokrasi Inggris. Tapi, sebelum angkat kaki, Tuan Methwold rupanya suka main gila dengan istri seorang pemain akordion yang kerap tampil di rumah itu. Maka, di rumah itu ada dua kehamilan menjelang kemerdekaan. Kehamilan putri Adaam Azis, yang telah diboyong suaminya ke Mumbai dan menempati satu vila di Rumah Methwold. Serta, kehamilan istri pemain akordion dalam hubungan gelap. Peradaban Inggris telah menghasilkan anak haram dengan peradaban India. Si anak jadah akan lahir dari keluarga Hindu kelas bawah. Yang satu lahir dari keluarga Islam kelas menengah. Di luar representasi kelas ini (yang agaknya lebih menggambarkan latar pengarangnya), ini adalah representasi konflik Hindu dan Muslim yang membayangi India sejak dikandung dan beberapa tahun kemudian meletus dalam perpecahan India Pakistan. Lahirlah kedua anak itu, dari rumah yang sama, di rumah sakit yang sama, pada jam pertama kelahiran India.
Tapi, seorang suster beragama Katolik  yang patah hati pada seorang pemuda satu gereja yang murtad jadi komunis, menukar takdir kedua  bayi yang sama bermata biru dan berhidung besar. Ia berpikir dengan mengganti identitas bayi-bayi itu ia menyumbang pada penyelesaian konflik antara Hindu dan Muslim. Begitulah, cucu dari darah Adaam Azis yang Khasmir terlahir sebagai Shiva dari keluarga Hindu miskin. Dan anak haram Tuan Methwold dengan istri-tak-setia pemain-akordion-Hindu terlahir sebagai Saleem Sinai dari keluarga Muslim kelas menengah. Di sinilah salah satu puncak kepiawaian Rushdie. Ia seperti seorang pesulap yang membuat pembaca menikmati ilusi sekalipun pembaca telah mengetahui itu sebagai sebuah ilusi. Narator dalam novel ini adalah Saleem Sinai, dan kita percaya bahwa Adaam Azis yang berasal dari Kashmir, dokter muda yang kehilangan iman dan mencari penggantinya dalam pengertian di balik lubang seprai, itu adalah kakeknya meskipun kita tahu itu bukan kakeknya. Kita tak pernah merasa bahwa Tuan Methwood adalah ayahnya meskipun kita tahu bahwa bangsawan Inggris itu ayahnya. Lebih  gawat lagi, kita mengenali Saleem Sinai sebagai Saleem Sinai, padahal kita tahu bahwa dia adalah Shiva. Dan Shiva sesungguhnya adalah Saleem Sinai. Salman Rusdhie sungguh mewujudkan simulakrum antara yang riil dan imajiner, yang fakta dan yang fiksi, yang bagi saya menggelitik pembaca Indonesia untuk memikirkan kembali pendekatan politik identitas.
Pola-pola realisme-magis lebih banyak muncul pada BUKU DUA. Saleem Sinai dan semua anak yang terlahir pada jam pertama kelahiran India itu, termasuk juga Shiva, memiliki kelebihan supranatural. Saleem Sinai bisa mempertemukan mereka dalam “konferensi anak-anak tengah malam” yang ikut membicarakan persoalan-persoalan besar India–dengan cara pandang anak-anak yang segar dan ganjil. Di sanalah Saleem bertemu dengan Shiva, yang samar-samar menakutkan dia, tanpa ia tahu betul bahwa mereka adalah identitas yang tertukar. Ketakutan itu menarik. Ketakutan itu bagaikan sebuah rasa tidak aman (lagi-lagi sebuah lubang dan keretakan). Rasa tidak percaya diri pada keutuhan identitas. Di lini lain, Saleem Sinai tetap bertumbuh sebagai anak pada umumnya. Peristiwa-peristiwa hidup pribadinya bersimpulan dengan peristiwa-peristiwa sejarah India pasca-kemerdekaan, sebagai sebuah kelanjutan dari pertalian kehidupan kakeknya dengan peristiwa sejarah India pra-kemerdekaan. Peristiwa yang paling besar adalah perpecahan India-Pakistan, yang mengakibatkan perpisahan keluarga besar mereka pula.
Cerita bergulir menjadi semakin fantastis, dalam arti kehidupan pribadi Saleem Sinai semakin menempel pada titik-titik krusial sejarah India-Pakistan. Saleem terlibat dalam konspirasi pemisahan Bangladesh dari Pakistan. Bagian ini agaknya menunjukkan kelekatan hati Salman Rushdie pada India daripada Pakistan. Ia lebih terganggu oleh apa yang dilakukan Indira Gandhi terhadap India daripada perebutan kekuasaan berdarah di Pakistan. Pakistan seperti sudah meluncur ke nasib yang ditentukannya sendiri sehingga tak perlu dibicarakan. Musuh utamanya adalah Indira Gandhi, yang dalam novel ini menjadi paling bertanggungjawab atas runtuhnya cita-cita kemerdekaan. Nyonya perdana menteri ini disebut sebagai Si Janda jahat, yang memang sejak awal mengincar anak-anak tengah malam sebab mereka memiliki kemampuan khusus.
     Pada akhirnya, pada BUKU TIGA, Si Janda memang berhasil menangkapi peserta konferensi anak-anak tengah malam dan melakukan pengebirian terhadap mereka. Metafor dari pengebirian terhadap pemikiran dan ide-ide segar mengenai kemerdekaan itu sendiri. Saleem Sinai lepas dari rumah pengebirian itu sebagai sosok yang baru, yang telah dikalahkan dan menjadi biasa-biasa saja. Hidupnya, untuk sementara, diselamatkan oleh pekerjaan membuat acar. Dan acar ini, tentu saja, adalah metafor dari preservasi sejarah. Midnight’s Children berseberangan secara diametral dengan novel realisme-sosialis yang penuh visi untuk membangun dunia baru. Ia tidak memberi harapan, termasuk harapan palsu.  Ia tidak memberi pemahaman, sebab setiap pemahaman melakukan penyederhanaan atau epoche-nya. Penyederhaanaan yang dilakukan Midnight’s Children tidak bertujuan memberi pemahaman melainkan, sebaliknya, mengguyah ide-ide stabil kita. Seperti dikatakan di awal, ia adalah satire yang menggunakan eliminasi, seleksi, hiberbolisme, dan program distorsi yang lain untuk membangun makna yang ditawarkannya. Yaitu membongkar apa yang kita percaya sebagai sakral. Seperti mitos nasionalisme, keutuhan bangsa, kekuasaan.
Novel dan puisi tidak harus menanggung beban membangun visi utuh mengenai dunia seperti agama dan ideologi. Yang bisa dijawab sebuah novel adalah yang berada dalam cakupannya saja. Yaitu bagaimana ia membangun makna dengan unsur-unsur yang di dalam dirinya dan bukan dengan perbandingan dengan dunia  di luar novel itu. Dengan kata lain, pembacaan yang lebih strukturalis. Tuduhan seperti, misalnya, bahwa Midnight’s Children melecehkan sosialisme dan komunisme dengan penggambarannya atas kaum komunis dan sosialis sebagai tukang sulap, penjinak ular, badut dan pemain sirkus yang kacau barangkali bisa dibandingkan dengan bagaimana Rushdie sendiri bermain sebagai tukang sulap dalam novel ini dengan menciptakan ilusi. Artinya, makna tukang sulap dalam Midnight’s Children (bahkan karya lain Rushdie) barangkali bukanlah makna sebenarnya. Menurut saya, ia justru memiliki simpati pada pekerjaan-pekerjaan pencipta ilusi demikian. Pengolokannya atas banyak pihak setara dengan pengolokannya terhadap diri sendiri pula. Tidak seperti kecenderungan realisme-sosialis yang membikin representasi buruk hanya atas musuh ideologi, Midnight’s Children membuat ejekan terhadap semua pihak termasuk tokoh utama dan nilai-nilainya.
Dan akhirnya, bagi saya, novel ini menunjukkan simpatinya terhadap orang miskin, atau mereka yang tersingkirkan. Bukan dengan cara yang tertebak dan eksplisit dengan memberi kaum miskin makna dan harapan. Simpati itu justru terlihat dari apa yang paling sedikit diceritakan. Yang hilang, yaitu Saleem Sinai yang sesungguhnya. Ialah Shiva, yang ditukar dan terjerembab dalam kemiskinan nyaris tiada akhir. Dialah mimesis bagi si borjuis, yang sesungguhnya mendapatkan kemewahan bukan karena haknya. Borjuis yang, seperti kebanyakan borjuis dan kaum kaya,  merebut hak-hak itu dengan memiskinkan orang lain. Seperti Saleem Sinai palsu, si anak haram, merebutnya dari Saleem Sinai asli. Seorang yang lahir dari kelas menengah atau lebih, seperti Salman Rushdie dan saya, tidak bisa benar-benar bicara atas nama orang miskin.  Kecuali jika kelak ia jatuh miskin. Seorang yang punya pilihan tak bisa sungguh bicara atas nama orang yang tak punya pilihan. Dalam hal khusus ini, saya menghargai Midnight’s Children karena ia tidak berpretensi. Ia memilih jalan untuk menyatakan simpatinya dengan cara yang otentik pada dirinya.
 Sumber
  1. Salman Rusdhie. 1980. Midnight’s Children.   
  2. http://www.notablebiographies.com/Ro-Sc/Rushdie-Salman.html
  3. http://www.indobase.com/indians-abroad/salman-rushdie.html
  4. http://kirjasto.sci.fi/rushdie.htm

Posted in Karya Sastra Muslim di Timur Tengah, Karya Sastra Muslim Modern di Dunia Arab

"Selasa Kelabu", 9 September 2001 Dalam Novel “Tarian Setan” Karya Saddam Hussein


Peristiwa pembajakan dua pesawat Boeing 737 yang ditabrakkan ke menara kembar World Trade Center di New York, Amerika Serikat oleh Al-Qaeda pada tanggal 9 September 2001 telah mengilhami Saddam Hussein untuk menulis novel yang berjudul “Tarian Setan”. Oleh karena itu saya mengambil judul ‘Peristiwa “Selasa Kelabu”, 9 September 2001 dalam Novel “Tarian Setan” Karya Saddam Hussein’. Secara garis besar tulisan ini mengulas novel Tarian Setan beserta latarbelakang penulisannya. Selain itu saya menyertakan latarbelakang pergolakan yang terjadi di Irak pada saat novel ini dibuat, yaitu agresi militer Amerika Serikat terhadap Irak yang diawali rasa dendam Amerika terhadap aksi terorisme yang dilakukan oleh Al-Qaeda. Kemudian hal tersebut berlanjut dengan tuduhan-tuduhan miring Amerika terhadap Irak dan Presiden Saddam Hussein sehingga memperkuat alasannya untuk menggempur Irak. Bersumber dari semua itu maka lahirlah sebuah karya sastra berbentuk novel yang ditulis oleh mantan presiden Irak, saddam Hussein.
Karya sastra pada dasarnya berisi tentang permasalahan yang melingkupi kehidupan sosial. Setiap bangsa atau suku bangsa memiliki kehidupan sosial yang berbeda dengan bangsa lain. Karya sastra selalu menemukan dimensi-dimensi tersembunyi dalam kehidupan manusia, dimensi-dimensi yang tidak terjangkau oleh kualitas evidensi empiris, bahkan juga oleh instrumen laboratorium (Ratna, 2003:214).

Menurut Fananie (2000: 132) sastra merupakan ekspresi kehidupan manusia. Ia juga menyebutkan bahwa terdapat tiga perspektif berkaitan dengan keberadaan karya sastra. Pertama, perspektif yang memandang sastra sebagai dokumen sosial yang di dalamnya merupakan refleksi situasi pada masa sastra tersebut diciptakan; kedua, perspektif yang mencerminkan situasi sosial penulisnya; dan ketiga, model yang dipakai karya tersebut sebagai manifestasi dari kondisi sosial. Sebuah karya sastra dapat berupa informasi mengenai kondisi sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Kesusastraan Indonesia banyak melahirkan karya sastra yang bersifat memberi gambaran tentang kehidupan sosial masyarakat (Fananie, 2000: 194).
Novel merupakan salah satu bentuk karya sastra yang menyuguhkan tokoh-tokoh dan menampilkan serangkaian peristiwa secara tersususun. Jalan ceritanya dapat menjadi pengalaman hidup yang nyata dan lebih dalam lagi; novel mempunyai tugas mendidik pengalaman batin pembaca atau pengalaman manusia. Novel lahir dan berkembang dengan sendirinya sebagai sebuah genre pada cerita atau menceritakan sejarah dan fenomena sosial. Karya sastra termasuk novel yang mempunyai fungsi dulce et utile yang artinya “menyenangkan dan bermanfaat” bagi pembaca melalui penggambaran kehidupan nyata. Sebagai karya cerita fiksi, novel sarat akan pengalaman dan permasalahan kehidupan yang ditawarkan. Oleh karena itu, novel harus tetap merupakan cerita yang menarik yang  mempunyai bangunan struktur yang koheren dan tetap mempunyai estetik. Dengan adanya unsure-unsur estetik, baik unsur bahasa maupun unsur makna, dunia fiksi lebih banyak memuat berbagai kemungkinan dibandingkan dengan yang ada di dunia nyata. Semakin tinggi nilai estetik sebuah karya fiksi, secara otomatis akan mempengaruhi pikiran dan perasaan pembaca. (Jakob Sumardjo dan Saini K.M, 1994: 3).
Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa novel merupakan salah satu bentuk karya sastra yang di dalamnya memuat nilai-nilai estetika dan nilai-nilai pengetahuan serta nilai-nilai kehidupan. Dan novel mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku.
Meskipun novel bersifat fiksi dan imajinatif namun jika kita telaah lebih jauh, sebuah karya sastra khususnya novel mengandung nilai-nilai sejarah mengenai kondisi sosial pada saat itu. Seperti halnya novel yang berjudul “Tarian Setan” karya Saddam Hussein, mantan presiden Irak. Di dalam novel tersebut banyak mengandung penggambaran kondisi sosial Irak pada saat itu dilihat dari perspektif penulis secara subjektif. “Tarian Setan” adalah novel keempat Saddam Hussein. Sejak tahun 2001, penguasa Irak selama 24 tahun itu menerbitkan satu novel setiap tahun. Novel pertama berjudul Zabibah wa al-Mulk (Zabibah dan Sang Raja) terbit pada 2001, disusul al_Qal’ah al-Hashinah (Benteng Pertahanan) dan Rijal wa Madinah (Pahlawan dan Kota). Novel novel tersebut diterbitkan di Irak ketika Saddam masih berkuasa. Novelnya ke-empat berjudul Akhreej Minha Ya Mal’un, dan untuk edisi terbitan Indonesia diterjemahkan menjadi Tarian Setan. Semua novel menyajikan gaya dan tema yang senapas: perseteruan tiga agama langit di Timur Tengah pada abad ke-6. Novel ini lahir menjelang penyerbuan pasukan koalisi internasional ke Irak. Tarian Setan secara khusus mengaitkan diri dengan peristiwa “Selasa Kelabu”, 9 September 2001, ketika dua pesawat Boeing 737 ditabrakkan ke menara kembar World Trade Center di New York, Amerika Serikat.
Sejak terjadi serangan ke gedung WTC di New York pada tanggal 11 September 2001, Amerika mengecamnya sebagai bentuk teroris yang dilayangkan oleh Afghanistan. Sehingga timbulah dalam benak Amerika saat itu untuk membalas dendam dengan peperangan. AS gencar mengungkit- ungkit tragedi WTC sebagai bentuk terroris dan tuduhan yang tajam pada umat Islam sebagai pengancam keamanan dunia. Bermula dari Afghanistan, kemudian merambat ke Irak dan Palestina.
Pada awal mulanya tujuan Bush adalah menciptakan kawasan Timur Tengah yang demokratis agar tercipta kedamaian yang pada saat itu masih terjadi pemberontakan oleh rezim Saddam Hussein. Kekerasan Saddam Hussein sebenarnya tidak begitu besar, hanya saja dibesar-besarkan dan dimanipulasi oleh Bush. Keputusan gila Presiden Bush untuk menginvasi Irak adalah bencana kemanusiaan. Hal ini semakin jelas dengan fakta yang ada. Bukanlah perdamain yang didapat Irak, seperti yang telah dijanjikan oleh Bush tetapi justru kehancuran dan penderitaan. Belum selesai satu masalah, AS sudah menuduh Irak menyembunyikan senjata pemusnah massal agar AS lebih leluasa dalam agresinya padahal Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan bahwa mereka tidak menemukan senjata pemusnah massal tersebut. AS seakan tidak peduli pada kerusakan yang besar karena mendapat sokongan yang kuat dari Israel (di bawah pemerintahan Ariel Sharon), Inggris (di bawah pemerintahan Tony Blair) dan Australia (di bawah pemerintahan John Howard).
Pergolakan yang terjadi di Irak tersebut mengilhami mantan presiden Irak, Saddam Hussein untuk menulis novel yang berjudul “Tarian Setan”. Novel ini baru selesai ditulis pada 18 Maret 2003, dua hari menjelang agresi militer Amerika Serikat ke Irak. Namun, naskah yang masih berbentuk soft copy itu berhasil dibawa putrinya, Raghdad Hussein terbang ke Yordania.
Cerita novel ini diawali dengan kisah keluarga Ibrahim. Ibrahim di daerah Eufrat bersama istrinya Ummu Halimah dan ketiga cucunya yang sudah yatim piatu ; Hasqil, Yusuf dan Mahmud . Hasqil tentu saja mewakili Yahudi, Yusuf sebagai Nasrani, dan Mahmud yang Islam. Keluarga Ibrahim hidup secara nomaden ( berpindah-pindah tempat ) karena profesi Ibrahim sebagai ulama yang mempunyai kewajiban untuk menyebarkan agama islam di seluruh jazirah arab. Sebagai ulama Ibrahim senantiasa mengajarkan syari’ah islam dan menanamkan nilai-nilai akidah-akhlak kepada cucu-cucunya. Ibrahim ingin cucu-cucunya bisa menjadi penerusnya kelak. Tetapi dari ketiga cucunya hanya Yusuf dan Mahmud saja yang benar-benar bisa menerima dan menjiwai nilai-nilai islami yang ditanamkan Ibrahim. Karena Hasqil cucunya yang paling tua mempunyai perangai dan perilaku yang jauh bersebrangan dengan kedua saudaranya.
Selanjutnya novel ini berkisah tentang Hasqil, bagaimana sepak terjang Hasqil dalam meraih semua keinginannya. Sejak kecil tabiat dan tingkah laku keseharian Hasqil memang kurang terpuji padahal tidak kurang-kurangnya Ibrahim beserta kedua saudaranya mengingatkan dia. Hasqil yang digambarkan Saddam persis perawakan Ariel Sharon, Perdana Menteri Israel periode 2001-2006: bungkuk, alis tipis, hidung panjang, dan kepala botak. Berbeda dengan dua adiknya yang penurut, Hasqil sudah membangkang sejak kecil. Ia sering mendebat kakeknya jika mereka sedang mengobrol tentang agama. Hasqil juga suka membuat keonaran sehinnga banyak orang yang tidak simpatik padanya. Ia juga seorang egois yang selalu membenarkan semua tindakannya, sikapnya kepada orang tua juga tidak sopan. Mulanya Ibrahim memaklumi semua tindakan Hasqil tetapi setelah dewasa ternyata perangai buruk Hasqil tidak berubah bahkan bertambah buruk.
Puncaknya ketika akhirnya Ibrahim mengusir Hasqil karena dia telah berbuat tidak senonoh dengan meraba payudara putri seorang kepala suku dan mencoba memperkosanya. Dapat dilihat dari kutipan di bawah ini :
… Dia terkejut dan berusaha lari. Saat itu pembantunya sedang tak ada di rumah. Aku menariknya sebelum ia sempat kabur dari rumah. Tangan kiriku membekap mulitnya dan tangan kananku mendekapnya. Aku menyeretnya ke dalam rumah. Hampir saja aku menodainya sebab yakin ia tak mungkin berteriak karena hanya akan membuka aibnya. Aku terpaksa menunda melakukannya di hari berikutnya. Dia tak mungkin ingkar janji akan melayaniku. Tak seorang pun yang akan mencegah keinginanku. Suara kedua pembantunya membuatku harus keluar rmha dari arah samping. Aku terpaksa menundanya. Aku berharap hari ini akan menuntaskan hasratku (T.S, 2006: 41)
Hasqil meninggalkan kelurganya dan menghidupi hidupnya dengan berjualan emas, membuat senjata dan sepatu kuda. Untuk memperlancar bisnisnya Hasqil juga menggunakan trik-trik yang kurang terpuji. Dia senang sekali memancing konflik dan kepada siapa saja yang bisa mendatangkan keuntungan banyak baginya disitulah dia bernaung. Hasqil digambarkan sebagai anak yang pandai berkelakar, suka berdebat, cerdik memikat hati orang. Berkat wataknya itu, ia berhasil menyusup ke pelbagai suku. Tapi, di balik sikap menyenangan itu, Hasqil sebenarnya berhati culas. Untuk menghidupi diri ia berdagang emas dan alat perang. Agar barangnya laku, Hasqil mengadu domba suku-suku supaya berperang (T.S, 98). Hal ini sesuai uraian yang terdapat dalam novel tersebut
“Aku tak mau punya kuda, domba, atau unta sebab pekerjaan itu berat dan hasilnya murak dibandingkan emas. Tapi bukankah pertanian adalah ukuran umum kekayaan manusia. Jumlahnya sekarang sedikit bahkan sebagian perempuan lebih ingin punya emas dan perak. … aku kini punya banyak emas serta perak, dan seorang pun yang memerangiku (T.S, 2006: 98).
Siapa yang kalah kesanalah ia akan merapat seraya tetap menjalin hubungan baik dengan suku yang menang. Petualangannya sampai di suku al-Mudtharrah yang sedang berselisih dengan suku al-Mukhtarah. Hasqil datang untuk mempercepat peperangan. Al-Mudhtharrah kemudian kalah. Hasqil menghasut warga agar mengasingkan kepala suku yang tak becus memimpin perang. Dengan dukungan Romawi, Hasqil diangkat menjadi kepala suku al-Mudhtharrah yang baru. Ia bahkan meniduri istri kepala suku yang silau dengan kalung dan berlian. Tapi, selalu ada perlawanan dari setiap pemakzulan. Nakhwah, anak gadis kepala suku, yang sejak awal mencium niat jahat Hasqil segera menyusun kekuatan. Ia mendekati para pemuda, memberi kesadaran kepada perempuan, agar bangkit semangat perempuan sukunya. Dia mulai dari teman-teman dekatnya, anak-anak pamannya untuk melawan. Hal tersebut sesuai dengan kutipan:
“kamu dari mana? Tanya ibunya, dari rumah sepupu-sepupuku. Ibunya langsung curiga. Apa yang kamu bicarakan dengan mereka. Biasa bu, urusan anak gadis. O ya katanya Hasqil akan menikahi ibu? Sudah bertahun-tahun Ibu menunggu, tapi itu tak kunjung terlaksana. Apa yang ditunggu oleh Haqil? Apa dia menunggu orang besar? Atau ibu yang menunggu jadi orang besar?” (T.S. 2006:140)
Ini cara khas Saddam mengejek Amerika dan Yahudi. Tiga novel sebelumnya juga selalu menampilkan tokoh baik yang bertempur dengan tokoh jahat. Tokoh baik selalu muncul dalam wujudnya sebagai perempuan. Para pengamat menilai, Nakhwah di sana sebagai personifikasi bangsa Arab: selalu memikat bangsa lain untuk memilikinya–dengan minyak dan kekayaan alam. Sementara laki-laki, konon, pelampiasan ego Saddam sendiri. Salim digambarkan sosok tegap yang ahli strategi perang. Ia menolong Nakhwah yang membutuhkan bantuan mengusir musuh asing.
Penempatan Nakhwah sebagai perempuan yang heroik dalam novel Tarian setan ini merupakan suatu pembaharuan citra perempuan Arab. Perempuan baik di rumah tangga maupun dalam masyarakat berada di belakang laki-laki. Menurut pengamatan Mahmada (2008) nasib perempuan Arab sangat memprihatinkan. Perempuan diperlakukan seperti mahluk yang lemah dan tak mempunyai akal pikiran; mahluk yang harus diatur. Dalam karya sastra penggambaran yang jelas tentang kedudukan perempuan Arab dalam keluarga yang jauh di belakang laki-laki dapat dilihat dalam sebuah novel terjemahan dari Arab berjudul Perempuan di Titik Nol. Mulai dari makan sampai perapian, perempuan mendapatkan kesempatan nomor dua setelah laki-laki. Perempuan bisa tidur dengan perut kosong dan kedinginan apabila jatah makan dan perapian sudah habis. Dalam beberapa kasus, memang perempuan Arab dapat berkuasa dalam rumah tangga seperti pada penggambaran dalam sinetron Muslimah, pada tokoh Nyonya Fatum, tayangan stasiun TV Indosiar (2008) pukul 18.00. Demikian juga yang terjadi pada keluarga Jawa. Banyak keluarga Jawa yang dikuasai oleh perempuan, meskipun struktur kekeluargaannya menganut patriarkhi. Banyak suami yang takut istri, seperti dalam tayangan sinetron Suami-suami Takut Istri dari stasiun Trans TV (2008) pukul 18.00.
Tampak adanya suatu upaya mempengaruhi laki-laki untuk mendengarkan perkataan perempuan dalam novel Tarian Setan. Kita perhatikan kutipan berikut ini.
”…Laki-laki akan mendengarkan kata-kata perempuan, meski perempuan lemah. Dan dengan mendengar kata-katanya, laki-laki akan terpengaruh. Bagaimana jika yang dibicarakan perempuan tersebut adalah tentang nilai-nilai keluhuran?… mereka akan bertindak seolah-olah kata-kata itu adalah gagasan mereka…” (Hussein, 2006:47).
Nakhwah berusaha mendekati para ibu dan para gadis untuk menghembuskan nilai-nilai kebenaran kepada para suami, sehingga para lelaki memiliki kekuatan untuk menentang Hasqil yang telah menguasai dan memanfaatkan suku mereka. Dalam kutipan tersebut juga tampak kedudukan perempuan yang sebenarnya dalam keluarga Arab. Perempuan lemah. Tetapi kelemahan itu akan teratasi bila perempuan memiliki budi luhur. Dengan kata-kata yang mengandung nilai-nilai keluhuran perempuan akan ditaati oleh laki-laki. Perempuan dihargai dan dijadikan panutan apabila sifat dan kata-katanya mengandung kebenaran dan kebaikan.
Ada suatu fenomena baru yang ditawarkan oleh penulis tentang kedudukan perempuan. Perempuan tidak hanya berada di belakang laki-laki. Selain seperti telah digambarkan di atas, perempuan bisa mempengaruhi laki-laki, perempuan juga bisa menjadi motor penggerak sebuah pergerakan. Peran perempuan seperti itu tergambar dalam diri tokoh Nakhwah. Selain memiliki kekuasaan sebagai putri kepala suku, Nakhwah juga mampu menggerakkan para perempuan untuk bangkit mempengaruhi laki-laki. Adanya sifat-sifat pemimpin dalam diri perempuan tokoh Nakhwah. Dengan membawa nilai-nilai luhur dan kharismanya sebagai putri kepala suku, maka Nakhwah tidak mendapatkan perlawanan dari kaum lelaki. Meskipun perempuan, Nakhwah dihormati dan ditaati oleh kaum lelaki. Salim, kekasih dan tokoh pemuda suku itu, justru sangat menghormati dan mendukung rencana Nakhwah untuk melawan Hasqil (Hussein, 2006:150-152).
Dijunjungnya peran perempuan dalam novel tersebut semakin nyata dengan kemenangan suku Mudhtharrah yang dipimpin Nakhwah dan Salim atas Hasqil dan suku Romawi. Selain bisa mempengaruhi laki-laki, perempuan juga bisa memimpin peperangan dan mencapai kemenangan perang.
Secara realitas, terwujudnya peran perempuan Arab, khususnya negara Irak dapat dilihat pada peran putri Saddam, yang berhasil mendampingi ayahandanya selama perang yang merupakan tugas yang sangat berat. Kepahlawanan putri Saddam juga tampak dalam keberhasilannya melarikan draf novel Saddam Hussein dari kemungkinan niat jahat Amerika untuk menggagalkan terbitnya novel tersebut. Perempuan putri Saddamlah yang berjasa menyampaikan pemikiran Saddam tentang Irak kepada dunia. Saddam boleh mati, tetapi pemikirannya akan dikenang oleh masyarakatnya.
Nakhwah bergerak dibantu oleh Salim, kekasihnya. Keduanya memobilisasi rakyat sukunya untuk menegakkan kebenaran dan menumbangkan kekuasaan Hasqil beserta antek-antek Romawinya. Kemudian Salim tampil memimpin pasukan dan pertempuran sengit pun tak bisa dielakkan. Saddam menyajikan novel ini secara kronologis. Pertempuran itu berakhir dengan runtuhnya dua menara kembar yang dibangun Hasqil untuk menumpuk kekayaan, senjata, sekaligus simbol persekutuannya dengan Romawi. Dua pemuda masuk melumatkan diri membakar menara itu. Tampak lautan api menyelimuti menara kembar yang memusnahkan  segala yang ada di dalamnya (T.S, 263).  Perang dua hari dua malam itu terjadi di bulan September.
Begitu melihat api seperti neraka, yang lidahnya melalap menara kembar. Haqil mengusap debu yang menempel di wajahnya. “Celaka! Hilang sudah semua harta yang kukumpulkan bertahun-tahun. Ini bencana terbesar buatku dan kepala suku Romawi, “
“Aku sarankan kamu membanun lagi menara kembar lain. Yang satu kamu jual, dan satunya kamu sewakan kepada suku kami. Dan kamu, pergi saja ke neraka  bersama keponakan-keponakanmu, “ kata salah seorang tentara Romawi.
            Peristiwa yang digambarkan diatas cukup mewakili peristiwa tanggal 9 September 2001 yang dikenal sebagai peristiwa 11/9 (versi AS) yang meluluhlantakkan AS. Kecongkakan AS langsung hancur berkeping-keping. Gedung kembar WTC runtuh menjadi puing-puing dihajar oleh dua buah pesawat yang dibajak oleh kelompok Al Qaeda. Sebagai kompensasi atas runtuhnya gengsi sebagai negara super powerini, AS mulai melancarkan teror besar-besaran terhadap Irak dan Afghanistan, yang dianggap sebagai sarang teroris. Setelah dibombardir lewat udara, Irak kemudian diduduki oleh AS hingga saat ini.
           

Posted in Sejarah Sastra, Uncategorized

Kompleksitas Konteks Sejarah, Sosial, Budaya Dan Politik Dari Karya Sastra Muslim Di Irak, Iran, Albania, Dan Afghanistan


Prolog
Seorang penulis menciptakan sebuah karya sastra berlandaskan pada bentuk dan isi yang pada dasarnya mewakili ide dan tanggapannya terhadap kehidupan dan segala makna yang ada di dalamnya (C. Brooks dalam Saman, 2001: 45). Sebelum terwujud dalam sebuah karya sastra, seorang pengarang telah melewati berbagai tahapan yang mungkin tidak diketahui oleh orang yang jauh dari lingkungannya. Ia mungkin telah mengembara, melibatkan diri, membaca, menyelidiki, memilih data, mengasingkan diri, dan lain sebagainya. Karya sastra adalah ungkapan perasaan dan potret realitas sosial. Sebagai lembaga sosial yang menyuarakan pandangan dunia pengarangnya, sastra bukan semata-mata fakta empiris yang bersifat langsung, tetapi merupakan suatu gagasan, aspirasi, dan perasaan yang dapat mempersatukan kelompok sosial masyarakat. Bahkan, sastra dapat diposisikan sebagai dokumen sosio-budaya. Sedangkan ide atau gagasan, pandangan hidup pengarang yang melatarbelakangi penciptaan suatu karya sastra, menurut Fananie, disebut dengan tema. Tema dalam sebuah karya sastra menempati posisi yang sangat penting karena tema merupakan ide pusat yang terdapat dalam karya sastra.
Ada banyak tema yang digunakan oleh setiap pengarang dalam mengungkapkan idenya tersebut. Dari sekian banyak tema tersebut, satu di antaranya adalah tema perang. Terciptanya karya sastra bertema perang merupakan ketukan yang terpancar dari hati seorang penulis untuk merekamkan kembali peristiwa-peristiwa yang pernah dialami atau didengarkannya ke dalam bentuk realitas yang dianggapnya sesuai serta memiliki kapabilitas oleh proses penulisannya.

 Irak
Sejak pasca Perang Dunia I tidak sedikit para penulis dan sastrawan menggoreskan pena-pena mereka untuk menyuarakan kebebasan dan kemerdekaan. Sehingga muncul para penyair nasionalis seperti Ma’ruf ar-Rusafi, Jamil Sidqi az-Zahawi, Muhammad Mahdi al-Jawahiri, Badr Syâkir as-Sayyâb, dan Abd al-Wahhab al-Bayyâtî. Ar-Rusafi yang banyak menulis puisi tentang penderitaan orang-orang Irak dan perjuangan mereka ke arah kemerdekaan. Jawahiri dalam puisinya juga menyatakan dengan keras sentimen anti-kolonialis.
Pada tahun 1960-an sampai 1970-an, Partai Ba’ats mengembangkan kekuatannya untuk menggiring kehancuran sebuah tradisi budaya yang kaya. Ribuan seniman dan para penulis terpaksa hidup di pengasingan karena jika tidak, mereka pasti akan meringkuk dalam jeruji penjara. Dalam kondisi keamanan dan politik yang kurang menentu pada tahun 1960-an tersebut, di Irak muncul sebuah generasi atau angkatan baru para penyair Irak yang lebih dikenal dengan sebutan Generasi/Angkatan 60-an (Jail al-Sittîniyyât) setelah generasinya as-Sayyâb, al-Bayyâtî, dan kawan-kawannya pudar. (Hamud, tt.). Munculnya generasi tersebut tak lepas dari kondisi udara sastra di Irak yang mungkin lebih sering diwarnai oleh agitasi politik dan ideologi yang mengakibatkan timbulnya pergolakan dan revolusi, sebagaimana yang terjadi pada 1958 dan 1960 sampai pada Revolusi 68 yang disinyalir membawa angin baru pada seni dan budaya dengan diterbitkannya kembali buku-buku sastra.
Pada awal masa tersebut hingga akhir tahun 1960-an kebanyakan dari para penulis kenamaan di Irak cenderung ke arah politik kiri, dan beberapa di antara mereka dekat dengan Partai Komunis, seperti Badr Syâkir as-Sayyâb. Sebagian besar mereka hidup dalam kemiskinan, pengembaraan, pengangguran, dan bahkan hanya tidur-tiduran di kebun, gubuk dengan penuh keterpaksaan tanpa ada sebuah pilihan lain. Tak diragukan lagi bahwa generasi ini memiliki sebuah ciri tersendiri yang boleh dikatakan sampai pada taraf keterputusan dengan generasi modern awal. Angkatan ini terkenal dengan masa-masa kritis dalam himpitan politik yang sangat sulit hingga sampai pada taraf resignasi. Di antara tokoh yang terkenal dalam angkatan ini adalah Fâdhil al-‘Azâwî, Sargon Baulus, Jean Dammo, Abd al-Qâdir al-Janâbî, ‘Abd ar-Rahmân al-Rabî’î, Syarîf al-Rabî’i, dan Shalâh Fâiq (Hamud, tt.).
Sedangkan untuk genre prosa, pada fase ini muncul beberapa nama yang cukup dikenal di tanah airnya, seperti Isma’il Fahd Isma’il, Abdul Malik Nuri, Fu’ad Takerli, dan Syâkir Khusybak (seorang guru besar Universitas Baghdad). Isma’il Fahd Isma’il sebagai seorang novelis, telah turut memberikan sumbangan penanya dalam karya kuartetnya berlatar Irak di tahun 1960-an yang terbit di tahun 1970-an. Karya kwartet tersebut adalah Kânat as-Samâ’ Zarqâ’ (1970), al-Mustanqa’ât adh-Dhau’iyyah (1971), al-Habl (1972), dan adh-Dhifâf al-Ukhrâ (1973).
Pada 22 September 1980, Saddam menyerbu Iran sehingga meletus perang Irak-Iran. Selama peperangan melawan terhadap Iran ini, secara umum sastra Irak memiliki dua kecenderungan, yakni kecenderungan sastra propaganda yang didukung oleh kebijakan budaya dari penguasa yang hanya berfungsi sebagai propaganda dan mobilisasi; dan kecenderungan sastra perlawanan. Kecenderungan pertama biasanya dimunculkan oleh corong penguasa, sedangkan kecenderungan kedua biasanya dimunculkan oleh kelompok exile (yang hidup di pengasingan). Saddam sebagai corong pemerintahan pada saat itu telah melahirkan sebuah karya sastra berupa novel berjudul Ibta’ada yâ Syayâthîn! (Enyahlah Wahai Setan-Setan) yang berlatar belakang sejarah Irak pada zaman Perjanjian Lama dan dikaitkan dengan perang Irak-Iran. Versi Arab novel ini diterbitkan pada tahun 2001 dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul Be Done Demons yang telah dicetak ratusan ribu eksemplar untuk dibagikan secara gratis kepada orang-orang asing di seluruh Irak, beberapa bulan sebelum AS melakukan invasi (Maret 2003). Selain itu juga muncul beberapa nama seperti Alia Shimon Ballas (lahir 1930), Samir Naggash (1938–2004), Salima Salih (lahir 1942), dan Mamduh (lahir 1944). Ada juga penyair yang lebih muda ‘Adnân ash-Sha’ig (1955). Sebagai seorang penyair yang hidup pada masa ini, ia telah turut andil bicara melalui sajak-sajaknya. Penyair kelahiran Kufah 1955 yang karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa seperti bahasa Swedia, Belanda, Iran, Kurdi, Spanyol, Jerman, Perancis, dan Norwegia ini telah menelurkan karya-karyanya seperti al-‘Ashâfîr la Tuhibb ar-Rashâsh (1986), dan Kharajtu min al-Harb Sahwan (1994) (Atho’illah, 2007: 22).
Pada tahun 1990-an Irak menginvasi Kuwait yang berakibat terjadinya Perang Teluk antara Irak dan pasukan sekutu pimpinan AS. Karya sastra, terutama puisi, pada masa ini didominasi oleh kosakata perang seperti kata al-harb (perang), al-malâji’ (kamp pengungsian), al-qitâl (pertempuran), al-khanâdiq (parit), al-banâdiq (peluru), al-aslihah (senjata), dan kata-kata sejenisnya. Peristiwa ini telah mendorong lahirnya sebuah antologi puisi bertajuk Qabl ad-Dukhûl ‘Alaikum bi an-Nabâ’. Antologi ini memuat 16 penyair termasuk di antaranya yang terkenal adalah Hasab asy-Syaikh Ja’far, Sami Mahdi, Siham Jabbar, dan Reem Kubba.
Pada masa Perang Teluk ini salah seorang penyair Radhi Ja’far juga ikut angkat bicara menggoreskan sajak-sajak perangnya. Ia telah mengumpulkan karyanya dalam sebuah antologi bertajuk Ahzan Ibnu Zuraiq (Ballada Ibnu Zuraiq) yang telah merekam tragedi kemanusiaan di Irak antara tahun 1991-1997. Sebelum tahun itu, ia jarang menulis puisi-puisi kesedihan kecuali puisi yang digubah saat kematian ibunya berjudul Bukâ’ (Tangisan). Pada masa-masa krisis, Ja’far sempat melakukan eksodus ke negeri orang, yaitu Damaskus dan Yordania. Selama pengembaraannya itu, ia sempat menulis belasan sajak. Sajak-sajak itu kemudian dikumpulkan dengan sajak-sajaknya lainnya yang ditulis sehingga menelurkan sebuah antologi berjudul Ahzan Ibnu Zuraiq (Ballada Ibnu Zuraiq). Radhi Ja’far adalah Ibnu Zuraiq[2] di abad ke-21. Ia menjadi seorang musafir yang terlantar di jalan. Kepiluannya seperti kepiluan Ibnu Zuraiq yang meninggal dunia karena kedinginan di pinggir kota Grenada beberapa abad yang lampau. Menurutnya, Ibnu Zuraiq adalah prasasti sejarah atas matinya nurani. Ia adalah korban keangkuhan (Saerozi, 2003).
Selain genre puisi, peristiwa Perang Teluk juga telah mendorong diterbitkannya karya prosa berupa cerpen, yang di antaranya adalah antologi Hîna Yahzan al-Athfal Tatasâqat ath-Thâ’irât. Antologi tersebut memuat sekitar 24 cerpenis. Di antara cerpenis tersebut yang patut untuk disebutkan adalah cerpenis Mohamed Khidayyir yang telah menulis cerpen dengan judul Tahnit. Selain itu ada juga Warid Badr Al-Salim yang menulis sebuah cerpen berjudul Infijar Dam’a yang di dalamnya memuat catatan harian 40 hari selama peristiwa Perang Teluk, 16 Januari — 28 Februari 1991.
Di bidang drama, pada tahun 1992, melalui pagelaran Festival Drama Arab ke-3 di Baghdad, Ghanim Hamid menggarap pementasan drama berjudul al-Miftah yang skenarionya ditulis oleh Yusuf al-Ani (Yousif, 1997). Drama tersebut sebenarnya sudah ditulisnya sejak lama sekitar tahun 1968, tapi kemudian digarap ulang dengan menyertakan kejadian-kejadian baru sekitar Perang Teluk yang masih hangat.
Irak selama periode 1998-2002 sering terjadi konflik akibat penolakan terhadap resolusi PBB. Pada periode ini telah lahir beberapa karya puisi yang syarat dengan kosakata perang, blokade, embargo, dan sejenisnya. Di antara karya-karya tersebut adalah antologi puisi Dzâlik al-Mathar al-Murr (1998) karya Salâm Daway, Qathan Aswad (1999) karya Muhammad Salman Muhaisan, Daftar al-Mâ’ (2000) karya Wadî’ Syâmikh, Fî ‘A’âlî al-Kalâm (2000) karya Nashîr asy-Syaikh, al-Barasîm (2001) karya ‘Abd al-Husein Barasîm, Lâ Ahad bi Intidzâri Ahad (1999), Sa‘âdât Sayyi’ah ash-Shait (2001), karya Jamâl Jâsim Amîn, dan Hiyâd al-Marâyâ (2001) karya Muhammad Darwîsy ‘Alî.
Pertumpahan darah di Irak terus berlanjut. Pada tanggal 9 April 2003 Baghdad resmi jatuh ke tangan Amerika. Kondisi politik dan keamanan yang tidak menentu telah mempengaruhi perkembangan sastranya. Pada masa-masa invasi tersebut perkembangan genre puisi bertema perang berkembang lebih cepat, jika dibandingkan dengan drama dan novel. Hal ini disebabkan karena penulisan drama dan novel membutuhkan waktu yang lebih lama jika dibandingkan dengan penulisan puisi.
Novelis Irak kontemporer, Syakir al-Anbari, menyatakan bahwa ada sejumlah karya besar di Irak pada masa kontemporer ini, terutama puisi dan novel, yang terbit di sejumlah surat kabar harian. Mereka kebanyakan berkutat dengan tema-tema sekitar penderitaan rakyat Irak, pengungsian, dan kejadian pembunuhan. Namun sayangnya tulisan mereka tidak sampai di sejumlah pembaca Arab. Menurutnya, para penulis Arab secara umum dan penulis Irak pada khususnya telah gagal mengungkap peristiwa-peristiwa di Irak. Mereka kebanyakan tidak memahami sifat dasar kejadian-kejadian yang berlangsung di Irak karena cara berpikir mereka yang dangkal. Para intelektual Arab, khususnya di Irak, mendekati hal ini dengan menggunakan sistem dualisme yang naif dan dihadapkan pada pertimbangan yang hanya berkisar pada “pendudukan dan rakyat”. Bagaimanapun, ada banyak benang kusut dan permasalahan historis yang belum terpecahkan dalam masyarakat Irak. Penjajah dengan tanpa hati-hati telah memicu munculnya semua permasalahan yang terpendam.
Dalam genre puisi, pada tahun 2006 telah terbit antologi puisi dalam bahasa Arab dan Jerman bertajuk al-‘Audah min al-Harb: Mukhtârât asy-Syi’r al-‘Irâqî al-Jadîd (Rückkehr aus dem Krieg: Neue Irakische Lyrik). Pokok materi antologi setebal 700 halaman yang terbit di Frankfurt ini merujuk pada semua penyair, seperti: kehancuran, peperangan, hilangnya hak, dan pengusiran. Ini adalah pengalaman-pengalaman yang menggambarkan situasi kehidupan di Irak masa-masa hingga tahun terbit antologi tersebut, meski kebanyakan dari sebagian penyair-penyairnya tidak lagi hidup di Irak. Antologi tersebut memuat lebih dari 40 penyair Irak kelahiran antara tahun 1920-an hingga 1970-an, baik yang berdomisili di Irak maupun di pengasingan seperti di Scandinavia atau Jerman.
Adapun di bidang drama, di antara yang paling terkemuka adalah Hammam Bagdadi yang ditulis oleh Jawad al-Asadi. Sedangkan di bidang novel, sebagaimana diakui oleh Mazlum dan juga al-Anbari, produktivitasnya mengalami perkembangan yang agak lamban karena untuk menciptakan novel-novel dengan mengangkat tema-tema peperangan secara serius dan efektif membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Jamil Siqdi Az-Zahawi (1863-1936) di Irak terkenal sebagai perintis sajak modern dan seorang penyair tua yang bernada keras dan dikenal sebagai pembela hak-hak wanita bersama-sama dengan Ma’ruf Ar-Rasafi (1877-1945).
Iran
Iran (atau Persia) adalah sebuah negara Timur Tengah yang terletak di Asia Barat Daya. Meski di dalam negeri negara ini telah dikenal sebagai Iran sejak zaman kuno, hingga tahun 1935 Iran masih dipanggil Persia di dunia Barat. Pada tahun 1959, Mohammad Reza Shah Pahlavi mengumumkan bahwa kedua istilah tersebut boleh digunakan. Nama Iran adalah sebuah kognat perkataan “Arya” yang berarti “Tanah Bangsa Arya”.
Kebudayaan Iran telah lama memengaruhi kebudayaan-kebudayaan lain di Timur Tengah dan Asia Tengah. Malahan, Bahasa Persia merupakan bahasa intelektual selama milenium kedua Masehi. Kebanyakan hasil tulisan Persia diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab semasa kekholifahan Islam. Pada zaman awal Islam di Persia, kebanyakan karya Persia ditulis dalam Bahasa Arab. Tetapi, ketika zaman pemerintahan Umayyah, orang-orang Persia ditindas oleh bangsa Arab. Ini menyebabkan banyak tokoh intelektual Persia mulai menggunakan bahasa Persia dalam tulisan mereka. Salah satu karya ini ialah kitab Shahnameh hasil tulisan Ferdowsi, sebuah karya mengenai sejarah negara Iran.
Dimasa kontemporer, terdapat cendikiawan Iran yang terkemuka yaitu Ayatullah Khamenei. Sayid Ali Huseini Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam adalah putra almarhum Hujjatul Islam wal Muslimin Haj Sayid Javad Husaini Khamenei. Beliau  lahir pada tanggal 24 Tir 1318 Hijriah Syamsiah (16 Juli 1939) atau bertepatan dengan tanggal 28 Shafar 1357 Hijriah di kota suci Mashad. Di antara karya-karya tulisannya adalah “ Taudhihul Masail”, “Manasik Haj”, dan “Izdiwaj dar Islam”.
Dalam literatur cerita modern Iran, karya-karya yang terinspirasi dari perang yang dipaksakan oleh rezim Saddam Hussein telah diangkat dalam cerita, di mana jarak antara para penulisnya dan medan perang tidak terlalu jauh. Kebanyakan mereka menyaksikan peristiwa perang dan bahkan hadir di tengah-tengah perang. Puluhan cerita panjang dan roman serta ratusan cerita pendek merupakan hasil kerja keras para penulis Iran tentang agresi pasukan Irak di bawah pimpinan Saddam atau Perang Pertahanan Suci (Perang Irak-Iran).
Albania
Albania adalah sebuah negara yang terletak di Eropa bagian tenggara. Albania berbatasan dengan Montenegro di sebelah utara, Serbia (Kosovo) di timur laut, Republik Makedonia di timur, dan Yunani di selatan. Laut Adriatik terletak di sebelah barat Albania, sedangkan Laut Ionia di barat daya. Albania di dalam bahasanya dipanggil Shqipëria, yang berarti Tanah Air Burung Elang. Oleh itu, gambar burung elang berkepala dua dapat dilihat di benderanya serta emblemnya. Nama “Albania” pula mungkin berasal dari perkataan Indo-Eropa albh (putih).
Kalifah Usmaniyah menguasai Albania antara 1385-1912. Selama masa ini, kebanyakan penduduk masuk Islam, dan penduduk Albania juga beremigrasi ke Italia, Yunani, Mesir dan Turki. Walau pengawasannya secara singkat terganggu oleh pergolakan 1443-1478, dipimpin oleh Gjergj Kastrioti Skenderbeg, Khilafah Turki Utsmani akhirnya menegaskan kembali penguasaan mereka.
Pada awal abad ke-20, Khilafah Turki Utsmani tak dapat mengendalikan kontrolnya di sini. Liga Prizren (1878) memperkenalkan gagasan negara kebangsaan Albania dan menciptakan alfabet Albania modern. Menyusul akhir Perang Balkan I, orang-orang Albania mengeluarkan Proklamasi Vlore pada 28 November 1912, mendeklarasikan ‘kemerdekaan’. Perbatasan Albania ditetapkan oleh Kekuatan Besar pada 1913. Integritas wilayah Albania ditegaskan di Konferensi Perdamaian Paris pada 1919, setelah Presiden Amerika Serikat Woodrow Wilson menolak rencana dengan kekuatan Eropa untuk membagi Albania di antara tetangganya.
Selama Perang Dunia II, Albania dicaplok pertama kali oleh Italia (1939-43) dan kemudian oleh Jerman (1943-44). Setelah perang, pemimpin Partai Komunis Enver Hoxha mengatur melindungi integritas wilayah Albania selama 40 tahun berikutnya, namun memerlukan harga politik yang sangat mahal dari penduduknya, yang ditundukkan untuk membersihkan, mengurangi, penindasan hak sipil dan politik, larangan total pada praktek keagamaan, dan meningkatkan isolasi. Albania yang setia pada filsafat Stalinis yang keras, akhirnya menarik diri dari Pakta Warsawa pada 1968 dan menjauhkan diri dari sekutu terakhirnya, Republik Rakyat Cina pada 1978.
Menyusul kematian Hoxha pada 1985 dan kemudian kejatuhan komunisme pada 1991, masyarakat Albania berjuang menanggulangi isolasi dan ketertinggalan sejarahnya. Selama masa transisi awal, pemerintah Albania memandang ikatan yang lebih dekat dengan Barat agar memperbaiki keadaan ekonomi dan memperkenalkan reformasi demokrasi dasar, termasuk sistem multipartai.
Pada masa kontemporer, di Albania terdapat seorang sastrawan terkemuka bernama Ismail Kadare lahir dan tumbuh di kota Gjinokaster, Albania. Ia belajar sastra di University of Tirane dan menghabiskan tiga tahun untuk menyelesaikan pasca sarjana di Gorky Institute di Moscow. The General adalah novel pertamanya, dipublikasi sekembalinya ke Albania pada 1962, saat ia duapuluh enam tahun.
Kadare sering dibandingkan dengan Kafka dan Orwel, tapi ia punya bentuk aseli, universal sekaligus berakar kuat di negerinya sendiri. Lebih dari empat puluh tahun Albania hidup di bawah diktator Komunis, Enver Hoxha, terutama cap kekejian Stalinisme yang bertahan lebih lama disbanding negara Eropa Timur lain. Kadare menggunakan beragam genre tulisan dan gaya alegori, satir, penjarakan sejarah, mitologi guna menghindari sensor kejam dan pembalasan mematikan Hoxha terhadap setiap bentuk pembangkangan. Karyanya adalah kronikel mengenai dekade-dekade mengerikan kendati kisah-kisahnya sering disituasikan dalam masa lalu yang jauh dan di negeri-negeri berbeda. Dua dari novel-novel paling terkenalnya, The Palace of Dreams dan The Pyramid, masing-masing berlatar masa Kekaisaran Ottoman dan Mesir kuno, sementara The Great Winter dan The Concert dengan jelas merujuk pada putusnya Hoxha dengan Rusia dibawah Khrushchev dan dengan China setelah mangkatnya Mao.
Afganistan
Republik Islam Afganistan (Pashtun/Dari-Parsi: افغانستان, Afğānistān) adalah sebuah negara di Asia Tengah. Ia kadang-kadang digolongkan sebagai bagian dari Asia Selatan atau Timur Tengah karena kedekatannya dengan Plato Iran. Afganistan berbatasan dengan Iran di sebelah barat, Pakistan di selatan dan timur, Tajikistan, Turkmenistan, Uzbekistan di utara, dan Republik Rakyat Cina di ujung timur. Afganistan juga berbatasan dengan Kashmir, wilayah yang dipersengketakan oleh India dan Pakistan. Afganistan merupakan salah satu negara termiskin di dunia.
Pada kurun waktu antara tergulingnya rezim pemerintahan Taliban pada 2001 dan Loya jirga (sidang majelis Musyawarah Tradisional) tahun 2004, dunia Barat menyebut negara ini dengan nama Negara Islam Transisi Afganistan. Banyak monumen bersejarah negara ini rusak dalam perang tahun-tahun terakhir. 2 unit Patung Buddha Bamiyan yang terkenal di Provinsi Bamiyan dihancurkan Taliban karena dianggap sebagai lambang agama lain.
Orang Afganistan dikenal sebagai penunggang kuda. Olahraga yang terkenal seperti Buzkashi terkenal di sana. Sebelum Taliban memegang kekuasaan, kota Kabul merupakan tempat tinggal banyak musisi yang ahli dalam musik Afganistan tradisional dan modern. Kabul pada paruh abad ke-20 sama dengan Wina selama abad XVIII dan XIX. Afghanistan termasuk Negara konflik. Sastra yang berkembang pada saat ini banyak menuliskan tentang kebebasan, nasib-nasib rakyat Afghanistan dan nasib wanita-wanita Afghanistan.
Epilog
Dibalik gejolak konflik Negara ataupun peperangan, karya sastra tetap menjadi pilihan dikawasan Asia Tengah untuk mengkritik pemerintahan ataupun untuk mengungkap hal-hal yang terjadi pada saat itu. Karya sastra itu lahir dan berkembang ditengah-tengah konflik dan peperangan.

Posted in Karya Sastra, Karya Sastra Islam(i) modern, Karya Sastra Muslim Modern di Afrika, Modern, Najib Kilani

Bayang-Bayang Hitam, Najib Kailani


Dalam novel ini Najib Kailani mencoba mengungkap nilai-nilai kemanusiaan dari sebuah pergolakan ideology yang terjadi di negeri Ethiopia. Sebuah kegelisahan seorang  Iyasu  yang tidak pernah puas dengan kondisi sekitarnya yang penuh dengan kemunafikan dari para pemuka agama. Sebuah pencarian yang dalam tentang nilai-nilai universal kemanusiaan. Tentang kebebasan beragama, ketenangan, kejujuran, dan tentang agama kebenaran. Pencarian yang akhirnya ia harus terusir dari kekuasaannya karena ia terus berpegang teguh dengan apa yang diyakininya. Dan pada akhirnya pula Ethiopia harus jatuh ke tangan Negara lain, akibat dari ketamakan seorang Tafari, seorang gubernur di salah satu wilayah Ethiopia yang juga seorang kerabat kekaisaran. Karena dia tidak setuju dengan usulan-usulan kaisar muda yang memberikan kebebasan beragama bagi rakyatnya.

Perang Dunia I sudah lama berakhir. Dia telah menjadi bagian dari sejarah. Paling tidak, ia menjadi saksi atas kekalahan Turki melawan Negara-negara sekutu yang menyebabkan negeri tua itu runtuh pada tahun 1924 M. di tangan Sultan Abdul Hamid II Turki mengalami kehancuran yang disebabkan oleh Mustafa Kemal At- Taturk. Namun, jauh sebelum itu ia telah menjadi singa ompong yang hanya mampu menkaut-nakuti orang saja. Banyak pejabatnya yang korup dan sudah tidak memperhatikan rakyatnya. Yang mereka pikirkan hanyalah kesenangan diri dan keluarga masing-masing. Dan rasanya tidak ada yang patut dicontoh dari semua ketamakan itu, dan tidak pula patut untuk dikenang dari semua kepahitan itu selain pelajaran. Dan inilah yang dengan baik ingin diungkap dan diberikan oleh Najib Kailani dari novelnya. Secara tidak langsung, dengan berkaca pada peristiwa-peristiwa di atas Najib Kailani mencoba menggambarkannya dalam novel yang berjudul Bayang-Bayang Hitam.

Nama Ethiopia berasal dari bahasa Yunani yang berarti “wajah-wajah terbakar matahari”, yang diberikan bangsa Yunani kepada orang-orang yang mendiami bagian Timur dari Mesir- termasuk Ethiopia, karena mereka memiliki kulit yang lebih gelap. Sebelumnya Ethiopia dinamai Abbesinia (dari bahasa Arab, berarti campuran – merujuk beragam etnis disana). Pada tahun 1500-an kekaisaran Ethiopia terpecah menjadi beberpa kerajaan kecil, kemudian pada tahun 1889 Manelik II yang menjadi kaisar pada saat itu menyatukan Ethiopia dan menjadikan Addis Ababa sebagai ibukotanya.  Dengan beragam etnis disana, membuat novel ini mau tidak mau harus memberikan pelajaran dalam hubungan social antara etnis yang berbeda, juga dengan sistem pemerintahan kekaisaran yang dianut membuat kebudayaan di dalamnya bahwa rakyat akan sangat patuh terhadap perintah seorang kaisar. Dengan sedikit latar belakang sosial dan kebudayaan di atas, secara tidak langsung berperan penting dalam terlahirnya karya sastra ini. Karena sebagaimana diketahui novel Bayang-Bayang Hitam yang didalamnya menceritakan kehidupan sebuah kaisar, dan perintah kaisar menjadi hal yang harus dipatuhi oleh rakyatnya.

Secara umum tema dalam novel ini mengusung nilai-nilai kemanusiaan yang tertuang dalam perbedaan ideology. Iyasu yang ingin negaranya hidup damai dengan rasa toleransi antar umat beragama yang dijunjung tinggi oleh rakyatnya. Akan tetapi, Tafari yang masih kerabat dengan keluarga kekaisaran menganggap bahwa di suatu Negara tidak bisa berdiri jika di dalamnya terdapat perbedaan agama, dia ingin membuat Ethiopia negara Kristen, sehingga tidak ada agama lain di Ethiopia selain Kristen. Keinginan ini juga bukan hanya keinginan Tafari, seorang gubernur di salah satu wilayah di Ethiopia yang dipimpin kaisar muda Iyasu. Para pendeta gereja di Ethiopia pun berfikir sama seperti Tafari. Sehingga mereka bersama-sama menentang keputusan kaisar muda Iyasu

Keseluruhan latar tempat novel ini berada di Negara Ethiopia, meliputi istana kekaisaran yang berada di ibukota Negara Ethiopia Addis Ababa, dan setiap wilayah Ethiopia secara keseluruhan yang berada di lembah-lembah, pegunungan-pegunungan. Juga sebuah wilayah yang bernama Walelo salah satu wilayah di Ethiopia yang dipimpin oleh seorang gubernur bernama Michael, ayah kaisar muda Iyasu.

Perwatakan tokoh didalamnya secara tidak langsung digambarkan penulis melalui konflik yang runtun ada, dan dalam setiap pergolakan batin pada tokoh masing-masing secara tidak langsung menggambarkan watak tokoh pada novel tersebut. Tokoh-tokoh pada novel ini adalah : (1) Iyasu seorang kaisar Ethiopia sejak tahun 1913; (2) Michael adalah ayah Iyasu, dia seorang muslim yang dipaksa masuk Kristen, Ia adalah gubernur di wilayah Walelo di Ethiopia; (3) Shu Arkos adalah ibu kandung Iyasu, Ia adalah anak dari Manelik kaisar Ethiopia terdahulu; (4) Malvin adalah adik dari Iyasu; (5) Zauditu adalah adik dari Shu Arkos yang berarti bibi dari Iyasu dan Malvin, di akhir-akhir cerita Ia menjadi kaisar yang menggantikan Iyasu karena pada saat itu terjadi perang saudara antara Iyasu dan Tafari, yang mengakibatkan Iyasu harus lengser dari jabatannya; (6) Gugosa adalah suami dari Zauditu sekaligus penguasa wilayah; (7) Tafari adalah suami dari adik Iyasu Malvin dan juga ia penguasa wilayah; dan tokoh lainnya yaitu,  Istri Iyasu yang pertama dan Istri Iyasu yang kedua. Dan juga tukang masak Tafari, para intelejen, dan seorang cardinal di era kepemimpinan Iyasu yaitu Bapak Matheus.

Menurut Freytag diagram plot dimulai dengan exposition – raising action – conflict – climax – dan yang terakhir resolution. Exposition dalam novel ini yaitu ketika Michael ayah Iyasu dan Iyasu dipaksa oleh pendeta Michael untuk memrangi orang-orang Islam yang ada di Negara Ethiopia. Mereka berdua jelas-jelas tidak setuju karena mereka sangat menghargai perbedaan agama di suatu Negara karena itu adalah hak setiap rakyatnya, dan yang lebih penting dari itu Michael dan Iyasu adalah seorang Kristen yang beragama Islam. Kekristenannya adalah sebuah kedok, jauh di lubuk hati mereka Islam tertanam kuat. Pada kenyataannya Michael adalah seorang Islam yang dipaksa memeluk agama Kristen. Karena sudah tidak tahan lagi akan kemunafikan ini, ketika Iyasu menjelajahi setiap sudut negeri Ethiopia untuk menjenguk rakyat-rakyatnya yang berada di pelosok Ia mengumumkan ke-Islamannya, dan itu membuat gempar seluruh negeri terlebih keluarga kekaisaran dan para pendeta di gereja, ini menjadi raising action dalam novel ini. Mendengar keislaman sang kaisar Iyasu yang telah menyebar ke seluruh penjuru Ethiopia membuat para pendeta gereja geram, terutama Tafari adik iparnya. Mereka sangat marah dan akan membuat strategi untuk meruntuhkan Iyasu dari jabatannya. Hingga akhirnya mereka menyerang kekaisaran dan berperang dengan tentara istana kaisar dan para rakyat yang cinta pada kaisar Iyasu. Namun, malangnya istana harus kalah dan Iyasupun lengser dari jabatannya. 

Di atas adalah conflict dalam novel ini. Bukan hanya berperang melawan istana ternyata Tafari dan para pendeta menyandra keluarga istana, Ayah dan Ibu Iyasu juga isterinya. Kekuasaan Iyasu digantikan oleh bibinya Zaidatu, namun ia hanya sebuah symbol karena pada kenyataannya pemerintahan dijalankan oleh Tafari sebagai penguasa wilayah. Karena ketamakannya, Tafari tidak ada satupun orang yang dapat menghalanginya untuk menjadi kaisar istana. Ia meracuni isterinya Malvin, ayah mertuanya Michael, dan ibu Iyasu sudah tidak diketahui dimana rimbanya, Iyasu sendiri sudah bertahun-tahun mendekam di penjara. Zaidaru sang ratu dan suaminya pun mendapat nasib yang sama, mereka harus mati di tanagan Tafari, klimax ini yang coba diusung penulis dalam novelnya. Dan resolution dalam novel ini adalah kematian Iyasu yang dibunuh langsung oleh tentara suruhan Tafari, di mata kepala Tafari sendiri. Namun pada akhirnya, setelah kematian Iyasu Tafari menangis. Ia merasa sangat lemah, ketika dihadapkan kematian Iyasu orang yang sangat ia benci Tafari merasa Iyasu masih tersenyum bahagia.   

Dengan membaca setiap kata dalam novel ini, kita seakan-akan dibawa pada pergolakan batin di setiap tokoh. Novel ini banyak menggunakan pendekatan-pendekatan psikologis, dan secara tidak langsung penulis mengungkap nilai-nilai kemanusiaan yang tanpa kita sadari sering kita lupakan. Penulis dengan baik mengungkapkan sebuah tuntunan kehidupan berpolitik dalam kehidupan kita sehari-hari.

Posted in Karya Sastra tentang Muslim, Klasik, Maurel Maufrey, Rumi

"Kimya Putri Rumi"Karya Maurel Maufroy


            Alasan utama saya mengangkat tema ini adalah ketertarikan saya terhadap pengarang yang menampilkan perempuan sebagai tokoh sufi yang sejarah kehidupannya dan dikaitkan dengan tokoh sufi terkenal sepanjang masa, Jalaludin Rumi atau yang secara singkat dipanggil Rumi adalah hal esensial yang ingin ditunjukkan pengarang. Selama ini, seperti yang kita ketahui, sangat jarang ada sebuah karya sastra yang mengangkat karakter perempuan dalam tema-tema bersifat sufistik. Jika berbicara mengenai hal ini maka tidak bisa dilepaskan dari teori-teori mengenai karya yang melibatkan perempuan sebagai pengarang maupun sebagai karakter dalam suatu karya. Salah satu tokoh yang menyinggung mengenai hal ini adalah Mary Wollstonecraft. Ia mendekonstruksi deskripsi karakter perempuan dalam banyak karya ‘picisan’ yang dibuat oleh pengarang laki-laki. Mary menentang seluruh gambaran negatif yang mendiskreditkan peran perempuan yang selalu ada di bawah dominasi kaum pria. Namun, sebelum beranjak ke teori dan berbagai penjelasannya, pada awal tulisan akan terlebih dahulu menyinggung sedikit mengenai unsur ekstrinsik yang menjadi subtansi dasar dalam novel ini.

 Unsur Ekstrinsik Novel
Novel karangan Maurel Maufroy ini sangat erat kaitannya dengan sejarah, sosiobudaya dan politik yang ada pada settingyang menjadi latar belakang historis cerita ini. Meskipun tema mengenai perempuan menjadi landasan fundamen dalam novel ini, namun penggunaan tokoh Rumi sendiri memiliki alsan tertentu. Rumi adalah legenda yang menjadi kiblat bagi para pecinta Tuhan dengan konsep transendennya. Pengalaman-pengalaman ekstasenya yang kemudian di aplikasikan pada karya-karyanya banyak menginspirasi orang-orang, baik yang beragama Islam maupun selain Islam. Dari beberapa sumber yang saya baca, kepopuleran Rumi sebagai tokoh yang piawai mengajarkan ilmu keagamaan dari menjadi guru besar di tempat tinggalnya di Konya, salah satu pusat keilmuan di Turki pada saat itu hingga transformasinya menjadi ahli sufi tak bisa dilepaskan dari unsur sosiobudaya dan politik pada saat itu. Pada sekitar tarikh 1243 M, Bani Saljuk dikalahkan oleh tentara Mongol hingga menimbulkan keresahan masa yang berdampak negatif pada sisi spiritual dan psikologis para penduduk Timur Tengah. Paham yang masih dianut oleh khalifah yang berkuasa pada saat itu adalah Muktazilah yang sangat mengagungkan akal dalam pemecahan masalah hingga ke hal yang transenden sekalipun.
Namun, setelah mengalami kekecewaan perang, masyarakat menjadi goyah akan ideologi yang selama ini mereka usung mengenai logika berpikir. Saya berasumsi bahwa kehadiran Rumi merupakan angin segar untuk menggapai hal yang sebelumnya tak teralisasikan dalam kehidupan nyata. Ajaran-ajaran Rumi seolah mengisyaratkan bahwa masih ada sesuatu yang perlu digapai oleh seseorang dalam kehidupan spiritualnya yakni kedekatan dengan Tuhan (Meskipun pada saat Rumi telah menjadi tokoh sufi yang dianggap mumpuni banyak yang justru menganggap ia berubah dan tak lagi mau mengajarkan ilmu agama lagi pada para muridnya). Terlalu ironis mungkin jika dikatakan sebagai pelarian tapi mungkin ini bisa disebut sebagai pengembangan suatu metode pencerahan jiwa kearah yang samasekali baru.
Jika dilihat dari unsur ekstrinsiknya, sudah dipastikan novel ini sedikit banyaknya merupakan gambaran yang memuat  realitas sejarah. Ada kesinambungan tertentu yang terjalin antara struktur sosial dengan struktur karya. Namun, tidak semua realitas yang terjadi dalam kehidupan nyata bisa diungkap dengan gamblang dalam suatu karya kerena ada suatu proses seleksi tertentu yang nantinya akan menggabungkan fakta sosial dan imajinasi. Penggunaan imajinasi bukannya hanya digunakan untuk menghibur pembaca namun juga digunakan untuk menciptakan suatu kapasitas pemahaman mengenai ideologi dan pesan yang ingin disampaikan pengarang.
Karya sastra, karya seni pada umumnya, menganggap imajinasi, kreativitas, dan unsur-unsur estetis yang menyertainya, justru sebagai kualitas rekaan yang menyediakan sejumlah energi untuk memperbaharui pola-pola yang sudah usang, sekaligus membentuk pola-pola yang baru (Ratna, 2011:96).
            Jika disinggung apakah Kimya benar-benar ada di kehidupan nyata, bukan hanya sebagai tokoh rekaan belaka, saya tak mendapat informasi jelas mengenai ini. Sekalipun tokoh Kimya adalah semata-mata fiksi pun, hal itu tidak masalah samasekali, karena apa yang akan dibahas adalah realitas yang terjadi di novel yang terkandung dalam unsur intrinsiknya dan berkaitan langsung dengan teori Mary Wollstonecraft.
Unsur Intrinsik Novel Kimya Putri Rumi
Hal pertama yang menarik perhatian saya ketika membacanya adalah penggunaan diksinya. Novel ini seperti tidak begitu mementingkan alur atau jalan cerita dalam pengungkapan realitas yang terjadi. Narator menyediakan kapasitas lebih besar untuk mengungkap pengalaman-pengalaman spiritual setiap tokoh dengan keagungan bahasa beserta kedalaman maknanya. Pengungkapannya mengenai bagaimana para tokoh seperti Rumi, Tabriz dan Kimya menjalani kehidupan sehari-harinya yang sederhana tapi dengan pemaknaan yang berlimpah seakan mengingatkan pembaca untuk menggali kedalaman spiritualnya. Bahwa mungkin kehidupan akan lebih terarah jika kita tak sekedar memaknai kehidupan ini hanya sebagai aktivitas budaya yang berbanding lurus dengan berjalannya waktu. Saya rasa itulah yang menjadi ciri khas sekaligus pesan yang ingin disampaikan pengarang. Salah satu hal menarik yang saya dapat adalah dialog antara Akbar, salah seorang murid sekaligus pengagum Rumi dengan Sadruddin, sahabat Rumi. Akbar begitu kecewa dengan sikap Rumi yang berubah seratus delapan puluh derajat setelah kedatangan Syams. Ia merasa kehilangan pijakan karena selama ini seseorang yang selalu ia agungkan telah berubah sikapnya. Ia merasa dikhianati dan kehilangan pijakan.
‘Jagalah kemurnian cintamu pada Maulana dan kau akan lihat segalanya akan baik-baik saja. Waktu yang akan membuktikannya. Dan ingatlah selalu, bersabarlah.” Dia melafalkan kata terahir dengan perlahan, seolah sedang mengajarkan kosakata baru pada anak kecil. Kembali ia tertawa dan bangkit. ‘Sabar adalah sebuah kata, ya aku tau itu tak memikat anak muda.’
Mungkin perasaan Akbar ini mewakili keheranan dan perasaan pembaca. Bisa dikatakan bahwa narator seolah mengajak pembaca untuk mengembara dan mengalami keraguan akan salah satu tokoh tapi di saat yang sama narator menghadirkan pemuasan akan keraguan itu sendiri dengan menghadirkan karakter tokoh bandingan.
            Dari unsur narasinya, novel ini bercerita mengenai perjalanan seorang perempuan dalam menempuh perjalanan menjadi sufi wanita.  Kimya  berasal dari keluarga petani yang menetap di pedalaman Anatolia di Turki. Sejak kecil, ia telah banyak mengalami kejadian yang mengguncang sisi spiritual dalam dirinya. Ia dianggap berbeda oleh teman sepermainan bahkan oleh orang tuanya sendiri. Seringkali, ia terlihat seperti meninggalkan dunia tempat ia berada dan termenung, seakan jiwanya terbang mengelana ketempat yang tak terjangkau indra. Pada saat itu, ia tak bisa menjelaskan mengapa ia merasakan hal itu, ia sendiripun tak mengerti hal apa yang menimpanya. Kepindahannya ke Konya mengubah total seluruh kehidupannya. Sebagai putri angkat Rumi, Kimya banyak belajar banyak hal terutama, sisi spiritual dan kerinduannya akan Tuhan makin terasah. Konflik lalu timbul saat ia menikah dengan Tabriz, seorang sufi berasal dari Syams yang juga merupakan guru Rumi. Banyak orang yang tak suka akan keberadaan Tabriz, karena setelah kedatangannya ke Konya, Rumi tak lagi ingin mengajar ilmu agama tapi banyak berkhalwat dengannya. Rumi seolah menelantarkan murid-muridnya yang haus akan ilmu pengetahuan agama. Disinilah ketahanan Kimya sebagai seorang perempuan diuji. Kimya menunjukkan bagaimana ia bertahan menghadapi tuduhan orang-orang yang mengarah pada Tabriz sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas berubahnya Rumi. Para perempuan pun bergosip bahwa Tabriz telah mengekang Kimya sedemikian rupa hingga ia tak boleh bergaul dengan teman-temannya.
            Jika dilihat dari segi karakter utama, Kimya, menurut saya, sikap Kimya dalam menghadapi berbagai permasalahan yang menimpanya adalah identitas karakter yang membumi sekaligus memberikan teladan.  Saat usianya belum dewasapun Kimya telah mampu menunjukan kedewasaannya dengan tak berpikiran negatif mengenai apa yang terjadi dalam keluarganya setelah kedatangan Tabriz seperti apa yang orang-orang pikirkan. Ia begitu tersinggung dengan gunjingan orang-orang.
Keesokan harinya, di pasar Kimya mendengar orang-orang menyebut Syams sebagai Iblis dan ‘Betapa mengerikannya harus hidup bersamanya dalam satu atap!’ Dia terus berjalan, tak memedulikan omongan tersebut, tapi hatinya terasa sesak, ingin sekali ia menangis keras-keras. ‘Semua sama sekali tidak benar. Syams bukan iblis. Ia adalah angin yang sangat dahsyat  yang mengobarkan api yang membakar apapun yang disentuhnya. Dia adalah sang pembawa berita rahasia. Dia…’ (hl. 189)
            Dalam kutipan tersebut jelas bahwa adalah pribadi yang kuat dengan segala karakter feminin yang ia miliki. Ia tidak tergoyahkan dengan asumsi orang-orang yang mendiskreditkan kehadiran Tabriz ke tengah keluarganya. Ia tak menggunakan pertimbangan emosi belaka ketika menghadapi masalah. Di satu sisi, ia juga begitu membumi dengan segala kegelisahan yang ia alami ketika melihat sikap Tabriz kepadanya. Hal ini terbukti ketika ia bertanya-tanya mengapa suaminya seakan tak memperhatikan dirinya.
Kimya sedang berbaring di ranjang. Dia sepenuhnya terjaga. Syams telah pergi seharian. Sekarang malam semakin larut saja tapi Syams belum juga pulang. Apakah menikah itu hidup bersama layaknya kakak adik atau lebih seperti ayah dan anak? Apakah menikah itu jarang sekali bertatap muka dengan pasangannya? Kalau Syams berada di dekatnya, rasanya begitu tenang dan puas hati. Kehadirannya entah bagaimana, mengatur ulang kenyataan dan mempertajamnya.
            Dalam cerita selanjutnya, perjalanan spiritual Kimya menjadi semakin terasah dan berliku setelah ia mengalami berbagai peristiwa aneh. Kimya bisa tiba-tiba berada pada satu ruangan bersama Tabriz dan Maulana (Rumi) padahal sebelumnya ia sedang memasak  atau berbaring. Ketika ia ingat melihat tangannya, yang tampak hanyalah lantai tempat ia duduk. Ia terkejut saat melihat ka cermin, ia samasekali tak melihat pantulan bayangannya. Maulana menyebutnya sebagai karunia Tuhan. Namun, justru Kimya malah merasakan kesepian karenya. Ia merasa itu adalah hal yang menjadi penyebab utama kesendiriannya (hal. 286-287).
Karakter Kimya dan Konsep Mary Wollstonecraft
            Kaitannya dengan apa teori Mary adalah konsepnya mengenai penolakan terhadap novel yang disebut ‘picisan’ karena mendramatisir kearakter kelemahan perempuan. Di sini, saya bukannya akan megasumsikan bahwa novel ini adalah contoh apa yang disebut dengan karakter novel picisan atau mengaplikasikan teori Mary mengenai konsep karakter perempuan seharusnya dengan menganalisa karakter Kimya berdasarkan cerita. Karena, walaupun bagaimana tak akan terjadi korelasi sebab keduanya sangat kontradiktif, Mary menceritakan mengenai perempuan dalam kehidupan nyata sedangkan objek kajian kita adalah tokoh fiksi dalam sebuah cerita novel. Jadi, apa yang akan dibahas? Perlu saya jelaskan terlebih dahulu bahwa pemikiran-pemikiran Mary dilatarbelakangi oleh banyak karya yang memarginalkan karakter perempuan dalam banyak karya sehingga sedikit banyaknya hal itu berpengaruh terhadap perkembangan paradigma sosio masyarakat mengenai konsep patriarki. Secara singkatnya, Mary menentang karakter perempuan yang lebih terbelakang dalam segi pendidikan dan logika berpikir dibanding laki-laki. Perempuan hanya mementingkan perasan dibanding dengan intelejensi berpikir sehingga mereka lebih menyukai karya-karya yang picisan dan termehek-mehek. Mary dengan jelas menentang itu semua terlebih, pada kenyataannya novel picisan tersebut  dikarang oleh banyak kaum pria yang samasekali tak tau apa-apa mengenai perempuan, alasannya adalah kesangsian akan totalitas pria dalam mengemukakan perasaan perempuan sebab mereka bukanlah perempuan. Memang jika disinggung, hal itu adalah fiksi belaka, tapi hal yang menjadi masalah adalah mengenai penggambaran negatif itu sendiri. Seharusnya jika karya sastra itu fair maka tak akan ada makna superior dan inferior dalam karya yang menggambarkan karakter perempuan tadi. Bahkan Mary menyebutkan bahwa cara terbaik untuk menghadapi karya sastra yang termehek-mehek dan merendahkan karakter perempuan adalah dengan menganggapnya sebagai lelucon yang tak pantas dikonsumsi.
The best methode, I believe, that can be adopted to correct fondness for novels is to redicule them: not indiscriminately, for them it would have the little effect; but, if a judicious person, with some turn of humour, would read several to a young girl. And point out both tones and apt comparisons with patheic incidents and heroic characters in history, how foolishly and ridiculously they caricatured human nature, just opinions might be subtituted instead of romantic sentiments (Adam, 1996:339).
            Jadi, apa yang ingin saya kemukakan adalah novel Kimya Putri Rumi ini adalah contoh ideal dari realisasi penggambaran karakter perempuan seharusnya dalam karya sastra. Memang, dalam esaynya Mary tak menyebutkan karya sastra apa yang mendeskripsikan perempuan dari segi positif atau minimal segi netralnya karena memang yang menjadi fokus utamanya adalah perempuan dalam kehidupan nyata. Namun, sedikit banyaknya, karakter Kimya memperbaiki citra perempuan sebagai tokoh yang tak termarginalkan sekaligus menolak mentah karakter feminis yang melibihi kapasitasnya. Sebagai contoh, Kimya bersikap bijak dalam menghadapi konflik batin yang disebabkan oleh berbagai peristiwa aneh dalam jiwanya dan sikap suaminya. Kimya mengaitkan pemecahan masalahnya dengan hal transenden. Saya rasa inilah yang menjadi nilai plus dalam karakternya. Kekayaaan jiwanya yang telah terasah sejak ia kecil adalah suatu keagungan yang membantunya sendiri keluar dari masalahnya. 
Dia terkenang akan mawar-mawar Tabriz yang pernah dikatakan Syams dulu jauh sebelum pernikahan mereka mawar-mawar kuning dengan tetesa darah yang tertabut di pintu masuk pondok di hari pernikahan mereka. ‘Mawar-mawar ini begitu dekat dengan Tuhan,’ begitu katanya. Hanya hati yang berdarah-darah yang dapat menemukannya.’ Kalimat itu dulu terdengar menakutkan tapi sekarang dia paham apa maksudnya. Dia pernah merasa diabaikan Tuhan dan Syams. Di tengah kegersangan yang total itu, dia jadi memahami bahwa alih-alih melabuhkan hatinya untuk Tuhan, dia begitu bergantung pada Syams sehingga kondisi hatinya berubah-uba, dan kehilangan pijakan. Sekarang ia mengerti! Tanpa pijakan itu yang tersisa hanyalah kepedihan. Itulah perbedaannya! Cinta, cinta sejati, adalah sama seperti seseorang yang melihat melalui jendela Tuhan. Selain itu hanyalah keterikatan, dan keterikatan itu seperti kita terjatuh dari jendela itu. Dia diliputi kelegaan. Seseorang bisa saja mencintai tanpa menginginkan balasan apapun dari orang yang ia cintai! (hal.316)
Saya tak menyinggung ini sebagai masalah yang pantas untuk digiring ke ranah faminisme. Karena, terdapat perbedaan yang mendasar di sini mengenai sejarah konsep feminisme itu sendiri. Selalu ada konfrontasi antara perbandingan perkembangan feminisme Barat dan Timur. Seperti yang kita tau bahwa sejarah feminisme Barat begitu kelam hingga menimbulkan pemberontakan yang berlangsung hingga sekarang dan berakibat pada ekses negatif yang membawa pada aliran ekstrimis sedangkan di Timur sendiri, seperti banyak di negara-negara Timur Tengah, feminisme menjadi hal krusial karena ketidakpastiannya akan eksistensinya antara wilayah sosial dan agama. Dalam karya ini bagaimanapun, tujuan analisa saya bukanlah untuk berargumen di satu sisi membenarkan apa yang Mary ungkapkan mengenai konsep feminismenya. Tapi, seperti yang telah dijelaskan di atas, mencoba menyoroti karakter tokoh seorang perempuan dalam karya yang bertema sufistik.
Kesimpulannya adalah kehadiran tokoh Kimya dalam karya sastra yang bertema sufistik ini telah memposisikan karakter prempuan dengan identitas femininnya untuk berada dalam ranah sebagai tokoh yang termarginalkan tapi justru membuatnya menempati wilayah istimewa karena kedekatannya dengan Tuhan.
Daftar Pustaka
Faruk. 1999. Pengantar Sosiologi Sastra; dari Strulturalisme Genetik sampai Post-Modernisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Hazard, Adams. 1996. Critical Theory Since Plato. Harcourt Brace Jovanovich Collage Publishers.
Maufroy, Maurel. 2004. Kimya Putri Rumi. Bandung: mizan.
Ratna, Nyoman Kutha. 2011. Paradigma Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Posted in Karya Sastra Imigran, Karya Sastra tentang Muslim, Tariq Ali

SULTAN DARI PALERMO: TARIQ ALI


Awal Narasi

Seorang Sultan di Palermo adalah novel keempat dalam serial tetralogi novel sejarah Islam karya Tariq Ali. Tiga novel pertama adalah Bayang-Bayang Pohon Delimayang berlatar Spanyol, Kitab Salahuddinyang berlatar Timur Tengah, dan Perempuan Batu yang berlatar Turki. Novel ini meskipun berjudul Seorang Sultan Dari Palermo akan tetapi tokoh utama dalam novel ini adalah Muhammad al-Idrisi, Ilmuwan pembuat peta terkemuka yang juga seorang pecinta yang berkobar-kobar. Cetita dalam novel ini berjalan dengan kisah menarik antara Sultan Rujari atau lebih dikenal denga Raja Roger II dangan tokoh utama dalam novel ini. setting tempat dalam novel ini adalah pulau Sisilia pada abad kedua belas. Pada saat itu ummat islam banyak yang masih menghuni pulau ini meskipun pulaui ini telah diambil alih oleh Dinasti Normandia. Novel historis ini berhasil menelusuri akar konflik berabad-abad antara peradaban Islam dan Barat, tokoh dalam novel inipun merupakan tokoh nyata yang hidup pada masa itu, akan tetapi tetap dibumbuhi dengan tokoh-tokoh khayalan yang ditampilkan.

Dalam kenyataannya, Jauh sebelum Dinasti Normandia berkuasa, sisilia telah dikuasai oleh berbagai kerajaan mulai dari Yunani, Cartage, Romawi, Vandals, dan Byzantium, kemudian dikuasai oleh kaum Muslimin. Di Sisilia, Islam tampaknya mempunyai sejarah yang hampir sama dengan Spanyol, di mana pada abad kesembilan Masehi ia menjadi wilayah kekuasaan Islam yang sebelumnya di bawah pemerintahan dinasti Aqlabi  yang berpusat di Tunisiah, dan mencapai puncak kejayaannya pada masa dinasti Fatimiyah, sebelum kemudian kembali menjadi wilayah kekuasaan Kristen.
Berdasarkan paparan di atas, bahwa Islam pernah berkuasa dan jaya di Sisilia dan daerah sekitarnya. Dan untuk mengetahui bagaimana sejarah umat Islam di sana, seperti yang telah digambarkan  maka terdapat beberapa hal yang menurut penulis harus diuraikan lebih jauh berkaitan dengan keberadaan Islam di Sisilia, karena penaklukan daerah termasuk dalam rangkaian detik-detik yang menentukan dalam sejarah Islam. Berdasarkan pemaparan diatas, dalam makalah ini penulis merumuskan beberapa masalah, yaitu:
1.     Sejarah Islam di Sicilia
2.      Hubungan konteks sejarah dalam novel Sultan dari Palermo dengan realitas
Sejarah Sisilia
Letak Geografis
Sisilia adalah sebuah pulau di laut tengah , letaknya berada di sebelah selatan semenanjung Italia, dipisahkan oleh selat Messina. Pulau ini bentuknya menyerupai segitiga dengan luas 25.708 km persegi. Sebelah utara terdapat teluk Palermo dan sebelah timur terdapat teluk Catania. Pulau ini di sebelah barat dan selatannya adalah kawasan laut Mediterranian, sebelah utara berbatasan dengan laut Tyrrhenian dan sebelah timurnya berbatasan dengan laut Ionian. Pulau sisilia bergunung-gunung dan sangat indah, iklimnya yang baik, tanahnya subur, dan penuh dengan kekayaan alamnya. Pulau ini di bagi menjadi tiga bagian: Val di Mazara di sebelah barat, Val di Noto di sebelah tenggara dan Val Demone di bagian timur laut. Islam hanya menjadi agama resmi di Val di Mazara sedangkan di bagian yang lainnya mayoritas beragama Kristen.
Islam masuk ke Sisilia
Sebelum islam masuk dan menguasai Sisilia, penguasaan pulaui ini telah berpindah-pindah dari mulai Yunani, Cartage, Romawi, Vandals, dan Byzantium, kemudian pada akhirnya dikuasai oleh kaum muslim. Ketika invasi Islam ke Eropa pada masa Umar Bin Khattab umat islam telah berniat untuk mengambil alih Sisilia dari penguasaan Byzantium, akan tetapi dengan pertimbangan bahwa letaknya yang terlalu jauh dengan pusat pemerintahan Islam, medannya yang sangat sulit ditempuh dan masih banyak daerah kekuasaan baru yang harus dibenahi  maka niat itupun diurungkan.
Setelah tertunda, niat kaum muslim baru bisa terlaksana pada tahun tahun 662, pada masa Utsman bin Affan (644-645 M), usaha penaklukan sudah mulai dilakukan oleh gubernur di Damaskus yakni Mu’awiyah bin Abu Sufyan (Khalifah pertama Bani Umayyah). Pada tahun 652 M. ini dibuktikan dengan dikirimnya pasukan islam atas pimpinan Mu’awiyah bin Khudaij. walaupun gagal, pasukan muslim telah berhasil merampas harta kekayaan perang dari pasukan Bizantium.
Walaupun penyerangan pertama dirasa gagal, kaum muslim tetap berupaya untuk menaklukan Sisilia. Dibuktikan dengan dilakukannya beberapa penyerangan setelah penyerangan pertama, diantaranya: pada tahun 667 M setelah Mu’awiyah menjadi khalifah. Pada zaman Abd Malik juga dilakukan serangan, selanjutnya pada zaman al-Walid Ibn Abdul  Malik. Gubernur Afrika utara Musa Ibn Nushair setelah menguasai Andalusia juga menyerang Sisilia di bawah pimpinan anaknya Abdullah. Setelah itu terus dilakukan penyerangan-penyerangan terhadap wilayah ini, namun belum berhasil, hanya mendapatkan harta rampasan perang. Melihat keinginan yang besar dari Islam untuk menguasai Sisilia, kaisar Byzantium, Constantine V menetapkan pasukannya di pulau ini. dan hampir selama 50 tahun Islam tidak melakukan invasi ke sisilia lagi.
Setelah 50 tahun itu, kesempatan untuk menaklukan Sisilia pun hadir. Berawal dari konflik penguasa Romawi. Kaisar Romawi memerintahkan gubernur Sisilia Constantin untuk menangkap Euphemius, seorang komandan tentara Byzantium di Sisilia. Pertempuran tidak terelakkan. Ketika terdesak, Euphemius meminta bantuan kepada Ziyadatullah dan menawarkan kekuasaan atas Sisilia. Tawaran  itu diterima oleh Ziyadatullah.
Pada tahun 827 M (212 H), Ziyadatullah memerintahkan orang kepercayaannya Assad Bin Al-Furad untuk melaksanakan penyerbuan. Ekspedisi yang berlangsung selama dua tahun  dan memakan korban. Pada tahun 831 (216H), Palermo pun dapat dikuasai sehingga pasukan Aqlabi terus dapat Mengokohkan kedudukan di Sisilia, terutama bagian barat Val di Mazzara , tetapi ibu kotanya sendiri, Castrogiofanni (dulunya  syiracuse) baru dapat diduduki pada tahun 859 M (245 H). Kegembiraan pasukan Aqlab ini juga ditandai dengan pengiriman rampasan perang kepada khalifah Bagdad Al Mutawakkil (w. 861 M/247 H). Pada tahun  902 M (289 H). Pulau Sisilia secara penuh dikuasai tiga perempat abad setelah ekspansi pertama mereka.
Sehingga Sisilia berada di bawah pemerintahan Muslim dengan Palermo sebagai ibu kotanya. Sisilia berada di bawah kekuasaan Islam oleh pemerintahan  Aqlabiyah dan kemudian dibawah gubernur-gubernur Fatimiyah sampai penaklukan  oleh orang-orang Norman  pada abad kesebelas.
Gubernur-gubernur Fatimiyah sendiri, sangat tertarik khususnya untuk menguasai Sisilia, karena alasan-alasan politik dan ekonomi mereka ingin mendirikan negara besar laut tengah dan merencanakan untuk membuat Sisilia sebagai pangkalan angkatan bersenjata (laut), supaya  bisa  menangkis  serangan dari Bizantium di pantai-pantai Afrika dan berhasil mewujudkan ambisi-ambisi mereka di Afrika Utara dan Mesir dari sudut pandang ekonomi, mereka berpendapat bahwa Sisilia adalah daerah produktif yang akan memakmurkan mereka.
Pada tahun 830 M Asbagh bin Wakil seorang barbar Andalus, menundukkan Palermo dan sejak itu Palermo menjadi ibu kota pemerintahan Islam Sisilia, dengan wali pertamanya Abu Fihr Muhammad bin Abdullah. Penaklukkan terus dilanjutkan oleh Ibrahim bin Abdullah yang berhasil menguasai Pantellaria, Eulian, Tindano dan wilayah Val di Mazarra. Fadl bin Ja`far menguasai Messina, Rogusa dan Lentini. Pada tahun 902 M seluruh Sisilia dikuasai oleh kaum muslimin di bawah pimpinan Bani Aghlab yang setelah menghabiskan waktu dari tahun 827–902 M. Kemudian berdirilah pemerintahan di bawah dinasti yaitu Bani Aghlab, Fathimiyah, Kalbiyah dan Normandia.
Pada masa dinasti Bani Aghlab yang memimpin pada tahun 903-909 M, penduduk Sisilia saat itu berbagai ras dan agama; Islam, Kristen, Yahudi, Bangsa Sisilia, Yunani, Lombard, Arab, Barbar, Persia, Negro. Bangsa Arab menjadi penguasa, mayoritas penduduk muslim adalah keturunan bangsa Barbar, Sisilia dan Arab.
Ketika dikuasai dinasti muslim itu, populasi penduduk Sicilia bertambah seiring datangnya imigran muslim dari Afrika, Asia, Spanyol dan Barbar. Di setiap kota di Sicila dilengkapi dengan sebuah dewan kota. Pada zaman ini mulai diperkenalkan reformasi agraria. Hal itu dilakukan agar tanah tak cuma dikuasai orang-orang kaya saja. Irigiasi juga mulai diperkenalkan, sehingga sektor pertanian berkembang pesat. Pada abad ke-10 M, Sisilia menjadi Provinsi di Italia yang paling padat dengan jumlah penduduk mencapai 300 ribu jiwa.
Pada tahun 909 M Ali bin Ahmad bin Abi al-Fawaris salah satu gubernur daulah Fathimiyah yang berpusat di Mesir, menggulingkan Ahmad bin Husen gubernur Dinasti Aghlabid yang terakhir. Dalam masa transisi dari Aghlab ke Fatimiyah di Sisilia, juga terjadi pergolakan namun pergolakan di sini bukan karena masalah politik tetapi masalah yang sifatnya agamis yaitu pertentangan antara Syiah dan Sunni. Tetapi dalam jangka waktu yang tidak lama Fathimiyah bisa mengatasinya.
Gubernur-gubernur dinasti Fathimiyah di Sisilia antara lain Ziyadatullah bin Qurthub, Abu Musa al-Dayf, Salim Rasyid dan Khalil bin Ishaq. Di bawah para gubernur ini, dinasti Fatimiyah membangun peradaban Islam dengan berbagai kemajuan. Gubernur dinasti Fatimiyah yang terkuat adalah Hasan bin Ali al-Kalby keturunan Arab suku Kalb yang kemudian mendirikan dinasti Kalbiyah di Sisilia, namun ia tetap setia kepada Fathimiyah.
Dinasti Kalbiyah berkuasa selama 80 tahun, dari tahum 956-1044. Hasan dapat menaklukkan daerah Kristen di sebelah utara Sisilia , Tormina kemudian merubah nama kota itu menjadi Mu`izziyah sebagai penghormatan terhadap khalifah Fathimiyah Muiz. Sejak tahun 948 M, Khalifah Fatimiyah, Ismail Al-Mansur mengangkat Hassan Al-Kalbi sebagai emir Sisilia. Secara defakto, Emirat Sisilia terlepas dari pemerintahan Fatimiyah di Mesir. Lalu digantikan Emir yang baru bernama Abu Al-Qasim (964 M-982 M). Pada masa kedua emir itu berkuasa, muslim Sisilia bertempur dengan Bizantium. Setelah itu, kekuasaan Islam meredup seiring perebutan kekuasaan di tubuh umat Islam. Pada 1061 M, Sisilia lepas dari tangan umat Islam
Pada masa dinasti Normandia ini kekuasaan dinasti Islam telah berakhir namun kebudayaan Islam masih berkembang.
1) Rogger I dan II ( 1091 – M)
Walaupun Rogger I dan II beragama Kristen tetapi ia memperlakukan umat Islam dengan baik. Bahkan Rogger II yang beragama Kristen mendapat gelar Mu`taz billah . Palermo tetap sebagai ibu Kota negara, pejabat negara dan tentara tetap menggunakan orang orang Islam. Rogger I dan II masih mengagumi kehebatan kebudayaan dan intelektual Islam , mahir bahasa Arab, memakai baju kebesaran raja-raja Islam. Kehidupan istana menyerupai kehidupan raja-raja Islam. Menggunakan bahasa Arab sebagai salah satu bahasa resmi. Mahkamah menyerupai Mahkamah Agung Byzantium tetapi upacara-upacaranya menyerupai Mahkamah Arab. Perkembangan ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat pada zaman Normandia, karena Roger II sangat tertarik dengan matematika, administrasi dan ilmu bumi. karena pada masa ini muncul intelektual muslim yang terkenal al-Idrisi.
Al-Idris Nama lengkapnya Abu Abdullah Muhammad Ibn Muhammad Ibn Abdullah Ibn Idris Ash-Sharif , Ia dilahirkan di Ceuta, Spanyol ( 1099-1166), dan belajar di Cordova. Orang barat mengakuinya sebagai seorang ahli geografi, yang telah membuat bola dunia dalam bentuk globe dari bahan perak seberat 400 kilogram yang dilengkapi dengan Kitab Al-Rujari (Roger’s Book).untuk Raja Roger II dari Sisilia. Ia ahli geografi dan kartografi terbesar di abad pertengahan. Saat itu Idris menjadi sangat dikenal dan mulai dilirik oleh kalangan navigator laut Eropa serta kalangan militer. Kemudian Idris membuat kitab Nuzhat al-Mushtaq fi Ikhtiraq al-Afaq (Kesenangan untuk Orang-orang yang Ingin Mengadakan Perjalanan Menembus Berbagai Iklim) sebuah ensiklopedi yang berisi peta secara detil dan informasi lengkap negara-negara Eropa. Idris membuat kembali sebuah kompilasi ensiklopedi yang lebih komperhensif berjudul Rawd-Unnas wa-Nuzhat al-Nafs (Kenikmatan Lelaki dan Kesenangan Jiwa). Idris juga ahli di bidang ilmu kedokteran, Ia menyusun sebuah buku berjudul al-Jami-li-Sifat Ashtat al-Nabatat, menjelaskan nama-nama obat dalam beberapa bahasa, termasuk Berber (Arab), Suriah, Persia, Hindi, Yunani dan bahasa latin.. Beberapa karyanya telah dialih bahasakan kedalam bahasa latin , bukunya sangat populer di daratan Eropa dan telah diterbitkan di Roma pada tahun 1619. Christopher Columbus, juga menggunakan peta asli yang dibuat oleh Idris sebelumnya.
2) William I dan II
Pada masa Penguasa Dinati Normandia di tangan William I dan II (beragama kristen) umat Islam diperlakukan dengan tidak baik, namun William mengagumi kehebatan kebudayaan dan Intelektual Islam. Palermo tetap sebagai ibu Kota negara, dan ia menggelari dirinya dengan al-Musta`iz Billah.
Hubungan konteks sejarah dalam novel Sultan dari Palermo dengan realitas
Sebagaimana telah penulis ungkapkan diatas bahwa novel ini mengambil latarbelakang pulau sisilia dengan sejarah yang tidak jauh berbeda dengan sejarah Sisilia. Garis besar novel ini menceritakan tentang persahabatan antara Raja Roger II dan Al Idris yang merupakan dua tokoh yang hidup pada zaman dinasti Normandia.
            Cerita dimulai dengan pertemuan al-idrisi dengan sultan rujari. Lalu dilanjutkan dengan menceritakan kehidupan pribadi dan keluarga al-idrisi. Kondisi saat itu di pulau sisilia aman dan tenteram walaupun penduduknya mayoritas muslim dan dipimpin oleh orang kristen. Namun kondisi tersebut tidak lama berakhir ketika rujari dipaksa dan dihasut oleh penasihat-penasihatnya yang merupakan titipan baron dan paus untuk menghukum mati penasehat utamanya sekaligus pimpinan utama armada laut yang diprediksikan bakal menggantikan sultan rujari. Sang penasehat utama itu bernama philip al-mahdi yang merupakan seorang muslim yang sebelumnya pindah dari agama kristen.   Para baron dan paus merasakan takut jika setelah sang sultan yang sudah sakit parah itu meninggal dunia dan posisinya akan digantikan philip al mahdi. Jika itu terjadi, maka kekuasaan kristen di pulau itu berakhir. Selain itu, sebenarnya, pihak gereja dan baron menginginkan mengsterilkan pulau itu dari orang muslim. Dari pihak philip  sendiri, dia menyadari bahwa hal ini jebakan agar timbul kemarahan dari pihak muslim dan terjadi pemberontakan akhirnya malah penumpasan oleh pihak gereja. Akibatnya, philip al mahdi tidak melakukan perlawanan. Dia diseret dengan kuda lalu dibakar sampai mati.
            Sebenarnya mayoritas cerita dalam novel ini berkisar pada kehidupan pribadi al idrisi. Pada novel ini digambarkan juga tokoh yang disebut dipercaya yang merupakan salah satu tokoh yang kemudian menyulut peperangan di beberapa daerah kepada para baron dan pihak gereja untuk membebaskan tanah dan perkampungan yang dikuasai para baron yang tamak. Namun tokoh ini, sekarang dikenal oleh orang-orang di sisilia sebagai seorang santa.
            Cerita ini ditutup dengan pembantaian istri muhammad al idrisi oleh salah seorang baron yang dalam sebuah kasus merasa dirugikan. Akhirnya al idrisi karena sedih meninggalkan palermo untuk selamanya menuju ke baghdad. Buku ini ditambah bab terakhir yang menceritakan abad 13 di palermo. Saat itu kaum muslim dan yahudi diusir dengan paksa keluar dari pulau itu.
Novel ini merupakan semata-mata karangan Tarik Ali yang mengambil konteks sejarah dan dijadikan karya fiksinya. Mengingat beliau adalah sejarawan, maka tidak mengherankan beliau bisa menggambarkan dengan begitu jelas sejarah sebenarnya.
Tarik Ali adalah seorang atheis, jadi novel ini hanyalah sebatas pengetahuannya tentang sejarah islam yang terjadi di Palermo.
Kesimpulan
Konteks sejarah dalam novel ini merupakan realita yang terjadi pada masa itu, dimana kaum muslim begitu tentram dengan kepemimpinan Raja Roger II, sampai ketika Roger II meninggal dan terjadi peralihan kekuasaan makan kehidupan yang harmonis itu pun berubah ricuh hingga diusirnya kaum muslim dari tanah Sisilia. Dengan kata lain novel ini dengan jelas menggambarkan konteks sosial pada masa itu. Cerita ini menggambarkan pergolakan politik antara Islam dan dunia Barat yang berlangsung begitu lama. Pelajaran lain yang bisa diambil adalah. Kaum muslimin menaklukkan pulau tersebut setelah terjadinya konflik internal di kalangan orang-orang Kristen. Celakanya, kesalahan yang sama juga dilakukan oleh pihak muslim di Sisilia. Mereka berpecah belah dan salah seorang yang terlibat konflik justru mengundang orang-orang Norman Kristen untuk merebut Sisilia.

DAFTAR PUSTAKA

  • Thohir Ajid, Perbandingan Peradaban di Kawasan Dunia Islam (Melacak Akar-akar Sejarah, Sosial, Politik, dan Budaya Umat Islam), Cet.I; Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004.
  •  Hamka, Sejarah Ummat Islam, Jakarta: NV Nusantara, Jilid II 1961.
  •  Ahmad Aziz, A History of Islamic Sicily, Edenburgh: Edenburgh University Press, 1975.
  •  http://alwialatas.multiply.com/journal/item/29/sisilia-dua-abad-keemasandibawah-islam-bagian-1
  • Al-‘Usairy, Ahmad. 2003. Attarihul Islami atau Sejarah Islam, Terj. Rahman Samson. Jakarta: Akbar Medai Eka Sarana

Posted in Habiburrahman el Shirazy, Sinopsis Karya Sastra Indonesia

Memahami Novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy Melalui Pendekatan Sosiologi Sastra


          Salah satu jenis karya sastra yang menarik untuk dikaji ialah novel. Pengkajian terhadap salah satu genre karya satra tersebut dimaksudkan selain untuk mengungkapkan nilai estetis dari jalinan keterikatan antar unsur pembangunan karya satra tersebut, juga diharapkan dapat mengambil nilai-nilai amanat di dalamnya. Nilai-nilai amanat itu merupakan nilai-nilai universal yang berlaku bagi siswa seperti nilai moral, etika, religi. Nilai-nilai amanat itu tercermin dalam tokoh cerita, baik melalui deskripsi pikiran, maupun perilaku tokoh.
Novel selain untuk dinikmati juga untuk dipahami dan di manfaatkan oleh masyarakat. Dari sebuah novel dapat diambil banyak manfaat. Karya satra (novel) menggambarkan pola pikir masyarakat, perubahan tingkah laku masyarakat, tata nilai dan bentuk kebudayaan lainnya. Karya sastra merupakan potret dari segala aspek kehidupan masyarakat. Pengarang menyodorkan karya satra sebagai alternatif untuk menghadapi permasalahan yang ada mengingat karya satra erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat. Hal ini sesuai dengan asumsi bahwa  sastra diciptakan tidak dalam keadaan kekosongan budaya.

Novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy yang dijadikan sebagai  bahan pembelajaran ini, kehadirannya tentu tidak dalam kekosongan budaya. Pengarang tentu saja melihat suatu tata nilai yang terdapat di dalam  masyarakat, kemudian  ia menanggapinya melalui karya sastra. Novel ini sangat ideal untuk bahan pembelajaran karena di dalam novel Ayat-ayat Cinta pengarang memiliki tujuan yang untuk di sampaikan  kepada pembaca. Novel ini banyak mengandung pesan dan nasehat luhur. Novel ini tidak mustahil mengandung nilai-nilai akhlak mulia, nilai-nilai ini dimunculkan lewat perilaku tokoh utama.
            Sebelum memahami novel tersebut, penulis akan sedikit mengulas biografi dari Habiburrahman El Shirazy sebagai penulis novel Ayat-ayat Cinta tersebut. lahir di Semarang, Jawa Tengah, 30 September1976. Dia sudah mengenal dunia tulis-menulis sejak anak-anak. Dia belajar menulis mulai di bangku SD. Dia tumbuh dan dibesarkan dalam lingkungan pesantren.  Selanjutnya, bakat sastranya terus terasah saat belajar di Al Azhar University, Kairo, Mesir. Disana, dia banyak mempelajari karya dan literasi karya ulama terkenal dari berbagai dunia. Karya-karya fiksinya dinilai dapat membangun jiwa dan menumbuhkan semangat berprestasi pembaca. Diantara karya-karyanya telah beredar di pasaran salah satunya adalah Ayat-Ayat Cinta ini yang telah dibuat versi filmnya, 2004.
Namun, sebuah kecelakaan yang terjadi pada 2003 menjadi titik balik hidupnya. Saat akan pulang ke rumahnya di Semarang, dia mengalami kecelakaan di Magelang. Kaki kanannya patah sehingga dia tidak bisa mengajar lagi. Saat sakit itulah, dia menumpahkan waktu untuk menulis novel Ayat-ayat Cinta. Dia mengaku inspirasi AAC itu berasal dari ayat Alquran Surat Al-Zuhruf ayat 67. Dalam surat tersebut, Allah SWT berfirman bahwa orang-orang yang saling mencintai satu sama lain pada hari kiamat akan bermusuhan, kecuali orang-orang yang bertakwa. Menurutnya, bahwa “Jatuh cinta dan saling mencintai tetap akan bermusuhan juga pada hari kiamat, kecuali orang yang bertakwa.” Jadi, hanya cinta yang bertakwa yang tidak mengakibatkan orang bermusuhan. Itu yang kemudian menjadi renungan dia.
Adapun yang melatar belakangi Habiburrahman El Shirazy menulis novel Ayat-ayat Cinta itu, dia ingin menulis juga novel tentang cinta, tapi yang sesuai dengan ajaran Islam dan keinginan untuk ikut bersaham membentuk carácter building generasi muda bangsa ini, juga keinginan untuk menyampaikan keindahan Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Dia banyak mengambil literasi dan rujukan karya ulama terdahulu. Yang menjadi rujukan adalah karya para ulama dulu. Pedoman menulis dia adalah Alquran.
Sebagai seorang sastrawan, Habiburrahman El Shirazy tidak akan terlepas untuk menuliskan fenomena-fenomena yang terjadi kepada dirinya sendiri atau bahkan yang terjadi dalam lingkup masyarakat yang hidup di sekitarnya. Salah satunya  yaitu mengenai latar belakang penulis dimana penulis tumbuh dan dibesarkan di lingkungan pesantren. Dia pun mengakui bahwa setiap karyanya merupakan perpaduan antara sastra dan pesantren. Habiburrahman El Shirazy menuliskan fenomena-fenomena yang ada di sekitarnya ke dalam karya-karya sastra. Begitupula sebuah novel yang berjudul Ayat-ayat Cinta yang menceritakan kehidupan seorang pemuda yang bernama Fahri seorang mahasiwa Universitas Al-Azhar, sebagaimana yang pernah dialami oleh Habiburrahman. Namun novel Ayat-ayat Cinta tidak sepenuhnya merupakan pengalaman pribadi penulis, ada beberapa pengalaman penulis misalnya selama belajar di Kairo yang hadir dalam novel Ayat-ayat Cinta seperti talaqqi Al-Qur’an, pergi kuliah naik Metro, minum ashir ashab dan ashir mangga di musim panas, berdebat dengan orang Mesir, juga bertemu dengan mahasiswa dari Turki.
Berangkat dari biografi Habiburrahman El Shirazy yang telah dipaparkan di atas. Penulis akan mencoba memahami novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy melalui perspektif sosiologi sastra. Dalam lingkup kajian Sosiologi Sastra, bahwasannya kritik sastra secara sosiologis dibagi menjadi tiga klasifikasi, yaitu: Pertama, sosiologi pengarang, yakni yang mempermasalahkan tentang status sosial, ideologi politik, dan lain-lain yang menyangkut diri pengarang. Kedua, sosiologi karya sastra, yakni mempermasalahkan tentang suatu karya sastra. Yang menjadi pokok kritik adalah tentang apa yang tersirat dalam karya sastra tersebut dan apa tujuan atau pesan yang hendak disampaikannya. Ketiga, sosiologi sastra yang mempermasalahkan tentang pembaca dan pengaruh sosial terhadapa masyarakat.
Sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Rene Wellek dan Austin Warren, seorang ahli bernama Ian Watt mengungkapkan hal yang sama mengenai ruang lingkup sosiologi sastra. Ian Watt menyatakan bahwa dalam kajian sosiologi sastra terdapat hubungan timbal balik antara sastrawan, sastra, dan masyarakat. Hal-hal tersebut mencakup ke dalam tiga hal yaitu konteks sosial pengarang, sastra sebagai “cermin” masyarakat, dan fungsi sosial sastra.
Dalam tulisan ini penulis akan mencoba menganalisis novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy dilihat dari tiga cakupan sosiologi sastra yang diungkapakan Rene Wellek dan Austin Warren, serta sejalan dengan pendapat Ian Watt.
Hal pertama yang akan dibahas dari novel di atas adalah kaitannya dengan sosiologi pengarang. Faktor-faktor sosial yang ada di sekitar pengarang dapat mempengaruhi kehidupan pengarang sebagai individu yang menjadi bagian dari masyarakat, serta secara langsung ataupun tidak, faktor-faktor tersebut dapat berpengaruh kepada isi karya sastra yang dibuat oleh sastrawan itu.
Novel Ayat-ayat Cinta merupakan novel yang menceritakan tentang tokoh utama bernama Fahri sebagai seorang mahasiswa berasal dari Indonesia yang kuliah di Universitas Al- Azhar Mesir. Ia tinggal di apartemen milik keluarga Boutros bersama mahasiswa-mahasiswa asal Indonesia (Rudi dan Saiful). Dalam kehidupan sehari-hari, Fahri selalu berusaha meneladani Rosulullah saw. Hal ini tercermin dari perilakunya di apartemen, mereka selalu saling mengingatkan, saling mendo’akan, tolong menlong. Mereka juga mempunyai tanggung jawab masing-masing. Fahri sebagai tokoh utama juga meneladani rasul dalam hal bertetangga dan berinteraksi dengan lawan jenis. Dalam berinteraksi ia selalu mendasarkan diri pada Al-Qur’an dan Al-Hadist. Dakwah adalah aktivitas keseharian Fahri. Baginya, dakwah merupakan pekerjaan utama yang sangat mulia yang bisa dilakukan dimana saja kapan saja. Di ceritakan bagaimana seorang fahri di dalam metro mengingatkan kepada penumpang untuk menghormati tamu dari negara lain (Amerika serikat).
Apa yang diungkapkan oleh Habiburrahman El Shirazy dalam novelnya tersebut, merupakan sebuah contoh bahwa memang faktor sosial yang di alami oleh si pengarang dapat berpengaruh terhadap isi karya yang dia tulis. Dalam biografi yang penulis sudah paparkan di awal bahwa Habiburrahman El Shirazy pernah belajar di Universitas Al Azhar. Sehingga tidak heran apabila kemudian isi karya yang dia tulispun berisi tentang apa yang dia ketahui dan dia alami.
Hal kedua yang akan dibahas dari puisi di atas adalah kaitannya dengan karya sastra sebagai cermin masyarakat. Sering kali para pengarang atau sastrawan mengangkat fakta-fakta sosial yang ada disekitarnya sebagai sebagai tema atau isi dalam karya sastra yang mereka buat.
Berdasarkan dari pernyataan di atas, penulis berpendapat bahwa tema pokok dari novel Ayat-ayat Cinta yaitu tema cinta dalam arti luas. Seperti terlihat dari judul novel, Ayat-ayat Cinta (sebuah novel pembangun jiwa), maka tema novel ini tak hanya mengandung tema cinta manusia pada manusia semata, tetapi juga cinta manusia kepada Tuhan dan rasul-Nya. Dalam novel ini tersirat adanya pengertian cinta manusia kepada  Tuhan yang diwujudkan dengan cara teguh menjaga keimanan berdasarkan petunjuk-Nya. Selain itu, tema cinta tersebut menyiratkan adanya pengertian cinta Tuhan kepada manusia yang diwujudkan dengan diberikannya cobaan kehidupan dan wahyu berupa petunjuk ayat-ayat al-Quran dan Sunnah Nabi.
Ia memandang bahwa hubungan cinta dengan  lawan jenis itu harus berdasarkan  kepada hukum agama yang berlaku, sehingga tidak seperti apa yang sekarang terjadi terutama di kalangan pemuda yang sedang dirundung asmara. Menurutnya menjalin hubungan cinta kasih harus melalui prosedur yang benar, yakni kewajiban untuk menikah antara kedua belah pihak yang sedang jatuh cinta. Melalui tokoh Fahri ini ini pengarang juga berpesan supaya umat islam senantiasa menjaga hubungan baik antara hubungan manusia dengan Allah (hablumminallah) dan hubungan manusia kepada sesama manusia (hablumminannas).
Karya sastra merupakan sarana untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca. Dalam hal ini tujuan tersebut dapat berupa tujuan politik, pendidikan, moral, agama, maupun tujuan yang lain.  Pemanfaatan karya ini berusaha memaksimalkan keberhasilannya dalam mencapai tujuan tertentu bagi pembacanya. Hal ini terlihat dari fungsinya untuk memberikan pendidikan (ajaran) moral, agama, maupun fungsi sosial lainnya. Semakin banyak nilai pendidikan moral  dan atau agama yang terdapat dalam karya sastra dan berguna bagi pembacanya, makin tinggi nilai karya sastra tersebut. Karya satra (novel) diharapkan menjadi sarana yang cukup efektif untuk menyampaikan  tujuan-tujuan tertentu pengarang kepada pembaca.
Berangkat dari penjelasan di atas, maka hal ketiga yang akan dibahas dari novel Ayat-ayat Cinta adalah kaitannya dengan fungsi sosial karya sastra.
Dalam novel ini terdapat nilai-nilai moral, dan nilai-nilai religius. Misalnya, Habiburrahman El Shirazy sebagai seorang pengarang ingin mengajak umat Muslim pada kebenaran dengan bahasa yang mudah diterima. Aspirasi tersebut diekspresikan dalam novel Ayat-ayat Cinta melalui tema cinta.  Penulis novel ini menyampaikan pesan keharmonisan hidup sebagai umat manusia yang beradab di muka bumi dengan peristiwa ketika Maria, seorang gadis beragama kristen koptik yang bertetangga baik dengan Fahri dan teman-temannya menempuh studi di Mesir.
“… Maria berbuat begitu atas nama keluarganya atas petunjuk ayahnya yang baik hati itu. Dan karena kepala keluarga di rumah ini adalah aku, maka tiap kali memberi makanan dan minuman atau menyampaikan sesuatu atas nama keluarganya dan aku dianggap representasi kalian semua. Jadi ini bukan hanya interaksi dua person saja, tapi dua keluarga. Bahkan lebih besar dari itu, dua bangsa dan dua penganut keyakinan yang berbeda. …” (Sirazy:2004, 37)
Selain itu Habiburrahman El Shirazy juga mengajak kepada pembaca untuk saling menghormati kepada tamu-tamu asing yang berkunjung kesuatu Negara. Hal ini dapat di lihat ketika tokoh Fahri sedang menasehati penduduk mesir di sebuah metro untuk tetap menghormati tamu asing, sebagaimana ajaran rasulullah walau orang asing itu merupakan orang kafir sekalipun. Hal ini terlihat dalam kutipan sebagai berikut.
“… Ahlu dzimmah adalah semua orang non muslim yang berada di dalam negara kaum muslimin secara baik-baik, tidak illegal dengan membayar jizyah dan mentaati peraturan yang ada di dalam negara itu. Hak mereka sama dengan hak kaum muslimin. Darah dan kehormatan dan kehormatan mereka sama dengan darah dan kehormatan kaum muslimin. Mereka harus dijaga dan dilindungi. Tidak boleh disakiti sedikit pun. Dan kalian pasti tahu, tiga turis Amerika itu masuk ke Mesir secara resmi. Mereka membayar visa. Kalau tidak percaya silakan lihat saja paspornya. Maka mereka hukumnya sama dengan ahlu dzimmah. Darah dan kehormatan mereka harus kita lindungi. Itu yang diaajrkan Rasulullah Saw. …” (Shirazy, 2004: 50)
Dalam memandang kehidupan, dibutuhkan optimisme dan perencanaan yang matang. Seperti yang dituliskan oleh penulis seperti berikut.
“…Peta masa depan itu saya buat terus terang saja. Berangkat dari semangat spiritual ayat suci Al Quran yang saya yakini. Dalam Ar-Ra’ad ayat sebelas Allah berfirman, Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah nasibnya. Jadi nasib saya, masa depan saya, mau jadi apa saya, sayalah yang menentukan. Sukses atau gagalnya saya, sayalah yang menciptakan. Saya sendirilah yang mengarsiteki apa yang akan saya raih dalam hidup ini.” (Sirazy:2004, 144)
Dari pemaparan di atas, terdapat hubungan antara latar belakang sosial pengarang dengan karyanya. Pengarang sebagai alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir memposisikan dirinya sebagai dai. Tapi dengan novel Ayat-ayat Cinta pengarang berhasil menjadi novelis. Selama meramu  novel  Ayat-ayat Cintadengan menonjolnya certia percintaan dengan segala pernak-perniknya pengarang berhasil menjadi penyair.
Novel Ayat-ayat Cinta karya sebagai penyalur pendapat pengarang berdasarkan latar belakangnya Karya-karya fiksinya dinilai dapat membangun jiwa dan menumbuhkan semangat berprestasi pembaca. Novel sebagai karya sastra inilah yang berhasil memadukan dakwah, tema cinta dan latar belakang budaya suatu bangsa. Novel ini sangat menyentuh dengan romatisme yang sangat terasa namun menuntun pembaca untuk tidak cengeng dalam bercinta. Kodrat keberadaan cinta dalam diri setiap insan itu keniscayaan, tetapi bagaimana mengolah dan mengarahkannya supaya sesuai dengan yang digariskan. Novel ini juga menggugah para pelaku percintaan untuk terus tegar menghadapi cobaan.

DAFTRA PUSTAKA

  1. Rene Wellek dan Austin Warren. 1995. Theory of Literature. A Harvest Book, Harcourt, Brace and Company.
  2. Wiyatmi. 2006. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Penerbit Pustaka.
  3. Shirazy, Habiburrahman El. 2004. Ayat-ayat Cinta. Jakarta: Penerbit Republika.